Rutinitas Pagi 1

Menjalani hidup rumah tangga secara terpisah memanglah tidak mudah. Istri dan anak di kampung sedangkan suami berada di rantau. Tidak tahu apakah yang selalu di katakan oleh suami itu benar adanya atau hanya sekedar bualan dan alasan saja.

Sejak tahu istri punya penghasilan dari menulis sebuah novel, suami menjadi masa bodoh. Dia semakin hari semakin jauh dari kata tanggung jawab.

"Aku harus bagaimana menghadapi suamiku? semakin hari bukannya semakin lebih baik, tetapi ia semakin lebih buruk. Masa iya satu Minggu hanya memberikan jatah tiga ratus ribu. Dan ini juga tidak rutin setiap satu Minggu. Kadang satu bulan, suamiku hanya memberikan dua kali saja."

"Entahlah aku harus bagaimana dan mencari solusi seperti apa? sebenarnya jika hasil dari menulis aku tidak pernah di pakai atau di tabung. Pasti saat ini aku sudah bisa membeli lahan tanah untuk kelak di bangun sebuah rumah."

"Sudahlah, tak perlu aku sesali apa yang telah terjadi. Aku seharusnya bersyukur karena di beri talenta menulis hingga aku bisa mendapat pundi-pundi rupiah."

Terus saja istri melamun di sela waktu akan tidur. Ia terus saja menatap ke arah anak yang sudah tertidur pulas. Hanya anaknya saja yang selalu membuat dirinya tegar dalam menghadapi problematika hidup di dalam rumah tangganya.

Hanya anak saja yang membuat dirinya selalu semangat dalam menulis, walaupun setiap malam ia harus lembur dari jam satu malam hingga jam empat pagi atau kadang hingga jam lima pagi.

Dia tak ingin kehidupan anaknya terlantar. Apa lagi saat ini sudah umur tiga tahun dan tahun depan, ia akan berniat menyekolahkan anak.

Kini dia mencoba untuk tidak memikirkan suaminya yang semakin lama semakin tidak bertanggung jawab. Ia mencoba masa bodoh dengan hal itu karena jika ia memikirkan tentang itu yang ada ia akan alami sesak napas, dada sakit, dan kepala juga sakit. Yang berujung tidak bisa menulis karya-karyanya.

******

Pagi menjelang, istri biasa rutinitas membersikan kamar, mengepelnya. Dan sedikit membantu ibunya mengepel setiap sudut ruangan.

Panggil saja sang istri dengan nama, Ana. Dan sang anak dengan nama, Fani.

Anak baru umur tiga tahun tetapi sudah pintar dalam berbicara, dan pola pikir seperti orang dewasa. Yang selalu membuat gelak tawa anggota keluarga yang mendengarnya.

"Pagi bunda."

Setiap pagi anak selalu menyapa Ana, dan tak lupa mencium pipi kanan dan kiri Ana, serta keningnya.

Hanya hal sepele saja, tetapi sangat membuat Ana sumringah dan semangat menjalani hidup yang serba sulit.

"Pagi, cintanya bunda."

Ana membalas kecupan Fani.

"Bunda, Fani nonton hp ya? bunda biasa ke kamar mandi kan?"

Yah... sudah menjadi tradisi jika Ana ke kamar mandi untuk sekedar mandi pagi. Pasti anak nonton acara you tube entah itu suatu lagu-lagu anak atau tontonan anak yang lain.

"Tapi ingat ya, nonton hp nya jangan dekat-dekat dan jangan di pencet-pencet karena nanti jadi nggak manggil-manggil bunda yang ada di kamar mandi," pesan Ana pada anaknya yang baru umur tiga tahun.

"Iya bundaku sayang yang suka marah-marah."

Sang kakek yang sempat mendengar akan hal ini sontak saja tertawa. Ia heran dengan Fani yang baru berumur tiga tahun tapi sudah seperti anak umur enam tahun.

Fani asik dengan ponsel Ana, sementara Ana sibuk di dalam kamar mandi.

Beberapa menit kemudian...

"Ini, Bun. Sudah..lah mainan hp nya. Bunda sudah mandi ya? Bun, beli nasi lames yuk?" ajaknya sumringah.

"Iya, anak bunda yang cantik yang suka buat bunda marah-marah," goda Ana terkekeh.

Beginilah keseruan pagi hari bersama anak perempuannya yang sangat lucu dan penurut.

Setelah mengepel ruangan dan merapikan kamar, Ana memberikan satu gelas air putih untuk Fani," minum dulu air putihnya, nanti baru kita beli sarapan."

Dengan sangat menurut, Fani meminum satu gelas air putih.

"Bun, susu habis sama loti habis. Nanti ke indomalet ya sama Tete Ika," ucapnya dengan nada cedalnya karena belum bisa berbicara yang faseh.

"Ok, nanti kalau Tante Ika kemari ya? kalau sobek-sobek daun. Sekarang kita beli sarapan dulu ya?"

"Ok bunda, sama beli Sule(susu kedelai) ya?"

Fani keluar kamar terlebih dahulu dengan memakai sendalnya, sedangkan Ana meraih dompet dan hand sanitizer. Fani sudah melangkah terlebih dahulu ke pelataran rumah di ikuti oleh Ana.

Ana tak lupa meraih sepeda kecil milik Fani. Ini pun sepeda bekas milik adik bungsu Fani yang saat ini sudah beranjak dewasa dan sebentar lagi akan menikah.

"Pagi, kakek?"

Sapa si kecil Fani pada saat melihat kakeknya yang sedang duduk di teras halaman sedang bermain intercom atau menjadi seorang briker.

Sejenak si kakek menghentikan aktifitasnya bermain intercom dan ia mendekati si cucu," pagi cucu kakek yang jelek, Fani mau kemana?"

Si kakek menciumi Fani seraya memeluknya.

"Mau beli nasi lames sama Sule, kek," jawab Fani yang belum bisa melafalkan huruf R.

"Hati-hati ya," pesan sang kakek.

"Iya kakek, by by?"

Fani melambaikan tangan mungilnya seraya bersahai pada kakek.

Kakek heran mendengar cucunya mengatakan kata by by. Dan ia tanya pada Ana," kok itu tahu kata by by dari mana?"

Belum juga si Ana menjawab, Fani sudah berkata," dari Hp lah, Fani kan suka lihat di hp ada yang by by."

Si kakek dan Ana tertawa mendengarnya. Fani lekas naik ke sepeda butut warisan dari Mita adik bungsu Ana. Ama mendorong sepeda itu, keluar dari gang kecil menuju ke jalan besar untuk mencari pedagang nasi rames.

Sepanjang perjalanan, Fani tak berhenti mengoceh. Ia bercerita panjang lebar tentang acara you tube atau lagu-lagu yang ia tonton setiap harinya.

Fani anak yang sangat penurut, ia tidak manja dan tidak nakal. Setiap di jalan ketemu dengan orang, ia akan selalu ramah jika di panggil.

"Fani."

"Saya, embah."

"Mau kemana, ya?"

"Beli nasi lames, Mbah. Embah mau kemana ya?"

"Mau ke pasar."

Begitulah si kecil Fani sudah pintar berinteraksi dengan warga sekitar, para tetangga Ana. Yang setip hari berlalu lalang lewat jalanan tersebut. Apa lagi letak rumah orang tua Ana sangat strategis karena dekat dengan pasar.

Beberapa menit kemudian, Ana dan Fani sudah berada di tukang nasi rames. Ana selalu membeli hanya satu bungkus nasi rames itupun untuk berdua. Karena Fani setiap pagi makan hanya sedikit saja.

Fani tergolong gampang dalam hal makan. Umur tiga tahun tapi sudah berani makan sayur pedas layaknya orang dewasa. Ia malah tak suka dengan sayur yang nggak pedas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!