"Ada apa sih mas?, Masih pagi sudah teriak-teriak". Ibu terbangun dan keluar dari kamar menuju dapur tempat kami berkumpul pagi itu.
"Lihat ini anak kamu, kenapa masak makanan seperti ini?".
Ibu lekas membuka tudung saji yang ada di atas meja. Betapa terkejutnya raut wajah ibu melihat menu yang tersaji di atas meja tersebut.
"Tar kenapa masak makanan seperti ini nak?".
"Kenapa Bu? Ini juga enak gulai daun singkong dengan lauk tahu dan peyek daun luntas, ini makanan sehat halal pula".
Ucapku pada ibu dengan pelan tidak bermaksud menyinggung perasaannya.
"Maaf ya mas, mbak sepertinya Tari rindu masakan ala desa yang ala kadarnya, mari kita makan bersama-sama, apa pun menunya kalau makan bersama pasti juga enak".
Ibuku membujuk pakde dan bude untuk tetap sarapan makanan yang ada.
"Enak saja aku harus makan makanan seperti begini, mana bisa aku". Dengan ketusnya bude menjawab seperti itu.
"Kalau tidak mau makan masakan yang ada, bude dan pakde masak sendiri di rumah sesuai dengan apa yang bude mau, gampang kan?".
Tawarku memberikan solusi pada mereka.
"Enak saja, aku harus masak sendiri. kita itu sama-sama keturunan Mbah jadi wajar dong kalau aku juga mau makan di sini, menikmati sedikit harta mbah yang kalian gunakan".
"Pakde tolong berhenti, jangan berbicara seperti itu lagi. Harta mbah sudah tidak ada yang tersisa lagi, semua ini murni uangku sendiri yang kalian makan setiap harinya".
Cukup sudah aku di buat kesal dengan ucapan mereka. Pagi-pagi sudah membuat otakku mendidih rasanya.
"Bukanya kamu tidak punya uang Tar?kamu sendiri kan kemarin yang bilang jika sudah tidak punya uang lagi, tapi buktinya bisa membayar uang perawatan rumah sakit Mbah. Uang dari mana coba kalau bukan uang Mbah sendiri".
Dengan ketusnya bude berbicara seperti itu.
Sementara Mbah yang sedang di perebutkan hartanya hanya mampu berbaring tak berdaya di atas pembaringan.
"Tar masuk kamar nak".
Ibu memutus obrolanku dengan pakde dan bude agar tidak memanas, dengan malas aku beranjak dari tempat duduk menuju kamar,
Sungguh aku begitu kesal dibuatnya dengan sikap saudara-saudara ibuku.
"Buatkan mie instan saja kalau begitu Mar jangan lupa tambahkan telur setengah matang, aku sudah lapar sekali, lagian anak-anak juga harus lekas bersiap untuk berangkat sekolah".
Sungguh dengan begitu enaknya bude bertitah seperti itu pada ibu, sayangnya dengan senang hati ibu lekas menjalankan perintah bude tanpa suatu perlawanan sedikitpun. Mendengar ucapan mereka dari kamar semakin membuatku muak dengan keluarga ini.
Dengan tanpa malu setelah mie tersebut matang pakde dan bude lekas mengambil piring masing -masing dan menikmati dengan begitu enaknya. Tak lupa mereka juga membungkus kan untuk anak-anak yang kebetulan setelah melihat lauk gulai daun singkong dan tahu tadi langsung lari pulang.
"Lain kali jangan masak makanan desa seperti itu lagi, dari pada kamu semakin repot nantinya jadi masak dua kali".
Ucap bude dengan membawa bungkusan nasi berlalu meninggalkan rumahku.
***
Sepeninggalan bude dan pakde ibu lekas datang menemuiku di dalam kamar. Aku pura-pura tidur menghadap ke sisi tembok dengan menutup mata begitu rapatnya. Berharap ibu akan lekas pergi dari kamarku. Sungguh aku malas sekali untuk berdebat pagi itu. Aku sungguh sangat lelah.
"Tar ibu tahu kamu tidak tidur".
Langkah ibu semakin mendekat dan duduk di ujung ranjang ku, aku tak bergeming tak ingin membuka mata dan suara.
"Tar ibu ini janda, tidak punya banyak saudara, saudara ibu yang terdekat hanya pakde dan bude saja. Jadi sebisanya kita sebagai yang lebih muda bisa menghormati mereka".
"Tar kamu dengarkan apa yang ibu katakan?".
Ibu menggoyang -goyangkan tubuhku berharap aku akan membuka mata.
"Tar menjaga tali persaudaraan itu penting, sama halnya kamu dan Ipul, kalian berdua bersaudara sampai kapanpun kalian akan menjadi saudara. Jika suatu saat Ipul memerlukan bantuan kamu apa kamu tega untuk tidak menolongnya".
"Aku pasti akan menolongnya Bu, tapi tidak dengan memberikan makan setiap harinya pada mereka. Secara ekonomi pakde dan bude jauh lebih mapan Bu dari kita, apa benar dengan kondisi ekonomi yang lebih mampu harus meminta makan pada orang yang tidak mampu".
Aku memberanikan diri mengungkapkan pendapatku pada ibu.
"Tapi nak pakde dan bude banyak sekali membantu kita dulu, tidak sedikit pakde uluran tangan pakde untuk keluarga kita, apa lagi saat kamu masih sekolah dulu. Jadi sudah seharusnya kamu membalas budi pada mereka nak".
"Itu bukan hutang Bu, itu adalah bantuan, jika memang aku harus membalas budi kenapa dulu pakde membantu kita, kenapa tidak di biarkan saja, biar aku tidak repot-repot untuk membalas budi".
Sungguh aku masih malas sekali dengan kata-kata balas budi yang tak seimbang dengan apa yang aku beri dan apa yang aku dapatkan.
"Tar pelankan nada bicaramu, kamu sudah tidak sopan mengatakan hal itu pada ibu, bagaimanapun juga pakdemu adalah saudara sedarah sekandung ibu yang sejak kecil kami hidup bersama dalam keterbatasan. Apa salahnya jika saat ini kami ingin sedikit menikmati hidup dengan kamu berbuat baik pada kami".
Ibu berlalu meninggalkanku.
"Iya Bu aku tau kita harus berbuat baik pada semuanya tapi bukan dengan seperti ini, bukan pula aku yang harus menanggung hidup kalian semua. Jika memang hanya ibu dan Ipul aku bisa terima tapi jika semuanya apa ini adil untukku".
"Kalian semua hanya tinggal menikmati saja tanpa tau bagaimana bingungnya aku mencari untuk mencukupi hidup kalian".
"Bu taukah aku harus berhemat dengan sangat hemat-hematnya agar aku bisa mengirim uang ke ibu setiap bulannya, berharap besar ibu tidak akan kekurangan. Tapi Bu kenapa harus di nikmati dengan semua orang seperti ini?".
Ucap Tari dalam hati yang ingin protes pada ibunya tapi tak sampai untuk di ucapkan.
"Besok biar ibu saja kalau begitu yang masak, kamu cukup ke pasar saja beli bahan-bahannya".
Ibu kembali melewati kamarku dan mengatakan hal itu padaku.
"Astaga biaya rumah sakit Mbah aku yang harus membayar, sampai biaya untuk makan semua orang yang ada di sini juga harus aku yang tanggung pula'.
Tari menghembuskan nafas dengan begitu kasarnya, mendadak tekanan darahnya naik mungkin sampai 180, kepalanya begitu berat terasa.
Sebaiknya aku harus lekas pergi dari rumah ini, aku harus lekas mencari pekerjaan baru kalau seperti ini terus bagaimana mereka akan hidup. Sedang aku sendiri masih belum mendapat pekerjaan.
***
Keesokan harinya
Pagi-pagi sekali ibu membangunkan ku yang masih tertidur dengan begitu pulasnya.
"Tar bangun nak sudah pagi'.
Dengan pelan ibu menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Tar bangun nak, tolong belanja dulu ke pasar, kebetulan Mbak Ti yang jualan bahan makanan di depan sedang tidak berjualan".
Ibu menyerahkan daftar belanjaan yang harus ku beli pagi itu, dengan mata yang masih ngantuk aku meraih kertas kecil itu dan membukanya. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa
Apa?
Mataku yang sayu ngantuk terbelalak dengan sempurna kala itu juga.
*berbuat baik pada semua itu kewajiban harusnya tanpa menuntut untuk membalas budi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Cut Nurasida
bagus ceritanya
2023-01-24
1
Cut Nurasida
capek deh..tabungan terkuras demi org2 mls
2023-01-24
1