..."Seharusnya tamu tidak boleh mencela apapun yang di sajikan tuan rumah"....
Keesokan harinya ibu memberi tahu jika mbah sudah di perbolehkan untuk pulang. Perasaanku gusar antara bahagia dan juga bingung, karena sampai sekarang aku belum mempunyai uang yang cukup untuk membayar biaya rumah sakit mbah. Satu-satunya yang dapat aku gunakan untuk membayar adalah uang tabungan sekolah Ipul. Mau tidak mau aku harus meminjam uang itu dulu sebelum uang tali kasih yang aku terima dari perusahaan di bayarkan.
Aku meraih buku tabungan yang tersimpan rapi dalam map kecil. Sungguh hatiku bimbang sebenarnya untuk menggunakan uang itu. Ku membuka perlahan buku tabungan tersebut.
“Alhamdulilah masih ada dua puluh empat juta, semoga uang ini cukup untuk biaya rumah sakit mbah”. Ucapku dalam hati dan lekas bersiap ke bank terdekat untuk mengambil uang tersebut.
Sebenarnya uang dua puluh empat juta tersebut adalah uang yang aku sisihkan khusus untuk biaya sekolah Ipul kelak. Uang itu hasil tabungan dengan alokasi satu juta per bulan selama dua tahun aku bekerja di Jakarta.
Sesampainya di bank aku lekas mengambil antrian dan bersiap untuk menunggu giliran.
“Tar kamu kok belum jemput ibu, mbah sudah boleh pulang”. Suara panggilan telfon memecah lamunanku saat menunggu antrian.
Tabungan yang aku khususkan untuk pendidikan Ipul memang sengaja tidak membuat ATM, harapanku dulu memang agar tidak dengan mudah ketika akan mengambil. Nyatanya sekarang malah kerepotan sendiri.
“Sebentar bu Tari masih ambil uang dulu, sabar ya”.
“Baiklah ibu kemas-kemas barang bawaan dulu kalau begitu, jangan lupa bawa mobil pak Toni”.
“Iya bu”.
***
Rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit aku lekas menuju kasir untuk membayar semua tagihan biaya rumah sakit mbah tanpa ke kaar mbah terlebih dahulu.
“Permisi buk, saya mau menyelesaikan administrasi atas nama pasien Pak Suprapto”.
Petugas rumah sakit lekas memeriksa besaran tagihan yang harus aku bayarkan.
“Ini mbah totalnya dua puluh tiga juga tujuh ratus ribu”.
Petugas rumah sakit tersebut memberikan secarik kertas berisi rincian biaya yang harus dibayar. Rincian itu terdiri dari biaya obat, biaya tindakan dokter, biaya perawatan dan beberapa tes yang sudah di jalani mbah.
“What? Banyak sekali”.
Seketika mataku melotot tak berkedip melihat kuitansi yang diberikan petugas rumah sakit.
Aku lekas menyerahkan uang untuk pembayaran tersebut dan berlalu menuju kamar mbah untuk menjemputnya pulang ke rumah.
Rupanya ibu dan mbah sudah bersiap menungguku dari tadi, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama kami lekas pulang ke rumah.
Pakde Dar dan paklek Wanto sama sekali tidak datang ke rumah sakit untuk menjenguk mbah, sesampainya mbah di rumah mereka juga tak kunjung datang untuk menemui mbah.
Aku dan Ipul dengan penuh perjuangan memapah mbah untuk masuk ke dalam kamar, sedangkan ibu membawa serangkaian perkakas yang di bawa selama di rumah sakit.
Tak lupa aku dan ibu mengucapkan terimakasih pada pak Toni yang berkenan membantu kami. Sebelum pak Toni berpamitan aku menyempatkan untuk membungkus satu lembar uang warna merah untuk mengganti biaya bensin yang di gunakan saat menjemput mbah. Sayangnya pak Toni menolak untuk menerima.
“Tidak usah nak trimakasih, kita sesama tetangga harus saling tolong menolong, jangan sungkan-sukan bila hendak minta tolong”.
Pak Toni menangkupkan tangannya padaku dan ibu seolah isyarat pamit undur diri.
***
Hari ke enam di rumah ibu.
