Sejak pertengkaran itu, Suami sudah beberapa hari tidak pernah menelpon sang istri. Dia hanya mengirim pesan lewat inbox yang ada di akun sosial media sang istri dengan mengatakan jika dirinya sedang tidak punya kouta telpon. Hingga ia memakai data gratisan.
Istri sama sekali tidak peduli dengan pesan inbox yang selalu di kirim oleh sang suami, karena isinya tidaklah penting.
Istri hanya fokus dengan merawat anaknya yang masih balita dan juga sibuk dengan pekerjaan menulisnya. Ia ingi sekali menulis sebuah novel yang benar-benar bagus dan berkualitas.
Karena ia hanya lulusan SLTP saja. Menulis hanyalah sebuah hobi. Dirinya bukan seorang lulusan dari kuliah sastra.
********
Tak terasa waktu cepat berlalu, kini anak sudah berusia tiga puluh bulan. Tetapi sifat suami masih saja belum berubah. Entah mau sampai kapan dia seperti itu.
Hanya istri yang tahu keburukannya, ia kerap kali merasakan dadanya sesak susah bernapas karena memikirkan sifat suaminya yang tak juga berubah.
Ingin bercerita pada orang tuanya tetapi khawatir orang tuanya ikut memikirkan tentang rumah tangga dirinya. Hingga ia hanya bisa diam saja.
Ingin berpisah, tetapi dia ingat punya seorang anak apa lagi anak masih sangat kecil.
Hingga suatu hari, suami pulang ke kampung karena memang sebulan sekali pulang untuk menjenguk anak dan istri.
Kesempatan ini tidak di sia-siakan, oleh istri. Dia berusaha mengajaknya bercengkrama dari hati ke hati pada saat malam menjelang dimana sang anak sudah tidur.
"Ayah, sebenarnya pekerjaan ayah itu gajinya bagaimana? apakah ada kenaikan ataukah seperti dulu pada saat bunda masih ikut bersama, ayah? karena bunda perhatikan semakin hari ayah itu semakin tak menentu pada saat memberikan jatah mingguan," ucap sang istri.
"Berapa kali harus aku katakan padamu, jika tempat kerjaku itu sedang susah mendapatkan barang. Menurut bos aku, dari pihak pengiriman barang mengatakan jika tidak bisa rutin kirim barang hingga kerjaan itu jarang ada. Aku memang sengaja tidak mengatakan hal ini padamu, karena aku khawatir kamu ikut gelisah memikirkan kerjaan, ayah."
"Ayah juga sedang usaha mencari kerjaan yang lebih baik lagi supaya bisa memberikan yang terbaik untuk kamu dan masa depan anak kita. Ayah minta maaf ya, Bun. Belum bisa menjadi suami yang bertanggung jawab."
Selalu perkataan seperti ini setiap pulang ke kampung. Istri tak lantas percaya sama sekali. Karena pada saat dulu masih hidup bersama di rantau. Banyak sekali kebohongan yang di lakukan oleh suami terhadap istri.
Dimana pada saat istri sama sekali belum bisa mencari uang. Suami memberikan jatah uang yang begitu sedikit. Hingga hampir setiap minggunya dia itu berhutang di dua tempat.
Pernah suatu hari, istri tak sengaja menemukan uang suami. Beberapa lembar uang ratusan ribu yang di ikat dengan karet. Uang itu di sembunyikan di sebuah panci yang kebetulan sudah tidak di pakai karena panci itu bocor.
Saat itu istri tak sengaja kepala menyenggol panci itu, dan sesuatu menjatuhi kepalanya sebelum jatuh ke lantai. Ternyata kumpulan uang lembaran ratusan ribu.
Istri sampai penasaran dan menghitung jumlah uang itu ternyata berjumlah dua juta rupiah.
Istri sempat heran pada suaminya yang tidak jujur padanya. Di kala dirinya selalu kesulitan masalah uang, dia berbohong dengan mengatakan tak punya uang sama sekali.
