Pengagum Rahasia

“Mas kira-kira kalau benerin genting kayak gitu habis berapa ya?”. Tanya ibu pada pakde untuk menghilangkan kecanggungan dalam ruangan tersebut gara-gara brownis.

“Ya tergantung mau modelnya seperti apa?”.

“Biasah-biasah saja mas, kiranya tidak kebocoran gitu aja kalau hujan”.

“Kalau sekedar mengganti genting saja tanpa mengubah yang lain ya sekitar lima belas juta cukuplah, tapi kalau ganti yang lain ya bisa lebih”.

“Gini aja wes Mur, kamu minta uang ke Tari seadanya berapa, tiap bulan suruh nitip ke aku biar aman gak kepakai yang lainnya, mumpung masih muda belum kawin. Kalau sudah nikah, duh bingung sama keluarganya sendri yang ada rumah kalian belum di benerin”.

“Nanti deh mbak aku coba bilang lagi sama Tari gimana baiknya”.

“Sudah malam mbak, aku tak pulang dulu ya, kasian Ipul di rumah tidak ada temannya”.

Ibu berlalu meninggalkan rumah pakde, sesampainya di pelantaran rumah pakde ibu bertemu dnegan mas Udin yang baru saja pulang dari kerja. Terlihat mas Udin membawa satu kresek putih berisi martabak.

Iya yakin sekali itu isinya martabak tercium dari aromanya yang menyebar ke mana-mana, sayangnya mas Udin hanya menyapa tanpa membagi jajan bawahannya.

***

Seminggu berlalu, Tari melakukan aktivitas seperti biasa, Tari akan berangkat pagi sekali dan akan pulang saat malam menjelang begitu terus rutinitasnya selama beberapa bulan ini.

“Ya Allah jika seperti ini terus, kira-kira aku nanti ketemu jodoh lewat jalur apa”. Ucap Tari dalam hati sembari meneguk air putih yang ada di genggamannya.

Sejak obrolan beberapa hari yang lalu dengan ibunya kini Tari benar-benar tak mau lagi membeli makanan yang enak. Tari hanya makan dengan lauk sederhana tahu dan tempe asal kenyang dan bisa bertahan hidup, yang penting untuk keluarga di rumah tidak kekurangan.

Tapi sampai kapan?.

Hanya Allah yang maha tahu.

Pukul sembilan malam, Tari merebahkan tubuhnya di atas kasur yang tak empuk tapi cukup nyaman untuk tempat beristirahat. Baru sepuluh menit menempelkan wajahnya di bantal, Tari sudah terlelap dalam tidurnya merangkai mimpi yang indah.

Rasanya tiap kali tertidur Tari enggan untuk terbangun kembali, karena dengan tertidur dan berada di alam mimpi Tari akan merasa bebas dari kerasnya beban hidup.

Sayangnya ketenangan tak berlangsung lama, satu jam kemudian tepatnya pukul sepuluh malam ponselnya kembali berdering berkali-kali.

Ibu.

“Ada apa ibu telfon malam-malam”. cap Tari lekas mengambil ponselnya yang tertindih bantal.

“Assalamualaikum bu ada apa? Ibu belum tidur?”. Suara Tari sedikit parau baru bangun dai tidur tak di sengajanya.

“Wassalamualaikum Tar, ibu tidak bisa tidur nak, di sini hujan ibu takut nanti rumahnya bocor semua, siapa yang kasih ember kalau ibu tertidur”.

Mendengar pernyataan sang ibu hati Tari sakit, Tari merasa belum bisa menjadi anak yang baik karena belum mampu memenuhi kebutuhan sang ibu.

“Sabar ya bu”. Jawabku dengan pelan dan merasa bersalah pada ibu.

“Nak masak kamu tega lihat ibu begini terus kalau hujan”.

Tes air mata Tari jatuh mendengar penuturan sang ibu

“Nak kalau ada sedikit uang tolonglah nak, dahulukan benerin genting rumah ibu. Rumah ini harta satu-satunya peninggalan bapakmu, kita yang masih hidup harus merawat dengan baik peninggalan bapak”.

“Injih bu, Tari usahakan”.

“Kata pakde tadi kira-kira butuh sekitar lima belas juta sdah cukup Tar kala hanya untuk benerin gentingnya saja, sementara gentingnya aja dulu yang didahulukan yang lainya bisa nanti-nanti menyusul”.

“Iya bu nanti Tari usahakan untuk lekas terkumpul uangnya, bu sudah malam sebaiknya ibu istirahat dulu ya jangan capek-capek. Tari juga mau tidur besok pagi-pagi harus ke Malang lagi”.

Aku lekas mengakhiri sambungan telfon dengan ibu.

Hatiku terasa sesak setiap kali mendapat telfon dari rumah, tidak ada yang lain selain uang yang di bicarakan.

Ya orang hidup memang butuh uang, uang bukan segalanya tapi kalau tidak punya banyak uang ya repot sendiri.

“Astaghfirullah maafkan bukan maksud aku tak bersyukur”.

“Alhamdulilah”. Tari lekas mengucapkan sukur yang tiada terkira masih di beri nikmat sehat meski masih harus berjuang demi keluarganya.

“Ah bukankah memang hidup adalah sebuah perjuangan, jika memang tak mau berjuang ya mati saja”. Tari lekas menyalakan kipas dan berangkat tidur.

Begitulah kira-kira semboyan hidup Tari jika sudah lelah dengan segala permintaan orang rumah.

***

Pagi harinya Tari bangun lebih pagi dari sebelumnya menyiapkan semuanya. Tari akan memasak dulu sebelum berangkat kerja. Tari masak untuk dirinya sendiri sarapan dan bekal makan siang. Tak jarang jika terlihat makan tersebut banyak Tari jga akan membungkukkan untuk Fitri sahabatnya.

Seperti yang sudah di rencanakan hari ini Tari aka berangkat ke Malang dengan beberapa tim yang lain. Keberangkatan akan dimulai dalam sepuluh menit ke depan. Semua karyawan yang bertugas untuk keluar kota sudah bersiap.

Sebelum berangkat mereka melakukan briefing terlebih dahulu untuk membahas job disk yang akan di lakukan di sana, serasa sudah cukup semuanya mereka lekas berangkat. Rombongan berangkat menggunakan mobil fasilitas perusahaan.

Sesampainya di lokasi semua bersiap dengan tugasnya masing-masing. Tari tampak bersemangat setiap kali melakukan pekerjaannya. Tari akan sepenuh hati dan totalitas ketika bekerja.

Ada tambahan tugas khusus untuk riset ke lapangan hari itu. Pimpinan mereka merubah sedikit metode sampel yang di gunakan dalam riset ini. Pimpinan tersebut menambahkan variasi responden dalam penelitian tersebut. Tapi sayangnya dari keseluruhan karyawan yang di kirim enggan untuk menjalankan tugas tersebut.

Pagi menuju siang itu Tari membantu menyebar kuisioner yang berkaitan tentang penilaian dan kepuasan konsumen tehadap suatu produk yang sedang di rilis oleh perusahaan mereka.

Sebenarnya ini bukan menjadi tugas Tari, hanya saja segala tugas dan tanggung jawabnya sdah selesai semua. Tari tak mau diam orangnya jadi turut serta membantu rekan yang lainnya untuk bekerja.

Tari begitu detail menjelaskan satu persatu pertanyaan tersebut pada responden yang ada guna mendapatkan jawaban yang benar-benar valid dan nyata. Kala itu responden yang di pilih adalah seorang wanita yang tak lagi muda.

Beliau sekitar berumur tujuh pluh tahun lebih sehingga membutuhkan bimbingan khusus ketika mengisi kuisioner tersebut. Dengan cekatan dan kesabaran Tari memandu nenek tersebut untuk mengisi kuisioner tersebut.

Sebenarnya riset dalam proyek ini lebih pada segmen mahasiswa sebagi respondennya, tapi beberapa jam yang lal pimpinan mereka memberikan tugas untuk menambah responden dengan usia di atas tujuh pluh tahun.

Tak jarang setelah mengisi bagian-bagian dari pertanyaan tersebut Tari dan nenek tersebut saling bercanda dan melempar tawa, keduanya seperti terlibat dalam percakapan yang sangat menarik.

Sementara itu di sebrang sana tampak dari kejauhan, sosok pria sedang mengawasi setiap gerak-gerik dari Bethari Ambarwati. Pria tersebut tersenyum kala melihat Tari dengan begitu tulusnya membimbing sang nenek untuk mengisi kuisioner.

Episodes
1 Permintaan ibu
2 Kabar Dari Rumah
3 Wejangan Ibu
4 Surat mengejutkan
5 Pulang Kampung
6 Srapan Pagi
7 Rumah Sakit
8 Prihal Biaya
9 Menu Sarapan Ala Bethari
10 Bethari Di Salahkan
11 Bertemu Sahabat
12 Kebiasaan Ibu
13 Sepucuk Harapan
14 Kompor
15 Prihal Gaji
16 Nasihat Mereka
17 Saran Bude
18 Nasi Bebek
19 Pengagum Rahasia
20 Kegelisaan Bethari
21 Liburan Keluarga Bude
22 Kepulangan Keluarga Bude
23 Tentang Strudel
24 Promosi Jabatan
25 Formasi Lengkap
26 Kepergian Mbah
27 Empat Puluh Hari Mbah
28 Prihal Rumah
29 Rumah
30 Terjual
31 Melamar
32 POV Bethari
33 Mobil Baru Udin
34 Persiapan Lamaran
35 Lamaran
36 Sakit Perut
37 Menjaga Jarak Aman
38 SAH?
39 Hubunan Baru
40 Honeymoon Berjamaah
41 Honeymoon Berjamaah 2
42 Honeymoon Berjamaah 3
43 Keluarga Baru
44 Menjenguk Ibu
45 Penantian
46 Kedatangan Ibu
47 Hari Minggu
48 Mengadpsi?
49 Do'a dan Harapan
50 MAAF
51 Sebuh Rahasia
52 Ketika Cinta Di Uji
53 Menjemput Risma
54 Kehadir Risma
55 Perintah Yang Sulit
56 Hati Yang Tak Mampu Terbagi
57 Mari Kita Bercerai
58 Terbongkar Sebagian
59 Merasa Ada Yang Berbeda
60 Hati Bu Marni
61 Di Antara Dua Hati
62 Rasa Yang Tak Terbalas
63 Menutupi Sebuah Kebenaran
64 Seharusnya Tidak Seperti Itu
65 Tentang Kejujuran
66 Sebuah Luka
67 Menuju Kehancuran
68 Awal Kehancuran
69 Kehancuran
70 Pilu
71 Sama-sama Terluka
72 Menutupi Sebuah Luka
73 Saling Terluka
74 Saling Terluka 2
75 Aku Kalah
76 Keyakinan Seorang Ibu
77 Kemarahan Ipul
78 Pelajaran Pertama
79 Tiga Insan Yang terluka
80 Semua Tentang Bthari
81 Arti Sahabat
82 Harapan Randi
83 Menantu Dan Mertua
84 Permintaan Mertua
85 Biar Aku Yang Memilih
86 Keputusan
87 Tempat Baru
88 Tamparan
89 Ibu Dan Anak
90 Isi Amplp Coklat
91 Keputusan Bersama
92 Hari Setelah Kepergiannya
93 Hilang Arah Tanpanya 1
94 Hilang arah tanpanya 2
95 Terabaikan
96 Arisan Keluarga
97 Rencana Bude
98 Menjalnkan Rencana
99 Periksa Kehamilan
100 Mungkinkah?
101 Takdir Allah
102 Keinginan Risma
103 Nasi Goreng Putih
104 Rama
105 Ikan Cupang
106 Tujuh Bulan
107 Janda
108 Novel Baru Jingga
109 Tenggelam
110 Apa Ini Surga?
111 Rumah sakit
112 Rumah Sakit 2
113 Pasar Malam
114 Anisa Fatin Fauziah
115 Kejutan
116 Kejutan 2
117 Terungkap
118 Hari Selepas Kebenaran
119 Hari Selepas Kebenaran 2
120 Awal Kehidupan Bethari
121 Kehidupan Randi
122 Suara Hati Risma
123 Apa Itu Hantu?
124 Bthari Dan Risma
125 Drama Pagi
126 Berangkat Bersama
127 Akankah?
128 Rama dan Risma
129 Rama dan Risma 2
130 Tentang Senja
131 131
132 Ibu dan Rama
133 Rencana Ibu
134 Ayah?
135 Makan Malam
136 Hari Ayah
137 Tragedi Siang
138 Kondisi Risma
139 Rumah Sakit
140 Tiga Rasa
141 Foto Bertiga
142 Foto Bertiga 2
143 Apakah?
144 Tes DNA?
145 Menuju Tes DNA
146 Dugaan Randi
147 Aku Masih Menunggu Jawabanmu
148 Pertemuan Randi dengan Risma
149 Pertemuan Randi dan Tari 1
150 Pertemuan Randi dan Tari 2
151 Pertemuan Randi dan tari 3
152 Bagaimana Hasilnya?
153 Hasil Tes DNA
154 Kau mengemis padaku?
155 Aku Bukan Figuran
156 Dukungan Ibu
157 Randi dan Rama?
158 Nasihat Ibu
159 Berkenalan Dengan Orang Tua Rama
160 Aku Bukan Wanita Sempurna
161 Jadi Kapan?
162 Lamaran Keluarga Randi
163 Undangan
164 Nyekar
165 Persiapan Pernikahan
166 Randi dan Mawar
167 Menuju Sah
168 SAH
169 Pernikahan Rama dan Tari
170 Selepas Akad
171 Mualai Bekerja
172 Berlibur
173 Selepas Liburan
174 Taspack Dari Ibu Mertua
175 Pingsan
176 Hamil
177 Keluarga Yang Berbahagia
178 promo novel Mengejar Cinta Fatimah
Episodes

Updated 178 Episodes

1
Permintaan ibu
2
Kabar Dari Rumah
3
Wejangan Ibu
4
Surat mengejutkan
5
Pulang Kampung
6
Srapan Pagi
7
Rumah Sakit
8
Prihal Biaya
9
Menu Sarapan Ala Bethari
10
Bethari Di Salahkan
11
Bertemu Sahabat
12
Kebiasaan Ibu
13
Sepucuk Harapan
14
Kompor
15
Prihal Gaji
16
Nasihat Mereka
17
Saran Bude
18
Nasi Bebek
19
Pengagum Rahasia
20
Kegelisaan Bethari
21
Liburan Keluarga Bude
22
Kepulangan Keluarga Bude
23
Tentang Strudel
24
Promosi Jabatan
25
Formasi Lengkap
26
Kepergian Mbah
27
Empat Puluh Hari Mbah
28
Prihal Rumah
29
Rumah
30
Terjual
31
Melamar
32
POV Bethari
33
Mobil Baru Udin
34
Persiapan Lamaran
35
Lamaran
36
Sakit Perut
37
Menjaga Jarak Aman
38
SAH?
39
Hubunan Baru
40
Honeymoon Berjamaah
41
Honeymoon Berjamaah 2
42
Honeymoon Berjamaah 3
43
Keluarga Baru
44
Menjenguk Ibu
45
Penantian
46
Kedatangan Ibu
47
Hari Minggu
48
Mengadpsi?
49
Do'a dan Harapan
50
MAAF
51
Sebuh Rahasia
52
Ketika Cinta Di Uji
53
Menjemput Risma
54
Kehadir Risma
55
Perintah Yang Sulit
56
Hati Yang Tak Mampu Terbagi
57
Mari Kita Bercerai
58
Terbongkar Sebagian
59
Merasa Ada Yang Berbeda
60
Hati Bu Marni
61
Di Antara Dua Hati
62
Rasa Yang Tak Terbalas
63
Menutupi Sebuah Kebenaran
64
Seharusnya Tidak Seperti Itu
65
Tentang Kejujuran
66
Sebuah Luka
67
Menuju Kehancuran
68
Awal Kehancuran
69
Kehancuran
70
Pilu
71
Sama-sama Terluka
72
Menutupi Sebuah Luka
73
Saling Terluka
74
Saling Terluka 2
75
Aku Kalah
76
Keyakinan Seorang Ibu
77
Kemarahan Ipul
78
Pelajaran Pertama
79
Tiga Insan Yang terluka
80
Semua Tentang Bthari
81
Arti Sahabat
82
Harapan Randi
83
Menantu Dan Mertua
84
Permintaan Mertua
85
Biar Aku Yang Memilih
86
Keputusan
87
Tempat Baru
88
Tamparan
89
Ibu Dan Anak
90
Isi Amplp Coklat
91
Keputusan Bersama
92
Hari Setelah Kepergiannya
93
Hilang Arah Tanpanya 1
94
Hilang arah tanpanya 2
95
Terabaikan
96
Arisan Keluarga
97
Rencana Bude
98
Menjalnkan Rencana
99
Periksa Kehamilan
100
Mungkinkah?
101
Takdir Allah
102
Keinginan Risma
103
Nasi Goreng Putih
104
Rama
105
Ikan Cupang
106
Tujuh Bulan
107
Janda
108
Novel Baru Jingga
109
Tenggelam
110
Apa Ini Surga?
111
Rumah sakit
112
Rumah Sakit 2
113
Pasar Malam
114
Anisa Fatin Fauziah
115
Kejutan
116
Kejutan 2
117
Terungkap
118
Hari Selepas Kebenaran
119
Hari Selepas Kebenaran 2
120
Awal Kehidupan Bethari
121
Kehidupan Randi
122
Suara Hati Risma
123
Apa Itu Hantu?
124
Bthari Dan Risma
125
Drama Pagi
126
Berangkat Bersama
127
Akankah?
128
Rama dan Risma
129
Rama dan Risma 2
130
Tentang Senja
131
131
132
Ibu dan Rama
133
Rencana Ibu
134
Ayah?
135
Makan Malam
136
Hari Ayah
137
Tragedi Siang
138
Kondisi Risma
139
Rumah Sakit
140
Tiga Rasa
141
Foto Bertiga
142
Foto Bertiga 2
143
Apakah?
144
Tes DNA?
145
Menuju Tes DNA
146
Dugaan Randi
147
Aku Masih Menunggu Jawabanmu
148
Pertemuan Randi dengan Risma
149
Pertemuan Randi dan Tari 1
150
Pertemuan Randi dan Tari 2
151
Pertemuan Randi dan tari 3
152
Bagaimana Hasilnya?
153
Hasil Tes DNA
154
Kau mengemis padaku?
155
Aku Bukan Figuran
156
Dukungan Ibu
157
Randi dan Rama?
158
Nasihat Ibu
159
Berkenalan Dengan Orang Tua Rama
160
Aku Bukan Wanita Sempurna
161
Jadi Kapan?
162
Lamaran Keluarga Randi
163
Undangan
164
Nyekar
165
Persiapan Pernikahan
166
Randi dan Mawar
167
Menuju Sah
168
SAH
169
Pernikahan Rama dan Tari
170
Selepas Akad
171
Mualai Bekerja
172
Berlibur
173
Selepas Liburan
174
Taspack Dari Ibu Mertua
175
Pingsan
176
Hamil
177
Keluarga Yang Berbahagia
178
promo novel Mengejar Cinta Fatimah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!