Airin masih menikmati senja syahdu dengan pikiran yang masih mengembara ke masa lalu. Masih teringat seminggu yang lalu, ketika Airin tengah duduk di lobby fakultas, Roy datang menghampiri dan memutuskan jalinan kasih dengannya tanpa alasan.
"Rin." Roy memanggil Airin dengan nada yang tak biasa, ada sedikit keraguan disana.
"Ya?"
"Gue... kayaknya udah gak bisa lanjutin hubungan ini deh." ucap Roy straight to the point.
Airin tak begitu terkejut. Pasalnya sejak kejadian hujan yang berakhir berteduh di kosan Roy, sikap Roy sudah tidak sehangat sebelumnya. Sampai detik Roy memutuskan hubungan mereka, Roy masih bersikap dingin.
"Oh. Ya udah. Kalau gak bisa lanjut gak usah dipaksa. Malah jadi gak sehat nantinya." Airin menanggapi keputusan Roy dengan santai. Ada gurat kaget di wajah Roy. Pria itu tak menyangka tanggapan Airin akan sedatar itu.
"Udah kan? Kalau gak ada lagi yang diomongin aku balik ke kos ya." ucap Airin yang sudah tak ingin memperpanjang keberadaannya di depan Roy.
"Gue anter." Roy menawarkan.
"Nggak usah. Aku udah janjian sama Lina buat jemput aku di sini." tolak Airin ramah.
"Oh. Ati-ati ya."
Airin hanya tersenyum tipis kemudian beranjak dari duduknya menuju ke depan gerbang fakultas menanti Lina, teman satu kosan Airin. Airin tak ingin bertanya apa alasan Roy memutuskannya. Roy pun tak menjelaskan mengapa. Airin tak ingin memperpanjang sakit hatinya jika dia tahu alasan Roy memutuskannya.
"Duuuh yang patah hati... Melamun aja kerjaannya." sebuah suara yang sudah biasa di telinga Airin terdengar. Siapa lagi kalau bukan Ito, sahabat Airin sejak SMA yang juga tetangga sebelah rumahnya.
"Masuk rumah orang tuh biasanya salam, lah elu malah ngeledek yang punya rumah." tukas Airin.
"Sensi amat buk yang abis putus cinta."
"Biasa aja sih."
"Haha. Elu bilang biasa, tapi hati lu meronta, ya kan, Nyet?"
"Emang elu Tuhan bisa tahu dalem hati manusia? Gue mah biasa aja. Udah sering. Kayak putus cinta baru sekali aja."
"Ooo nyindir nih ceritanya."
"Enggak nyindir sih, cuma kalo lu kesindir ya sorry."
"Makanya, Nyet, jangan tiap cowok yang deketin lu, lu terima cintanya. Harusnya lu audisi gitu, jangan asal terima."
"Pilih pilih malah gak laku-laku ntar, Nyet. Kayak lu."
"Gue kan cowok. Santai. Gak diburu-buru nikah sama nyokap juga. Elu malah gak pilih pilih, jadi keseringan sakit hati kan."
"Jangan salahin gue. Nyokap tuh yang udah bikin gue under pressure. Tiap hari cerita anak temen-temennya udah pada nikah. Gimana gue gak tertekan coba, Nyet."
"Haha. Yang sabar ya, Nyet."
Airin hanya mencebikan bibirnya.
"Eh, ngomong-ngomong lu masih belum move on dari Mayang, Nyet?" tanya Airin tiba-tiba.
"Udah. Kenapa emang?" jawab Ito santai.
"Yaa, kan lu udah lama putus dari Mayang tapi lu belum pernah sekalipun cerita ke gue lagi pdkt atau deket gitu sama cewek. Gue kira lu belum move on. Sakit hati parah gitu gue kira."
"Gue nggak pernah sakit hati sama Mayang. Lagian kita putus juga baik-baik. Keputusan bersama buat putus. Kan gue pernah bilang kalau gue nggak pernah bisa jadi diri sendiri kalau pas lagi sama Mayang, kayak make topeng gitu dan lama-lama gue nggak nyaman sendiri. Ternyata, Mayang juga gitu, Nyet. Dia juga ngerasa nggak bisa jadi diri sendiri kalau pas sama gue. Padahal kita sama-sama nggak saling nuntut yang gimana-gimana. Cuma ya gitulah, nggak tahu juga. Mungkin lingkungan sekitar yang bikin kita sama-sama nggak jadi diri sendiri. " jelas Ito.
"Kalau emang itu masalahnya kenapa nggak kalian coba perbaiki? Maksud gue kan masalah dateng dari diri kalian masing-masing, kenapa kalian nggak nyoba buat saling berubah?"
"Enggak segampang itu, Nyet. Kita udah nyoba tapi tetep aja kayak gitu, nggak asli."
"Hmmm... Kelewat kaya sih ya keluarganya Mayang jadi bikin lu minder sendiri padahal kayaknya si Mayang nggak pernah minta yang aneh-aneh ke elu."
"Ya begitulah. Belum jodoh. Eh, btw kan yang abis putus elu, kok jadi bahas gue sih?"
"Hahaha... Kalau gue sih nggak perlu dibahas kali, Nyet."
"Emang kenapa Roy mutusin lu? Lu belum cerita kayaknya kemarin pas putus."
"Hahahaha... Apanya yang perlu diceritain. Emang gue putus, udah gitu aja."
"Lah. Roy nggak bilang kenapa mutusin elu?"
"Enggak. Dan gue juga nggak mau tahu kenapa. Kalau menurut gue sih karena gue nggak mau diajak masuk ke kosan dia."
"Sok tau lu. Masa' cuma gara-gara nggak mau diajak masuk kos diputusin."
"Kenyataannya gitu lho. Liat aja abis kejadian itu dia jadi berubah ke gue. Pas gue minta maaf dia bilang 'lu nggak usah minta maaf'. Bahasanya udah bukan 'aku-kamu' tapi 'gue-elu', Nyet. Dari situ gue udah feeling sih kalau nggak lama lagi gue bakalan diputusin sama dia."
"Cuma gara-gara nggak mau diajak masuk kos?"
"Ya kan berarti dia pengen ngapa-ngapain kan di dalem kos. Secara pas itu lagi sepi banget kosan dia."
"Pengen *****-*****. Eeee... yang diajakin cewek macem elu. Ya mana mau. Hahahaha... "
"Macem gue gimana maksud lu?"
"Ya gitu. Makhluk langka. Perlu dilestarikan. Hahaha... "
"Sialan lu."
Sejenak Airin dan Ito terdiam, memandang senja yang semakin menghilang, menampilkan gurat hitam di langit. Tak berapa lama Airin membuka obrolan lagi.
"Gue kadang suka heran sama temen-temen gue yang pada akhirnya pacaran sama sahabat sendiri. Kok bisa ya?"
"Lu mau nyoba?" tanya Ito yang mendadak memasang wajah serius.
"Nyoba? Sama elu?" tanya Airin sambil mengernyitkan dahinya. Ito tidak menjawab, hanya tersenyum tipis.
"Apaan sih. Nyoba? Emang baju coba-coba? Lagian nih ya, emang lu cinta gitu sama gue?"
"Gue tanya sama lu. Cinta itu apa sih?"
Sejenak Airin tampak berpikir, kemudian menjawab pertanyaan Ito yang menurutnya aneh.
"Cinta itu yaaa yang bisa bikin kita deg-degan, salah tingkah gitu kalau pas deket, kalau pas jauh bikin senyam senyum nggak jelas, kangen-kangenan gitu."
"Bwahahahahaha.... Monyet, monyet. Definisi cinta lu kayak definisi cinta anak SMP."
Ito sampai tidak bisa berhenti tertawa. Airin hanya memanyunkan bibirnya. Dia sebal dengan ejekan Ito. Melihat Ito masih terkekeh mendengar jawabannya, Airin kemudian angkat suara.
"Trus, kalau menurut lu apa?"