Tetapi secara tidak sengaja istri sering kali menemukan uang simpanan suaminya. Entah itu di dalam panci yang sudah tidak terpakai, di lipatan baju, di dalam lembaran kertas di dalam buku, bahkan pernah juga istri tak sengaja menemukan simpanan uang milik suaminya di bawah tikar.
Karena setiap hari istri selalu mengepel lantai, dan kebetulan kontrakan yang di rantau hanyalah satu petak saja. Hingga istri begitu rajin membersihkan bawah kasur lantai.
"Yah, entah aku percaya padamu dengan apa yang saat ini kamu katakan atau tidak? karena dulu saja kamu selalu berbohong padaku, padahal kita hidup bersama. Apa lagi saat ini di saat kita hidup terpisah. Aku di Jawa dan Kamu di Depok. Hanya Yang Kuasa yang tahu isi hatimu sesungguhnya."
"Kadang aku heran padamu yang benar-benar bisa tega dengan anak dan istri pada saat di rantau. Sampai anak ingin membeli susu kotak saja yang harganya nggak seberapa, pasti kamu marah-marah padaku."
"Kamu lebih suka membelikan anak susu kaleng yang kam katakan lebih murah dan lebih irit. Serta satu kaleng bisa di pakai untuk beberapa hari."
Terus saja istri bengong sendiri memikirkan segala yang terjadi di masa saat dirinya berada bersama suaminya di rantau. Hingga satu tepukan di bahu mengangetkan dirinya.
"Bun, dari tadi aku itu ajak kamu ngobrol. Tetapi kenapa kamu malah melamun sendiri?"
Sang istri pun berkata," aku sedang memikirkan kehidupan ekonomi rumah tangga kita. Kedepannya mau seperti apa? jika melihat kondisi keuangan ayah."
"Bukannya barusan aku mengatakan jika aku sedang berusaha mencari kerjaan yang lebih bagus lagi. Dimana gaji lebih besar. Aku sudah mendapatkan informasi dari salah satu saudaraku yang ada di kota Bogor."
"Dia mengatakan jika di sana ada kerjaan untuk diriku dengan gaji empat juta perbulan. Selisih banyak kan, Bun. Karena di tempat kerja aku yang sekarang gaji cuma dua juta empat ratus sebulan."
Mendengar perincian tentang gaji yang suami katakan, tak lantas membuat sang istri percaya. Karena sifat istri tergolong susah.
Jika dia sudah di bohongi, untuk percaya lagi sepertinya sangatlah sulit. Sang istri hanya menanggapi dengan berhooh ria saja tanpa berkata hal lain lagi.
Di depan kedua orang tua istri, suami selalu mengatakan hal baik tentang pekerjaan dirinya. Dan juga dia mengatakan memiliki pekerjaan sampingan dengan bekerja sama dengan saudaranya yang berada di kota Cibinong .
Hingga kedua mertuanya percaya saja jika selama ini menantunya tanggungjawab terhadap anak dan cucunya. Mereka sama sekali tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi di belakang itu.
Hingga kerap kali, sang ayah selalu memuji menantunya ini. Apa lagi di hadapan mertuanya, sang menantu suka sekali pencitraan.
Dia membelikan makanan-makanan enak, membelikan rokok, dan lain sebagainya. Hingga dirinya selalu terlihat baik di depan kedua mertuanya.
Padahal setelah ia melakukan itu semua, nantinya ia meminta ganti uang kepada istrinya. Dengan alasan uang yang ia pakai adalah untuk transportasi kembali ke Depok.
Selalu saja istri mengalah dan mengalah, hal ini demi keutuhan rumah tangganya. Walaupun di dalam hatinya terasa sakit sekali. Yang kerap kali ia rasakan hingga kerap kali sesak napas mendera.
"Memang mengerti watak asli seseorang itu jika kita benar-benar sudah hidup bersama satu atap dengannya," batin istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments