Akhir tahun 2015
Langit senja terlihat syahdu dengan warna merah keunguan di horizon barat memberi kesan damai bagi yang menikmatinya. Pun bagi Airin yang tengah patah hati, entah untuk yang ke berapa kali. Tak terhingga. Bukan. Dia bukan seorang play girl. Dia cewek baik yang kebaikan hatinya malah menjerumuskannya kepada cowok-cowok yang tak memiliki hati. Sekejam itu kah dunia Airin? Memang. Tapi, tampaknya dia sudah kebal.
Kekecewaannya kali ini terasa tak begitu mendalam. Apakah karena dia tidak mencintai cowok yang sudah memutuskannya begitu saja? Ataukah karena dia sudah mulai terbisa dicampakkan? Ataukah karena senja syahdu sore itu? Entah. Airin hanya diam, menikmati semesta yang menyejukkan jiwa seakan tak mempedulikan perasaan hatinya.
Diingatnya kembali cowok yang baru saja mencampakkan dirinya itu. Roy terlihat sangat baik awal Airin mengenalnya di sebuah acara expo kampusnya. Roy yang waktu itu melihat-lihat stan yang ditunggu Airin nampak sangat baik dan ramah.
"Yang ini handmade ya mbak?" tanya Roy pada Airin yang sedang sibuk menata-nata display stannya.
"Eh, iya mas. Handmade semua itu." jawab Airin sambil masih sibuk menata display tanpa memperhatikan Roy.
"Buatan mbak sendiri?" tanya Roy lagi yang mulai memperhatikan Airin yang sibuk.
"Iya mas. Buat ngisi waktu luang daripada ngelamun." jawab Airin yang sudah mulai fokus pada calon pembelinya.
"Wuiih. Jarang-jarang cewek jaman sekarang pinter ngerajut gini." puji Roy.
"Tahu darimana mas? Temen-temen saya banyak yang seumuran saya juga pinter ngerajut sama jahit."
"Masa' sih mbak? Temen-temen cewek saya bisanya cuma dandan sama ghibah aja. Haha."
"Hehehe. Keahlian cewek kan beda-beda mas. Saya pinter ngerajut tapi gak pinter dandan mas."
"Kalau mbak gak usah dandan udah cantik mbak. Udah natural cantiknya." ujar Roy dibumbui sedikit gombalan.
"Jadi mas nya mau beli dagangan saya atau mau ngegombal aja nih?" timpal Airin yang sudah mulai kebal dengan segala macam bentuk rayuan maut, meskipun dia tak menampik hatinya tetap saja berdebar kegirangan tiap kali ada cowok yang melempar gombalan kepadanya.
"Hehe... Bukan gombal mbak, tapi faktanya memang gitu. Mbak itu cantiknya alami. Gak dibikin-bikin, jadi asli." Roy masih berusaha dengan rayuannya, dengan gaya seolah-olah tidak sedang merayu.
"Jadi, beli nggak nih mas?" tanya Airin sambil tersenyum dan menata kembali display dagangannya.
"Beli kok mbak. Tapi bingung nih mbak. Yang cocok buat ibu-ibu yang mana mbak? Mau beliin ibu saya di kampung mbak."
Airin sedikit tertegun ketika Roy mengatakan ingin membelikan sesuatu untuk ibunya, berpikir jaman sekarang masih ada cowok yang perhatian dan ingat sama ibunya yang jauh di kampung halaman.
"Mau yang model tas atau dompet mas?" tanya Airin.
"Dua-duanya juga nggak apa-apa mbak."
Airin kemudian mengambilkan sampel tas dan dompet rajut yang simpel dengan warna cream.
"Ini satu set mas tas sama dompet, pas banget buat ibu-ibu. Warnanya juga nggak norak." jelas Airin.
Roy mengamati tas dan dompet yang disodorkan Airin dengan teliti. Setelah berulang kali membuka dan menutup tas dan dompet yang ditawarkan Airin, Roy memutuskan untuk membelinya.
"Berapa mbak?"
"Seratus lima puluh ribu aja mas."
"Itu udah dikasih murah?" tanya Roy dengan nada bercanda.
"Kalau di online shop saya jual dua ratus ribu mas. Alhamdulillah harga segitu juga banyak yang beli sampe pre order pula."
"Wah, hebat lho mbak ini. Saya jadi makin kagum. Udah cantik, punya usaha sendiri dari hasil bikinan tangan sendiri pula. Salut saya."
