Bab 2 - Perawan Tua

"Kak Dara!"

Dara yang sedang berjalan di lobi sebuah perusahaan menoleh ke arah suara. Terlihat seorang wanita berlarian kecil menghampirinya.

"Kak Dara... Lihat ini!" Ucap Eka menunjukkan jari manisnya yang melingkar sebuah cincin.

"Wah... Apa kau dilamar?" Tanya Dara dengan wajah bertanya.

Eka mengangguk pelan. "Iya, dia melamarku tadi malam. Dan dalam waktu dekat ini, aku akan menemui orang tuanya." Ucap Eka dengan wajah berbinar.

Dara agak bingung. Temannya belum lama ini baru menjalin hubungan. Apa sudah seserius itu? Cepat sekali!

"Selamat ya. Semoga lancar tanpa hambatan sampai ke pernikahan." Doa Dara dengan tulus. Ia menepis pikiran negatif yang tadi sempat singgah.

"Kak, mau ku kenali sama temannya nggak?" Eka menawarkan.

Dara menggeleng dan kembali melangkahkan kaki.

"Kak Dara... Ayolah!" Eka menyusul temannya yang sudah menjauh itu.

"Aku nggak suka pria, Ka."

"Tapi kakak suka laki-laki, kan?!" Ledek Eka. Dara selalu menolak, jika ia ingin mengenalkan teman dari kekasihnya.

Dara sudah berada di meja kerjanya. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum memulai pekerjaannya.

"Hei... perawan tua!!!"

Dara berpura-pura tidak mendengar. Atasannya itu selalu memanggilnya begitu. Entah apa faedah buatnya.

"Hei... Saya memanggil kamu. Kenapa kamu tidak menyahut?" Bu Upik mendatangi meja Dara. Ia melipat tangannya di dada. Menatap tajam Dara.

"Oh... kapan Ibu memanggil saya ya?" Tanya Dara bersikap biasa. Seolah tidak mendengar wanita itu tadi memanggilnya.

"Perawan tua. Saya memanggil kamu seperti itu!" Cibirnya.

"Sepertinya mata anda bermasalah, Bu. Nama saya Dara Natasha bukan perawan tua." Balas Dara menunjukkan name tag-nya.

Hal tersebut membuat Bu Upik makin kesal dan rekan kerja yang mendengar menahan senyum.

Bu Upik, kepala bagian di devisi keuangan yang terkenal sangat cerewet. Atasan mereka itu suka sekali mencari masalah dengan Dara. Jika rekan kerja akan membela, wanita dengan lipstik merah yang begitu cetar akan mengancam memecat mereka.

Mau tidak mau rekan kerjanya hanya diam saja. Tapi mereka cukup senang. Dara selalu bisa menjawab perkataan atasan mereka tersebut. Dara selalu membalas dengan tenang, tapi mampu membuat Bu Upik jadi kesal minta ampun.

"Kamu!!!" Bu Upik menunjuk Dara tidak senang. Dan Dara bersikap biasa saja ditunjuk seperti itu.

"Apa ada yang mau ibu katakan?" Tanya Dara masih tenang. Walaupun dalam hatinya, ia ingin sekali mengajak wanita bertubuh gempal itu untuk bergelut.

"Bawa laporan yang semalam saya suruh kamu kerjakan!" Pinta Bu Upik masih dengan mata tajam. Ia pun pergi meninggalkan Dara dan masuk ke ruangannya.

"Kak, sabar ya." Bisik Eka menepuk pundak Dara. Ia ingin membela temannya. Tapi takut dipecat. Bu Upik bekingnya manajer di perusahaan ini. Jadi mudah saja memecat mereka jika tidak senang.

Dara hanya tersenyum dan mengambil laporan yang disuruh wanita itu. Lalu berjalan menuju ruangan Bu Upik.

Setelah batalnya pernikahan dan kejadian Dara yang berniat bunuh diri. Orang tua Dara memutuskan untuk pindah. Hal itu dilakukan agar Dara, tidak terus-terusan mengingat kejadian itu, karena mulut tetangga yang sangat berbisa.

Keluarga Dara pindah ke luar kota. Di tempat baru, tidak ada yang tahu perihal pernikahan Dara yang pernah batal.

Dan di perusahaan tempat Dara bekerja juga, tidak ada yang tahu tentang masa lalunya Dara. Mereka hanya tahu perihal Dara yang tak kunjung menikah, meski usia sudah tidak muda lagi.

Jika Bu Upik tahu tentang pernikahannya yang pernah batal. Tah seperti apa lagi cibiran wanita itu padanya.

\=\=\=\=\=\=

Dara turun dari kenderaan umum. Ia lalu berjalan memasuki gang rumahnya.

Di sore yang masih sangat cerah, dengan semilir angin yang menyejukkan. Terlihat banyak tetangga rempong yang sedang menggosip di teras rumah.

Dara berjalan santai sambil memberi senyum tipis. Namanya juga tetangga, ia harus tetap menyapa, bukan?

"Wanita karir baru pulang."

"Kerja terus kapan nikahnya?"

"Uang dicari... nggak dibawa mati loh!"

Dara tidak menanggapi, ia terus berjalan menuju rumahnya saja. Ia sudah kebal menjadi objek gibahan di gang tersebut.

Jika Dara sudah menanggapi. Ia jadi menyusahkan kedua orang tuanya. Tetangganya pernah dilarikan ke rumah sakit, karena kalah bergelut dengan dirinya. Kalau sudah bergelut, Dara bisa gelap mata. Dan tidak sadar sudah memelintir tangan tetangganya itu sampai tulangnya bergeser.

Dan karena itu juga, mereka diusir dari daerah tersebut. Dan pindah di tempat yang sekarang ini.

Dara tidak mau kedua orang tuanya kesulitan lagi karenanya. Makanya ia lebih memilih diam dan seakan budek dengan ucapan nyinyir mereka.

"Bunda... Dara pulang!" Ucapnya ketika memasuki rumah. Ia segera menuju dapur untuk mengambil air dingin dalam lemari es. Mendinginkan hatinya kembali.

"Dara... Ayo cepat mandi!" Bunda mendorong sang putri masuk ke kamarnya.

"Dara lapar, Bunda." Dara ingin makan baru setelah itu mandi.

"Sudah mandi dulu sana!!!" Bunda tetap memaksa untuk mandi.

Tak lama setelah mandi, Dara ke dapur. Ia mengambil piring. Perutnya sudah keroncongan.

"Nanti saja makannya." Bunda datang dan mengembalikan piring yang dipegang Dara ke rak piring. Lalu menggeret Dara ke luar rumah.

"Ada yang mau Bunda kenali sama kamu. Dia ponakannya tante Meti."

Ternyata Bunda menyuruhnya mandi, karena ada maksud. Menyomblanginya.

"Bunda... Dara nggak mau. Dara lapar mau makan." Wanita itu akan kembali ke dapur.

"Dara, ayolah Nak! Ayah dan Bundamu sudah makin tua. Kami hanya ingin ada yang menjagamu nantinya!" Bunda memelas pada putrinya. Demi kebahagiaan Dara, Bunda memasang wajah sedih.

"Bunda..." Dara sedih melihat wajah Bunda. "Baiklah, Bun. Hanya mengobrol saja, kan? kalau nggak cocok sama Dara, Bunda jangan memaksa!"

Dengan cepat Bundanya mengangguk. Ia cukup senang, Dara mau menurutinya.

"Dara... Kenali ini Imam, ponakan tante. Dan Iman, ini Dara tetangga sebelah." Tante Meti mengenalkan mereka.

Imam tersenyum senang. Wanita yang dikenalkan dengannya ternyata cantik. Ia pun mengulurkan tangannya.

Dara membalas uluran tangan Imam. Meski dengan terpaksa. Karena tampak Bunda tersenyum-senyum melihatnya dari depan pintu.

"Kalian ngobrol dulu ya. Tante mau ke rumah tetangga." Tante Meti meninggalkan mereka di ruang tamu.

"Kamu kerja di mana?" Tanya Imam ingin tahu.

