Hari kedua di rumah ibu.
“Tar Tari Tar”.
“Tar kamu sudah bangun nak?”.
“Tar sini nak cepet”.
“Pul bangun Pul bantu ibu dulu”.
"Pul sini nak".
Teriak ibu dengan begitu paniknya.
Pagi itu setelah sholat subuh, ibu teriak-teriak dengan begitu kerasnya, aku lekas menuju sumber suara yang berada di kamar mbah.
“Ada apa bu?”.
Tanyaku pada ibu yang lekas berlari menuju kamar mbah yang kebetulan berada di kamar paling belakang.
Selang beberapa saat kemudian Ipul datang menghampiri dengan wajah yang tak kalah paniknya.
Keringat ibu terlihat bercucuran di keningnya, wajahnya sedikit pucat dengan tangan yang bergetar hebat.
“Ya Allah ini mbah kenapa buk?”.
Aku melihat mbah yang sudah berada di lantai sepertinya terjatuh dari atas kasur dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Ibu tidak tahu, sepertinya asma mbah kambuh dan terjatuh, bantu ibu Tar angkat ibu tidak kuat”.
Aku bersama dengan ibu dan Ipul bersama-sama mengangkat mbah dan memindahkannya di atas kasur. Pelan-pelan kami bertiga membaringkan mbah di atas kasur dan memberikan minuman hangat berharap sedikit reda asmanya mbah.
Aku menuju dapur mengambil air hangat.
Setelah minum air hangat bukannya semakin berkurang sesak nafasnya, mbak semkin tersedak dan tidak dapat mengatakan apapun matanya melirik ke atas seperti menahan rasa sakit yang begitu hebatnya. Tubuhnya juga menggigil kedinginan. Ibu lekas menyelimuti tubuh mbah.
Dulu mbah adalah perokok berat dengan gaya hidup yang lua biasa bebasnya, mbah tidak pernah memperhatikan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh yang penting adalah makan enak tanpa peduli itu sehat atau tidak, mungkin sekarang adalah imbas dari kehidupannya dulu.
“Bu aku ke rumah pakde dulu ya minta bantuan”.
Dengan begitu tergopoh-gopoh aku berlari keluar rumah menuju rumah pakde yang kebetulan ada di sebelah rumah.
“Assalamualaikum pakde...pakde bangun pakde”.
“Bude...bude... bangun bude mbah jatuh”.
“Mas Udin bangun mas, mbah jatuh”.
Teriakku dengan paniknya menggedor-gedor pintu rumah mereka, tapi sayangnya tak ada satupun dari anggota keluarga tersebut yang memberikan jawaban.
Lelah memanggil mereka yang tak kunjung membukakan pintu, aku kembali ke rumah masih dengan wajah yang panik.
“Bu sepertinya kita harus bawa mbah ke rumah sakit sekarang”.
“Ya Allah nak rumah sakit lagi sekarang, uangnya bagaimana?”
Ibu tampak kebingungan memikirkan hal itu.
Kalian tanya aku bagaimana? Aku lebih bingung lagi karena statusku yang pengangguran sekarang, tapi bagaimana keadaaan mbah sangat mengkhawatirkan tak mungkin kita sebagai keluarga membiarkan begitu saja ada keluarga kita kesakitan seperti itu.
“Bu apakah ibu ada sedikit tabungan dari uang yang aku kirim selama ini?”.
Ibu hanya menggelengkan kepala saja.
“Astaga jadi selama ini setiap bulannya aku mengirim uang lima juta setiap bulannya, kemana larinya”. Batinku dalam hati yang tak mampu aku ucapkan karena tak tega.
“Apa kamu tidak ada tabungan lagi Tar?”.
Ibu kembali bertanya prihal kondisi keuanganku.
“Ada bu tapi tidak banyak, kita bawa saja mbah ke rumah sakit dulu, nanti urusan biaya kita rundingkan sama-sama dengan keluarga yang lain”.
Ibu menurut saja keputusanku, walau bagaimana juga ibu tidak tega melihat bapaknya kesakitan seperti itu.
“Bu biasanya kalau ke rumah sakit bagaimana?, siapa yang mengantarkan”.
“Kamu lekas ke rumah pak Toni saja Tar, minta tolong beliau untuk mengantarkan mbah ke rumah sakit”.
Dengan sigap aku kembali berlari menuju rumah pak Toni yang berada di ujung gang satu-satunya orang yang memiliki mobil di lorong gang rumahku.
“Assalamualaikum pak Toni”.
Aku mengetuk pintu rumah berukuran paling besar dengan cat warna putih dan halaman yang luas. Rumah paling bagus di desaku dengan begitu paniknya.
“Waalaikumsalam ada apa nak?”.
Jawab pria paruh baya yang saat itu tampak sedang mengaji di ruang tamu.
“Pak minta tolong antarkan mbah ke rumah saki, asma mbah kembali kambuh”.
“Ayo nak”.
Tanpa banyak tanya pak Toni lekas bergegas mengambil mobil bersiap untuk ke rumahku, sedangkan aku berlari ke rumah lekas memberi tahu ibu.
Dengan sigap pak Toni mengantarkan kami ke rumah sakit terdekat dari rumah kami, sesampainya di rumah sakit aku lekas mengurus segala administrasi untuk mbah.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan mbah di haruskan untuk opname kembali, ada flek di paru-paru mbah dan penyumbatan yang mengakibatkan asmanya kambuh kembali. Untuk dugaan sementara penyumbatan yang menimbulkan asma kambuh adalah hawa dingin yang saat ini terjadi.
Karena di haruskan untuk opname ibu yang akan menjaga mbah untuk sementara waktu, aku memutuskan untuk pulang sebentar mempersiapkan segala keperluan mbah dan ibu selama di rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah aku menuju kamar ibu untuk mengambil beberapa potong baju dan satu buah selimut untuk di bawa ke rumah sakit, aku juga mempersiapkan segala kebutuhan mbah dan memasukan ke dalam tas besar.
Setelah semua persiapan baju dan beberapa barang yang lainnya lengkap aku meminta tolong pada Ipul untuk membawanya ke rumah sakit dan memberikannya pada ibu, tak lupa aku juga membelikan dua bungkus nasi untuk ibu karena ibu sendiri belum sempat sarapan tadi.
Sementara Ipul sedang mengantarkan barang keperluan ibu dan mbah ke rumah sakit, aku ke rumah pakde untuk memberi tahu jika sehabis subuh tadi mbah di bawa ke rumah sakit.
“Assalamualaikum pakde Dar bude Murni”.
Aku mengetuk pintu mereka namun sayangnya tak ada jawaban sama sekali.
“Tok Tok”.
Aku kembali mengetuk pintu tersebut sayangnya masih sama tak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah. Aku kembali mencoba sekali lagi untuk mengetuk pintu rumah tersebut.
“Tok...tok...”.
“Pakde Dar bude Murni mas Udin”.
Teriakku lebih memperkeras suara berharap mereka lekas membuka pintu untukku.
“Aduh ada apa sih Tar pagi-pagi sudah heboh mengetuk pintu rumah orang dengan begitu kerasnya”.
Bude Murni baru bangun tidur dengan memakai daster selutut dan rambut kriting yang terurai begitu lebatnya hingga mengembang keman-mana.
Langkah bude Murni di susul dengan pakde Dar yang hanya memakai kaos singlet dan celana kolor pendek lengkap dengan sarung yang di kalungkan di lehernya.
“Masih pagi Tar, ada apa? Apa kamu sudah selesai memasak hingga membangunkan bude untuk sarapan bersama?”.
“Rajin juga ya kamu”.
“Bude tadi setelah subuh mbah jatuh dan asmanya kambuh, sekarang ada di rumah sakit”.
“Oalah bude kira kamu sudah selesai masak dengan menu yang enak seperti kemarin”.
Astaga bagaimana bisa bude Murni dan pakde Dar begitu tenangnya mendengar kabar seperti ini. Sedang aku dan ibu begitu paniknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments