...“Aku memang bukan anak yang baik, tapi bukan berati aku tidak sayang dengan Ibu”....
Satu bulan sudah aku bekerja di Surabaya, tibalah hari yang cukup lama aku tunggu beberapa minggu ini.
“Ya gajian”.
Aku menunggu hari itu tiba gajian alhamdulilah.
Sepulang dari kantor aku lekas menuju ATM terdekat yang ada di kosku, saat itu hari jum’at kebetulan besok libur kerja. Jadi aku memutuskan untuk pulang saja menjenguk ibu sekalian ingin mengantarkan uang untuk mereka di rumah.
“Alhamdulillah, meskipun jumlahnya tak sebesar dari gajiku sebelumnya, semoga dengan gaji ini mambawa keberkahan untukku dan keluarga, semoga uang ini cukup untuk hidup sampai bulan ke depan”. Ucapku dalam hati.
Banyak hal yang sudah aku angankan dengan uang ini, aku akan membagi menjadi beberapa pos. Karena gaji yang diterima bulan ini murni gaji pokok saja enam juta maka aku akan mengalokasikan sebagi berikut.
Lima ratus ribu untuk biaya studytour Ipul, tiga juta untuk biaya hidup ibu dan Ipul di rumah, satu juta untuk biaya hidupku di sini sekalian untuk bayar kos dan sisanya lagi akan aku tabung sebagai dana darurat jika diperlukan di kemudian hari.
Harapanku cuma satu, semoga ibu bisa menerima keadaan yang baru ini.
Dengan penuh semangat dan senyum yang mengembang sempurna di wajahku aku pulang ke rumah, kali ini aku memilih untuk pulang sendiri tidak enak merepotkan Fitri terus, aku pulang menggunakan kendaraan umum karena memang di rumah hanya ada satu motor dan biasanya akan di pakai ibu untuk berbelanja.
Seperti biasa sebelum pulang aku menyempatkan untuk membelikan sedikit oleh-oleh untuk orang di rumah, kali ini aku tak membeli banyak oleh-oleh aku hanya membeli dau kilo bah jeruk saja kiranya hanya untuk aku, Ipul dan ibu saja.
Kenapa?.
Apa aku pelit?.
Tidak.
Aku tidak bermaksud untuk pelit hanya saja aku menyesuaikan dengan pendapatanku saat ini.
Lagi-lagi harapanku selama di perjalanan semoga ibu tidak kaget dengan kebiasaan yang baru ini.
***
“Assalamualaikum, ibu Tari pulang”.
“Wassalamualaikum nak, kamu sudah sampai nak?”
Ibu meraih banh tangan yang aku bawa tadi, keningnya sedikit mengkerut menatap heran.
Sedangkan aku berlalu begitu saja ke kamar dan meletakkan semua barangku di sana dan berganti pakaian yang lebih santai.
“Tar kok tumben bawa oleh-oleh cuma sedikit”. Tanya ibu yang menghampiriku ke kamar.
“Ah iya bu maaf adanya cuma itu tadi”.
Ibu ke dapur untuk memasukkan buah jeruk tersebut ke dalam kulkas.
“Bu ini ada sedikit rezeki dari Tari untuk bulan ini, bu maaf ya jumlahnya tidak sebanyak yang dulu, doakan Tari terus ya bu”.
Ibu meraih amplop tersebut dan membukanya, jemari lentiknya menghitung satu persatu barisan pahlawan yang membawa pedang tersebut.
“Loh Tar kok segini nak?, biasayankan hampir dua kali lipat ini?.
Ibu kembali mengkertutkan keningnya tampak berfikir keras.
“Bu maafkan Tari ya bu hanya bisa kasih ibu segini dulu, doain Tari ya semoga kerjanya lancar gajinya banyak lagi”.
“Kenapa Tar? Apa karena kamu tau kalau pakde dan keluarganya makan di sini, kamu jadi mengurangi uang belanja ibu”.
“Kamu tau kan nak memberi saudara itu pahalanya besar”.
“Tidak seperti itu bu, sekarang Tari kan pindah kerja di Surabaya jadi urusan gaji ya menyesuaikan wilayahnya bu”.
“Ah alasan saja kamu, pasti gara-gara ibu memberikan makan pakde kan?”.
‘Nak percayalah semakin banyak sedekah maka akan semakin banyak pula pahala dan rezekinya”.
Aku menghela nafas yang panjang sekali seperti deretan gerbong kereta api yang sedang melintas.
“Sementara pegang ini dulu ya bu, doakan Tari dapat rezeki tambahan”.
Aku berlalu meninggalkan ibu yang masih di dapur.
“Tar bagaimana dengan kebutuhan diapres mbahmu dan buburnya?”.
Ucap ibu dengan sedikit keras karena aku sudah beranjak pergi.
Sejurus kemudian langkahku terhenti terhadang Ipul yang baru saja memasuki rumah.
“Mbak”. Sapanya dengan menaikan alisnya secara bergantian.
“Iya”. Jawabku dengan singkat karena aku sudah tau maksud dan tujuan Ipul.
“Bentar”’. Aku berlalu mask ke kamar dan mengambil beberapa lembar warna merah untuk Ipul.
“Nih buat bayar studytour, belajar yang bener ya jangan malas”. Aku menyerahkan uang tersebut pada Ipul.
“Trimakasih mbak semoga lekas dapat jodoh”. Jawab Ipul seraya berlalu meninggalkan aku.
***
Pagi harinya seperti biasa ketika di rumah maka ibu yang akan menyuruhku untuk berbelanja ke pasar. Ibu menyerahkan daftar belanjaan yang panjang sekali.
Aku kembali terpana membaca datar belanjaan ini, seakan tak mampu untuk menelan ludahku sendiri.
“Bu apa harus masak sebanyak ini bu?”.
“Kenapa Tar? Mumpung kam di rumah biar kita makan enak sama-sama”.
Tak ingin membuat ibu kecewa aku lantas ke pasar membeli beberapa bahan makanan yang akan di masak hari ini.
Menu masakan hari ini adalah rawon.
Seperti biasa aku akan menenteng tas besar ketika ke pasar dan akan membawanya pulang dengan isian yang lengkap hingga aku harus menyeretnya ketika membawa pulang karena terlalu berat beban dalam tas tersebut.
“Bu sebaiknya ibu membersihkan mbah saja dulu, biar Tari yang masak”.
“Kam bisa Tar buat rawon?”’.
“Bisa buk tenang saja, ada yukub”.
Ibu berlalu meninggalkanku untuk ke kamar mbah, membersihkan dan memberi makan rutinitas setiap pagi dan sore yang ibu lakukan.
Aku mulai mencuci daging yang sudah aku beli di pasar tadi, untuk mendapatkan hasil yang maksimal aku memasak dengan melihat tutorial yang ada di yukub.
Seperti yang sudah-sudah keluargaku akan memasak dalam jumlah yang besar karena keluarga pakde juga turut serta makan di sana, untuk menghasilkan rawon dalam porsi yang besar aku menambahkan air yang cukup banyak, satu panci ukuran besar. Aku juga menambahkan rambusa dan buah pepaya muda ke dalam kuah rawon untuk memperbanyak isian.
Sengaja menambahkan rambusa dan pepaya muda agar lebih meriah isi rawon dalam panci tersebut. Karena aku hanya membeli daging setengah kilo. Untuk daging tidak aku masak sendiri seperti perintah ibu yang meminta untuk di masak (lapis), tapi aku masukan ke dalam kuahnya saja biar semua kebagian bau dagingnya.
Tak lupa tambahan lauk pelengkap tahu dan tempe serta kerupuk di atas meja dan beberapa minuman hangat seperti biasanya.
“Tar sudah selesai masaknya?”.
Tanya ibu yang kemudian melihat hasil masakanku.
“Sdah bu”.
Aku menunjukan satu panci besar rawon beserta isinya pada ibu.
“Ini dagingnya mana Tar?”.
“Sudah di dalam panci bu sekalian biar lebih lembut dan berasa”.
Jawabku mencari alasan.
Sedangkan ibu mengaduk-aduk isi panci tersebut.
“Mana dagingnya Tar? Ini rambusa sama buah pepaya semua?”.
“Kamu mau bikin ibu malu lagi di depan pakdemu?”.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments