Nasihat Mereka

...“Bosa-basi dan sopan santun sering kali menghalangi orang untuk maju hanya karena takut menyakiti orang lain”....

“Kenapa harus malu bu, adanya memang hanya itu saja untuk saat ini lagian kita kan masak untuk orang banyak”.

“Ibu malu nak, mengertilah apa kata pakde dan bude kamu nanti pasti mereka akan beranggapan kamu orang yang pelit”.

“Ibu tidak mau itu nak, ibu tidak rela anak ibu di katain pelit atau apa lah”.

“Ya biarkan sajalah bu, memang mampunya Tari saat ini hanya itu saja”.

“Cukup nak jangan membantah jangan seperti itu, kamu jarang pulang apa salahnya memberikan yang terbaik untuk sadara kita”.

“’Dengan memberi meraka makan enak setiap hari begitu bu?’’.

“Tidak setiap hari, ibu hanya akan masak enak ketika kamu sedang di rumah, ibu tidak enak nak jika kelihatan kamu di rumah harus masak makanan seperti biasanya, sedangkan kamu sendiri sekarang terkenal sudah hidup enak dan mapan”.

“Ibu tidak mau orang beranggapan bahwa anak ibu orang yang pelit”.

“Sudah sini biar ibu yang masak, sekalian ayamnya di masak biar ada variasi menunya”.

Ibu lekas membuka kulkas mengambil ayam yang sudah ku beli tadi di pasar. Harusnya itu untuk masak besok kenapa harus di habiskan sekarang juga.

Aku kembali menghela nafas dengan kasar.

Rasa-rasanya ketika di rumah aku harus banyak-banyak mengelus dadaku.

Beberapa saat kemudian setelah semua makanan tersaji dengan lengkap di atas meja makan, para penjajah kembali hadir ke rumah untuk meminta haknya. Kali ini dengan formulasi lengkap pakde, bude dan ketiga anaknya termasuk mas Udin pun turut serta.

“Assalamualaikum, wah sedap sekali baunya, kalau di lihat-lihat dari banyak pasti Tari sedang di rumah”.

Ucap bude yang melenggang masuk ke dalam dapur di ikuti anggota yang lainnya.

“Wassalamualaikum, ngeh bude Tari pulang kemarin malam”.

Aku meraih tangan pakde dan bude untuk bersalaman.

Seperti biasa mereka semua akan makan terlebih dahulu, mendahului tuan rumah yang ada.

“Tumben mas Udin ikut?”. Tanyaku pada mereka yang sedang menikmati hidangan sarapan buatanku dan ibu.

“Iya kebetulan hari ini libur”. Jawab mas Udin dengan menikmati secangkir kopi yang tersedia di atas meja.

“Mar ini nanti aku bungkus ya rawonnya”. Teriak bude pada ibu yang sedang mencuci piring di belakang, kebetulan tempat mencuci piring berada di luar dapur dekat sumur rumah kami.

‘Iya mbak ambil saja, tadi Tari masak banyak tapi maaf gak ada ikannya’’.

Aku yang mendengar saja udah kesal sekali.

“Gak papa kebetulan aku tadi sudah beli daging, rencananya nanti mau aku masak lapis”.

“Lihat saja bude lagi masak lapis, apa ada mereka bagi ke kami nanti’. Ucap Tari dalam hati sambil menyaksikan mereka makan.

“Loh ini buahnya mana kok gak ada?”. Pakde bertanya kenapa tidak ada buah, bisanya kalau Tari pulang pasti ada buah dan jajan pasar yang terhidang di atas meja.

“Ada mas sebentar aku ambilkan dulu”. Ibu bangkit dari tempat pencucian piring menuju lemari es untuk mengambil jeruk yang aku bawa kemarin dan menghidangkannya di atas meja.

Seperti itulah ibuk, dari semalam tak tega mau makan jeruk bawaanku dengan alasan masih kenyang dan malas, padahal aku tau sebenarnya ibu tidak tega menikmati jeruk itu kalau pakde belum memakannya.

Sedangkan pakde sama sekali tak berperasaan.

“Tar kamu itu jangan boros-boros kalau kerja, masak katanya jadi sekretaris tapi rumah gentingnya pada bocor semua, cat di tembok jga pada mengelupas mana warnanya sudah gak beraturan lagi”.

Ucap bude di sela-sela makannya.

“Kalau bisa buruan gih di benerin, ini kan lagi musim hujan kasian ibu kamu dan Ipul”.

Aku hampir tak percaya dengan apa yang bude katakan baru saja dari mulutnya tersebut.

Sedang aku hanya terdiam saja masih mencoba mencerna dan mendengarkan perkataannya.

“Kamu itu harus pinter-pinter atur keuangan Tar, kamu kan wanita harus bisa memiliki sisa tabungan biar nanti kalau sudah berkeluarga tidak sampai kekurangan”.

Aku kembali menganggukkan kepalaku seakan mengiyakan pernyataan bude.

“Jangan banyak beli-beli baju, tas dan sepatu. Mending uangnya kamu belikan perhiasan saja”.

“Lihat nih Udin, sudah bisa membelikan bude kalung dan gelang model terbaru ini, kamu bagaimana?”.

“Apa kamu tidak ingin membelikan ibumu kalung dan gelang?, lihat tuh ibumu hanya memakai gelang karet di lengannya”.

Astaghfirullah capek.

Berkali-kali dengan mengelus dadaku pelan, mencoba menahan segala marah yang ada.

Sedangkan mas Udin yang di sanjung-sanjung senyum-senyum seperti orang yang paling sukses saja.

“Kalau takut habis uangnya bisa di titipkan bude saja, nanti bude bantu bawa kamu jangan kuatir bude tidak akan bawa lari”.

Bude kembali berbicara banyak hal seperti mengucapkan kata-kata itu tanpa dosa saja.

“Apa yang harus di titipkan jika setiap bulan slalu tak pernah bersisa”. Batin Tari dalam hati.

“Bener itu Tar apa kata bude kamu, masak kerja sudah bertahun-tahun gak ada hasilnya sama sekali, pasti kamu boros banget orangnya. Jangan boro-boros kasian suami kamu nanti”.

Pakde kembali berbicara saat itu seakan menambah bumbu panas dalam obrolan.

“Dengerin tuh Tar nasihat bude dan pakde”.

Ibu kembali menambahkan, aku sekaan terpojok pagi itu.

Bagaimana bisa aku memiliki tabungan yang banyak jika setiap hari aku harus menanggung hidup kalian semua seperti ini.

Bagaimana bisa aku memiliki banyak uang sedang sema bergantung padaku?.

Bagaimana bisa kalian mengatakan aku boros, sedang aku sama sekali tak pernah menikmati sedikitpun jerih payahku.

Ingin rasanya berteriak pada mereka semuanya.

Tak terasa semua yang ada dalam ruangan tersebut telah menyelesaikan serangkaian ritual sarapan pagi mereka. Seperti biasa bude akan membungkus makanan untuk makan nanti siang sekalian dengan nasinya. Tak lupa bude juga membawa semua jeruk yang ada di atas meja tersebut.

“Ini jajan pasarnya gak ada tah?”.

Tanya bude dengan membuka-buka tudung saji yang ada di meja, masih mencoba mencari keberadaan jajan pasar.

“Tidak ada bude Tari tadi kesiangan ke pasarnya”.

“Duh anak gadis jangan malas ya kalau bangun, jadi kesiangan kan gak dapat jajan, tidak baik nanti kalau ikut mertua kalau malas bisa jadi kebiasaan”.

Jawab bude dengan melenggang keluar rumah.

Aku kembali mengelus dadaku dan memijat pelipis kepala yang tiba-tiba terasa pusing dengan kelakuan mereka.

Pakde beserta keluarga pun kembali ke rumah, sedang ibu membersihkan piring dan gelas mereka yang baru saja di pakai.

“Bu jeruknya di bawa pakde semua”.

Tanya Ipul pada ibu.

“Iya nak”.

“Aku belum mencicipinya bu”.

“Biarlah nak, nanti kamu bisa minta lagi sama mbakmu, ibu gak enak nak masak saudara minta gak di kasih, lagian mbakmu beli jeruk juga cuma sedikit saja mana bisa di bagi-bagi”.

Ipul beranjak dari dapur dengan wajah nelangsa.

.

.

.

.

☘️☘️☘️

Terpopuler

Comments

Henny Prasetya

Henny Prasetya

rasanya pengen neriaki ibunya tari itu,baik boleh tapi jangan goblok gitu kasian anak2nya

2024-03-09

0

Achie Chio

Achie Chio

jd sebel bca in,,sebel sm ibunya tari yg oon nya klewatan

2023-02-04

0

Diah Ratna

Diah Ratna

ibunya g punya perasaan sama anaknya.
bener2 pak de dan Bu de penjajah.
ibunya tari ya ,oon.

2023-02-04

1

lihat semua
Episodes
1 Permintaan ibu
2 Kabar Dari Rumah
3 Wejangan Ibu
4 Surat mengejutkan
5 Pulang Kampung
6 Srapan Pagi
7 Rumah Sakit
8 Prihal Biaya
9 Menu Sarapan Ala Bethari
10 Bethari Di Salahkan
11 Bertemu Sahabat
12 Kebiasaan Ibu
13 Sepucuk Harapan
14 Kompor
15 Prihal Gaji
16 Nasihat Mereka
17 Saran Bude
18 Nasi Bebek
19 Pengagum Rahasia
20 Kegelisaan Bethari
21 Liburan Keluarga Bude
22 Kepulangan Keluarga Bude
23 Tentang Strudel
24 Promosi Jabatan
25 Formasi Lengkap
26 Kepergian Mbah
27 Empat Puluh Hari Mbah
28 Prihal Rumah
29 Rumah
30 Terjual
31 Melamar
32 POV Bethari
33 Mobil Baru Udin
34 Persiapan Lamaran
35 Lamaran
36 Sakit Perut
37 Menjaga Jarak Aman
38 SAH?
39 Hubunan Baru
40 Honeymoon Berjamaah
41 Honeymoon Berjamaah 2
42 Honeymoon Berjamaah 3
43 Keluarga Baru
44 Menjenguk Ibu
45 Penantian
46 Kedatangan Ibu
47 Hari Minggu
48 Mengadpsi?
49 Do'a dan Harapan
50 MAAF
51 Sebuh Rahasia
52 Ketika Cinta Di Uji
53 Menjemput Risma
54 Kehadir Risma
55 Perintah Yang Sulit
56 Hati Yang Tak Mampu Terbagi
57 Mari Kita Bercerai
58 Terbongkar Sebagian
59 Merasa Ada Yang Berbeda
60 Hati Bu Marni
61 Di Antara Dua Hati
62 Rasa Yang Tak Terbalas
63 Menutupi Sebuah Kebenaran
64 Seharusnya Tidak Seperti Itu
65 Tentang Kejujuran
66 Sebuah Luka
67 Menuju Kehancuran
68 Awal Kehancuran
69 Kehancuran
70 Pilu
71 Sama-sama Terluka
72 Menutupi Sebuah Luka
73 Saling Terluka
74 Saling Terluka 2
75 Aku Kalah
76 Keyakinan Seorang Ibu
77 Kemarahan Ipul
78 Pelajaran Pertama
79 Tiga Insan Yang terluka
80 Semua Tentang Bthari
81 Arti Sahabat
82 Harapan Randi
83 Menantu Dan Mertua
84 Permintaan Mertua
85 Biar Aku Yang Memilih
86 Keputusan
87 Tempat Baru
88 Tamparan
89 Ibu Dan Anak
90 Isi Amplp Coklat
91 Keputusan Bersama
92 Hari Setelah Kepergiannya
93 Hilang Arah Tanpanya 1
94 Hilang arah tanpanya 2
95 Terabaikan
96 Arisan Keluarga
97 Rencana Bude
98 Menjalnkan Rencana
99 Periksa Kehamilan
100 Mungkinkah?
101 Takdir Allah
102 Keinginan Risma
103 Nasi Goreng Putih
104 Rama
105 Ikan Cupang
106 Tujuh Bulan
107 Janda
108 Novel Baru Jingga
109 Tenggelam
110 Apa Ini Surga?
111 Rumah sakit
112 Rumah Sakit 2
113 Pasar Malam
114 Anisa Fatin Fauziah
115 Kejutan
116 Kejutan 2
117 Terungkap
118 Hari Selepas Kebenaran
119 Hari Selepas Kebenaran 2
120 Awal Kehidupan Bethari
121 Kehidupan Randi
122 Suara Hati Risma
123 Apa Itu Hantu?
124 Bthari Dan Risma
125 Drama Pagi
126 Berangkat Bersama
127 Akankah?
128 Rama dan Risma
129 Rama dan Risma 2
130 Tentang Senja
131 131
132 Ibu dan Rama
133 Rencana Ibu
134 Ayah?
135 Makan Malam
136 Hari Ayah
137 Tragedi Siang
138 Kondisi Risma
139 Rumah Sakit
140 Tiga Rasa
141 Foto Bertiga
142 Foto Bertiga 2
143 Apakah?
144 Tes DNA?
145 Menuju Tes DNA
146 Dugaan Randi
147 Aku Masih Menunggu Jawabanmu
148 Pertemuan Randi dengan Risma
149 Pertemuan Randi dan Tari 1
150 Pertemuan Randi dan Tari 2
151 Pertemuan Randi dan tari 3
152 Bagaimana Hasilnya?
153 Hasil Tes DNA
154 Kau mengemis padaku?
155 Aku Bukan Figuran
156 Dukungan Ibu
157 Randi dan Rama?
158 Nasihat Ibu
159 Berkenalan Dengan Orang Tua Rama
160 Aku Bukan Wanita Sempurna
161 Jadi Kapan?
162 Lamaran Keluarga Randi
163 Undangan
164 Nyekar
165 Persiapan Pernikahan
166 Randi dan Mawar
167 Menuju Sah
168 SAH
169 Pernikahan Rama dan Tari
170 Selepas Akad
171 Mualai Bekerja
172 Berlibur
173 Selepas Liburan
174 Taspack Dari Ibu Mertua
175 Pingsan
176 Hamil
177 Keluarga Yang Berbahagia
178 promo novel Mengejar Cinta Fatimah
Episodes

Updated 178 Episodes

1
Permintaan ibu
2
Kabar Dari Rumah
3
Wejangan Ibu
4
Surat mengejutkan
5
Pulang Kampung
6
Srapan Pagi
7
Rumah Sakit
8
Prihal Biaya
9
Menu Sarapan Ala Bethari
10
Bethari Di Salahkan
11
Bertemu Sahabat
12
Kebiasaan Ibu
13
Sepucuk Harapan
14
Kompor
15
Prihal Gaji
16
Nasihat Mereka
17
Saran Bude
18
Nasi Bebek
19
Pengagum Rahasia
20
Kegelisaan Bethari
21
Liburan Keluarga Bude
22
Kepulangan Keluarga Bude
23
Tentang Strudel
24
Promosi Jabatan
25
Formasi Lengkap
26
Kepergian Mbah
27
Empat Puluh Hari Mbah
28
Prihal Rumah
29
Rumah
30
Terjual
31
Melamar
32
POV Bethari
33
Mobil Baru Udin
34
Persiapan Lamaran
35
Lamaran
36
Sakit Perut
37
Menjaga Jarak Aman
38
SAH?
39
Hubunan Baru
40
Honeymoon Berjamaah
41
Honeymoon Berjamaah 2
42
Honeymoon Berjamaah 3
43
Keluarga Baru
44
Menjenguk Ibu
45
Penantian
46
Kedatangan Ibu
47
Hari Minggu
48
Mengadpsi?
49
Do'a dan Harapan
50
MAAF
51
Sebuh Rahasia
52
Ketika Cinta Di Uji
53
Menjemput Risma
54
Kehadir Risma
55
Perintah Yang Sulit
56
Hati Yang Tak Mampu Terbagi
57
Mari Kita Bercerai
58
Terbongkar Sebagian
59
Merasa Ada Yang Berbeda
60
Hati Bu Marni
61
Di Antara Dua Hati
62
Rasa Yang Tak Terbalas
63
Menutupi Sebuah Kebenaran
64
Seharusnya Tidak Seperti Itu
65
Tentang Kejujuran
66
Sebuah Luka
67
Menuju Kehancuran
68
Awal Kehancuran
69
Kehancuran
70
Pilu
71
Sama-sama Terluka
72
Menutupi Sebuah Luka
73
Saling Terluka
74
Saling Terluka 2
75
Aku Kalah
76
Keyakinan Seorang Ibu
77
Kemarahan Ipul
78
Pelajaran Pertama
79
Tiga Insan Yang terluka
80
Semua Tentang Bthari
81
Arti Sahabat
82
Harapan Randi
83
Menantu Dan Mertua
84
Permintaan Mertua
85
Biar Aku Yang Memilih
86
Keputusan
87
Tempat Baru
88
Tamparan
89
Ibu Dan Anak
90
Isi Amplp Coklat
91
Keputusan Bersama
92
Hari Setelah Kepergiannya
93
Hilang Arah Tanpanya 1
94
Hilang arah tanpanya 2
95
Terabaikan
96
Arisan Keluarga
97
Rencana Bude
98
Menjalnkan Rencana
99
Periksa Kehamilan
100
Mungkinkah?
101
Takdir Allah
102
Keinginan Risma
103
Nasi Goreng Putih
104
Rama
105
Ikan Cupang
106
Tujuh Bulan
107
Janda
108
Novel Baru Jingga
109
Tenggelam
110
Apa Ini Surga?
111
Rumah sakit
112
Rumah Sakit 2
113
Pasar Malam
114
Anisa Fatin Fauziah
115
Kejutan
116
Kejutan 2
117
Terungkap
118
Hari Selepas Kebenaran
119
Hari Selepas Kebenaran 2
120
Awal Kehidupan Bethari
121
Kehidupan Randi
122
Suara Hati Risma
123
Apa Itu Hantu?
124
Bthari Dan Risma
125
Drama Pagi
126
Berangkat Bersama
127
Akankah?
128
Rama dan Risma
129
Rama dan Risma 2
130
Tentang Senja
131
131
132
Ibu dan Rama
133
Rencana Ibu
134
Ayah?
135
Makan Malam
136
Hari Ayah
137
Tragedi Siang
138
Kondisi Risma
139
Rumah Sakit
140
Tiga Rasa
141
Foto Bertiga
142
Foto Bertiga 2
143
Apakah?
144
Tes DNA?
145
Menuju Tes DNA
146
Dugaan Randi
147
Aku Masih Menunggu Jawabanmu
148
Pertemuan Randi dengan Risma
149
Pertemuan Randi dan Tari 1
150
Pertemuan Randi dan Tari 2
151
Pertemuan Randi dan tari 3
152
Bagaimana Hasilnya?
153
Hasil Tes DNA
154
Kau mengemis padaku?
155
Aku Bukan Figuran
156
Dukungan Ibu
157
Randi dan Rama?
158
Nasihat Ibu
159
Berkenalan Dengan Orang Tua Rama
160
Aku Bukan Wanita Sempurna
161
Jadi Kapan?
162
Lamaran Keluarga Randi
163
Undangan
164
Nyekar
165
Persiapan Pernikahan
166
Randi dan Mawar
167
Menuju Sah
168
SAH
169
Pernikahan Rama dan Tari
170
Selepas Akad
171
Mualai Bekerja
172
Berlibur
173
Selepas Liburan
174
Taspack Dari Ibu Mertua
175
Pingsan
176
Hamil
177
Keluarga Yang Berbahagia
178
promo novel Mengejar Cinta Fatimah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!