Seperti biasa ibu akan kembali pada rutinitas biasanya untuk menyiapkan sarapan pagi. Kali ini aku tidak mau ketika di ajak ibu untuk ke pasar. Sungguh aku sudah tidak punya banyak uang lagi. Jika nanti ke pasar aku akan membayar semua belanjaan ibu yang tidak sedikit habisnya.
“Bu pagi ini biar Tari saja yang masa, ibu istirahat saja dulu pasti lelah sekali menjaga mbah selama berhari-hari di rumah sakit”.
Kilahku pada ibu untuk menggantikan beliau masak.
“Ah tidak Tar, apa kamu bisa masak dalam jumlah yang besar?. Ibu masak tidak hanya untuk kamu dan Ipul saja lo”.
“Iya bu aku tahu. Tari bisa kok”.
Justru memang itu yang aku harapkan karena jika ibu yang masak maka ibu akan membeli beberapa bahan makanan yang enak-enak di pasar tanpa tau jika aku tak punya uang.
Salahku juga yang belum berani jujur dengan keadaanku saat ini.
“Baiklah saatnya kita masak”. Ucapku dalam hati.
Aku lekas menuju kabun belakang rumah dengan membawa pisau dan ember yang besar. Kali ini aku tidak akan memasakan mereka daging, ayam atau ikan. Aku akan memasakan olahan makanan yang ada di sini saja.
Dengan sigap aku menuju kebun, mengambil daun singkong dengan sangat banyaknya, aku juga mengambil daun luntas yang akan aku masak campur dengan terigu nanti.
Tak lupa aku memetik cabe yang cukup banyak untuk membuat sambal yang begitu pedas sepedas omongan mereka yang seenaknya saja.
Semua bahan makanan sudah terkumpul, aku lekas mengolah sayur yang ada tersebut. Aku membuat oblok-oblok daun singkong dengan lauk tahu tanpa tempe dan campuran daun luntas yang aku lumuri dengan tepung terigu yang di beri garam. Aku tak menggunakan tepung sajiku atau tepung serbaguna lainnya karena itu harganya lebih mahal.
Sebisa mungkin aku harus menekan semua pengeluaran yang bisa di perkecil. Aku juga tak membuat kopi maupun teh karena memang belum sempat membeli bubuk kopi yang sudah habis. Aku hanya menyajikan air hangat saja.
Tak ada buah semangat atau jeruk yang terhidang di atas meja. Hanya ada beberapa buah belimbing dan rambutan hasil memetik di samping rumah.
“Ah akhirnya sudah beres semuanya, tunggu saja sebentar lagi meraka pasti akan datang untuk makan”.
Dan...
Sepuluh menit kemudian.
Segerombolan keluarga itu datang dengan tanpa bersalahnya. Datang hanya untuk makan tanpa mempedulikan makanan itu bagaimana cara mendapatkannya.
Pakde dengan senyum yang begitu merkahnya lekas menuju meja tempat penyimpanan makanan dan membuka tudung saji tersebut.
“Duh masak apa iki Tar”. Ucap pakde Dar dengan wajah yang masam.
“Masak seadanya pakde”. Jawabku dengan singkat.
“Mana sehat masakan seperti ini, tidak ada daging atau ikannya”.
“Sehat pakde itu makanan enak fresh from kebun, sayuran tanpa pestisida dan yang paling penting tidak menyebabkan kolesterol”. Jawabku dengan begitu santainya.
“Mana ini teh dan kopinya kok belum di bikin”. Bude Murni pun membuka-buka tudung saji mencari keberadaan minuman yang biasa mereka minum.
“Tidak ada teh atau kopi bude, belum beli gula dan kopi, itu di sebelah ada air hangat, minum itu saja kan sama-sama hangatnya”.
“Cih enak saja, yang ada aku nanti muntah kalau minum air hangat tanpa gula atau perasa yang lain”.
“Mana ibu mu Tar?”.
“Ibu sedang istirahat pakde capek beberapa hari nunggu mbah sendiri di rumah sakit”.
Kedua anak pakde Dar yang masih duduk di bangku SMP dan SD merengek mencari keberadaan ayam goreng yang biasa mereka makan saat sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
“Mar bangun Mar cepat sini”. Teriak pakde dengan begitu kerasnya ketika memanggil Ibu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments