Dinner (part 2)

Leon pov

Gue lihat Arina terpaku mendengar suara seseorang memanggilnya. Karena penasaran, gue nengok ke belakang ke arah sumber suara itu. Seorang cowok yang menurut gue lumayan ganteng juga, tapi masih gantengan gue lah. Bukan ke-pede-an sih, tapi kenyataan! Cowok itu terlihat berjalan menghampiri meja kami, menghampiri Arina tepatnya. Gue lihat Arina masih bengong. Jangan-jangan itu mantannya Arina yang putus gara-gara dia harus nikah sama gue?

"Hai, Rin! Apa kabar?" tanya cowok itu begitu sampai di meja kami.

"Eh, hai. Baik. Kamu?" jawab Arina sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan gue lihat.

"Alhamdulillah. Ini suami kamu?" tanya cowok itu. Karena gue udah dibahas, gue langsung mengulurkan tangan.

"Leon. Suami Arina."

"Andri, Mas. Temennya Arina pas kuliah."

"Oh, temen kuliah. Sendirian aja, Mas?"

"Itu, sama cewek. Lagi pesen makanan."

"Gabung sini aja, Mas." gue menawarkan. Bukan sok akrab sih, tapi kalau dia temen Arina berarti kan gue kudu kenal juga. Andri melirik ke arah Arina yang terlihat tertunduk sambil menghabiskan nasgornya. Seperti meminta persetujuannya untuk bergabung di meja kami.

"Nggak usah, Mas. Saya duduk sana aja. Tuh, udah ditungguin." jawab Andri sambil menunjuk meja yang ada cewek duduk disana. Cewek itu melambai ke arah Andri.

"Saya ke sana dulu ya, Rin, Mas. Mari." pamit Andri. Arina hanya tersenyum sekilas. Gue yang penasaran dengan hubungan Andri dan Arina mencoba bertanya langsung kepada Arina.

"Temen kuliah kamu, Rin?" Arina hanya mengangguk sambil menyedot es tehnya.

"Kok kamu diem aja?"

"Pulang yuk, Mas. Udah selesai kan makannya?"

Oke. Dia nggak mau bahas ini. Case closed. Akhirnya kami memutuskan pulang. Karena berjalan melewati meja Andri, gue menyapanya.

"Kami balik duluan ya, Mas."

"Oh, ya, Mas. Ati-ati." jawab Andri sambil tersenyum lebar. Gue lirik cewek yang duduk di hadapannya juga ikut tersenyum sambil menundukkan kepala. Arina terus berjalan tanpa menyapa Andri sedikit pun. Jangan-jangan bener nih mantannya.

Kami sudah berlalu dari warung nasgor tempat kami dinner. Arina masih terdiam. Matanya fokus menatap ke depan, kosong. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Kalau Andri beneran mantannya, kenapa tadi cowok itu terlihat santai dan biasa saat menyapa Arina dan gue? Tapi, kalau bukan, kenapa Arina jadi aneh sejak ketemu Andri?

"Rin?"

Arina masih terdiam.

"Arina?" kali ini gue panggil dia sambil menepuk pundaknya.

"Eh, kenapa, Mas?" tanya Arina sedikit terkejut.

"Harusnya aku yang tanya kenapa?"

"Eh?"

"Kamu itu kenapa? Jadi aneh sejak ketemu Andri."

"Masa' sih? Enggak ah. Perasaan kamu aja, Mas."

"Andri itu mantan kamu ya?" to the point banget kan gue? Arina diam sesaat, kemudian mengangguk.

"Kamu... Masih cinta sama dia?"

Diam...

"Jujur aja. Aku nggak bakal marah."

Masih diam.

"Kalau kam..."

"Aku sendiri nggak tahu, Mas." Arina memotong kalimat gue. Kemudian terdiam lagi. Gue pun ikut diam. Menunggu.

"Sejak dia nggak bales chat sama telepon ku, aku seakan udah mati rasa soal Andri. Kangen kah? Benci kah? Aku nggak tahu. Bahkan sampai detik dia nyamperin kita tadi pun, aku nggak tahu tentang perasaan ku saat ini ke Andri." ucap Arina dengan mata berkaca-kaca.

"Maaf..."

"Bukan salah kamu, Mas. Jadi ku mohon berhenti minta maaf."

"Iya, maaf. Eh. Maaf. Duuh." Arina malah tersenyum.

"Sekali lagi dapet hadiah piring cantik, Mas."

"Bukan cewek cantik?"

"Kan udah dapet."

"Mana?"

"Segini gedhenya nggak kelihatan?"

"Oh iya, lupa."

Dan kami pun terkekeh bersama. Gue kagum sama Arina yang bisa dengan mudah tersenyum lagi setelah kelihatan begitu sedih. Mungkin dia sama kayak gue yang nggak bisa berada dalam situasi yang membuat satu sama lain nggak nyaman. Seperti tadi misalnya. Makanya gue berusaha nyari obrolan yang ringan, yang biasa, seperti yang Andrew bilang.

"Kok berhenti, Mas?" tanya Arina ketika aku menghentikan mobil ku.

"Mau dinner part two."

"Hah?"

"Ituuu. Bentar ya. Aku turun bentar." jawab gue sambil menunjuk penjual martabak di depan.

"Eh, mau martabak telor atau manis?" gue sadar belum menanyakan apa yang Arina mau sebelum turun dari mobil.

"Yang kayak aku aja, Mas." jawab Arina sambil nyengir.

"Oke, maniiiis."

Setidaknya gue tahu sedikit masa lalu Arina dan perasaannya saat ini. Gue sendiri? Entahlah. Saat ini gue cuma merasa pengen jagain dia dan bikin dia senyum terus. Is that love?

***

Andri pov

Sabtu ini menjadi Sabtu paling mengejutkan buat gue. Bagaimana tidak? Sepupu gue yang kuliah di London dateng. Dia Indah, anak dari adiknya mama. Kami sudah sangat akrab sejak kecil, karena tante sering banget main ke rumah dan Indah ini anaknya tomboy abis. Suka lupa kalau dia cewek. Tapi pas jemput dia di bandara tadi sore, gue cukup terkejut dengan penampilannya yang...cewek banget! Apa sebuah negara bisa merubah seseorang?

"Woy! Bengong aja lo!" ujar Indah tepat di depan muka gue, ketika gue jemput dia di bandara.

"Elu Indah? Indah Ayu Kinasih?"

"Iya Andriawan Bayu Pratamaaaa. Gue cantik banget ya sampe elo bengong?"

"Elu bisa cantik gini? Gue kirain elu masih yang pake celana jeans belel yang lututnya robek, trus pake t-shirt kedodoran plus sepatu kets butut yang udah puluhan tahun nggak dicuci."

"Dulu itu broo.."

"Cowok ini. Pasti lu punya cowok kan disana jadi elu berubah gini?"

"Ish. Enggak! Cowok bule nggak masuk tipe gue."

"Lhah terus?"

"Ngobrolnya nanti aja bisa nggak? Gue laper. Kangen nasgor asli In-do-ne-siah. Hihi." ucap Indah sambil nyengir.

"Hmmm. Masih aja tukang makan. Ya udah ayok, gue tahu tempat nasgor enak."

"Serius? Elo yang traktir yaaa. Hehe."

"Iye iye."

Dan kami pun berlalu menuju warung nasgor yang tempo hari gue dan Hari, sahabat gue, mampir ke situ. Kebetulan warungnya searah sama jalan pulang.

"Jadi, kenapa elu bisa jadi cewek?"

"Gila! Gue udah cewek dari rahim woy!"

"Iya, tapi pas gedhe jadi lakian dikit."

"Kebanyakan gaul sama elo jadi gitu."

"Kok nyalahin gue?"

"Iyalah. Coba masa kecil gue main sama anak cewek, gue pasti udah kayak gini dari dulu."

"Enak aja. Trus gimana ceritanya elu bisa berubah? Malah jadi nyalahin gue."

"Ya emang gitu kenyataannya. Jadi, pas gue baru aja sampe di asrama, temen sekamar gue ngliat gue dari ujung kaki sampe ujung kepala. Dia geleng-geleng. Trus bilang kalau gue dandan kayak gitu ke kampus gue bakal jadi bahan bully an. Gue bilang gue nggak masalah yang penting gue jadi diri gue sendiri. Trua dia bilang dia bakal bantu gue make over tanpa ngilangin jati diri gue. Ya gue cobalah, kapan lagi bisa make over gratis kaaan. Dan hasilnya, gue didandanin pake bedak tipis, rambut gue dikuncir ke belakang agak ke atas, trus celana jeans gue disuruh ganti pake rok dia yang pas gue pake jadi selutut. Udah gitu aja. Kaos gue yang kedodoran dibiarin gitu aja sama sepatu kets butut gue. Dan gue nyaman sama dandanan itu. Ya udah gue ke kampus dengan gaya itu tiap hari."

"Tapi sekarang elu nggak pake kets butut sama kaos kedodoran. Malah pake dress sama flatshoes yang cewek banget gitu."

"Hehe. Lama-lama gue diracunin tuh sama temen sekamar gue masalah fashion. Disuruh coba ini itu dan yah, jadilah gue yang sekarang. Tapi beneran, temen sekamar gue itu pinter banget. Dia merubah penampilan gue nggak langsung, tapi bertahap, biar gue perlahan-lahan nyaman sama perubahan gue sendiri. Dan lo tahu dia bilang apa pas gue udah cantik gini?"

"Apa?"

"Dia bilang gini, 'gue tahu lo aslinya cantik, jadi gue pengen ngeliat kecantikan lo yang lo tutupi pake gaya tomboy lo,' gitu."

"Temen lu baik ya."

"He'em gue bersyukur punya temen kayak dia."

"Kapan-kapan ajak kesini lah, kenalin ke gue."

"Duuuh yang gagal move on."

"Buat referensi gitu."

"Emang buku, bang! Udahlah cewek kan banyak. Kenapa sih lo nggak move on move on dari Arina?"

"Kan gue udah janji sama dia gue nggak bakal nikah sebelum mastiin dia bahagia sama pernikahannya."

"Hhh~ Bro, kapan terakhir Arina nyoba hubungin elo?"

"Mmm. Akhir tahun kemarin."

"Trus udah nggak pernah lagi?"

"Iya nggak pernah lagi. Gue cuekin soalnya."

"Ya emang kudu gitu. Kalau lo ikhlasin dia buat nikah sama cowok lain ya lo kudu tega nyuekin dia. Nah, sekarang udah April, udah lama berarti. Mungkin dia udah bahagia sama pernikahannya."

"Dia baru nikah bulan lalu, Ndah."

"Heh, sekarang lo pikir. Dalam sebulan, cowok cewek tinggal berdua serumah. Nggak mungkin kan cinta nggak tumbuh diantara mereka? Kalaupun belum jatuh cinta, at least, rasa nyaman, suka, dan perhatian pasti ada dong, secara mereka tinggal serumah."

"Iya sih... Tapi..."

"Elo juga perlu bahagia, Ndri. Gue yakin, Arina bakal bahagia kalau lo juga bahagia."

Indah ada benernya juga. Dan gue tahu ayah Arina nggak mungkin jodohin Arina sama sembarang cowok. Dia pasti udah bahagia. Semoga.

"Ini tempatnya?" tanya Indah ketika gue berhenti di deket warung nasgor pinggir jalan.

"Iya. Nggak suka? Kalau nggak mau kita pindah."

"Nggak usah. Dari aromanya kelihatan enak."

"Ya udah ayo turun."

Gue dan Indah masuk ke warung dan memesan menu yang kami mau. Ketika gue sedang mencari meja yang sekiranya nyaman, mata gue terpaku pada sosok cewek yang nggak asing. Cewek yang selama ini gue rindu. Dia terlihat tersenyum sambil ngobrol dengan cowok di depannya. Mungkinkah itu suaminya? Tanpa menunggu lama, gue sapa dia.

"Arina?" Arina terlihat terkejut melihat gue. Kenapa?

"Hai, Rin! Apa kabar?" sapa gue ketika gue udah di dekat meja Arina.

"Eh, hai. Baik. Kamu?" jawab Arina sambil tersenyum tipis.

"Alhamdulillah. Ini suami kamu?"

"Leon. Suami Arina." cowok yang dari tadi mengamati kami, kini mengulurkan tangannya. Dia kelihatannya pria baik dan ramah.

"Andri, Mas. Temennya Arina pas kuliah."

"Oh, temen kuliah. Sendirian aja, Mas?"

"Itu, sama cewek. Lagi pesen makanan."

"Gabung sini aja, Mas." suami Arina menawarkan, tapi gue lihat Arina sepertinya nggak nyaman dengan keberadaan gue.

"Nggak usah, Mas. Saya duduk sana aja. Tuh, udah ditungguin." gue tolak dengan halus tawaran suami Arina.

"Saya ke sana dulu ya, Rin, Mas. Mari."

"Arina sama suaminya?" tanya Indah ketika gue sudah duduk di depannya. Indah tahu soal Arina karena gue sering cerita dan kirim foto kami ke dia.

"Iya."

"Ganteng nggak suaminya?"

"Baik."

"Ditanya apa jawabnya apa."

"Kami balik duluan ya, Mas." pamit suami Arina ketika melewati meja kami yang sedikit membuat gue terkejut. Arina hanya diam saja.

"Oh, ya, Mas. Ati-ati." jawab gue sambil lihat Arina yang berlalu tanpa sedikitpun menoleh ke arah gue.

"Arina tahu gue nggak sih?" tanya Indah.

"Tahu. Tapi foto lu pas masih jadi laki."

"Eh, mulut tolong dikondisikan ya."

"Hehehe. Maaf maaf. Dia pernah liat foto lu jaman SMA. Paling tadi lu dikira cewek gue. Soalnya gue tadi bilang kesini sama cewek pas ditanya sama suaminya."

"Trus reaksi Arina gimana?"

"Entahlah. Gue nggak bisa baca ekspresi wajahnya tadi. Antara kaget dan...entah apa."

"Masih cinta kali sama lo."

"Tapi sebelum gue samperin, dia kelihatan ngobrol asik sama suaminya. Pas gue samperin, dia langsung diem. Malah suaminya nawarin gue buat duduk semeja sama mereka. Gue tolak laah, nggak enak. Lagian, Arina kayak nggak nyaman gitu."

"Hmmm. Elo ngerusak malam minggu mereka aja."

"Abis gue liat Arina senyum-senyum ya jadi gue pikir dia udah lupain gue sebagai pacarnya. Ternyata..."

"Ya udah sih, bro. Elo kan liat sendiri Arina senyum-senyum pas ngobrol sama suaminya? Berarti dia udah nyaman sama suaminya bro. Lepasin. Arina udah bahagia."

"Mungkin. Emang udah saatnya gue lepasin dia."

"Gue yakin lo bakal dapet cewek yang baik bahkan lebih baik dari Arina."

Gue cuma tersenyum tipis membalas ucapan Indah. Melihat Arina tersenyum bersama suaminya sudah cukup membuat gue yakin kalau dia sudah bisa menerima pernikahannya. Dan gue rasa suaminya juga pria yang baik. Memang sudah waktunya buat gue lepasin Arina. Gue yakin dia akan bahagia dengan suaminya. Selamat tinggal, Rin!

Episodes
1 Prolog
2 Catatan Pra Nikah (part Ana)
3 Catatan Pra Nikah (part Arina)
4 Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5 Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6 Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7 Malam Pertama? (part 1)
8 Malam Pertama? (part 2)
9 Pacaran vs Khitbah (part 1)
10 Pacaran vs Khitbah (part 2)
11 Pasif atau Agresif?
12 Best Friend Forever
13 Cerai Muda
14 Album Biru
15 For the First Time
16 Dinner (part 1)
17 Dinner (part 2)
18 Rumpik
19 Putih Abu-Abu (part 1)
20 Putih Abu-Abu (part 2)
21 Undangan (part 1)
22 Undangan (part 2)
23 Misaki
24 Cinta Merekah
25 Hari Bahagia Alessa
26 Mantan
27 Putih Abu-Abu (part 3)
28 Rumpik (lagi)
29 Skripsweet~
30 Ibadah Paling Enak
31 Rindu Berat
32 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34 Doa dalam Hujan
35 Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36 Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37 Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38 Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39 Sahabat Sehidup Sesurga
40 Ijazah lalu Ijab Sah?
41 Akhirnya Halal
42 Sahabat Jadi Suami
43 Leave or Stay?
44 Awal Mimpi Buruk
45 INAD?
46 Dua Garis Lagi?
47 Pejuang Garis Dua
48 Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49 Ternyata...
50 Salah Jodoh?
51 Memulai Lagi
52 Tanda-tanda
53 Lagi-lagi Rumpik
54 Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55 Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56 Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57 Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58 Epilog
59 Terimakasih ^^
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Prolog
2
Catatan Pra Nikah (part Ana)
3
Catatan Pra Nikah (part Arina)
4
Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5
Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6
Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7
Malam Pertama? (part 1)
8
Malam Pertama? (part 2)
9
Pacaran vs Khitbah (part 1)
10
Pacaran vs Khitbah (part 2)
11
Pasif atau Agresif?
12
Best Friend Forever
13
Cerai Muda
14
Album Biru
15
For the First Time
16
Dinner (part 1)
17
Dinner (part 2)
18
Rumpik
19
Putih Abu-Abu (part 1)
20
Putih Abu-Abu (part 2)
21
Undangan (part 1)
22
Undangan (part 2)
23
Misaki
24
Cinta Merekah
25
Hari Bahagia Alessa
26
Mantan
27
Putih Abu-Abu (part 3)
28
Rumpik (lagi)
29
Skripsweet~
30
Ibadah Paling Enak
31
Rindu Berat
32
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34
Doa dalam Hujan
35
Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36
Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37
Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38
Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39
Sahabat Sehidup Sesurga
40
Ijazah lalu Ijab Sah?
41
Akhirnya Halal
42
Sahabat Jadi Suami
43
Leave or Stay?
44
Awal Mimpi Buruk
45
INAD?
46
Dua Garis Lagi?
47
Pejuang Garis Dua
48
Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49
Ternyata...
50
Salah Jodoh?
51
Memulai Lagi
52
Tanda-tanda
53
Lagi-lagi Rumpik
54
Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55
Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56
Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57
Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58
Epilog
59
Terimakasih ^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!