...“Bismillahirrahmanirrahim”....
Dengan sigap Tari melangkah menuju ruangan yang sudah di siapkan untuk tes wawancara pagi itu.
Seperti tes-tes pekerjaan pada umumnya tes kali ini terbagi menjadi beberapa sesi, tahap satu wawancara, tahap dua tes tulis dan tahap tiga nanti tes user yang langsung dihadapkan dengan kepala divisi masing-masing.
Tiga hari sudah Tari menetap sementara untuk mengikuti serangkaian tes tersebut, hingga tibalah hari ini terakhir penentuan untuk di terima atau tidaknya.
“Berapa gaji yang anda inginkan?”.
Tanya salah satu HRD pada Tari kala itu.
“Sesai dengan kemampuan dan keterampilan yang saya miliki”.
“Lima juta gaji pokok?”.
Tawar pihak HRD tersebut.
“Apa tidak bisa naik lagi pak?”.
Betahri tak mau kalah untuk menawar, mengingat kebutuhan keluarganya sangat banyak.
“Tawaran terakhir enam juta gaji pokok di luar lembur dan bonus serta tunjangan. Bagaimana apakah anda bersedia?”.
“Bersedia pak”.
Mereka berdua saling berjabat tangan dan lekas menandatangani surat kontrak.
Ya aku di terima bekerja di salah satu perusahaan ice cream di daerah Rungkut Surabaya sebagai sekretaris dengan gaji enam juta selama satu bulan di luar bonus, uang lembur dan tunjangan yang lainnya. Harusnya dengan uang enam juta untuk tinggal di Surabaya sudah cukup.
Singkat cerita aku akan memulai bekerja di hari senin minggu depan. Beberapa hari yang tersisa ini akan aku gunakan untuk mencari tempat tinggal. Karena untuk mendapatkan tempat tinggal yang nyaman dan murah tidaklah mudah. Sebenarnya Fitri menawarkan untuk tinggal bersama tapi aku merasa tidak enak terlalu banyak merepotkan.
***
☘️☘️☘️
Jika gaji yang aku peroleh hanya separo dari gajiku yang dulu berarti aku harus merubah porsi pembagian jatah bulanan untuk semuanya, agar hidup masih tetap bisa berlangsung. Dengan penuh pertimbangan yang matang aku akan mengurangi jatah untuk ibu dan Ipul.
“Assalamualaikum bu apa kabar?”.
“Wassalamualaikum, baik nak kamu bagaimana?”.
“Tari baik bu”.
“Bu ada yang mau Tari katakan”.
“Bu mohon maaf sebelumnya, tolong pengertian ibu”.
Aku menjeda sejenak ucapanku.
‘Apa Tar katakan saja”.
“Bu aku sekarang pindah kerja di Surabaya”.
“Wah bagus dong nak kalau begitu, jadi dekat rumah kamu akan sering-sering pulang menjenguk ibu dan Ipul, jadi pengertian apa yang kamu harapkan?. Ibu senang sekali kalau akan sering bertemu denganmu”.
Ibu terdengar begitu antusias kala mendengar kabar tersebut, aku tak kuasa mengatakan kabar yang kedua prihal jatah bulanan.
“Bu doakan Tari ya semoga pekerjaannya lancar dan membawa keberkahan”.
“Kalau mau kerjanya lancar dan berkah itu gampang Tar, sering-sering shodaqoh pasti rezeki akan lancar”.
“Hem sedekah yang seperti apa lagi yang belum aku lakukan bu”. Ucap Tari dalam hati.
“Tar kamu itu kerjanya apa sih nak? Biar kalau di tanya orang ibu tak salah jawab”.
“Sekretaris bu”.
“Ya sudah ibu jaga kesehatan ya jangan capek-capek, aku mau istirahat dulu”.
Aku tak kuasa untuk mengatakan pada ibu utuk mengurangi jatah bulanannya, tapi bagaimana nanti bisa hidup jika jatah bulanan ibu tetap lima juta sedangkan gaji hanya enam juta. Harapanku hanya satu semoga banyak lembur dan pekerjaan tambahan nantinya.
Sejenak aku berbaring di atas kasur untuk melihat media sosial berharap menemukan hiburan di sana. Aku memang memiliki beberapa media sosial tapi aku sama sekali tak pernah menggugah foto di sana, aku tak punya cukup kepercayaan diri.
.
.
.
.
Beberapa saat kemudian.
Satu panggilan masuk.
📞 Ipul
“Mbak jadi bagaimana apa uangnya sudah ada?”.
Ya Ipul kembali menanyakan pihal uang untuk pembayaran studytournya.
“Masih bulan depan kan dek?, mbak usahakan dulu ya”.
“Mbak kalau tidak ada, tidak usah di paksakan. Aku gak papa kok kalau tidak ikut”.
Mendengar perkataan Ipul membuat hatiku terasa di iris-iris.
“Kasian sekali kamu dek, kenapa harus terlahir dalam keluarga yang serba kekurangan seperti ini”. Batinku dalam hati.
“Sudah jangan dipikirkan tugas kamu belajar yang benar Pul, biar nanti kalau sudah dewasa bisa hidup dalam kecukupan rezeki. Soal biaya untuk studytour doain ada jalan ya nanti mbak usahakan”.
“Aku kasian lihat mbak Tari”.
Bagaimana bisa anak sekecil Ipul saja sudah mengerti rasa kasihan, sedang mereka yang tua-tua malam semena-mena seperti penjajah.
“Pul mbak boleh bertanya sesuatu?”.
“Apa mbak?”.
“Apakah keluarga pakde masih makan di rumah kita?”.
“Masih mbak seperti biasanya”.
Aku kembali menghela nafas yang berat.
“Kenapa mbak?”.
“Tidak papa, ya sudah kamu istirahat dulu sana sudah malam besok sekolah. Mbak besok juga sudah mulai kerja lagi”.
Aku menutup sambungan telfon.
***
Di Rumah Ibu.
“Lo Mar Tari ke mana ya kok tidak pernah kelihatan lagi?”.
“Walah mas Tari sudah balek kerja dari seminggu yang lalu, kemarin waktu mau balek buru-buru di jemput sama temannya pagi-pagi sekali”.
“Wah gak sopan bener anak itu, masak gak pamit dulu sama pakdenya, orang jalan pulang juga”.
“Tenang mas sekarang Tari kerjanya pindah di Surabaya deket sini, jadi bisa sering-sering pulang”.
“Enak lo Mar kalau deket rumah”.
Seperti biasa pakde berbicara sambil mengunyah makanan yang terhidang di atas meja makan.
“’Mar, Tari itu kerjanya ngapain sih?”.
Tanya bude dengan menyeruput teh hangat pagi itu.
“Bethari itu kerjanya di kantor-kantor mbak, pake baju bagus-bagus gitu. Jadi sekretaris katanya mbk”.
“Waduh Mar wenak itu. Pasti gajinya gede benget Mar”.
“Masak sih mbak?”.
Ibu menatap bude dengan mengerutkan keningnya.
“Iya Mar itu gede banget gajinya. Mumpung belum nikah Mar, Tari itu suruh benerin rumah nih, lihat genteng kamu merosot semua, cat rumah juga sudah gak beraturan warnanya, apalagi lantainya nih, motif kuno".
Bude menunjuk genting, tembok dan juga tekel rumahku.
“Bilangin Tari Mar jangan boros-boros hidupnya, suruh banyak-banyak nabung atau kalau mau uangnya di titipkan ke aku saja biar lebih aman”.
“Anak muda sekarang kalau tidak di kasih tahu gitu, gak mungkin punya tabungan pasti habis buat jajan sama beli baju saja”.
“Kalau tidak kamu minta di belikan perhiasan gitu sama Tari, masak anaknya jadi sekretaris ibunya polosan gak ada perhiasan sama sekali”.
“Lihat nih Udin saja yang hanya buruh pabrik bisa belikan aku gelang dan kalung”.
Bude menunjukan kalung dan gelang yang dipakainya.
“Bagus sekali mbak”.
Puji ibu dengan memegang gelang dan kalung bude.
“Ya baguslah, anakku itu kan pinter nabung Mar, meski hanya kerja jadi buruh pabrik dia gak mau jajan di luar. Uangnya semua aku yang pegang”.
“Kayak begini berapa gram mbak?”. Tanya ibu dengan menunjuk perhiasan bude.
“Kalau kalung ini dua puluh gram kalau gelangnya lima belas gram”.
“Buruan sana minta ke Tari perhiasan, kalau aku jadi kamu ya Mar malulah masak anaknya jadi sekretaris ibunya gundul brundul begini, mana pake gelang karet pula”.
Ibu mengangguk-angguk kepalanya tampak menimbang-nimbang ucapan bude.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments