Kegelisaan Bethari

Randi Yulidar Pradana seorang pria matang berusia tiga puluh tiga tahun yang kebetulan masih singgle. Kegagalan dalam menjalin kasih dengan wanita yang di cintainya dulu membuatnya enggan untuk mengenal wanita lagi, Randi menjadi sosok yamg dingin dan pemilih masalah gadis. Namun sejak bertemu Tari hatinya mulai terusik ingin mengenal lebih dalam, namun sayangnya rasa trauma dan kecewa pada kisah kasih masa lalu membuatnya enggan untuk lekas melangka ke depan.

Sementara itu Tari yang sejak tadi diamati oleh Tari benar-benar sama sekali tidak merasa. Tari masih sibuk dengan serangkaian tugas dan tanggung jawabnya untuk menjelaskan pada responden yang ada.

“Tari lihat deh, sepertinya kamu dilihatin terus sama pak Randi”. Ucap Nadia dengan menyikut lengan Tari yang masih fokus menjelaskan pada responden.

“Apaan sih”. Balas Tari dengan singkat.

“Tuh lihat pak Randi dari tadi diam-diam perhatikan kamu, lihat saja aku tak sengaja menangkap matanya yang fokus melihatmu”.

“Duh masa iya? Bagaimana nih Nad? Apa aku ada kesalahan saat kerja?”. Dengan membolak-balikkan berkas yang ada di tangganya Tari mencoba kembali memeriksa pekerjaannya.

“Dih kamu paham gak si Tar? Pak Randi liatin kam sepertinya tertarik dengan kamu”.

“Dih mana ada tertarik, yang ada paling aku melakukan sesuatu kesalahan makanya belia mengamati aku dari kejauhan”.

“Kamu tuh dibilangin tak percaya sih”. Nadia kesal dan pergi meninggalkan Tari seorang diri.

Tari tersenyum dengan perkataan Nadia,

“Ah masak si ada yang mau sama aku”. Ucap Tari dalam hati.

Ah tidaklah buat apa punya pasangan hidup yang ada aku mala makin jadi beban hidupnya saja, to ibu sudah mewanti-wanti aku untuk tidak menika dulu sampai Ipl selesai sekolah dan itu masih lama. Aku jga enggan untuk berbagi dengan orang lain. Hidupku sudah cukup berat tak ingin menambah semakin berat dengan memikirkan hal yang tak tentu alurnya.

***

Setelah semua pekerjaan selesai rombongan riset kembali lagi ke Surabaya bersama-sama. Seperti biasa Tari akan kembali ke kos dan beristirahat. Malam ini Tari tak membeli makan terlebih dahulu kebetulan tadi sudah dapat makan dari kantor waktu di jalan. Perutnya juga masih terasa sangat kenyang. Tari ingin lekas merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Sebelum tidur Tari teringat tentang ucapan Nadia tentang Randi membuatnya senyum-senyum sendiri tak jelas malam itu.

“Ah apa’an sih gak kelas”, cap Tari menggerutu dirinya sendiri.

Ya kali mana mau seorang pak Randi yang ganteng, pinter, soleh bons kaya tertarik sama rakyat jelata seperti ini, yang ada aku d jadikan babunya. Tanpa di sadari Tari beranjak dari kasurnya menuju cermin yang ada di kamarnya.

Tari memandang wajahnya dengan begitu lekat, sudah menuju tiga puluh tahun tapi belum pernah merasakan sama sekali menjalin kasih dengan orang seorang pria. Beberapa kali mencintai orang hasilnya kandas sebelum berperang karena tak cukup punya keberanian untuk sekedar saling mengenal.

Tiga pulu tahun, masih adakah sosok pria yang mau dengan perawan tua seperti aku ini?.

Tiga puluh tahun, apa yang bisa aku lakukan dengan usia yang sudah lewat untuk ukuran wanita mencari jodoh.

Tari menghembuskan nafas kasar dan mencoba menghirup udara sebanyak-banyak yang dia bisa, entah mengapa jika teringat akan usianya yang tak lagi remaja cukup membuat hatinya berdenyut nyeri tak terkira.

Tari kembali memandang wajahnya di depan cermin, wajahku tidak terlalu buruk tapi mengapa sampai usia sekarang belum ada sama sekali laki-laki yang mendekatiku?.

Lelah dengan segenap angan-angan tentang jodoh Tari kembali duduk di tepi ranjang, tangannya meraih skincare yang ada di meja riasnya.

Wahai kaum tiga puluh tahun, kamu harus perbanyak skincare, retinol dan tentunya air wudu untuk membuat wajahmu tetap muda layaknya remaja. Wahai kaum tiga puluh tahun jangan lupa minum susu tinggi kalsium agar tak kalah lincah dengan rekan-rekan usia muda dan jangan lupa selipkan freshcare di kantong setiap kemanapun pergi.

Tari berbicara dengan dirinya sendiri.

Mencoba mengibur dirinya sendiri di depan cermin, terlalu banyak mengurus permasalahan keluarganya membuatnya terlena akan waktu yang slalu berputar dan tak kembali. Hingga dia tak mempedulikan dirinya sendiri.

Tari kembali melamun dan merenung memikirkan akan jodohnya.

Beberapa menit kemudian suara panggilan masuk membuyarkan renungannya.

Siapa lagi orang yang paling perhatian menghubungi Tari jika bukan sang ibu.

Tangannya terulur meraih benda pipi yang ada di atas kasur tersebut, dengan bersandar pada tembok Tari menjawab telfon sang ibu.

“Assalamualaikum Tar, kamu sudah tidur nak?”.

“Waalaikumsalam bu, belum baru saja pulang kerja”.

“Tar jadi bagaimana sudah ada belum uang yang buat benerin genting, ibu sudah tak tahan Tar kalau hujan tiba harus ngepel banyak, belum lagi ibu harus merawat mbah sendirian dan masak untuk semuanya, Tar ibu lelah nak”.

“Bisakah kam meringankan sedikit beban ibu?”.

Tari kembali mengelus dadanya, setiap kali mendapat panggilan dari sang ibu slalu ada saja permasalahan yang terjadi.

“Meringankan seperti apa bu?”.

“Ya buruan dong nak benerin genting rumah ibu, kamu kirim uang seadanya saja nanti biar pakde bantu benerin rumahnya”.

“Iya bu tunggu minggu depan ya, Tari belum gajian”.

“Baiklah nak, jaga kesehatan ya jangan capek-capek ibu mau istirahat dulu”.

Ibu lekas menutup sambungan teleponnya.

Sementara aku kembali merogoh saku tas kerjaku, membuka slip saldo terakhir gajiku.

Dua belas juta.

“Bisakah kamu bertahan sebentar saja di ATM?”.

“Mengapa kamu enggan untuk singgah lebih lama di ATMku?”. Ucap Tari dengan melihat saldo tabungannya.

Seperti inilah salah satu alasan Tari enggan untuk lekas menika, bukan hanya sekedar berbagi kisah dengan lawan jenis, Tari enggan untuk membagi dukanya pada orang lain. Tari begit takut jika dia jatuh cinta pada orang yang salah. Tari takut menikah dengan orang yang belum tentu mampu menerima keadaan keluarganya.

Tari belum siap akan hal itu.

***

Satu minggu berlalu, tibalah saat Tari menerima gajinya, seperti yang sudah-sdah Tari akan membagi menjadi beberapa post keperluan. Tak lupa Tari menepati janji pada sang ibu mengirimkan sejumlah uang sebagai biaya perbaikan genting di rumahnya. Tari mengirim sepuluh juta untuk mencicil biaya perbaikan genting rumahnya.

Sementara itu di rumah sang ibu sedang mengembangkan senyumnya dengan begitu lebar kala mengetahui Tari sudah mengirim sejumlah uang untuk biaya perbaikan genting rumahnya.

Ibu teramat sangat bersyukur akhirnya Tari ada sedikit rezeki untuk memperbaiki rumah mereka, dengan demikian, akan sedikit berkurang pekerjaan ibu ketika hujan.

Ibu yang begitu bahagia kala menerima ang tersebut lekas menuju rumah pakde untuk mengabarinya.

“Mas Tari sudah kirim uang untuk perbaikan genting rumahku, jadi gimana mas? Kapan kira-kira bisa di perbaiki?”. Tanya ibu dengan begitu antusiasnya.

“Tari kirim uang berapa?”.

Dengan penuh semangat ibu menjawab.

“Sepuluh juta mas”.

“Sepuluh juta ya? Sepertinya masih sangat kurang banyak tuh, sebaiknya  ya di tabung dulu saja biar gak ke pake. Sini nitip saja dulu sama aku”. Ucap bude yang tiba-tiba muncul dari dapur rumahnya.

Episodes
1 Permintaan ibu
2 Kabar Dari Rumah
3 Wejangan Ibu
4 Surat mengejutkan
5 Pulang Kampung
6 Srapan Pagi
7 Rumah Sakit
8 Prihal Biaya
9 Menu Sarapan Ala Bethari
10 Bethari Di Salahkan
11 Bertemu Sahabat
12 Kebiasaan Ibu
13 Sepucuk Harapan
14 Kompor
15 Prihal Gaji
16 Nasihat Mereka
17 Saran Bude
18 Nasi Bebek
19 Pengagum Rahasia
20 Kegelisaan Bethari
21 Liburan Keluarga Bude
22 Kepulangan Keluarga Bude
23 Tentang Strudel
24 Promosi Jabatan
25 Formasi Lengkap
26 Kepergian Mbah
27 Empat Puluh Hari Mbah
28 Prihal Rumah
29 Rumah
30 Terjual
31 Melamar
32 POV Bethari
33 Mobil Baru Udin
34 Persiapan Lamaran
35 Lamaran
36 Sakit Perut
37 Menjaga Jarak Aman
38 SAH?
39 Hubunan Baru
40 Honeymoon Berjamaah
41 Honeymoon Berjamaah 2
42 Honeymoon Berjamaah 3
43 Keluarga Baru
44 Menjenguk Ibu
45 Penantian
46 Kedatangan Ibu
47 Hari Minggu
48 Mengadpsi?
49 Do'a dan Harapan
50 MAAF
51 Sebuh Rahasia
52 Ketika Cinta Di Uji
53 Menjemput Risma
54 Kehadir Risma
55 Perintah Yang Sulit
56 Hati Yang Tak Mampu Terbagi
57 Mari Kita Bercerai
58 Terbongkar Sebagian
59 Merasa Ada Yang Berbeda
60 Hati Bu Marni
61 Di Antara Dua Hati
62 Rasa Yang Tak Terbalas
63 Menutupi Sebuah Kebenaran
64 Seharusnya Tidak Seperti Itu
65 Tentang Kejujuran
66 Sebuah Luka
67 Menuju Kehancuran
68 Awal Kehancuran
69 Kehancuran
70 Pilu
71 Sama-sama Terluka
72 Menutupi Sebuah Luka
73 Saling Terluka
74 Saling Terluka 2
75 Aku Kalah
76 Keyakinan Seorang Ibu
77 Kemarahan Ipul
78 Pelajaran Pertama
79 Tiga Insan Yang terluka
80 Semua Tentang Bthari
81 Arti Sahabat
82 Harapan Randi
83 Menantu Dan Mertua
84 Permintaan Mertua
85 Biar Aku Yang Memilih
86 Keputusan
87 Tempat Baru
88 Tamparan
89 Ibu Dan Anak
90 Isi Amplp Coklat
91 Keputusan Bersama
92 Hari Setelah Kepergiannya
93 Hilang Arah Tanpanya 1
94 Hilang arah tanpanya 2
95 Terabaikan
96 Arisan Keluarga
97 Rencana Bude
98 Menjalnkan Rencana
99 Periksa Kehamilan
100 Mungkinkah?
101 Takdir Allah
102 Keinginan Risma
103 Nasi Goreng Putih
104 Rama
105 Ikan Cupang
106 Tujuh Bulan
107 Janda
108 Novel Baru Jingga
109 Tenggelam
110 Apa Ini Surga?
111 Rumah sakit
112 Rumah Sakit 2
113 Pasar Malam
114 Anisa Fatin Fauziah
115 Kejutan
116 Kejutan 2
117 Terungkap
118 Hari Selepas Kebenaran
119 Hari Selepas Kebenaran 2
120 Awal Kehidupan Bethari
121 Kehidupan Randi
122 Suara Hati Risma
123 Apa Itu Hantu?
124 Bthari Dan Risma
125 Drama Pagi
126 Berangkat Bersama
127 Akankah?
128 Rama dan Risma
129 Rama dan Risma 2
130 Tentang Senja
131 131
132 Ibu dan Rama
133 Rencana Ibu
134 Ayah?
135 Makan Malam
136 Hari Ayah
137 Tragedi Siang
138 Kondisi Risma
139 Rumah Sakit
140 Tiga Rasa
141 Foto Bertiga
142 Foto Bertiga 2
143 Apakah?
144 Tes DNA?
145 Menuju Tes DNA
146 Dugaan Randi
147 Aku Masih Menunggu Jawabanmu
148 Pertemuan Randi dengan Risma
149 Pertemuan Randi dan Tari 1
150 Pertemuan Randi dan Tari 2
151 Pertemuan Randi dan tari 3
152 Bagaimana Hasilnya?
153 Hasil Tes DNA
154 Kau mengemis padaku?
155 Aku Bukan Figuran
156 Dukungan Ibu
157 Randi dan Rama?
158 Nasihat Ibu
159 Berkenalan Dengan Orang Tua Rama
160 Aku Bukan Wanita Sempurna
161 Jadi Kapan?
162 Lamaran Keluarga Randi
163 Undangan
164 Nyekar
165 Persiapan Pernikahan
166 Randi dan Mawar
167 Menuju Sah
168 SAH
169 Pernikahan Rama dan Tari
170 Selepas Akad
171 Mualai Bekerja
172 Berlibur
173 Selepas Liburan
174 Taspack Dari Ibu Mertua
175 Pingsan
176 Hamil
177 Keluarga Yang Berbahagia
178 promo novel Mengejar Cinta Fatimah
Episodes

Updated 178 Episodes

1
Permintaan ibu
2
Kabar Dari Rumah
3
Wejangan Ibu
4
Surat mengejutkan
5
Pulang Kampung
6
Srapan Pagi
7
Rumah Sakit
8
Prihal Biaya
9
Menu Sarapan Ala Bethari
10
Bethari Di Salahkan
11
Bertemu Sahabat
12
Kebiasaan Ibu
13
Sepucuk Harapan
14
Kompor
15
Prihal Gaji
16
Nasihat Mereka
17
Saran Bude
18
Nasi Bebek
19
Pengagum Rahasia
20
Kegelisaan Bethari
21
Liburan Keluarga Bude
22
Kepulangan Keluarga Bude
23
Tentang Strudel
24
Promosi Jabatan
25
Formasi Lengkap
26
Kepergian Mbah
27
Empat Puluh Hari Mbah
28
Prihal Rumah
29
Rumah
30
Terjual
31
Melamar
32
POV Bethari
33
Mobil Baru Udin
34
Persiapan Lamaran
35
Lamaran
36
Sakit Perut
37
Menjaga Jarak Aman
38
SAH?
39
Hubunan Baru
40
Honeymoon Berjamaah
41
Honeymoon Berjamaah 2
42
Honeymoon Berjamaah 3
43
Keluarga Baru
44
Menjenguk Ibu
45
Penantian
46
Kedatangan Ibu
47
Hari Minggu
48
Mengadpsi?
49
Do'a dan Harapan
50
MAAF
51
Sebuh Rahasia
52
Ketika Cinta Di Uji
53
Menjemput Risma
54
Kehadir Risma
55
Perintah Yang Sulit
56
Hati Yang Tak Mampu Terbagi
57
Mari Kita Bercerai
58
Terbongkar Sebagian
59
Merasa Ada Yang Berbeda
60
Hati Bu Marni
61
Di Antara Dua Hati
62
Rasa Yang Tak Terbalas
63
Menutupi Sebuah Kebenaran
64
Seharusnya Tidak Seperti Itu
65
Tentang Kejujuran
66
Sebuah Luka
67
Menuju Kehancuran
68
Awal Kehancuran
69
Kehancuran
70
Pilu
71
Sama-sama Terluka
72
Menutupi Sebuah Luka
73
Saling Terluka
74
Saling Terluka 2
75
Aku Kalah
76
Keyakinan Seorang Ibu
77
Kemarahan Ipul
78
Pelajaran Pertama
79
Tiga Insan Yang terluka
80
Semua Tentang Bthari
81
Arti Sahabat
82
Harapan Randi
83
Menantu Dan Mertua
84
Permintaan Mertua
85
Biar Aku Yang Memilih
86
Keputusan
87
Tempat Baru
88
Tamparan
89
Ibu Dan Anak
90
Isi Amplp Coklat
91
Keputusan Bersama
92
Hari Setelah Kepergiannya
93
Hilang Arah Tanpanya 1
94
Hilang arah tanpanya 2
95
Terabaikan
96
Arisan Keluarga
97
Rencana Bude
98
Menjalnkan Rencana
99
Periksa Kehamilan
100
Mungkinkah?
101
Takdir Allah
102
Keinginan Risma
103
Nasi Goreng Putih
104
Rama
105
Ikan Cupang
106
Tujuh Bulan
107
Janda
108
Novel Baru Jingga
109
Tenggelam
110
Apa Ini Surga?
111
Rumah sakit
112
Rumah Sakit 2
113
Pasar Malam
114
Anisa Fatin Fauziah
115
Kejutan
116
Kejutan 2
117
Terungkap
118
Hari Selepas Kebenaran
119
Hari Selepas Kebenaran 2
120
Awal Kehidupan Bethari
121
Kehidupan Randi
122
Suara Hati Risma
123
Apa Itu Hantu?
124
Bthari Dan Risma
125
Drama Pagi
126
Berangkat Bersama
127
Akankah?
128
Rama dan Risma
129
Rama dan Risma 2
130
Tentang Senja
131
131
132
Ibu dan Rama
133
Rencana Ibu
134
Ayah?
135
Makan Malam
136
Hari Ayah
137
Tragedi Siang
138
Kondisi Risma
139
Rumah Sakit
140
Tiga Rasa
141
Foto Bertiga
142
Foto Bertiga 2
143
Apakah?
144
Tes DNA?
145
Menuju Tes DNA
146
Dugaan Randi
147
Aku Masih Menunggu Jawabanmu
148
Pertemuan Randi dengan Risma
149
Pertemuan Randi dan Tari 1
150
Pertemuan Randi dan Tari 2
151
Pertemuan Randi dan tari 3
152
Bagaimana Hasilnya?
153
Hasil Tes DNA
154
Kau mengemis padaku?
155
Aku Bukan Figuran
156
Dukungan Ibu
157
Randi dan Rama?
158
Nasihat Ibu
159
Berkenalan Dengan Orang Tua Rama
160
Aku Bukan Wanita Sempurna
161
Jadi Kapan?
162
Lamaran Keluarga Randi
163
Undangan
164
Nyekar
165
Persiapan Pernikahan
166
Randi dan Mawar
167
Menuju Sah
168
SAH
169
Pernikahan Rama dan Tari
170
Selepas Akad
171
Mualai Bekerja
172
Berlibur
173
Selepas Liburan
174
Taspack Dari Ibu Mertua
175
Pingsan
176
Hamil
177
Keluarga Yang Berbahagia
178
promo novel Mengejar Cinta Fatimah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!