"Perdana Group." Jawab Dara seadanya. Ia sangat lapar, Bunda tidak mengizinkannya makan terlebih dahulu.

Imam mengangguk. "Kalau boleh tahu, umur kamu berapa?

"30."

"30?" Imam memastikan kembali.

Dara mengangguk.

"Kamu becanda. Mana mungkin!" Imam tidak percaya. Wajah Dara tidak terlihat seusia itu. Seperti baru berusia 25 tahunan. Sebaya dengannya.

"Untuk apa aku becanda denganmu?! Aku sedang menjawab pertanyaanmu!" Tegas Dara. Ia sedang tidak berbasa basi.

Pria itu tertawa, ia tidak menyangka wanita di hadapannya sudah berusia jauh di atasnya.

"Maaf, sebelumnya. Aku mencari wanita yang sebaya denganku atau di bawahku. Bukan perawan tua!!!" Ucap Imam kesal. Ia tadi merasa cocok dengan Dara, tapi ternyata wanita cantik itu sudah berumur.

"Di usia sepertimu ini, tingkat kesuburan sudah berkurang. Bisa-bisa aku tidak memiliki anak, jika menikah denganmu!" Imam menggeleng, ia tidak mau hal itu terjadi.

"Hei!!! kau kira aku mau dengan anak bau kencur seperti dirimu?!" Dara pun membalas. Pria itu mulutnya sangat lancip.

"Apa katamu?" Imam tidak senang. Usianya sudah 25 tahun dibilang anak bau kencur. Ia sangat tidak terima.

"Anak bau kencur!!! Apa perlu ku ulang lagi?!" Dara bangkit dari duduknya. Menatap kesal pria yang lebih muda darinya itu.

"Kencing belum lurus saja, sudah belagu!!!" Setelah mengatakan itu, Dara pun pergi.

"Kau!!! Dasar!!!"

.

.

.

Terpopuler

Comments

Dwi Setyaningrum

Dwi Setyaningrum

hehehe kencing blm lurus😀 emang mesti lurus ya MB dara 🤭😀

2024-07-10

0

Nur fadillah

Nur fadillah

Kasihan sedih banget lihat Dara...sabar ya Anak Sholehah....😍😍

2024-07-09

0

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

Bu upikmulutmu pedas amat kl g tahu kebenarannya mengapa blm nikah g usah julid seperti tetangga.

2024-03-22

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tentang Dara
2 Bab 2 - Perawan Tua
3 Bab 3 - Mak Comblang
4 Bab 4 - Modus Pria
5 Bab 5 - Pengangguran
6 Bab 6 - Awal Bertemu
7 Bab 7 - Merantau
8 Bab 8 - Konsumen
9 Bab 9 - Ancaman
10 Bab 10 - Malik
11 Bab 11 - Ole-Ole
12 Bab 12 - Pulang Kampung
13 Bab 13 - Kenalan Dulu
14 Bab 14 - Penguntit
15 Bab 15 - Calon Istri Orang
16 Bab 16 - Ternyata
17 Bab 17 - Janur Kuning
18 Bab 18 - Hari Pertama
19 Bab 19 - Orang Pintar
20 Bab 20 - Bertemu Kembali
21 Bab 21 - Demam
22 Bab 22 - Cara Berkenalan
23 Bab 23 - Bertemu Dia
24 Bab 24 - Mencari Dara
25 Bab 25 - Ayo Kita Menikah
26 Bab 26 - Tidak Sabaran
27 Bab 27 - Dua Pria
28 Bab 28 - Mawar Putih
29 Bab 29 - Blokir
30 Bab 30 - Alasannya
31 Bab 31 - Bukan Tipemu
32 Bab 32 - Masih Menunggu
33 Bab 33 - Ingin Kembali
34 Bab 34 - Aku Akan Menikah
35 Bab 35 - Calon Suami
36 Bab 36 - Kesempatan
37 Bab 37 - Kekasih Sebulan
38 Bab 38 - Ratu Pemarah
39 Bab 39 - Semangat Yoan
40 Bab 40 - Ternyata Dia
41 Bab 41 - Menunggu Dara
42 Bab 42 - Tukang Ojek
43 Bab 43 - Menggemaskan
44 Bab 44 - Ditikung
45 Bab 45 - Meminta Restu
46 Bab 46 - Aku Mau
47 Bab 47 - Calon Menantu
48 Bab 48 - Perhatian Yoan
49 Ban 49 - Bertemu Calon Mertua
50 Bab 50 - Gombal
51 Bab 51 - Mas
52 Bab 52 - Niat Baik
53 Bab 53 - Prewed
54 Bab 54 - Keras Kepala
55 Bab 55 - Alasan Yoan
56 Bab 56 - Tidak Tahu Tentangnya
57 Bab 57 - Bertemu Lagi
58 Bab 58 - Tidak Ingat
59 Bab 59 - Mas Yoan
60 Bab 60 - Fitnah Roni
61 Bab 61 - Aku Mencintaimu
62 Bab 62 - Dara Natasha
63 Bab 63 - Yoan Perdana Putra
64 Bab 64 - Kartu Undangan
65 Bab 65 - Rasa Manis
66 Bab 66 - Tinggalkan Dara
67 Bab 67 - Lupa Sekitar
68 Bab 68 - Ke Toko Sepatu
69 Bab 69 - Percaya
70 Bab 70 - Mantan Dara
71 Bab 71 - Meresahkan
72 Bab 72 - Siap Menikah
73 Bab 73 - Keluarga Jauh
74 Bab 74 - Hari H
75 Bab 75 - Sah
76 Bab 76 - Hari Bahagia
77 Bab 77 - Malam Pertama
78 Bab 78 - Sehari Bersamamu
79 Bab 79 - Menghindar
80 Bab 80 - Olahraga Malam
81 Bab 81 - Saran
82 Bab 82 - Dara Hilang
83 Bab 83 - Masa Lalu
84 Bab 84 - Rumah Baru
85 Bab 85 - Kumpul Keluarga
86 Bab 86 - Sakit Perut
87 Bab 87 - Mencintaimu
88 Bab 88 - Jalan-Jalan
89 Bab 89 - Menggali Kembali
90 Bab 90 - Bertemu Maudy
91 Bab 91 - Terbuka
92 Bab 92 - Sudah Berubah
93 Bab 93 - Rasa Cinta
94 Bab 94 - Kelakuan Roni
95 Bab 95 - Mantan Yoan
96 Bab 96 - Teror
97 Bab 97 - Ketakutan Dara
98 Bab 98 - Perihal Jeri
99 Bab 99 - Anak Siapa?
100 Bab 100 - Jujur
101 Bab 101 - Perselingkuhan
102 Bab 102 - Masa Lalu
103 Bab 103 - Masa Lalu 2
104 Bab 104 - Masa Lalu 3
105 Bab 105 - Hanya Masa Lalu
106 Bab 106 - Berdamai
107 Bab 107 - Mengecek
108 Bab 108 - Hamil
109 Bab 109 - Mundur
110 Bab 110 - Papa
111 Bab111 - Kelakuan Yoan
112 Bab 112 - Ke Kantor Yoan
113 Bab 113 - Kencan Bertiga
114 Bab 114 - Demi Putriku
115 Bab 115 - Bahagia
116 PROMO
117 Promo
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1 - Tentang Dara
2
Bab 2 - Perawan Tua
3
Bab 3 - Mak Comblang
4
Bab 4 - Modus Pria
5
Bab 5 - Pengangguran
6
Bab 6 - Awal Bertemu
7
Bab 7 - Merantau
8
Bab 8 - Konsumen
9
Bab 9 - Ancaman
10
Bab 10 - Malik
11
Bab 11 - Ole-Ole
12
Bab 12 - Pulang Kampung
13
Bab 13 - Kenalan Dulu
14
Bab 14 - Penguntit
15
Bab 15 - Calon Istri Orang
16
Bab 16 - Ternyata
17
Bab 17 - Janur Kuning
18
Bab 18 - Hari Pertama
19
Bab 19 - Orang Pintar
20
Bab 20 - Bertemu Kembali
21
Bab 21 - Demam
22
Bab 22 - Cara Berkenalan
23
Bab 23 - Bertemu Dia
24
Bab 24 - Mencari Dara
25
Bab 25 - Ayo Kita Menikah
26
Bab 26 - Tidak Sabaran
27
Bab 27 - Dua Pria
28
Bab 28 - Mawar Putih
29
Bab 29 - Blokir
30
Bab 30 - Alasannya
31
Bab 31 - Bukan Tipemu
32
Bab 32 - Masih Menunggu
33
Bab 33 - Ingin Kembali
34
Bab 34 - Aku Akan Menikah
35
Bab 35 - Calon Suami
36
Bab 36 - Kesempatan
37
Bab 37 - Kekasih Sebulan
38
Bab 38 - Ratu Pemarah
39
Bab 39 - Semangat Yoan
40
Bab 40 - Ternyata Dia
41
Bab 41 - Menunggu Dara
42
Bab 42 - Tukang Ojek
43
Bab 43 - Menggemaskan
44
Bab 44 - Ditikung
45
Bab 45 - Meminta Restu
46
Bab 46 - Aku Mau
47
Bab 47 - Calon Menantu
48
Bab 48 - Perhatian Yoan
49
Ban 49 - Bertemu Calon Mertua
50
Bab 50 - Gombal
51
Bab 51 - Mas
52
Bab 52 - Niat Baik
53
Bab 53 - Prewed
54
Bab 54 - Keras Kepala
55
Bab 55 - Alasan Yoan
56
Bab 56 - Tidak Tahu Tentangnya
57
Bab 57 - Bertemu Lagi
58
Bab 58 - Tidak Ingat
59
Bab 59 - Mas Yoan
60
Bab 60 - Fitnah Roni
61
Bab 61 - Aku Mencintaimu
62
Bab 62 - Dara Natasha
63
Bab 63 - Yoan Perdana Putra
64
Bab 64 - Kartu Undangan
65
Bab 65 - Rasa Manis
66
Bab 66 - Tinggalkan Dara
67
Bab 67 - Lupa Sekitar
68
Bab 68 - Ke Toko Sepatu
69
Bab 69 - Percaya
70
Bab 70 - Mantan Dara
71
Bab 71 - Meresahkan
72
Bab 72 - Siap Menikah
73
Bab 73 - Keluarga Jauh
74
Bab 74 - Hari H
75
Bab 75 - Sah
76
Bab 76 - Hari Bahagia
77
Bab 77 - Malam Pertama
78
Bab 78 - Sehari Bersamamu
79
Bab 79 - Menghindar
80
Bab 80 - Olahraga Malam
81
Bab 81 - Saran
82
Bab 82 - Dara Hilang
83
Bab 83 - Masa Lalu
84
Bab 84 - Rumah Baru
85
Bab 85 - Kumpul Keluarga
86
Bab 86 - Sakit Perut
87
Bab 87 - Mencintaimu
88
Bab 88 - Jalan-Jalan
89
Bab 89 - Menggali Kembali
90
Bab 90 - Bertemu Maudy
91
Bab 91 - Terbuka
92
Bab 92 - Sudah Berubah
93
Bab 93 - Rasa Cinta
94
Bab 94 - Kelakuan Roni
95
Bab 95 - Mantan Yoan
96
Bab 96 - Teror
97
Bab 97 - Ketakutan Dara
98
Bab 98 - Perihal Jeri
99
Bab 99 - Anak Siapa?
100
Bab 100 - Jujur
101
Bab 101 - Perselingkuhan
102
Bab 102 - Masa Lalu
103
Bab 103 - Masa Lalu 2
104
Bab 104 - Masa Lalu 3
105
Bab 105 - Hanya Masa Lalu
106
Bab 106 - Berdamai
107
Bab 107 - Mengecek
108
Bab 108 - Hamil
109
Bab 109 - Mundur
110
Bab 110 - Papa
111
Bab111 - Kelakuan Yoan
112
Bab 112 - Ke Kantor Yoan
113
Bab 113 - Kencan Bertiga
114
Bab 114 - Demi Putriku
115
Bab 115 - Bahagia
116
PROMO
117
Promo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!