Menyimpan Rasa Lara

Kadang kala Ana merasa lelah juga dengan kehidupan rumah tangga dirinya. Tetapi ia tak ingin mengakhirinya, karena ia sudah pernah menjadi seorang janda. Dan ia tak ingin menjanda lagi. Hingga ia terus bertahan dengan kehidupan rumah tangga yang menurutnya sudah tidak sehat.

"Kadang kala aku ingin ikut kembali merantau bersama suamiku. Tetapi aku rasa itu tidak mungkin. Karena aku sudah pernah ikut dengannya, dan rasanya tidak enak. Dimana suami malah sama sekali tak memberikan yang gajinya. Ia hanya mengandalkan dari aku menulis."

"Aku bersyukur, walaupun cuma tiga ratus ribu yang ia kasih. Setidaknya ia masih punya hati dan ingat pada istri dan anak."

"Aku hanya bisa berserah pada yang Kuasa untuk permasalahan rumah tanggaku ini, dan aku selalu berpikir positif tidak mencurigai suamiku.'

"Jika saat ini suamiku berada di jalan yang tidak benar, aku yakin yang kuasa akan menegurnya dan mengingatkannya supaya ia kembali ke jalan yang benar."

"Aku tidak ingin memusingkan permasalahan rumah tanggaku ini. Karena setiap aku memikirkannya, kepalaku akan menjadi sakit, dadaku terasa sesak dan aku tidak bisa bernafas. Hal ini sangat merugikan bagi diriku, karena aku bekerja dengan otakku dan membuat suatu cerita. Jika aku mengalami sakit kepala, aku tidak akan bisa berpikir dan yang aku rugi sendiri, tidak bisa menulis dan tidak bisa menghasilkan uang."

Para tetangga Ana selalu memujinya dan merasa iri dengan kehidupannya. Mereka mengira bahwa Ana hanya menikmati hidup dengan merawat Fani.. Karena setiap Minggu sudah ada yang mentransfer uang.

Mereka tidak tahu menahu kehidupan yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga Ana. Mereka tidak tahu menahu apa yang selalu Ana lakukan setiap harinya. Mereka selalu memuji suami Ana.

Karena kebetulan memang di kampung Ana, relatif para prianya itu pemalas dalam bekerja. Banyak yang hanya mengandalkan sebagai tukang parkir.

Hingga para tetangga mengira suami Ana selalu memberikan jatah bulanan yang besar padanya.

Ana memang menutup rapat permasalahan pribadinya. Apa lagi Ana tak pernah bergosip dengan para tetangga. Ia lebih suka di dalam rumah saja. Ia keluar rumah jika ada sesuatu yang di beli atau acara penting seperti datang ke hajatan tetangga atau teman. Atau mewakili ibunya di acara arisan keluarga.

Drt drt drt drt

Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel Ana, yang tak lain dari suaminya.

[Bun, hari ini aku nggak masuk kerja. Karena kuku ibu jariku terkelupas dan rasanya sakit sekali.]

Setelah Ana membaca chat pesan itu, ia hanya membalas dengan satu kata Ya.

Ana sudah yakin sekali, ini pasti akan di jadikan alasan untuk suaminya. Minggu ini tidak bisa kirim uang.

Ana sudah hapal dengan sifat suaminya tersebut. Walaupun Ana sudah puluhan kali mengatakan supaya jatah Mingguannya di tambah karena dirinya sedang susah dalam mencari rezeki di kepenulisan. Tetapi masih saja suaminya kirim uang seenaknya saja.

******

Hari Minggu yang di tunggu telah tiba, hari dimana biasa suami transfer uang ke Ana.

Kring kring kring kring kring

Satu panggilan telpon masuk ke nomor ponsel Ana, yang tak lain dari suaminya.

📱" Hallo, Bun. Sedang apa, Fani?"

📱" Sedang tidur siang."

📱" Bun, ayah minta maaf ya. Minggu ini ayah nggak bisa transfer karena dua hari, ayah nggak kerja waktu Kuku ibu jari terkelupas. Dan sisa uang gaji buat kebutuhan ayah makan sehari-hari di sini."

📱" Astaga... ayah! mau sampai kapan ayah seperti ini? katanya aku di suruh irit? tapi ayah saja jarang kirim uang? lantas uang tiga ratus ribu itu suruh di irit untuk dua Minggu? untuk satu Minggu saja nggak cukup, apa lagi untuk dua Minggu?"

📱" Sudah berapa kali aku berkata pada ayah, jika dalam kepenulisan aku sedang susah cari uangnya jadi ayah jangan mengandalkan!"

📱" Astaga bunda! siapa yang mengandalkan kamu? aku sama sekali tidak pernah loh. Aku di sini kerja, kecuali aku nganggur!"

Sejenak Ana ribut dan bertengkar di dalam panggilan telepon dengan suaminya. Hingga ia sudah merasa marah, dan ia menutup telponnya. Ia tidak ingin suasana hatinya di selimuti dengan amarah.

"Sudah bisa di tebak, seperti ini? lagu lama, nggak ada perubahan! mau sampai kapan aku bersabar menghadapi suamiku ini? aku yang selalu kalah, jika aku menahan rasa kesal dan kecewa ini. Pasti dadaku sakit dan sesak napasku kambuh," batin Ana.

Selama ini ia memang selalu memendam rasa kecewa terhadap suaminya tanpa ada yang tahu. Ia ingin sekali cerita pada orang tuanya, supaya hatinya lega. Dan tak sering alami sesak napas. Tapi ia tak mau imej suami buruk di mata orang tuanya.

"Sebaiknya aku ajak Fani dan Ika untuk sejenak ke alun-alun nanti malam jika cuaca terang. Supaya aku sedikit terhibur dan bisa melupakan kekesalan aku pada, Mas Hendy."

Hingga malam menjelang, cuaca sangat mendukung. Ana meminta Ika menemani dirinya untuk sejenak ke alun-alun. Selama di alun-alun, Ana hanya diam saja. Hal ini sempat mengganggu pikiran Ika.

"Sepertinya ada masalah yang terjadi pada, Mba Ana?" batin Ika.

Dia ingin bertanya tapi merasa tak enak hati. Hanya bisa melihat wajah murung yang sangat nampak.

Tiba-tiba Ana merasakan sesak napasnya, dan hal ini tentu saja membuat Ika panik.

Dia berlari sambil menggendong Fani, membeli minyak kayu putih. Dan menggosokkannya pada hidung Ana serta tengkuk leher.

Minyak kayu putih yang ada di tangan Ika di rebut oleh Ana, dan ia gunakan untuk di hirupnya. Hingga beberapa menit, barulah Ana bisa bernafas dengan lega.

"Mba, sebelumnya aku minta maaf ya? tolong jangan tersinggung apa lagi marah? apa Mba Ana sedang ada masalah dengan, Mas Hendy? mba, jika ada sesuatu cerita saja padaku. Aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Dari pada Mba simpan sendiri yang ada menjadi sebuah penyakit seperti ini kan? dada mba jadi sakit dan susah bernapas," ucap Ika.

Namun Ana sama sekali tak mengatakan apa pun. Justru tiba-tiba air matanya meleleh, hal ini membuat Ika semakin curiga dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada, Ana.

"Astaga... mba? kok malah menangis sih? coba cerita saja, biar aku dengarkan dan jika aku bisa akan memberikan suatu saran atau masukan," pinta Ika membujuk Ana untuk berkata jujur.

"Aku menangis karena terharu, punya adik ipar yang sangat baik. Bahkan kamu ini seperti adik kandung saja," ucap Ana masih bisa menutupi keburukan suaminya.

"Maafkan aku, Ika. Aku tak bisa cerita tentang pribadiku ini," batin Ana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!