Pulang Satu Minggu

Kehidupan memang harus terus berjalan, sejak Ana menikah dan kini punya anak. Pihak mantan sudah tidak pernah meminta uang lagi. Tetapi kini justru pernikahan dirinya sedang bermasalah karena suami yang tak pernah bisa jujur pada istri.

"Anakku sudah berumur tiga tahun, tetapi belum juga ada perubahan pada diri suamiku. Lantas kedepannya mau seperti apa ya?" batin Ana gelisah.

Dia terus saja berpikir dan berpikir tentang hari depan untuk masa depan anaknya.

Beberapa hari kemudian..

Suami pulang, dan kali ini dia pulang untuk jangka panjang yakni satu Minggu di rumah. Karena menurutnya, di pabrik tempat ia kerja sedang tidak ada pekerjaan hingga ia gunakan untuk pulang saja.

"Bun, ayah di rumah ini rada lama nggak apa-apa kan? karena sedang tidak ada pekerjaan, dan jika di kontrakan saja bosan rasanya."

Ana tersenyum," ya bolehlah ayah, memangnya kenapa kok bilang seperti ini?" tanya Ana heran.

"Yah nggak enak sama orang tuamu jika aku lama di rumah," ucap Hendy.

Hendy mengetaksn supaya Ana memberikan jatah pada ibunya karena dirinya akan lama di rumah. Ibarat untuk uang belanja satu Minggu selama Hendy ada di rumah mertua. Ana pun hanya mengiyakan saja.

"Tanpa kamu tahi, aku setiap bulan memberikan jatah pada ibu walaupun hanya satu juta rupiah. Tetapi aku sengaja nggak cerita padamu karena aku tak ingin nantinya kamu mengira aku banyak uang. Hingga kamu semakin mengandalkan aku," batin Ana.

Sejak Ana tahu suaminya tidak jujur tentang gaji, ia pun melakukan hal yang sama pada suaminya. Bahkan ia tidak mengatakan jika dirinya saat ini memiliki tabungan dari jerih payah menulis novel. Karena ia tak ingin susmo menjadi bertambah malas seperti pada saat dirinya ikut merantau di kota Depok.

"Bun, kenapa kamu diam saja? apakah kamu nggak bersedia memberikan uang pada ibumu, atau kamu nggak punya uang?" tegur Hendy mengagetkan lamunan Ana.

"Ayah, berapa kali aku katakan padamu. Jika pendapatan aku dari menulis itu sedang tidak seperti dulu lagi. Ayah punya uang kan?"

Ana berpura-pura jika dirinya tidak punya uang, dan ia pun berhasil mengelabui suaminya. Hendy merogoh kantung celananya dan mengambil dompet. Ia membuka dompetnya dan meraih uang ratusan ribu lima lembar.

"Ini, ayah ada uang lima ratus ribu. Terserah kamu mau memberikan ke ibu berapa. Karena ayah nggak tahu, yang jelas itu sekalian dengan jatah untuk Bunda Minggu ini."

Hendy memberikan uang lima ratus ribu pada Ana. Di dalam hati Ana merasa kesal, karena ia sempat melihat di dalam dompet Hendy banyak uang lembaran ratusan ribu.

"Bun, kenapa diam dan nggak mengucapkan terima kasih sama sekali pada ayah?" tegur Hendy kembali.

"Ayah, itu di dompet kan banyak uang Ayah. Lah masa iya, ayah cuma memberi uang lima ratus ribu. Dan ini juga untuk ibu bukan? lantas untuk jatah Bunda mana?" Ana menengadahkan tangan kanannya pada Hendy.

"Astaga, Bun. Ini yang untuk tabungan aku, untuk berjaga-jaga jika aku sakit ada uang. Masa iya aku berikan semua untuk bunda? kelak ini juga kepake untuk membeli tiket bis," ucap Hendy.

Ana merasa sangat kecewa dengan sikap suamimya tersebut. Waktu itu, ia berkata tidak punya tabungan sama sekali, tetapi di dompetnya terdapat banyak uang lembaran ratusan ribu. Ana pun akhirnya diam saja, ia tak ingin berdebat karena tak ingin orang tuanya mendengar perdebatan dirinya dengan Hendy. Kembali lagi, ia akhirnya mengalah.

"Hem, mau sampai kapan suamiku selalu tak jujur padaku seperti ini? ah, entahlah. Jika aku memikirkan hal ini yang ada malah kepalaku pusing yang membuat aku tak bisa menulis novel," batin Ana.

Selagi Hendy bermain ke rumah paman Ana bersama dengan Fani. Yang rumahnya di samping rumah Ana, kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Ana. Ia mencari keberadaan ibunya untuk memberikan uang lima ratus ribu tersebut.

"Biarlah uang yang di berikan oleh Mas Hendy aku berikan pada ibu. Karena ibu lebih butuh, sedangkan di dompetku masih ada uang. Karena kemarin aku sempat ambil di ATM, lima ratus beribu ribu untuk kebutuhan sehari-hari," batinnya.

Ana mendapati ibunya sedang mengangkat jemuran, dan ia pun memberikan uang tersebut pada ibunya.

"Bu, ini ada sedikit uang untuk ibu dari Mas Hendy."

Ucapnya seraya memberikan uang tersebut pada ibunya.

Tetapi sang ibu tidak lantas menerimanya," uang untuk apa?"

"Bu, terima saja. Anggap saja ini rezeki untuk ibu, karena jika tidak di terima nanti Mas Hendy marah padaku," bujuk Ana, hingga pada akhirnya sang ibu menerima uang tersebut.

"Sampaikan terima kasih pada, Hendy ya? semoga rezekinya di tambahkan."

Sang ibu menerima pemberian iebg tersebut.

"Amin, iya Bu. Nanti aku sampaikan pada, Mas Hendy."

Ana pun berlalu pergi dari hadapan ibunya, dan ia kembali ke kamarnya. Setelah itu ia menyusul suami dan anaknya yang sedang berada di rumah paman dan bibinya yang kebetulan tempatnya di samping rumahnya.

Ana mengajak suami untuk makan siang dahulu, dan ia juga menyuapi Fani. Di saat makan bersama, Ana pun mengajak bercengkrama suaminya.

"Ayah, katanya kamu akan membuat cemilan atau apa. Untuk usaha sampingan? sudah jalan atau belum?" tanya Ana menyelidik.

"Nggak jadi, Si Madi nggak mau di ajak kerjasama. Dia malah kabur nggak pernah main ke kontrakan lagi. Padahal setiap dia main, minta rokok, kopi, mie instan, atau makanan apa pun selalu aku turutin," ucap Hendy tanpa sadar.

"Ohhhh... jadi seperti itu? ayah main lagi sama Madi? padahal dari dulu bunda nggak senang loh, karena bunda tahu Madi itu cuma manfaatin ayah saja. Itu Terbukti waktu bunda masih ada di Depok sama Ayah. Kenapa sih yah nggak mau mendengarkan apa yang Bunda katakan?"

Ana merasa kesal, karena suaminya entah itu terlalu baiknya atau terlalu bodohnya. Hingga gampang banget di tipu oleh teman-temannya.

Setiap Ana menasehati tidak pernah didengarkan oleh Hendy, seperti kejadian pada saat Ana masih berpacaran dengan Hendy.

#Flash Back On#

Salah satu teman yang menelpon meminta tolong untuk meminjam KTP padahal Ana sudah mengingatkan jika KTP itu adalah suatu barang yang penting, tidak boleh dipinjamkan. Apalagi Hendy dengan gampangnya diminta untuk tanda tangan ia tak mendengar apa yang di katakan oleh Ana.

Hingga suatu hal buruk terjadi, dimana foto kopi KTP dan tanda tangan Hendy di salah gunakan oleh temannya untuk meminjam uang pada bank dan juga untuk mengambil kreditan ponsel. Bahkan untuk membuat BBJS.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!