"Nih ya, kalau menurut gue, cinta itu dimana elu selalu pengen ngeliat yang lu sayang itu senyum, tertawa, selalu bahagia. Nggak pengen orang yang lu sayang itu terluka, nangis. Dan yang paling penting bisa ngasih kenyamanan buat orang yang lu sayang."
Airin terdiam. Dia memikirkan setiap kata yang diucapkan Ito. Bener juga sih, pikirnya. Tiba-tiba, kedua tangan Ito menyentuh pundak Airin, memposisikan Airin menghadap dirinya.
"Rin, selama ini lu mungkin ga ngrasa tapi gue care sama lu lebih dari seorang sahabat. Gue sayang lu."
Airin terpaku menatap Ito. Dia tahu Ito serius dengan perkataannya. Semua tergambar jelas di mata Ito. Sesaat keduanya hanya bergeming. Tak bersuara. Airin menunduk, larut dalam pikirannya sendiri. Ito melepaskan tangannya dari bahu Airin. Menatap Airin seolah menanti jawaban.
"Mmm... Sejak kapan, Nyet?" lirih Airin bertanya.
"Entah. Tahu-tahu sudah ada begitu aja." jawab Ito sambil menatap langit yang sudah menggelap.
"Mmm... Maafin gue, Nyet."
"Maaf buat apa, Nyet?"
"Yaaa... Berarti kan selama ini dengan nggak sengaja gue udah bikin lu sakit hati dan cemburu tiap kali gue cerita tentang cowok ataupun jalan sama cowok."
"Enggak, Nyet. Buat gue, selama lu nyaman, lu seneng, gue juga seneng kok. Gue nggak pernah sakit hati ataupun cemburu. Buat gue, selama lu nyaman meski harus dengan merelakan lu jalan sama cowok lain, gue nggak sakit hati. Selama gue udah ngasih yang terbaik buat lu, gue gak perlu cemburu. Intinya buat gue, yang penting lu happy, Nyet. Lu happy, gue juga happy. Udah gitu aja. Simple."
Airin terpaku manatap Ito. Dia tak pernah menyangka selama ini sahabat yang selalu ada di dekatnya ternyata memiliki perasaan seperti itu untuknya. Dia tak menyangka, cinta yang mungkin selama ini dia cari ternyata ada di depan matanya. Dia terlalu fokus mencari cinta yang diinginkannya tanpa menyadari bahwa ada cinta yang dibutuhkannya tepat di depan matanya. Ito yang melihat Airin hanya bergeming menatapnya membisu kemudian melempar senyum tipis kepadanya.
"Udaaah. Nggak perlu serius-serius. Gue tunggu sampai lu deg-degan, salah tingkah tiap kali deket gue. Trus kangen tiap kali jauh dari gue. Santai aja. Nggak perlu sungkan." ucap Ito sambil mengacak rambut Airin.
Melihat Airin masih tetap membisu, Ito memutuskan untuk pulang, memberi ruang untuk Airin berpikir.
"Gue pulang dulu kalau gitu. Biar elu cepet kangen sama gue." pamitnya dengan nada bercanda dan sambil berlalu pergi.
"Dasar monyet!" ucap Airin yang mendapat balasan senyuman tipis dari Ito.
Airin menatap punggung Ito yang menjauh dengan perasaan yang berkecamuk. Tak biasanya. Seperti masih ada yang mengganjal di hatinya. Seperti masih ingin menghabiskan waktu dengan sahabatnya itu. Namun, bibirnya kelu bahkan untuk sekedar memanggil namanya. Ditatapnya Ito yang sudah berjalan keluar gerbang dan sedang menutup pintu gerbang rumahnya. Sesaat sebelum berlalu, Ito melihat ke arah Airin sejenak kemudian melambaikan tangan sambil mengulas senyum tipis. Airin membalas lambaian tangan Ito. Sedetik kemudian Ito berlalu. Tak pernah disangkanya, dia akan merindukan Ito sedetik setelah siluet Ito menghilang dari pandangannya. Gue udah kangen lu, Nyet.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments