Bab 13 - Kenalan Dulu

Selama perjalanan pulang, Dara merasa tidak nyaman. Rehan yang sedang menyetir sering melihatinya dari spion.

Pria itu selalu tersenyum saat tatapan mata mereka saling bertemu. Dan terpaksa Dara jadi membalas dengan tersenyum tipis.

Dara melihat Ayah yang duduk di samping Rehan. Mereka mengobrol panjang. Dan Bunda yang duduk di samping Dara, ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Sepertinya Rehan sudah begitu dekat dengan keluarganya. Pria itu tidak ada canggung atau grogi berbicara dengan Ayah dan Bunda.

'Seriusan nih, aku akan menikah dengan pria ini?!' Batin Dara mendadak bingung sendiri.

Di lihat-lihat pria yang bernama Rehan ini sepertinya baik. Tapi... Dara tidak ada niatan untuk menikah.

Rasa takut masih menghantuinya. Jika persiapan nanti sudah 100% dan batal lagi bagaimana? Calon pengantin prianya kabur. Mengingat itu kembali membuat dadanya mulai sesak.

Roni saja yang sudah menjalin kasih dengannya selama bertahun-tahun, bisa meninggalkannya tepat di hari H pernikahan mereka.

Lah ini, pria yang baru dikenal. Bagaimana bisa dipercaya?

Dara menyandarkan kepalanya di bahu Bunda. Rasanya ia ingin berteriak dan menangis saja. Ia tidak percaya lagi, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain.

"Kenapa, nak?" Tanya Bunda bingung.

"Ngantuk, Bun. Nanti bangunkan Dara ya Bun, kalau sudah sampai." Dara pun memejamkan matanya.

Pria itu masih sempat melirik Dara di spion dan tersenyum tipis.

Sampai rumah, Rehan membantu Dara menurunkan barang-barangnya. Membawa masuk ke rumah. Hal itu membuat Dara jadi tidak enak.

"Buat minum sana!" Bisik Bunda menyuruh putrinya.

Dara melihat Bunda dengan bingung dan Bunda memberi isyarat untuk cepat ke dapur.

Di dapur Dara membuatkan teh untuk Ayah, Bunda dan Rehan. Ia juga menghidangkan ole-ole makanan yang dibawanya.

Kini Dara sudah duduk berdua dengan Rehan di ruang tamu. Ayah dan Bunda sengaja meninggalkan mereka. Memberi ruang untuk keduanya bisa mengobrol.

"Kamu pasti lelah ya." Ucap Rehan membuka obrolan.

"Tidak kok. Tadi di pesawat aku sudah tidur." Jawab Dara sekenanya.

"Boleh minta nomor ponsel kamu?" Rehan menyerahkan ponselnya.

Dara mengangguk lalu meraih dan menambahkan nomor ponselnya di ponsel Rehan.

"Terima kasih. Nanti malam aku boleh telepon kamu, kan?!" Tanya Rehan memastikan. Takutnya menganggu Dara.

Dara mengangguk pelan.

Tak lama Rehan pun pamit pulang. Rehan memang baik. Berpamitan pada kedua orang tuanya juga.

Setelah Rehan pulang. Dara melihat aneh, wajah Bunda yang begitu bahagia.

"Dara, baikkan Rehan?! Dia cocok sama kamu!" Ucap Bunda senang.

"Bunda..." Dara menggeleng. Jujur, ia tidak nyaman dengan perjodohan ini.

"Yakin saja. Rehan itu sangat baik, sopan dan sangat bertanggung jawab. Semoga kalian berjodoh dan niat baik ini bisa lancar hingga ke pernikahan!" Bunda mengerti melihat ekspresi putrinya saat ini.

Dara sudah tidak muda lagi, ia harus cepat menikah. Jika hanya ketakutan saja, kapan Dara akan lepas dari bayang-bayang itu dan move on dari masa lalu yang menyakitkan.

"Sudah sana kamu istirahat. Besokkan mau kencan sama Rehan!" Goda sang Bunda.

"Bunda!" Dara pun memanyunkan bibirnya.

\=\=\=\=\=\=

Seorang pria berdiri di depan sebuah rumah. Berdiri memandangi rumah berlantai dua.

"Yoan!!!"

Pria itu memegangi dadanya. Benar-benarlah suara mamanya yang melengking itu, membuat orang kaget saja.

"Akhirnya anakku pulang juga!" Mama memeluk Yoan dengan erat. Tidak peduli jika mereka masih di depan rumah.

"Ma, jangan peluk aku!" Yoan merasa gerah. Mamanya terlalu bersemangat memeluknya.

"Bagaimana rumah ini?" Mama pun membawa Yoan masuk dan meminta pekerja rumah membawa koper sang putra.

Mama membawa Yoan berkeliling, melihat-lihat rumah mereka. Setelah kejadian dua tahun yang lalu dan perginya Yoan menenangkan diri ke luar kota. Keluarganya memutuskan untuk pindah rumah. Mereka ingin sang putra tidak mengingat kenangan menyakitkan lagi. Tapi... sampai dua tahun, putranya itu tidak mau pulang-pulang.

"Bu Yumi... saya tidak berniat membeli rumah anda!" Ucap Yoan kesal. Mamanya memaksanya berkeliling. Seperti agen properti, yang sedang menawarkan rumah kepada calon pembeli.

"Ayo, kita lihat kamar kamu!" Mama tidak peduli dan membawa Yoan ke kamarnya.

"Ini kamar kamu. Suka kan?!"

Yoan menggeleng. "Ma, aku bukan anak kecil." Yoan menghembus nafas.

"Bagi Mama, kamu itu masih anak kecil yang menggemaskan!!!" Mama mencubiti pipi Yoan.

"Ibu Yumi!" Pria itu memegang tangan Mamanya. Ia pria dewasa dan bukan bocah cilik lagi.

"Ibu Yumi Ibu Yumi. Ibu Yumi itu Mama kamu!" Mama mendengus Yoan selalu memanggilnya begitu.

"Ma, aku mau istirahat. Selamat malam." Yoan tersenyum sebentar.

"Istirahatlah. Besok pagi Mama buatkan sarapan." Mama mengelus kepala Yoan dengan sayang.

"Terima kasih, Ibu Yumi." Yoan pun menutup pintu. Meninggalkan sang Mama yang cemberut di depan pintu.

Yoan menatap kamarnya yang luas dan bersih. Di dinding banyak tergantung foto-foto dirinya bersama Papa dan Mamanya.

Ia berjalan menuju tempat tidur. Lalu membaringkan tubuhnya yang mulai terasa lelah.

Bayangan wajah Dara saat terlelap di pesawat terlintas di pikirannya.

'Jadi dia pulang, untuk menikah?!'

\=\=\=\=\=\=

"Yoan, ayo sarapan! Mama masak omlet spesial buat kamu." Ucap Mama menyajikan sarapan yang telah dimasaknya.

"Terima kasih, Ibu Yumi." Yoan meraih piring dan mulai melahap sarapan tersebut.

"Kapan kamu akan mulai ke kantor, Yo?" Tanya Papa yang juga sarapan bersamanya.

"Minggu depan saja ya, Pa. Aku ingin liburan sejenak." Jawab Yoan cepat. Ia harus mempersiapkan mental, sebelum ke kantor pusat.

"Yoan... Ada yang mau Mama katakan sama kamu!" Ucap Mama setelah mereka selesai sarapan.

"Ada apa, Ma?" Yoan menatap Mamanya serius.

Mama bangkit dan menunjukkan ponselnya pada Yoan.

"Yang ini namanya Cantika, cantikkan dia. Ini Amelia, model internasional. Yang ini Laura, Papanya teman Papa dan ini... Jadi kamu mau kenalan dengan yang mana?"

