...“Agama akan mengatur tuan rumah menjaga kehormatan keluarganya atau membimbing tamu supaya dia bisa pergi sendiri”.....
Sampai jajanan pun harus aku juga yang membelikan, luar bisa sekali keluargaku. Terus uang mereka untuk apa?. Ah semoga aku lekas keluar dari rumah ini dan lekas mendapat pekerjaaan lagi.
Dengan sigap ibu lekas mengolah semua barang belanjaan yang telah aku beli tadi, jari-jari lentik ibu dengan cukup cekatan menghasilkan makanan yang enak-enak dan lekas menghidangkan di atas meja.
Semangkuk rendang daging, lalapan ayam goreng sambal hijau dan satu paket tahu tempe lengkap dengan kerupuknya. Tak lupa ibu juga membuat gulai nangka. Tentunya dengan minuman angat kas orang desa kopi dan teh.
“Bu kalau aku tidak punya uang bagaimana?”.
“Maksud kamu Tar?”’.
“Ya kalau misalkan aku sedang tidak ada uang tidak bisa kasih ibu, bagaimana ibu bisa membuat masakan yang banyak seperti ini lagi?. Apakah pakde dan bude akan melakukan hal yang sama seperti ibu, menyiapkan makan untuk kita?”.
Aku bertanya pada ibu dengan memotong beberapa buah yang ada.
“Tar dengerin kata ibu dan ingat baik-baik. Apa kamu percaya dengan kekuatan sedekah? Apa kamu tahu jika tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah?”.
“Iya bu aku tau itu”.
“Jika kamu tahu kenapa harus bertanya lagi, selagi kita memberi dengan ikhlas Insyaallah Allah akan menganti dengan rizki yang lebih-lebih, kamu jangan pernah merasa akan kehabisan uang jika kamu memberi orang lain cepat atau lambat pasti akan di ganti sama Allah”.
Seperti biasa ibu akan mengandalkan dalil-dalil untuk membenarkan tidaknya. Aku Pun tak mengerti apakah aku atau ibu yang salah jika dalam posisi seperti ini?.
“Tapi bu apakah harus dengan memanjakan mereka dan membuat mereka bergantung pada kita sepenuhnya seperti ini?”.
“Siapa nak yang bergantung pada keluarga kita?, keluarga pakde dan bude hanya sekedar sarapan dan makan siang saja di rumah kita tidak lebih, untuk urusan kebutuhan kelurga mereka mencukupinya sendiri”.
“Sekedar sarapan dan makan siang bu? Setiap hari begitu?”.
Aku sedikit jengah mendengar penuturan ibu.
“Nak percayalah berbagi apa lagi dengan saudara itu mendapat banyak pahala, sudah jangan banyak tanya buruan mandi kita sarapan bersama”.
Ibu lekas memutus perdebatan pagi itu, tentu dengan jawaban yang belum sangat memuaskan bagiku. Aku rasanya tak rela jika setiap hari harus memberi makan keluarga pakde dan bude yang tidak tau terimakasih itu.
Rasanya jalan untuk mencari pahala banyak sekali, tidak anya satu jalaur yakni menyenangkan keluarga dan memenuhi kebutuhan mereka, lagian aku juga bukan anak mereka.
Setelah aku keluar dari kamar mandi dengan menenteng handuk yang basah hendak ku jemur di sisi kamar mandi, terdengarlah rombongan penjajah yang datang ke rumah.
“Wah masak enak nih, begini dong setiap hari kalau bisa kan kita jadi berselera makannya”.
Pakde Dar mencomot ayam goreng yang ada di atas meja dan memakannya tanpa nasi.
Aku jengah melihatnya, suda makan numpang tingal ngambil saja masih protes, mana kalau makan banyak banget pula.
Seandainya ibu tahu jika aku di perantauan tidak pernah makan enak, tidak perna membeli jajan apakah ibu akan tetap seperti ini?.
Pakde dan bude lekas mengambil piring masing-masing dan lekas mengambil makanan. Semua jenis masakan pagi itu di ambil tanpa mempedulikan yang punya rumah nanti masi ada sisa atau tidak.
“Wenak Mar, besok bikin rendang daging lagi ya. Rasanya gak kalah kalau sama masakan padang yang di pinggir jalan depan”.
Dengan mulut penuh dan mengunyah makanan pakde Dar mengatakan hal itu, sedangkan bude Murni sedang khusuk menikmati sambel ijo yang sangat pedas.
“Iya mas besok tak masakin rendang daging lagi”. Dengan senyum ibu menyanggupi permintaan pakde.
“Kamu memang adikku yang paling pinter Mar, pinter banget menyenangkan hati mas ne’.
Entah mengapa aku merasa kalau ibu suka sekali setiap mendapat pujian dari pakde atau bude.
“Mar kamu habis belanja ya”.
Bude menunjuk satu buah kresek hitam yang berisi persabunan yang aku beli di pasar tadi.
“Iya mbak, Tari tadi pagi ke pasar”.
“Wah kebetulan dong, sabun cuci ku juga habis aku ambil satu ya sekalian sama pasta giginya, malas sekali Mar mau ke pasar panas-panas”.
“Iya mbak ambil saja kebetulan tadi Tari beli banyak”.
‘Wah jajan pasar juga ada ternyata, wes pancen adikku pinter beneh (baik)”.
Entah sebesar apa tangki penyimpanan yang ada di perut pakde sehingga semua jenis jajanan pasar yang aku beli tadi habis tak tersisa. Tak menyisakan sedikitpun untuk aku atau Ipul.
Seperti biasa setelah sarapan pagi, bude akan membungkus makanan untuk makan nanti siang tak lupa sekalian membawa nasinya. Bude juga mengambil beberapa barang belanjaanku tadi tak tangung-tanggung bude mengambil satu kg sabu cuci baju, satu renceng kopi, satu buah pasta gigi berukuran besar dan satu buah sabun mandi cair.
“Mar lihat nih aku hanya mengambil satu-satu kan?”.
‘”Iya mbak ambil saja apa yang kiranya dibutuhkan”.
Setelah semua yang mereka inginkan di dapat maka mereka akan pergi melenggang keluar rumah tanpa berpamitan tanpa melihat keadaan mbah dan tentunya tanpa berterima kasih. Rasanya inginku hantam saja dari belakang.
Sedangkan ibu, sepeninggalan pakde dan bude kembali ke rumahnya, ibu lekas mencuci piring yang telah mereka gunakan untuk makan.
“Tar ayo makan nak”’.
“Pul ayo makan nak”.
Panggil ibu pada aku dan adikku.
Aku dan Ipul bersamaan menuju dapur untuk makan.
“Bu ini dagingnya ke mana?”.
Ipul menunjuk mangkuk berisi rendang daging yang ibu masak tadi.
“Wah habis ya, makan yang lain saja Pul”.
“Tapi aku ingin rendangnya bu”.
“Ya sudah makan saja itu, itu kan juga bumbu rendang’.
“Tapi ini tidak ada dagingnya bu”.
“Setidaknya itu masih ada sari-sari daging yang nyangkut di bumbu itu Pul sama saja rasanya. Udah makan saja enak kok.
Ibu menyodorkan satu piring nasi dengan bumbu rendang dan ikan telur dadar.
Ya seperti itulah ibu rela keluarganya tidak makan enak asalkan saudaranya dapat makan enak. Ibu terlalu takut membuat saudaranya kecewa. Ibu yang terlalu menjunjung tinggi nilai persaudaraan tanpa bertanya bagaimana rasanya berkorban seperti aku.
Aku juga tak mengerti mengapa ibu seperti ini, bahkan ini sudah berlangsung lama sejak aku kecil. Tak jarang dulu aku sering mendengar bapak dan ibu bertengkar hanya karena ibu membela pakde yang seperti itulah sikapnya.
Aku kembali menghembuskan nafas kasar, rasanya sudah tak berselera untuk makan lagi pagi itu. Aku kembali merogoh celana menyerahkan uang dua puluh ribu pada Ipul.
“Pul kamu beli saja rendang di masakan padang yang ada di gang depan”.
Dengan sigap dan senyum mengembang sempurna Ipul beranjak dari tempat duduk meraih uang tersebut dan membeli nasi padang.
Lantas jika seperti ini apa bedanya aku sama ibu aku rela tak makan asalkan Ipul bisa makan enak seperti yang dia mau.
Aku menjambak rambutku dengan frustasi, kenapa harus terjerat dalam lingkaran keluarga yang seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Sri Lestari
wah...klo ibu macam gini udah gak bener thor...yg baca bisa kena stroke ini..saking jengkelnya!!
2024-03-08
0