Sepucuk Harapan

Malam harinya aku termenung menunggu kabar dari sahabatku Fitri prihal pekerjaaan yang dia tawarkan tadi pagi saat di pasar. Jemari lentikku beberapa kali menggeser ponsel yang tak kunjung berdering. Helaan nafas berat berkali-kali ku hembuskan. Cukup jenuh dengan rutinitas beberapa hari ini yang cukup membuat emosiku berapi-api setiap harinya.

“Nak kenapa wajah kamu murung sekali?”.

Ibu datang menghampiriku yang terduduk di teras depan rumah malam itu.

“Ah tidak apa-apa bu”.

“Tar apa kamu masih lama liburnya?”.

Tanya ibu dengan ragu-ragu.

“Belum tau bu masih menunggu kabar dari kantor”.

Jawabku mengelak kenyataan yang ada tak ingin menjelaskan pada ibu jika anak yang menjadi tulang punggung keluarganya ini sekarang adalah seorang pengangguran.

“Tar ibu boleh meminta sesuatu tidak?”.

Deg.

Hatiku menduga-duga permintaan apa lagi yang ibu inginkan setelah ini.

“Apa bu?”.

“Tar apa kiranya ibu ini butuh orang yang bisa bantu-bantu untuk merawat mbah nak”.

“Maksud ibu bagaimana?”. AKu mengerutkan keningku mencoba mencerna perkataan ibu.

“Ya itu nak, ibu perlu orang yang bisa bantu ibu untuk merawat mbah. Jujur ibu capek sekali kalau harus merawat mbah sendirian seperti ini”.

“Ibu minta aku carikan pembantu?”.

Tanyak dengan membulatkan mata.

“Bisa juga seperti itu, atau bagaimana kalau....”

Ibu menjeda ucapannya.

“Kalau apa bu?”.

“Hem’.

‘Ayolah bu katakan saja”.

“Bagaimana kalau ibu menika lagi saja Tar, biar ibu ada yang bantu merawat Mbahmu. Terus terang ibu lelah sekali selama ini merawat mbah sendirian”.

Aku membulatkan mata sempurna tak percaya dengan apa yang di ungkapkan ibu.

“Jadi gimana Tar?”.

“Hem aku tak tau bu harus jawab apa”.

Bagaimana bisa ibu meminta untuk menikah lagi dengan alasan untuk membantu merawat mbah, sedangkan pakde dan paklek yang nyata-nyata anak mbah sendiri saja tidak mau mengurus mbah.

“Coba pikirkan ya nak permintaan ibu ini, dengan ibu menika lagi setidaknya beban kam akan sedikit berkurang karena sudah ada yang menopang kehidupan ibu dan Ipul”.

Ibu berlalu dan kembali ke dalam rumah.

Aku kembali menghela nafas yang berat mencoba mengirup udara sebanyak yang aku mampu, entah mengapa suasana malam desa yang dingin mendak menjadi panas tiada terkira.

Sungguh dari dalam lubuk atiku yang terdalam aku tak rela jika ibu arus menikah lagi dengan orang lain dan mengantikan posisi bapak. Bagiku bapak tak kan terganti dan aku tak mau itu.

Mungkin aku egois.

Bagaimana bisa ibu meninta pendapat untuk menikah lagi sedang aku sendri anak gadisnya belum juga menikah, padahal usiaku sudah lebih dari cukup untuk menikah.

Tak bisakah ibu mengalah sedikit dengan membiarkan aku untuk menikah terlebih dahulu?.

Semakin hari di rumah semakin banyak beban hidup yang aku jalani.

Sepeninggalan ibu ke dalam rumah datanglah Ipul padaku dengan membawa surat yang disahkan padaku.

“Mbak aku mau kasih tau ini”.

“Apa ini Pul”.

“Buka saja dulu mbak”.

Melihat amplop surat yang berlambangkan sekolahan aku sudah menduga jika ini adalah surat edaran untuk tagihan sekolah.

Aku membuka dan membaca surat tersebut dengan pelan, sedang Ipul masih terduduk di sebelahku dengan memainkan ponselnya.

“Jadi bulan depan kamu mau studytour Pul?”.

Ipul hanya menganggukkan kepalanya saja.

“Untuk saat ini mbak belum ada uang untuk membayar biaya transport dan lainnya, mbak usahakan ya semoga lekas ada rezeki lebih untuk kamu”.

Dengan mata berkaca-kaca aku mengatakan itu pada Ipul.

Jujur saja untuk kali ini uang tabunganku benar-benar sudah habis tak bersisa, tak ada uang serep yang bisa di gunakan sementara untuk menutup kebutuhan, termasuk uang tabungan pendidikan Ipul sudah terpakai untuk biaya rumah sakit mbah.

Ipul hanya menganggukkan kepalanya saja dan lekas beranjak masuk kedalam rumah dengan perasaan kecewa. Karena ini pertama kali aku tak langsung mengabulkan apa yang dia mampu. Aku berharap dia bisa mengerti tentang keadaan ini.

‘Ya Allah mohon titipkanlah rezki yang lei untuk keluarga ini lantaran aku Ya Rab”.

Mata Tari kembali berkaca-kaca, butiran bening sudah hampir meluncur begitu saja di pelupuk matanya.

Larut dengan angan-angan tentang kebutuhan uang yang tak ada habisnya memuat Tari tak menyadari beberapa kali ponselnya berdering.

“Tar itu ada telfon tolong di angkat dong biar tidak berisik”.

Teriak ibu yang berada di ruang tamu.

“Oh iya bu”.

Dengan gelagapan aku meraih ponsel yang berdering di hadapanku.

Mataku berbinar kala membaca satu nama dalam layar tersebut.

“Fitri”.

“Assalamualaikum Fit jadi bagaimana”.

Tanyaku dengan cukup antusias menunggu jawaban Fitri.

“Waalaikumsalam Tar, besok jadi ya ke Surabaya, aku sudah bilang sama sepupuku nanti coba ikut tes nya aja dulu”.

“Besok pagi-pagi sekali setelah subuh kita berangkat ya, aku jemput kamu di rumah”.

“Benarkah Fit trimakasih banyak ya”.

“Tapi aku tidak bisa menjanjikan di terima atau tidaknya ya Tar, yang penting kamu coba saja dulu. Tapi kalau menurut prediksiku sih bakalan di terima kamu kan pinter pengalamannya banyak dan wawasannya lusa cantik pula”.

Fitri tertawa mengatakan hal itu.

“Ah urusan terima tidaknya serahkan saja sama yang maha memberi rizki Fit, ini bagian dari usaha semoga ada kemudahan dan keberkahan”.

“Ya udah buruan siap-siap packing sana biar besok tidak buru-buru”.

“Siap bos”.

Aku lekas mematikan sambungan telon tersebut dan melenggang masuk ke dalam rumah dengan wajah yang berseri-seri, seolah mendapat satu harapan baru untuk kembali hidup.

Kamu kenapa Tar senyum-senyum kayak gitu”.

Sapa ibu yang duduk di ruang tamu melirikku sekilas dengan tatapan aneh.

“Bu besok aku mau ke Surabaya, doakan Tari ya”.

Aku kembali berjalan menuju kamar dan memilih beberapa baju yang akan aku bawa ke sana.

Sengaja aku membawa baju lebih banyak karena aku memutuskan untuk tinggal di sana saja untuk sementara waktu selain untuk mencari pekerjaan aku juga ingin menenangkan pikiranku di sana.

Rupanya prediksiku untuk bisa berhemat dengan tinggal di rumah meleset tak seperti yang aku perkirakan. Nyatanya di ruma pengeluaran semakin membengkak berkali-kali lipat banyaknya. Untuk sementara waktu ada baiknya aku menepi dulu sejenak dengan tinggal di Surabaya sampai mendapat pekerjaan lagi.

***

Keesokan harinya seperti yang sudah aku rencanakan dengan Fitri sebelumnya. Fitri menjemputku pagi-pagi betul kami berdua berangkat ke Surabaya berdua.

Berbeda dengan Fitri meskipun dia memiliki gaji yang lebih kecil dariku tapi karena dia berasal dari keluarga yang lumayan berada sekarang Fitri sudah mampu untuk membeli mobil sendiri dari jerih payahnya bekerja. Sedangkan aku, selama ini uangku abis untuk menghidupi keluarga dan penjaja dalam keluargaku.

Ah setidaknya aku arus bersyukur masih di beri kesempatan untuk mendapat sedikit titipan rizki untuk kelangsungan hidup keluargaku.

Tak terasa hampir tiga jam perjalanan sampailah kita di Surabaya, Fitri lekas menurunkan di depan kantor tempatku akan menjalani tes pagi ini, sedangkan Fitri langsung melesat ke kantornya dengan membawa barang-barangku sekalian.

Tes akan dilakukan pukul delapan pagi, saat ini waktu masih menunjukan pukul setengah delapan tapi sebagian besar kandidat tes sudah bersiap di ruang tunggu untuk mengikuti tes tahap satu ini.

Beberapa menit kemudian seorang resepsionis memanggil satu persatu peserta tes untuk menemui HRD.

“Betari Ambarwati”.

Episodes
1 Permintaan ibu
2 Kabar Dari Rumah
3 Wejangan Ibu
4 Surat mengejutkan
5 Pulang Kampung
6 Srapan Pagi
7 Rumah Sakit
8 Prihal Biaya
9 Menu Sarapan Ala Bethari
10 Bethari Di Salahkan
11 Bertemu Sahabat
12 Kebiasaan Ibu
13 Sepucuk Harapan
14 Kompor
15 Prihal Gaji
16 Nasihat Mereka
17 Saran Bude
18 Nasi Bebek
19 Pengagum Rahasia
20 Kegelisaan Bethari
21 Liburan Keluarga Bude
22 Kepulangan Keluarga Bude
23 Tentang Strudel
24 Promosi Jabatan
25 Formasi Lengkap
26 Kepergian Mbah
27 Empat Puluh Hari Mbah
28 Prihal Rumah
29 Rumah
30 Terjual
31 Melamar
32 POV Bethari
33 Mobil Baru Udin
34 Persiapan Lamaran
35 Lamaran
36 Sakit Perut
37 Menjaga Jarak Aman
38 SAH?
39 Hubunan Baru
40 Honeymoon Berjamaah
41 Honeymoon Berjamaah 2
42 Honeymoon Berjamaah 3
43 Keluarga Baru
44 Menjenguk Ibu
45 Penantian
46 Kedatangan Ibu
47 Hari Minggu
48 Mengadpsi?
49 Do'a dan Harapan
50 MAAF
51 Sebuh Rahasia
52 Ketika Cinta Di Uji
53 Menjemput Risma
54 Kehadir Risma
55 Perintah Yang Sulit
56 Hati Yang Tak Mampu Terbagi
57 Mari Kita Bercerai
58 Terbongkar Sebagian
59 Merasa Ada Yang Berbeda
60 Hati Bu Marni
61 Di Antara Dua Hati
62 Rasa Yang Tak Terbalas
63 Menutupi Sebuah Kebenaran
64 Seharusnya Tidak Seperti Itu
65 Tentang Kejujuran
66 Sebuah Luka
67 Menuju Kehancuran
68 Awal Kehancuran
69 Kehancuran
70 Pilu
71 Sama-sama Terluka
72 Menutupi Sebuah Luka
73 Saling Terluka
74 Saling Terluka 2
75 Aku Kalah
76 Keyakinan Seorang Ibu
77 Kemarahan Ipul
78 Pelajaran Pertama
79 Tiga Insan Yang terluka
80 Semua Tentang Bthari
81 Arti Sahabat
82 Harapan Randi
83 Menantu Dan Mertua
84 Permintaan Mertua
85 Biar Aku Yang Memilih
86 Keputusan
87 Tempat Baru
88 Tamparan
89 Ibu Dan Anak
90 Isi Amplp Coklat
91 Keputusan Bersama
92 Hari Setelah Kepergiannya
93 Hilang Arah Tanpanya 1
94 Hilang arah tanpanya 2
95 Terabaikan
96 Arisan Keluarga
97 Rencana Bude
98 Menjalnkan Rencana
99 Periksa Kehamilan
100 Mungkinkah?
101 Takdir Allah
102 Keinginan Risma
103 Nasi Goreng Putih
104 Rama
105 Ikan Cupang
106 Tujuh Bulan
107 Janda
108 Novel Baru Jingga
109 Tenggelam
110 Apa Ini Surga?
111 Rumah sakit
112 Rumah Sakit 2
113 Pasar Malam
114 Anisa Fatin Fauziah
115 Kejutan
116 Kejutan 2
117 Terungkap
118 Hari Selepas Kebenaran
119 Hari Selepas Kebenaran 2
120 Awal Kehidupan Bethari
121 Kehidupan Randi
122 Suara Hati Risma
123 Apa Itu Hantu?
124 Bthari Dan Risma
125 Drama Pagi
126 Berangkat Bersama
127 Akankah?
128 Rama dan Risma
129 Rama dan Risma 2
130 Tentang Senja
131 131
132 Ibu dan Rama
133 Rencana Ibu
134 Ayah?
135 Makan Malam
136 Hari Ayah
137 Tragedi Siang
138 Kondisi Risma
139 Rumah Sakit
140 Tiga Rasa
141 Foto Bertiga
142 Foto Bertiga 2
143 Apakah?
144 Tes DNA?
145 Menuju Tes DNA
146 Dugaan Randi
147 Aku Masih Menunggu Jawabanmu
148 Pertemuan Randi dengan Risma
149 Pertemuan Randi dan Tari 1
150 Pertemuan Randi dan Tari 2
151 Pertemuan Randi dan tari 3
152 Bagaimana Hasilnya?
153 Hasil Tes DNA
154 Kau mengemis padaku?
155 Aku Bukan Figuran
156 Dukungan Ibu
157 Randi dan Rama?
158 Nasihat Ibu
159 Berkenalan Dengan Orang Tua Rama
160 Aku Bukan Wanita Sempurna
161 Jadi Kapan?
162 Lamaran Keluarga Randi
163 Undangan
164 Nyekar
165 Persiapan Pernikahan
166 Randi dan Mawar
167 Menuju Sah
168 SAH
169 Pernikahan Rama dan Tari
170 Selepas Akad
171 Mualai Bekerja
172 Berlibur
173 Selepas Liburan
174 Taspack Dari Ibu Mertua
175 Pingsan
176 Hamil
177 Keluarga Yang Berbahagia
178 promo novel Mengejar Cinta Fatimah
Episodes

Updated 178 Episodes

1
Permintaan ibu
2
Kabar Dari Rumah
3
Wejangan Ibu
4
Surat mengejutkan
5
Pulang Kampung
6
Srapan Pagi
7
Rumah Sakit
8
Prihal Biaya
9
Menu Sarapan Ala Bethari
10
Bethari Di Salahkan
11
Bertemu Sahabat
12
Kebiasaan Ibu
13
Sepucuk Harapan
14
Kompor
15
Prihal Gaji
16
Nasihat Mereka
17
Saran Bude
18
Nasi Bebek
19
Pengagum Rahasia
20
Kegelisaan Bethari
21
Liburan Keluarga Bude
22
Kepulangan Keluarga Bude
23
Tentang Strudel
24
Promosi Jabatan
25
Formasi Lengkap
26
Kepergian Mbah
27
Empat Puluh Hari Mbah
28
Prihal Rumah
29
Rumah
30
Terjual
31
Melamar
32
POV Bethari
33
Mobil Baru Udin
34
Persiapan Lamaran
35
Lamaran
36
Sakit Perut
37
Menjaga Jarak Aman
38
SAH?
39
Hubunan Baru
40
Honeymoon Berjamaah
41
Honeymoon Berjamaah 2
42
Honeymoon Berjamaah 3
43
Keluarga Baru
44
Menjenguk Ibu
45
Penantian
46
Kedatangan Ibu
47
Hari Minggu
48
Mengadpsi?
49
Do'a dan Harapan
50
MAAF
51
Sebuh Rahasia
52
Ketika Cinta Di Uji
53
Menjemput Risma
54
Kehadir Risma
55
Perintah Yang Sulit
56
Hati Yang Tak Mampu Terbagi
57
Mari Kita Bercerai
58
Terbongkar Sebagian
59
Merasa Ada Yang Berbeda
60
Hati Bu Marni
61
Di Antara Dua Hati
62
Rasa Yang Tak Terbalas
63
Menutupi Sebuah Kebenaran
64
Seharusnya Tidak Seperti Itu
65
Tentang Kejujuran
66
Sebuah Luka
67
Menuju Kehancuran
68
Awal Kehancuran
69
Kehancuran
70
Pilu
71
Sama-sama Terluka
72
Menutupi Sebuah Luka
73
Saling Terluka
74
Saling Terluka 2
75
Aku Kalah
76
Keyakinan Seorang Ibu
77
Kemarahan Ipul
78
Pelajaran Pertama
79
Tiga Insan Yang terluka
80
Semua Tentang Bthari
81
Arti Sahabat
82
Harapan Randi
83
Menantu Dan Mertua
84
Permintaan Mertua
85
Biar Aku Yang Memilih
86
Keputusan
87
Tempat Baru
88
Tamparan
89
Ibu Dan Anak
90
Isi Amplp Coklat
91
Keputusan Bersama
92
Hari Setelah Kepergiannya
93
Hilang Arah Tanpanya 1
94
Hilang arah tanpanya 2
95
Terabaikan
96
Arisan Keluarga
97
Rencana Bude
98
Menjalnkan Rencana
99
Periksa Kehamilan
100
Mungkinkah?
101
Takdir Allah
102
Keinginan Risma
103
Nasi Goreng Putih
104
Rama
105
Ikan Cupang
106
Tujuh Bulan
107
Janda
108
Novel Baru Jingga
109
Tenggelam
110
Apa Ini Surga?
111
Rumah sakit
112
Rumah Sakit 2
113
Pasar Malam
114
Anisa Fatin Fauziah
115
Kejutan
116
Kejutan 2
117
Terungkap
118
Hari Selepas Kebenaran
119
Hari Selepas Kebenaran 2
120
Awal Kehidupan Bethari
121
Kehidupan Randi
122
Suara Hati Risma
123
Apa Itu Hantu?
124
Bthari Dan Risma
125
Drama Pagi
126
Berangkat Bersama
127
Akankah?
128
Rama dan Risma
129
Rama dan Risma 2
130
Tentang Senja
131
131
132
Ibu dan Rama
133
Rencana Ibu
134
Ayah?
135
Makan Malam
136
Hari Ayah
137
Tragedi Siang
138
Kondisi Risma
139
Rumah Sakit
140
Tiga Rasa
141
Foto Bertiga
142
Foto Bertiga 2
143
Apakah?
144
Tes DNA?
145
Menuju Tes DNA
146
Dugaan Randi
147
Aku Masih Menunggu Jawabanmu
148
Pertemuan Randi dengan Risma
149
Pertemuan Randi dan Tari 1
150
Pertemuan Randi dan Tari 2
151
Pertemuan Randi dan tari 3
152
Bagaimana Hasilnya?
153
Hasil Tes DNA
154
Kau mengemis padaku?
155
Aku Bukan Figuran
156
Dukungan Ibu
157
Randi dan Rama?
158
Nasihat Ibu
159
Berkenalan Dengan Orang Tua Rama
160
Aku Bukan Wanita Sempurna
161
Jadi Kapan?
162
Lamaran Keluarga Randi
163
Undangan
164
Nyekar
165
Persiapan Pernikahan
166
Randi dan Mawar
167
Menuju Sah
168
SAH
169
Pernikahan Rama dan Tari
170
Selepas Akad
171
Mualai Bekerja
172
Berlibur
173
Selepas Liburan
174
Taspack Dari Ibu Mertua
175
Pingsan
176
Hamil
177
Keluarga Yang Berbahagia
178
promo novel Mengejar Cinta Fatimah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!