Ana tak pernah bercerita tentang permasalahan dirinya selama ini pada orang tuanya. Karena menurut dirinya itu tidaklah penting.
Jam dua belas malam, Ana sudah bangun. Seperti biasa ia mulai menulis kata demi kata untuk lanjutan dari cerita yang ia buat di beberapa aplikasi menulis.
Dia bahkan sudah berencana untuk mengepakkan sayapnya di bidang kepenulisan. Ia ingin merambah ke aplikasi menulis yang lain. Itu semua ia lakukan demi anak dan ibunya.
"Bu-Fani, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk selalu memberikan yang terbaik untuk kalian berdua. Hidupku menjadi lebih berarti dan punya tujuan karena ibu dan anakku."
"Aku yakin Yang Maha Kuasa akan selalu membuka seribu jalan umatNya dalam mencari rezeki. Asal saja kita ini tidak malas dan mau bergerak mengejar rezeki tersebut."
'Bagiku sudah tidak ada gunanya untuk berharap pada, Mas Hendy. Sudah tidak bisa divajsk bekerja sama karena setiap di ajak berbicara saja nggak pernah nyambung."
"Entah memang data pikir dia seperti itu? atau dia memang sengaja berbuat seperti itu? hanya dia sendiri yang tahu."
"Aku malas berpikir untuk masalah ini. Mending aku berpikir untuk membuat karya yang indah saja, dan memperbaiki tulisan aku."
Setelah sejenak berbicara sendiri di dalam hatinya, Ana pun mulai memainkan jemari tangannya untuk menulis. Dia memusatkan pikirannya untuk bisa masuk ke dalam dunia novel yang saat ini sedang ia buat, supaya seolah-olah ia berperan di dalam kisah tersebut.
Kata demi kata, Ana rangkai. Ia begitu fokus walaupun rasa ngantuk kerap kali melanda dirinya saat ini. Ia terus menulis hingga mendapatkan beberapa bab cerita dari beberapa buku yang ia buat.
Dari jam dua belas hingga jam empat pagi, barulah ia tidur. Dan jam enam pagi barulah ia terbangun untuk mengurus suami dan juga anaknya.
Runitas berjalan sedemikian rupa, tak ada hari yang spesial atau istimewa. Pagi itu Hendy tak lupa mencuci baju, walaupun Ana sudah melarangnya. Tetapi ia tetap mencuci.
"Cuci baju nggak bersih, karena bagian-bagian tertentu masih bau. Seperti bagian ketiak, dan bagian-bagian lainnya. Nyuci cuma kucek-kucrk saja. Tapi jika di nasehatin nggak mau di dengarkan sama sekali."
Setelah sejenak menggerutu, Ana mengajak Fani untuk sejenak membeli sarapan, susu kedelai, dan beberapa cemilan untuk Fani. Dan juga jeruk kesukaan Fani.
Selagi Ana pergi bersama dengan Fani, sang ayah menghampiri Hendy.
"Hen, rajin banget ya kamu. Nggak ada dech suami seperti kamu yang mau mencuci pakaian. Ini ayah sudah buatin teh manis hangat ya."
Ayah mertua begitu perhatian pada Hendy, ia bahkan rela membuatka minum untuk Hendy.
"Wah, repotin ayah ya. Terima kasih ya ayah, nanti aku minum dech. Aku sudah terbiasa mencuci, Ayah. Bahkan pada saat di Depok, aku juga yang selalu mencuci pakaian dan mengepel lantai. Ya Ana kan sudah di repot kan dengan memasak dan urus Fani," ucap Hendy membanggakan dirinya sendiri.
"Wah, hebat kamu Hendy. Betapa beruntungnya Ana mendapatkan suami sebaik dan setanggumg jawab seperti dirimu ini," puji Ayah mertua.
"Ya sudah di lanjut ya mencucinya, ayah ke depan dulu. Dan jangan lupa, minumannya mumpung masih hangat."
Saat itu juga ayah mertua melangkah pergi menuju ke teras halaman. Seperti bisa oa bermain dengan interkom atau brik-brikan.
Beberapa menit kemudian, Ana telah kembali dengan belanjaannya. Tetapi ia mendapatkan teguran dari Ayahnya.
"An, kasihan suamimu. Jangan di biarkan ia mencuci, itu kan tugas kamu," tegurnya.
"Aku nggak pernah menyuruhnya, bahkan aku selalu melarangnya karena ia nggak bersihkan mencucinya. Tetapi ia keras kepala, mencuci saja," ucap Ana menahan rasa kesalnya.
"Oh.. begitu. Katanya ini sudah biasa di lakukan sejak kamu ikut di Depok dulu. Baik banget ya. Lain kali, kalau mau pergi suami di buatkan dulu minuman. Jangan di biarkan begitu saja, karena kesannya kamu ini istri yang tidak perhatian pada suami," ucap Ayahnya lagi.
"Ayah, aku sudah menawarkan ia minuman. Tetapi jawabnya nggak usah, ya aku nggak buatkan," bela Ana lagi.
"Ana, dia itu suamimu bukan tamu yang harus di tawari terlebih dahulu. Tamu pun juga begitu kan? kita harus segera membuatkan minuman tanpa menawarkannya terlebih dahulu,' ucap sang ayah.
Jika sudah begini, Ama sudah tidak bisa berkata lagi. Paling ujung-ujungnya ya ya saja. Dari pada nantu sang ayah marah-marah yang bisa membuat tekanan darahnya naik.
Ana mengajak Fani masuk ke dalam rumah. Dan kebetulan Hendy sudah selesai mencuci. Ia saat ini sedang bermain ponsel di dalam kamarnya.
Ana tak menegurnya, karena ia telah di tegur ayahnya..Ia hanya menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Setelah beberapa menit sarapan, ia meminta Hendy menjaga Fani.
Sementara dirinya menjemur pakaian yang barusan di cuci oleh Hendy. Tetapi setelah menjemur, Ana di buat kesal oleh Hendy.
Bukannya menjaga anak, malah ia tidur mendengkur dengan sangat kerasnya. Sang anak malah sudah tidak ada di tempatnya bermain. Ia malah saat ini bersama dengan kakek dan neneknya di teras halaman.
"Hem, selalu seperti ini. Jago banget tidur.Jika di tegur alasan cuma lelah karena kerja kemarin. Hingga waktu libur di gunakan untuk istirahat."
"Hem, damai banget jadi suamiku. Nggak mikir apa-apa hanya mikir yang penting asal bisa hidup saja."
"Nggak mikir masa depan anak sama sekali. Heran aku dengannya. Seharusnya jika pikiran seperti itu. Nggak usah menikah sekalian, kaya gini hanya buat susah istri yang harus mencari penghasilan sendiri."
Setelah beberapa menit menggerutu di dalam hatinya, sang istri pun keluar dari kamarnya. Ia melangkah ke teras halaman dimana saat ini Fani sedang bersama dengan orang tuanya.
"Fani, mandi yuk," bujuk Ana.
"Nggak lah, nanti saja. Nanti Fani takut, ayah lagi ngolok di kamal(ayah lagi ngorok di kamar)," ucap polos Fani.
"Nggak apa-apa, kan di mandinya di kamar mandi. Di kamarnya kan kalau pake baju saja."
Ana mencoba membujuk Fani kembali, hingga pada akhirnya Fani bersedia mandi. Dan sebelum membawa Fani mandi. Kembali lagi Ana mendapatkan nasehat dari Ayahnya.
"Ana, biarkan saja Hendy tidur. Nggak usah kamu ganggu, biarkan dia istirahat," pinta Ayah.
"Iya, Ayah."
Namun di dalam hati Ana begitu banyak gerutuan. Mengingsr sikap ayahnya yang selalu memperhatikan menantunya dari pada dirinya yang anak kandungnya sendiri.
"Jika aku cerita yang sebenarnya pasti sikao ayah pada Mas Hendy akan berubah. Jika tahu Hendy itu bukan suami yang bertanggung jawab," batin Ana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments