“Mohon maaf bu Tari dengan sangat terpaksa kami harus memberhentikan bu Tari dalam bekerja. Pimpinan baru perusahaan kita mengiinginkan regenerasi tenaga kerja baru, beliau tidak mentoleransi kepada tenaga kerja yang tidak disiplin dan tidak memiliki kinerja bagus”.
“Tapi pak saya hanya tidak masuk satu kali selama saya kerja di sini”.
“Itulah bu kesalahannya, bu Tari tidak memberikan konfirmasi terlebih dahulu sebelum izin tidak masuk bekerja”.
"Untuk serah terima pekerjaan sementara silahkan di limpahkan pada Bu Susan sebelum ada penggantinya".
“Sebagai rasa terimakasih kami dari pihak kantor akan memberikan sedikit tali kasih sebagai ucapan trimakasih atas kontribusi dan pengabdian bu Tari selama bekerja di sini. Semoga bu Tari lekas mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih layak dari pada di sini”.
HRD tersebut mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.
Aku terdiam tak menerima uluran tangan tersebut. Hatiku masih benar-benar sakit dengan keputusan sepihak yang di berikan oleh perusahaan.
***
Aku kembali ke kosan dengan perasaaan yang tak menentu memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi esok.
Sepanjang perjalanan air mata tak henti membasahi pipiku, mungkin orang yang melihat akan berfikir aku sedang putus cinta atau sedang di selingkuhi suaminya.
Sayangnya tidak aku menangisi kecerobohanku yang tertidur terlalu lama hingga aku harus kehilangan pekerjaanku. Bagaimana nasib mereka yang menjadi tanggungan pundakku selama aku belum bekerja?.
Sesampainya di kosan aku membuka buku tabungan yang khusus aku peruntukan untuk tabungan Ipul kelak.Tidak ada jalan lain selain menggunakan ini untuk bertahan hidup selama aku belum mendapatkan pekerjaan.
Aku berjanji pada diriku sendiri akan mengganti uang tersebut kelak di kemudian hari.
Aku meraih ponsel yang ku lempar di sembarang tempat tadi. Menghubungi satu nomor berharap mendapat ketenangan setelah melakukan panggilan tersebut.
“Assalamualaikum bu apa kabar?”.
“Waalaikumsalam nak alhamdulilah ibu baik, kamu kenapa?”.
“Aku tidak papa bu hanya suaraku sedikit hilang”.
“Jaga kesehatan ya nak jangan capek-capek”.
“Bagaimana keadaan mbah bu?”.
“Mbah sudah semakin baik, asmanya sudah tidak kabuh beberapa hari ini. Hanya saja mbah harus tetap kontrol sampai kesehatannya benar-benar pulih”.
“Bu aku kangen sekali, bolehkah aku pulang mengunjugi kalian. Aku juga ingin menjenguk mbah”.
“Apa kamu libu kerja nak?”.
Aku tak kuasa untuk mengatakan yang sebenarnya pada ibu.
“Iya bu aku libur beberapa minggu”.
“Ya sudah pulanglah nak”.
***
Keesokan harinya aku sudah menginjakkan kaki di tanah kelahiranku Jombang. Aku memutuskan untuk pulang karena biaya hidup di Jakarta sangat besar sedang penghasilan sama sekali tidak ada. Aku menimbang dengan cukup matag semua ini.
Sesampainya di Jombang aku akan tinggal beberapa saat di rumah, selanjutnya aku akan mencari pekerjaan di daerah Surabaya dan sekitarnya. Bukankah di sana UMR juga sudah lumayan besar. Berbekal pendidikan yang tinggi dan skill yang mumpuni aku berharap besar bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik.
Sebelum sampai di rumah aku menyempatkan diri untuk membeli beberapa buah sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Sudah menjadi kebiasaan jika aku pulang akau akan membawa buah tangan untuk mereka.
Rumah Ibu.
“Assalamualaikum bu”. Sapaku pada ibu yang sedang mengaji di ruang tamu.
“Wassalamualaikum nak, kamu sudah sampai?”.
Aku lekas mencium tangan ibu dan menaruh beberapa barang bawaanku ke dalam rumah.
“Wah anak cantik kapan pulang?”. Sapa bude yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan ibu.
“Baru saja sampai bude”.
“Mana nih oleh-olehnya, kamu pasti bawa oleh-oleh banyak kan? Sini bagi-bagi sama bude”.
Bude lekas masuk ke dalam rumah mencari beberapa oleh-oleh yang aku bawa. Sebenarnya tanpa meminta pun aku udah pasti membagi oleh-oleh tersebut dengan iklasnya pada bude.
Aku membawa beberapa buah seperti jeruk sebanyak 5 kg, sebuah semangka dan sebuah melon serta beberapa kue brownis kesukaannya ipul.
Tanpa ijin terlebih dahulu bude langsung mengambil separo dari barang bawaanku dan memboyongnya ke rumahnya.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bagaimana bisa dia mengambil sebanyak itu sedang aku juga harus membagi pada tetangga yang lainnya.
Aku membuang nafas kasar. Belum ada satu jam di rumah sudah di suguhkan dengan kelakuan tidak menggenakan seperti ini.
Seperti biasa ibu akan kembali membagi sisa oleh-oleh yang diambil bude untuk tetangga. Kata ibu malu jika terlihat pulang jauh-jauh dari rantau tidak membagi oleh-oleh untuk orang sekitar.
Aku melihat yang tersisa dari barang bawaanku hanyalah sekotak brownies saja. Itu artinya ibu dan ipul tidak dapat menikmati buah yang aku beli. Pdahal buah-buahan tersebut aku peruntukan untuk ibu dan ipul aku juga ingin menikmati sedikit.
Maklum aku jarang sekali makan buah kecuali ada snack dari kantor yang ada buahnya. Ibarat kata aku tidak bisa menelan makanan yang enak jika ibu dan ipul tidak makan juga. Itulah yang membuatku hampir tidak pernah jajan atau makan enak saat sendiri.
***
Keesokan harinya ibu mengajakku pergi utuk berbelanja ke pasar. Benar saja aku memang sudah mengirimkan uang bulanan khusus untuk biaya makan di rumah. Tapi saat aku sedang di rumah maka semua keperluan operasional rumah termasuk makan aku harus menanggungnya juga. Jadi uang ibu masih utuh.
Pagi itu saat ke pasar ibu memilih banyak sekali lauk untuk di masak. Ibu memilih daging sapi, daging ayam, ikan segar dan beberapa sayuran serta bumbu-bumbu wajib di rumah. Melihat ibu memilih lauk dengan begitu antusiasnya membuat kebahagian tersendiri bagiku.
Selain membeli berbagai macam kebutuhan dapur aku juga membelikan ibu dan ipul buah karena kemarin mereka belum sempat merasakan buah yang aku bawa. Aku juga membeli beberapa sembako seperti minyak goreng, gula dan beras.
“Alhamdulilah bisa membuat ibu sedikit senang, semoga dengan ini rizki lekas terbuka lebar untukku”. Itulah satu keyakinan yang slalu aku pegang teguh agar aku tak merasa terlalu terbebani dengan menopang kehidupan ibu, ipul dan mbah.
“Sekarang ayo bantu ibu masak Tar, ibu mau masak daging sapi ini menjadi rendang, terus ayamnya di masak jadi opor saja sepertinya enak, dan ikannya di bumbu kuning ya”.
“Untuk sayurnya di bikin urap-urap sama yang hijau di tumis begitu saja. Kita buat perkedel, goreng tahu dan tempe sekalian bikin sambal hijau biar main lengkap makannya nanti”.
“Sekarang bu”. Tanyaku yang merasa terheran.
Kenapa semua bahan harus diolah sekarang, aku pikir ibu belanja untuk beberapa hari ke depan. Apa akan ada tamu atau saudara yang datang?.
“Memangnya ada tamu yang mau datang kah bu?”.
Tanyaku pada ibu ingin memastikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Jeruk Balii
semangat thorr
2023-03-12
0
amalia gati subagio
terobsesi kesempurnaan, ke jengkang keluarga toxic lintah benalu, so what nex.... jual diri atau di jual utk pemenuhan ambisi hedon clasik, atas nama balas budi & cinta? 🤔
2023-03-11
0