"Mama!!!" Yoan mengusap wajahnya. Ia tadi mengira ada hal serius. Ternyata sang Mama, menunjukkan beberapa foto wanita padanya.

"Kamu kenalan dulu. Mau tahu kalian berjodoh." Ucap paruh baya itu meyakinkan.

"Mama-"

"Kamu harus segera menikah, Yoan. Kamu mau wanita yang mana, nak? Mama jamin ia tidak akan meninggalkanmu!" Mama meyakinkan Yoan kembali. Putranya pasti masih trauma dan sakit hati pada masa lalunya.

"Ma-"

Mama tetap kembali menunjukkan foto-foto wanita-wanita itu. Yang cantik, tinggi, putih, seksi, imut dan beragamlah.

"Mereka masih single dan siap menikah. Kamu tunjuk saja mana yang kamu mau. Nanti biar Mama yang atur. Kamu tenang saja. Di jamin aman dan terkendali!"

Yoan mengusap wajahnya lagi sambil melirik ke arah Papanya. Papanya malah tersenyum sambil mengangkat bahu.

"Nanti jam 1 kamu ketemu dulu sama yang ini. Namanya Veronika. Dia cantik, baik hati dan tidak sombong..."

"Pak Dana, tolong aku!!!"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Zieya🖤

Zieya🖤

nahh kan betul anaknya pak Dana 🤭🤭

2024-09-25

0

Dwi Setyaningrum

Dwi Setyaningrum

nah iyakan anaknya pak dana Yoan itu bosnya dara dl😁

2024-07-10

0

Dwi Setyaningrum

Dwi Setyaningrum

ini Yoan anaknya pak dana bosnya dara dulu ya Thor yg katanya kasusnya sperti dara ditinggal pengantinnya🤔🤔berarti jodoh nih sama2 pernah terluka jd bisa penyembuh kalau disatukan..

2024-07-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tentang Dara
2 Bab 2 - Perawan Tua
3 Bab 3 - Mak Comblang
4 Bab 4 - Modus Pria
5 Bab 5 - Pengangguran
6 Bab 6 - Awal Bertemu
7 Bab 7 - Merantau
8 Bab 8 - Konsumen
9 Bab 9 - Ancaman
10 Bab 10 - Malik
11 Bab 11 - Ole-Ole
12 Bab 12 - Pulang Kampung
13 Bab 13 - Kenalan Dulu
14 Bab 14 - Penguntit
15 Bab 15 - Calon Istri Orang
16 Bab 16 - Ternyata
17 Bab 17 - Janur Kuning
18 Bab 18 - Hari Pertama
19 Bab 19 - Orang Pintar
20 Bab 20 - Bertemu Kembali
21 Bab 21 - Demam
22 Bab 22 - Cara Berkenalan
23 Bab 23 - Bertemu Dia
24 Bab 24 - Mencari Dara
25 Bab 25 - Ayo Kita Menikah
26 Bab 26 - Tidak Sabaran
27 Bab 27 - Dua Pria
28 Bab 28 - Mawar Putih
29 Bab 29 - Blokir
30 Bab 30 - Alasannya
31 Bab 31 - Bukan Tipemu
32 Bab 32 - Masih Menunggu
33 Bab 33 - Ingin Kembali
34 Bab 34 - Aku Akan Menikah
35 Bab 35 - Calon Suami
36 Bab 36 - Kesempatan
37 Bab 37 - Kekasih Sebulan
38 Bab 38 - Ratu Pemarah
39 Bab 39 - Semangat Yoan
40 Bab 40 - Ternyata Dia
41 Bab 41 - Menunggu Dara
42 Bab 42 - Tukang Ojek
43 Bab 43 - Menggemaskan
44 Bab 44 - Ditikung
45 Bab 45 - Meminta Restu
46 Bab 46 - Aku Mau
47 Bab 47 - Calon Menantu
48 Bab 48 - Perhatian Yoan
49 Ban 49 - Bertemu Calon Mertua
50 Bab 50 - Gombal
51 Bab 51 - Mas
52 Bab 52 - Niat Baik
53 Bab 53 - Prewed
54 Bab 54 - Keras Kepala
55 Bab 55 - Alasan Yoan
56 Bab 56 - Tidak Tahu Tentangnya
57 Bab 57 - Bertemu Lagi
58 Bab 58 - Tidak Ingat
59 Bab 59 - Mas Yoan
60 Bab 60 - Fitnah Roni
61 Bab 61 - Aku Mencintaimu
62 Bab 62 - Dara Natasha
63 Bab 63 - Yoan Perdana Putra
64 Bab 64 - Kartu Undangan
65 Bab 65 - Rasa Manis
66 Bab 66 - Tinggalkan Dara
67 Bab 67 - Lupa Sekitar
68 Bab 68 - Ke Toko Sepatu
69 Bab 69 - Percaya
70 Bab 70 - Mantan Dara
71 Bab 71 - Meresahkan
72 Bab 72 - Siap Menikah
73 Bab 73 - Keluarga Jauh
74 Bab 74 - Hari H
75 Bab 75 - Sah
76 Bab 76 - Hari Bahagia
77 Bab 77 - Malam Pertama
78 Bab 78 - Sehari Bersamamu
79 Bab 79 - Menghindar
80 Bab 80 - Olahraga Malam
81 Bab 81 - Saran
82 Bab 82 - Dara Hilang
83 Bab 83 - Masa Lalu
84 Bab 84 - Rumah Baru
85 Bab 85 - Kumpul Keluarga
86 Bab 86 - Sakit Perut
87 Bab 87 - Mencintaimu
88 Bab 88 - Jalan-Jalan
89 Bab 89 - Menggali Kembali
90 Bab 90 - Bertemu Maudy
91 Bab 91 - Terbuka
92 Bab 92 - Sudah Berubah
93 Bab 93 - Rasa Cinta
94 Bab 94 - Kelakuan Roni
95 Bab 95 - Mantan Yoan
96 Bab 96 - Teror
97 Bab 97 - Ketakutan Dara
98 Bab 98 - Perihal Jeri
99 Bab 99 - Anak Siapa?
100 Bab 100 - Jujur
101 Bab 101 - Perselingkuhan
102 Bab 102 - Masa Lalu
103 Bab 103 - Masa Lalu 2
104 Bab 104 - Masa Lalu 3
105 Bab 105 - Hanya Masa Lalu
106 Bab 106 - Berdamai
107 Bab 107 - Mengecek
108 Bab 108 - Hamil
109 Bab 109 - Mundur
110 Bab 110 - Papa
111 Bab111 - Kelakuan Yoan
112 Bab 112 - Ke Kantor Yoan
113 Bab 113 - Kencan Bertiga
114 Bab 114 - Demi Putriku
115 Bab 115 - Bahagia
116 PROMO
117 Promo
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1 - Tentang Dara
2
Bab 2 - Perawan Tua
3
Bab 3 - Mak Comblang
4
Bab 4 - Modus Pria
5
Bab 5 - Pengangguran
6
Bab 6 - Awal Bertemu
7
Bab 7 - Merantau
8
Bab 8 - Konsumen
9
Bab 9 - Ancaman
10
Bab 10 - Malik
11
Bab 11 - Ole-Ole
12
Bab 12 - Pulang Kampung
13
Bab 13 - Kenalan Dulu
14
Bab 14 - Penguntit
15
Bab 15 - Calon Istri Orang
16
Bab 16 - Ternyata
17
Bab 17 - Janur Kuning
18
Bab 18 - Hari Pertama
19
Bab 19 - Orang Pintar
20
Bab 20 - Bertemu Kembali
21
Bab 21 - Demam
22
Bab 22 - Cara Berkenalan
23
Bab 23 - Bertemu Dia
24
Bab 24 - Mencari Dara
25
Bab 25 - Ayo Kita Menikah
26
Bab 26 - Tidak Sabaran
27
Bab 27 - Dua Pria
28
Bab 28 - Mawar Putih
29
Bab 29 - Blokir
30
Bab 30 - Alasannya
31
Bab 31 - Bukan Tipemu
32
Bab 32 - Masih Menunggu
33
Bab 33 - Ingin Kembali
34
Bab 34 - Aku Akan Menikah
35
Bab 35 - Calon Suami
36
Bab 36 - Kesempatan
37
Bab 37 - Kekasih Sebulan
38
Bab 38 - Ratu Pemarah
39
Bab 39 - Semangat Yoan
40
Bab 40 - Ternyata Dia
41
Bab 41 - Menunggu Dara
42
Bab 42 - Tukang Ojek
43
Bab 43 - Menggemaskan
44
Bab 44 - Ditikung
45
Bab 45 - Meminta Restu
46
Bab 46 - Aku Mau
47
Bab 47 - Calon Menantu
48
Bab 48 - Perhatian Yoan
49
Ban 49 - Bertemu Calon Mertua
50
Bab 50 - Gombal
51
Bab 51 - Mas
52
Bab 52 - Niat Baik
53
Bab 53 - Prewed
54
Bab 54 - Keras Kepala
55
Bab 55 - Alasan Yoan
56
Bab 56 - Tidak Tahu Tentangnya
57
Bab 57 - Bertemu Lagi
58
Bab 58 - Tidak Ingat
59
Bab 59 - Mas Yoan
60
Bab 60 - Fitnah Roni
61
Bab 61 - Aku Mencintaimu
62
Bab 62 - Dara Natasha
63
Bab 63 - Yoan Perdana Putra
64
Bab 64 - Kartu Undangan
65
Bab 65 - Rasa Manis
66
Bab 66 - Tinggalkan Dara
67
Bab 67 - Lupa Sekitar
68
Bab 68 - Ke Toko Sepatu
69
Bab 69 - Percaya
70
Bab 70 - Mantan Dara
71
Bab 71 - Meresahkan
72
Bab 72 - Siap Menikah
73
Bab 73 - Keluarga Jauh
74
Bab 74 - Hari H
75
Bab 75 - Sah
76
Bab 76 - Hari Bahagia
77
Bab 77 - Malam Pertama
78
Bab 78 - Sehari Bersamamu
79
Bab 79 - Menghindar
80
Bab 80 - Olahraga Malam
81
Bab 81 - Saran
82
Bab 82 - Dara Hilang
83
Bab 83 - Masa Lalu
84
Bab 84 - Rumah Baru
85
Bab 85 - Kumpul Keluarga
86
Bab 86 - Sakit Perut
87
Bab 87 - Mencintaimu
88
Bab 88 - Jalan-Jalan
89
Bab 89 - Menggali Kembali
90
Bab 90 - Bertemu Maudy
91
Bab 91 - Terbuka
92
Bab 92 - Sudah Berubah
93
Bab 93 - Rasa Cinta
94
Bab 94 - Kelakuan Roni
95
Bab 95 - Mantan Yoan
96
Bab 96 - Teror
97
Bab 97 - Ketakutan Dara
98
Bab 98 - Perihal Jeri
99
Bab 99 - Anak Siapa?
100
Bab 100 - Jujur
101
Bab 101 - Perselingkuhan
102
Bab 102 - Masa Lalu
103
Bab 103 - Masa Lalu 2
104
Bab 104 - Masa Lalu 3
105
Bab 105 - Hanya Masa Lalu
106
Bab 106 - Berdamai
107
Bab 107 - Mengecek
108
Bab 108 - Hamil
109
Bab 109 - Mundur
110
Bab 110 - Papa
111
Bab111 - Kelakuan Yoan
112
Bab 112 - Ke Kantor Yoan
113
Bab 113 - Kencan Bertiga
114
Bab 114 - Demi Putriku
115
Bab 115 - Bahagia
116
PROMO
117
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!