Catatan Pra Nikah (part Ana)

Awal tahun 2017

Seperti halnya gadis-gadis seusianya, Ana, yang waktu itu berusia sembilan belas tahun, memiliki seorang kekasih, Ali. Ali adalah teman sekelasnya semasa kuliah. Dia seorang pria yang baik dan lembut, meski terkadang terkesan tertutup dan tak ingin membicarakan sesuatu yang tengah mengganggunya kepada Ana. Namun, dia tak pernah berbohong kepada Ana tentang apapun. Bersama Ali, Ana merasa menemukan tempat berbagi semua hal.

Layaknya kebanyakan pasangan kekasih memadu asmara, Ana dan Ali tak pernah absen dari peluk dan cumbu yang nampak sudah sangat biasa dilakukan setiap kali mereka bertemu. Meski hanya sebatas itu, tapi terkadang hasrat alamiah manusia mereka terpancing untuk melakukan lebih yang pada akhirnya tetap bisa mereka tahan tanpa melukai perasaan masing-masing.

Waktu terus bergulir, bulan ke bulan, tahun ke tahun, dan tanpa terasa sudah hampir tujuh tahun mereka menjalin hubungan asmara. Ali sudah cukup mapan membuka usaha konter hp di ruko miliknya sendiri yang terletak di depan rumah yang masih dalam proses cicilan. Sedang Ana, cukup puas dengan hanya menjadi guru privat panggilan. Mereka masih dapat meluangkan waktu untuk saling bertemu di tengah kesibukan masing-masing yang cukup menyita waktu mereka.

"Ali, mau sampai kapan kita pacaran?" tanya Ana suatu hari ketika mereka tengah kencan di suatu pusat perbelanjaan.

"Enaknya sampai kapan?" Ali balas bertanya dengan nada candaan.

"Iiiihhh. Seriuuuusss." ucap Ana sambil menepuk bahu Ali, gemas.

"Ahahahahaha. Terserah kamu aja." jawab Ali sambilalu. Melihat Ana yang terlihat kesal dengan jawabannya, Ali kembali bertanya kepada Ana, "Kamu yakin mau nikah sekarang?"

"Enggak sekarang jugaaa tapiii." jawab Ana sedikit gugup.

"Hahahaha. Ya mana mungkin sekarang. Maksudnya, kamu udah siap nikah? Yakin mau nikah sama aku?"

"Yakin lah. Kamu gak yakin sama aku?" tanya Ana penuh selidik dan curiga.

"Bukan aku gak yakin sama kamu, Na. Aku cuma mau ngasih pengertian ke kamu, kalau nikah itu gak sekedar ngucapin ijab qobul trus sah, udah, engga. Tapi lebih dalem lagi. Status kamu yang kemudian udah jadi isteri aku otomatis akan merubah sedikit banyak apa-apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakuin. Nah, aku cuma mau mastiin aja kalau kamu sudah siap akan semua itu." ucap Ali, mencoba memberi pengertian kepada Ana.

Ana hanya terdiam, mencerna setiap kata yang Ali ucapkan. Memang benar. Setelah menikah, bahkan bekerja pun dia harus minta ijin dari suami boleh atau tidak. Pergaulan dengan cowok pun tak bisa sembarangan. Ana akui semua kata-kata Ali benar. Dia belum memikirkan sampai sejauh itu. Yang dia pikirkan hanya teman-temannya yang satu per satu sudah menikah dan dia yang sudah pacaran sekian lama masih belum ada pembicaraan ke arah pernikahan.

"Bagaimana? Jadi nikah sekarang? " tanya Ali, membuyarkan pikiran Ana.

"Kalau kamu sudah mantap, siap. Aku bilang sama bapak ibu aku buat nglamar kamu. Kalau masih mikir-mikir ya aku tunggu sampai kamu siap." tambah Ali melihat Ana yang masih terdiam dalam pikirannya.

"Aku cuma nunggu kamu siap aja. Kan kamu masih suka main-main, hang out bareng temen-temen kamu. Kalau udah nikah kamu gak bisa seenaknya kayak gitu lho. Makanya aku nunggu kamu yang siap. Aku kapan aja oke." ucap Ali, memberikan pilihan kepada Ana.

Pada akhirnya Ana hanya terdiam, larut dalam pikirannya. Menimbang-nimbang apakah dia sudah siap mengarungi biduk rumah tangga? Rasa ragu perlahan merasuki hatinya. Rasanya pernikahan menjadi sesuatu yang berat. Sanggupkah dia menjadi seorang isteri? Melayani suami, mengurus pekerjaan rumah, memasak, mencuci, dan lain-lain yang akan menjadi acaranya sehari-hari setelah menikah. Sanggupkah? Pertanyaan-pertanyaan itu terus membayangi Ana. Membuatnya tetap terdiam.

"Gak perlu buru-buru, An. Pikirkan dengan tenang. Pernikahan bukan main-main yang bisa kamu akhiri begitu saja ketika kamu bosan atau capek. Gak perlu lihat ke orang-orang yang udah menikah. Tiap orang punya kesiapan mental masing-masing. Buru-buru juga gak bagus kalau kamu belum siap secara mental." ucap Ali kemudian, mencoba menenangkan Ana yang terlihat kalut.

"Aku bakalan nunggu kamu kok. Tenang aja." ucap Ali sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum. Ana membalas senyum Ali, meski sedikit terpaksa, karena pikirannya masih melayang-layang memikirkan arti dibalik kata pernikahan.

"Es krim yuk. Mau?" ajak Ali yang seperti tahu kegundahan hati Ana. Senyum lebar terkembang di wajah Ana. Senyum yang tak dibuat-buat. Bahagia. Ali selalu tahu bagaimana membuat Ana senang.

***

Duduk termangu di bangku halaman belakang rumahnya, Ana masih memikirkan setiap ucapan Ali tentang pernikahan. Selama ini Ana kira Ali tidak pernah memikirkan masalah pernikahan. Ternyata Ali malah lebih dewasa memikirkan tentang pernikahan yang memang bukan hal sepele dan gampang. Sentuhan tangan di bahu, menyadarkan Ana dari lamunannya.

"Eh, mama."

"Lagi mikirin apa sih? Serius banget kayaknya." tanya mama Ana sambil duduk di samping anak gadisnya yang terlihat murung itu.

"Enggak kok, ma." elak Ana.

"Bener?" tanya mama memastikan. Ragu terlihat di wajah Ana. Namun, sedetik kemudian dia memutuskan untuk bertanya kepada mamanya.

"Mama dulu menikah sama papa umur dua sembilan kan ya? Mama gak pengen buru-buru nikah dulu kok sampe dua sembilan baru nikah?"

Meski bingung ada apa dengan putrinya, mama Ana menjawab dengan senyum terkembang di wajahnya.

"Mana ada wanita yang gak pengen buru-buru nikah. Mungkin memang ada. Tapi jaman dulu beda ceritanya. Umur dua puluh belum nikah aja udah dibilang perawan tua, apalagi umur dua sembilan."

"Trus kenapa sampe dua sembilan baru nikah, ma?" tanya Ana tak sabar.

"Papa kamu tuh. Papa nyuruh mama nunggu dulu. Papa kan masih nyelesaiin kuliah. Kuliah jaman dulu gak kayak kuliah jaman sekarang. Apalagi dulu papa kuliah sambil kerja, jadi ya gitu agak lama. Sebenernya mama juga udah buru-buru papa kamu buat nikah, tapi papa kamu bilang papa mau nyari kehidupan yang layak buat menghidupi keluarganya nanti, apalagi kalau udah punya anak. Papa kamu juga ngasih pilihan ke mama misal mama gak mau nunggu boleh nikah sama pria yang dateng nglamar mama. Tapi, ya mama cintanya sama papa ya udah mau gak mau mama nunggu kan. Toh papa berjuang buat masa depan papa dan mama dan anak-anak kita nantinya. Jadi, orang mau bilang mama perawan tua ya masa bodoh lah. Yang penting masa depan terjamin, gitu. Memang kenapa Ana tanya seperti itu? Ana sudah pengen nikah?" tanya mama sedikit menggoda. Ana tersipu, tapi mengelak.

"Enggak, ma. Ana kayaknya belum siap deh." ucap Ana ragu.

"Belum siap? Kenapa?" tanya mama heran.

"Ya...belum siap aja, ma." jawab Ana, bingung. Mama diam, mengusap punggung Ana perlahan, menunggu jawaban lebih dari putrinya.

"Waktu Ana tanya sama Ali mau sampai kapan pacaran, Ali malah balik tanya ke Ana, apa Ana yakin mau nikah sekarang. Apa Ana siap nikah sekarang? Siap jadi isteri? Siap dengan segala konsekuensi setelah menikah? Dan itu malah membuat Ana merasa gak siap." ucap Ana.

"Ana sayang, kehidupan setelah pernikahan memang tidaklah mudah. Pasti ada saja cobaannya. Memang membutuhkan kesiapan secara mental. Ali memang benar, Ana harus siap bertanggung jawab sebagai isteri, siap melayani kebutuhan suami lahir maupun batin, mengurus rumah tangga, belum nanti kalau sudah punya anak, harus bisa mengasuh dan mendidik dengan baik. Semua memang terlihat berat kalau dilihat, tapi begitu dijalani apalagi dengan niatan ibadah, semua jadi ringan, lelah menjadi tak terasa. Kita wanita diciptakan kuat secara fisik dan mental, percayalah. Buktinya yang hamil dan melahirkan itu wanita, padahal itu bukan hal yang mudah. Belum yang lain-lain lagi. Siap gak siap, Ana memang harus siap. Karena itu fase yang harus Ana jalani, apalagi Ana dan Ali sudah matang secara umur dan finansial. Tunggu siap sampai kapan?"

Kata-kata mama benar-benar menenangkan Ana. Wanita diciptakan kuat secara fisik dan mental. Memang benar. Ana melihat itu dari mama. Mama selama ini bisa membagi waktunya antara bekerja dan mengurus pekerjaan rumah tangga, melayani kebutuhan papa dan dua anaknya. Bangun dini hari, tidur larut malam, tapi tak ada gurat kelelahan di wajahnya. Siap tidak siap memang harus siap. Ini adalah fase yang memang harus dijalaninya. Ana menjadi lebih mantap setelah mengutarakan apa yang ada di pikirannya kepada mamanya.

"Makasih ma." ucap Ana sambil memeluk mamanya.

"Sama-sama, sayang. Nanti kalau Ali udah ada rencana mau dateng kesini sama papa mamanya bilang ke mama ya." balas mama menggoda. Ana hanya mengangguk dalam pelukan mamanya. Aku siap Al.

Episodes
1 Prolog
2 Catatan Pra Nikah (part Ana)
3 Catatan Pra Nikah (part Arina)
4 Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5 Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6 Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7 Malam Pertama? (part 1)
8 Malam Pertama? (part 2)
9 Pacaran vs Khitbah (part 1)
10 Pacaran vs Khitbah (part 2)
11 Pasif atau Agresif?
12 Best Friend Forever
13 Cerai Muda
14 Album Biru
15 For the First Time
16 Dinner (part 1)
17 Dinner (part 2)
18 Rumpik
19 Putih Abu-Abu (part 1)
20 Putih Abu-Abu (part 2)
21 Undangan (part 1)
22 Undangan (part 2)
23 Misaki
24 Cinta Merekah
25 Hari Bahagia Alessa
26 Mantan
27 Putih Abu-Abu (part 3)
28 Rumpik (lagi)
29 Skripsweet~
30 Ibadah Paling Enak
31 Rindu Berat
32 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34 Doa dalam Hujan
35 Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36 Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37 Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38 Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39 Sahabat Sehidup Sesurga
40 Ijazah lalu Ijab Sah?
41 Akhirnya Halal
42 Sahabat Jadi Suami
43 Leave or Stay?
44 Awal Mimpi Buruk
45 INAD?
46 Dua Garis Lagi?
47 Pejuang Garis Dua
48 Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49 Ternyata...
50 Salah Jodoh?
51 Memulai Lagi
52 Tanda-tanda
53 Lagi-lagi Rumpik
54 Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55 Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56 Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57 Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58 Epilog
59 Terimakasih ^^
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Prolog
2
Catatan Pra Nikah (part Ana)
3
Catatan Pra Nikah (part Arina)
4
Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5
Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6
Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7
Malam Pertama? (part 1)
8
Malam Pertama? (part 2)
9
Pacaran vs Khitbah (part 1)
10
Pacaran vs Khitbah (part 2)
11
Pasif atau Agresif?
12
Best Friend Forever
13
Cerai Muda
14
Album Biru
15
For the First Time
16
Dinner (part 1)
17
Dinner (part 2)
18
Rumpik
19
Putih Abu-Abu (part 1)
20
Putih Abu-Abu (part 2)
21
Undangan (part 1)
22
Undangan (part 2)
23
Misaki
24
Cinta Merekah
25
Hari Bahagia Alessa
26
Mantan
27
Putih Abu-Abu (part 3)
28
Rumpik (lagi)
29
Skripsweet~
30
Ibadah Paling Enak
31
Rindu Berat
32
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34
Doa dalam Hujan
35
Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36
Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37
Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38
Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39
Sahabat Sehidup Sesurga
40
Ijazah lalu Ijab Sah?
41
Akhirnya Halal
42
Sahabat Jadi Suami
43
Leave or Stay?
44
Awal Mimpi Buruk
45
INAD?
46
Dua Garis Lagi?
47
Pejuang Garis Dua
48
Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49
Ternyata...
50
Salah Jodoh?
51
Memulai Lagi
52
Tanda-tanda
53
Lagi-lagi Rumpik
54
Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55
Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56
Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57
Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58
Epilog
59
Terimakasih ^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!