Susah Di Ajak Berdiskusi

Ana sama sekali tidak menuruti kemauan dari Hendy. Hingga Hendy agak sedikit kesal juga," Bun, kamu kok jadi wanita pelit amat sih? punya penghasilan nggak mau di gunakan sama sekali untuk kebutuhan bersama.'

Mendengar kata pelit yang di katakan oleh Hendy, Ana pun naik pitam," apa yang barusan aku dengar mas? kamu mengatakan aku pelit dan tak menggunakan uangku?"

"Apa kamu lupa pada saat aku mendapatkan uang puluhan juta di Depok? siapa yang bayar kontrakan, belanja dapur dan lain sebagainya?"

"Bukankah pernah beberapa bukan lamanya kamu tak pernah memberikan uang untukku. Dan meminta semua kebutuhan rumah di topang dengan uang hasil menulis aku?"

"Kamu bilang, yang mau kamu tabung? dan banyak lagi akan darimu waktu itu. Bahkan hingga aku pulang kampung, kamu juga kirim seminggu hanya tiga ratus ribu. Itupun kamu tidak rutin kirim, sebulan kadang kirim dua atau tidak kalo saja."

"Asal perlu kdm tahu ya, mas! jika aku pelit aku tidak mengeluarkan duit sepeserpun dan duit dari hasil aku menulis bisa untuk membeli lahan tanah"

"Ini semua gara-gara kamu yang terlalu mengandalkan aku hanya karena aku sudah bisa mencari uang. Padahal pendapatan dari menulis itu tidaklsh pasti."

"Seharusnya kita sebagai suami istri itu bekerja sama. Bukan seperti ini adanya. Hampir kamu itu kamu sama saja menelantarkan amak istri. Karena aku selalu bersusah payah mencari duit sendiri!"

Mendengar apa yang di katakan oleh istrinya panjang lebar, tak lantas membuat Hendy bisa mengoreksi diri dan sadar akan kesalahannya selama ini. Ia malah semakin memanciny emosi, Ana.

"Siapa yang telah mengandalkanmu? selama ini aku nggak nganggur tapi kerja. Kamu saja yang nggak pernah bisa bersyukur. Seenaknya juga mengatakan aku telah menelantarkanmu dan Fani!"

"Menelantarkan itu membiarkan kalian hidup di jalanan sana terlunta-lunta! kalau bicara itu yang benar. Jika nggak mau mengeluarkan uang untuk kita sekedar bermain ke tempat wisata ya sudah nggak apa-apa."

"Nggak usah panjang lebar ceramahi aku. Dan nggak usah sombong mentang-mentang sekarang kamunbjda mencari uang sendiri."

Jika sudah seperti ini, Ana hanya bisa menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Karena percuma saja ia berkata, yang ada jawaban tak pernah nyambung.

Ana bicara A, Hendy jawabnya B. Nggak pernah sesuai dengan apa yang sedang di bahas. Hingga Ana hanya bisa diam dan diam. Ia merasa cape juga meladeni suaminya.

Dia terpancing emosi karena kata-kata pelit, padahal selama ini ia sudah banyak berkorban. Dari hasil ia menulis sudah banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Jaman modern seperti ini, mana cukup uang tiga ratus ribu untuk satu Minggu. Dan ini juga tak rutin dalam memberikannya.

Ana merasa kesal pada suaminya karena tak bisa berpikir. Apakah dengan uang tiga ratus ribu cukup untuk satu bulan?

"Mas, kamu tahu nggak? dan kamu pernah berpikir nggak? sekarang ini apa-apa mahal, apa lagi dulu waktu di Depok. Kebutuhan pokok semua mahal," ucap Ana.

"Ya aku tahulah, memangnya aku anak kecil yang perlu di kasih tahu! aku juga beberapa kali belanja sendiri bukan?" ucap Hendy.

"Lantas jika kamu tahu, apa kamu pikir uang tiga ratus ribu untuk seminggu itu cukup? apa lagi kamu memberinya juga nggak rutin setiap Minggu?" tanya Ana lagi.

"Iya aku tahu uang tiga ratus ribu nggak cukup. Lantas mau bagaimana lagi, memang adanya segitu. Aku minta maaf belum bisa menyenangmsn dirimu," ucap Hendy pada akhirnya mengaku.

"Maaf katamu? yang aku butuhkan bukan suatu kata maaf. Aku itu kadang heran dengan apa yang kamu katakan. Kamu itu terlalu banyak kebohongan selama ini," ucap Ana.

"Bun, memangnya aku bohong apa? aku selalu jujur padamu, kok di katakan bohong?" protes Hendy.

"Jujur, Ayah. Aku itu lelah hidup denganmu yang tak bisa jujur. Kamu selalu katakan gaji kecil hingga tak bisa memberikan jatah banyak. Tetapi jika aku menyarankan pindah kerja, kamu katakan sayang, karena gaji sudah naik. Di sinilah letak kebohonganmu."

"Kamu selalu mengatakan kamu sengaja memberi jatah aku sedikit karena kamu tabung. Tetapi jika aku tanya berapa tabungan kamu saat ini. Kamu berkata beda lagi. Nggak punya tabungan."

"Apakah selama ini kamu ada main dengan wanita di Depok ya? hingga banyak sekali alasan yang tak masuk di akal. Dan kata-katamu itu plin-plan."

Hendy tak terima pada saat dirinya di katakan ada main dengan wanita lain," heh, jaga bicaramu ya? aku selama ini tidak pernah bermain dengan wanita."

Ana hanya tersenyum sinis," ucapanmu dengan perbuatanmu itu berbeda, Ayah. Tetapi sudahlah, terserah kamu saja. Aku sudah cape berdebat denganmu. Aku percaya kok dengan yang Maha Kuasa. Apa yang kamu tabur atau tanam, kelak itu pula yang kamu dapatkan atau hasilkan."

Setelah mengatakan hal itu, Ana berlalu pergi dari hadapan Hendy.

*********

Tak terasa sudah dua hari Hendy ada di rumah mertuanya. Tetapi Ana sama sekali tidak bersikap manis padanya. Karena ia benar-benar sudah lelah dengan sikap suaminya.

Kadang ia juga enggan melayani hasrat suaminya, tetapi ia paksa melayaninya. Karena ia tak ingin berdosa walaupun di dalam hatinya enggan sekali dan tidak ikhlas.

"Bun, kenapa kamu diam saja? aku rindu kita ngobrol. Mumpung Fani sudah tidur," ucap Hendy menghampiri istrinya.

"Ngobrol apa? toh jika kita ngobrol yang ada kamu selalu membuat aku emosi dan jika sudah emosi aku yang rugi karena tidak bisa memutar otakku untuk membuat novel. Lagi pula sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan bukan? semuanya sudah jelas," ucap Ana ketus.

"Maksudnya apa ya, Bun?" tanya Hendy yang pikirannya rada kurang bisa memahami.

'Masih bertanya, pikir saja sendiri. Sudahlah, aku mau tidur karena nanti malam mau menulis. Nggak seperti itu ya nggak ada yang bisa di harapkan. Mau nyari uang untuk sekolah Fani. Maklumlah, punya suami seperti nggak punya suami."

Saat itu juga Ana tarik selimut dan tidur, ia sama sekali tak menghiraukan Hendy lagi. Matanya mulai terpejam. Tidak dengan Hendy, ia malah sibuk dengan ponselnya. Entah sedang melihat chat atau hanya sekedar melihat akun sosial medianya.

Beginilah kehidupan rumah tangga Ana, entah mau bagaimana kedepannya karena sikap Hendy yang tak bisa di ajak bekerja sama. Ia selalu saja mengandalkan istrinya.

Hingga saat ini belum terjawab juga rasa penasaran Ana untuk hasil kerja Hendy. Karena Ana sama sekali tak pernah mengecek ponsel Hendy, apa lagi ponsel selalu di kantung celananya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!