Secarik kertas kecil dengan daftar belanjaan yang luar biasa panjangnya terpampang dengan sempurna di depan mataku.
“Astaghfirullah apa aku harus benar-benar membeli semua bahan makanan yang ada di datar ini?”. Guman Tari dalam hati dengan mengelus dadanya.
“Cepat berangkat Tar, nanti keburu siang, kalau sudah siang dapat sayur yang kurang segar”.
Aku bangkit dari tempat pembaringanku dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebentar.
“Bu apa semua bahan makanan ini harus di beli semua?”. Tanyaku dengan cukup santun pada ibu.
“Iya Tar beli semuanya saja, itung-itung mengganti menu masakan yang kemarin kamu masak itu”.
“Sudah buruan berangkat sana jangan lama-lama belanjanya, ibu mau ke membersihkan mbah dulu, jangan lupa bawa tas belanjaan biar kamu nanti tidak kesusahan membawanya”.
Aku kembali ke kamar sebentar untuk mengganti baju dan memakai jilbab, tak lupa mengambil dompet. Mataku berkaca-kaca melihat barisan pahlawan pad dompet yang semakin menipis seperti kalah dalam perang.
Aku mengambil beberapa lembar warna merah dan beberapa lembar warna biru berharap ini adalah kali terakhir aku mengeluarkan uang selama di rumah. Sengaja membawa lembaran uang bergambar pedang lebih banyak dari pada yang berwarna merah siapa tahu nanti bisa menang melawan penjajahan ini.
Sebenarnya aku sudah memberikan jatah uang bulanan pad ibu meski saat ini aku sedang tidak bekerja, tapi tentu saja jika aku sedang di rumah maka semua operasional rumah akulah yang harus menanggung lagi di luar uang bulanan. Aku pun tak kuasa membuka mulut untuk meminta pada ibu.
Pagi itu aku berangkat ke pasar dengan wajah yang murung berasa tertindas oleh penjajah yang memanfaatkan keadaan. Aku sadar akan al itu tapi lagi-lagi aku tak sanggup melawan titah ibu.
Sesampainya di pasar aku lekas memilih beberapa sayuran yang sudah masuk dalam list daftar belanja ibu, aku juga membeli daging, ayam dan ikan serta beberapa buah yang di minta oleh ibu.
Benar saja ibu menyuruhku membawa tas yang besar sekali, rupanya memang sudah sampai di situ takaran tas yang di gunakan ibu untuk belanja. Tak lupa ibu juga menuliskan beberapa list baan kebutuhan lainnya seperti kopi, teh, energen, sabun mandi, sabun mencuci baju, mie instant dan beberapa bahan lainnya.
Aku kembali melirik daftar belanjaan yang telah ibu tuliskan dalam genggamanku.
Astaghfirullah mataku kembali terbelalak kala membaca tulisan tersebut.
Jajan pasar, kucur, lepet dan putu ayu.
Aku kembali menggeleng-gelengkan kepala dan mengelus dada dengan begitu kerasnya. Aku pun kembali melangka melanjutkan belanjaan dengan menenteng tas yang cukup berat sekali.
Aku mengantri kue putu pesanan ibu yang cukup ramai sekali pagi itu.
“Betahri ya?”. Sapa salah satu pembeli yang sedang antri membeli putu.
“Iya”. Aku menjawab namun belum sempat menoleh ke sumber suara, namun dengan sigap orang tersebut lekas memelukku dengan penuh kegirangan.
Ya Allah Tar kangen banget tau, kamu kemana saja”.
Menyadari suara yang tak begitu asing aku dengar aku langsung berbalik pada sumber suara.
‘Ya Allah Fitri, apa kabar?”.
Jawabku yang tak kalah hebohnya dengan Fitri, sontak membuat semua orang yang antri kue putu tersebut melihat kehebohan kami berdua.
“Aku baik, kamu gimana?”.
“Ah aku juga masih begini saja”.
“Kamu sekarang di mana Tar, aku jarang sekali melihatmu setiap kali lewat depan rumah kamu.
Fitri adalah temanku sejak SMA hingga kuliah di Malang, kebetulan tempat tinggal kami masih dalam satu kawasan kecamatan yang sama, jadi tak jarang Fitri lewat depan rumahku.
“Aku di Jakarta itu, tapi beberapa ari ini aku di rumah sudah hampir satu minggu”.
“Eh kenapa waja kamu seperti itu? Adakah yang salah dengan pertanyaanku”.
“Eh tidak hanya saja aku sekarang pulang bukan karena liburan tapi karena jadi pengangguran”.
“Ah masak sih Tar orang jura kelas jam terbang tinggi bisa jadi pengangguran”. Ledek Fitri dengan tersenyum tak bermaksud untuk menghina.
“Ah iya nih sudah seminggu di rumah gak ada pemasukan, tapi pengeluaran udah kayak danau yang lagi jebol tanggulnya hehehe”.
“Hem begitu ya”.
“Kira-kira kamu mau tidak Tar kerja di tempat sepupuku di Surabaya, kebetulan kemarin sedang mencari sekretaris. Kalau kamu mau nanti biar aku coba hubungi sepupuku”.
“Ah serius kamu Fit?”. Wajah Tari kembali bersinar pagi itu kala mendengar ada tawaran pekerjaan.
“Iya serius di Surabaya daerah Rungkut di perusahaan ice cream, tapi Tar sepertinya untuk urusan gaji tidak sebesar gaji kamu di Jakarta”.
Fitri menjelaskan tanpa ingin memberikan gambaran palsu untuk Tari.
“Ah tak apalah Fit yang penting ada pemasukan, lagian untuk biaya hidup di Surabaya kan tidak sebesar di Jakarta jadi ya wajar kalau urusan gaji tidak sama”.
“Baiklah kalau begitu besok pagi, kamu langsung ke Surabaya saja atau mau barengan saja sama aku. Aku besok pagi-pagi setelah subuh juga mau kembali ke Surabaya, kebetulan Tar tempat kerjaku dan sepupuku tidak jauh masih dalam satu kawasan”.
“Benarkah Fit? Apa tidak merepotkan?”.
“Tentu saja tidaklah Tar, malah makin senang biar ada temannya di jalan gitu”.
“Ah terima kasih ya Fit untuk semua bantuannya”.
“Nanti biar aku hubungi sepupuku dulu, malamnya aku hubungi kamu kembali, mungkin akan ada tes-tesnya dulu Tar selama tes-tes tinggal saja di tempatku dulu sampai pengumumannya di tentukan biar kamu tidak riwa-riwi”.
“Ah Fit kamu memang sahabat terbaik yang slalu dapat di andalkan”.
Tari dan Fitri kembali berpelukan, dua sahabat yang sejak dulu tinggal bersama selama masih kuliah di Malang saling melepas rindu pagi itu.
Beberapa menit kemudian tibalah giliran Tari dan Fitri untuk mengambil kue putu pesanan mereka. Dengan sigap mereka langsung menuju pembeli dan membayar kue tersebut, kemudian mereka pulang menuju rumah masing-masing.
Sepanjang perjalanan pulang waja Tari di penuhi dengan senyuman setidaknya ada sedikit pencerahan untuk nasibnya ke depan, meskipun dia juga tidak yakin di terima karena meskipun atas rekomendasi temanya tapi semua harus berjalan seperti prosedur yang telah di tentukan.
Sesampainya di rumah Tari lekas membawa barang belanjaannya yang begitu banyak dan menaruhnya di atas meja.
“Bu ini semua belanjaan yang aku beli”
“Gimana Tar dapat semua pesanan ibu?”.
Aku hanya menganggukkan kepala saja.
“Anak pinter, tenang saja nanti Allah yang akan ganti semua belanjaan kamu”.
Ucapan ibu sedikit membuatku tersenyum, ya mungkin dengan menyenangkan ibu akan mempermudah segala urusanku termasuk untuk mendapat pekerjaan besok.
Tapi tidak bisa di pungkiri terkadang rasa tidak ikhlas begitu menyeruak kala semua orang ikut serta menikmati jerih payaku. Jika hanya Ipul dan Ibu dengan senang hati aku akan memberikannya namun ketika yang lain ikut menikmati terkadang ada sedikit rasa tidak rela akan hal itu.
“Jajan pasarnya juga ada Tar, itu jajanan kesukaan pakde kamu soalnya”.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Yuli Yulianti
kamu emang harus tegas ke mantan mu tar jgn beri celah lg
2023-06-22
0