"Hari gini nggak bisa jagain kerja kantoran mas. Ya kalau lulus kuliah bisa langsung keterima kerja, kalau enggak? Makanya harus gerak cepet mas. Jadi setelah kuliah, tinggal lanjut aja."
"Iya bener juga ya. Eh, ini mbak uangnya."
"Oke, pas ya mas. Makasih udah dilarisi. Semoga ibu mas suka sama tas dan dompetnya."
"Aamiin. Semoga mbaknya juga laris sampe acara expo bubar nanti."
"Aamiin."
"Mari mbak."
"Iya mas, sekali lagi terimakasih."
Begitulah awal perjumpaan Airin dengan Roy yang memang tidak begitu berkesan di benak Airin kala itu. Airin hanya menganggap Roy sebagai salah satu pengunjung stan miliknya yang dengan basa-basi super supel nya melempar berbagai macam gombalan kepada Airin. Dan setelahnya Airin tidak pernah sekalipun memikirkan Roy, hingga pada suatu sore Airin mendapat sebuah pesan singkat di ponselnya. Airin mengernyitkan dahinya ketika membaca pesan singkat itu, dan kemudian senyum simpul terkembang di bibirnya.
Assalamu'alaikum Mbak Airin. Cuma mau bilang ibu saya suka sama tas dan dompet yang mbak pilihkan dulu itu. -Roy-
Alhamdulillah mas kalau ibunya suka. Btw, dapet nomor saya darimana ya? Tahu nama saya juga.
Lah Mbak Airin ini gimana. Nomor mbak kan ada di paperbag yang buat bungkus dagangan mbak. Ada tulisannya Airin's craft and collections. Jadi ya asal panggil Mbak Airin gitu aja, ternyata namanya mbak toh itu. Hehe.
Oh, iya. Sampe lupa mas kalau nyebar nomor sama nama sendiri. Hehe.
Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat. Roy sering mengirim pesan singkat atau sesekali menelepon Airin. Tak jarang pula Roy datang ke kos ataupun rumah Airin. Sampai pada suatu hari Roy menyatakan perasaannya pada Airin yang disambut hangat oleh Airin.
Setahun, dua tahun Airin menjalin kisah dengan Roy tanpa ada halangan yang berarti. Sampai pada suatu ketika, di suatu senja, ketika mereka akan pulang dari makan bersama di suatu resto dekat kampus, gerimis mulai turun. Roy dan Airin bergegas menuju parkiran dan kemudian melajukan motor. Keduanya basah dalam gerimis yang perlahan menderas. Setelah sekitar lima menit berkendara, Roy menghentikan motornya. Airin heran. Jelas saja Airin heran, karena Roy berhenti bukan di kos Airin melainkan di sebuah kos cowok.
"Kok berhenti di sini? Kosan siapa?" tanya Airin pada Roy.
"Kosan aku. Masuk dulu yuk. Nunggu reda." ajak Roy.
Airin masih bergeming. Masuk? pikir Airin ragu. Seumur hidupnya, Airin tidak pernah masuk tempat kos cowok dan Roy mengajaknya masuk tanpa sungkan. Melihat Airin yang masih bergeming di tempatnya membuat Roy menarik tangan Airin dan menggiringnya masuk. Airin yang tersadar dari pikiran panjangnya sekuat tenaga melepaskan genggaman Roy. Roy terkejut.
"Kenapa?" tanya Roy pada Airin sedikit heran.
"Aku gak mau masuk. Aku mau balik kos aku." jawab Airin.
"Ujan, Rin. Aku ga ada jas hujan." ucap Roy sedikit sebal.
"Pinjem ke temen kos kamu aja." Airin memberikan solusi.
"Pada ga ada di kos, Rin." ucap Roy setelah melongok sebentar ke dalam garasi.
"Itu ada satu motor di garasi. Ada satu orang pasti." jawab Airin masih mencoba untuk mengajak Roy mengantarnya pulang ke kosnya. Roy melongok sekali lagi ke dalam garasi dan mendapati satu motor matic warna merah yang dia tahu milik Andi, teman sebelah kamarnya, terpakir di pojok dalam garasi yang gelap. Andi terkenal tukang tidur dan susah dibangunin. Roy masuk ke dalam kos, mencoba membangunkan Andi meski dia tahu usahanya akan sia-sia. Roy mengetuk pintu kamar Andi berkali-kali dan tidak ada jawaban. Roy keluar dan menggeleng.
"Pintunya dikunci. Andi kalau udah tidur susah dibangunin. Udah masuk dulu nunggu hujan reda. Ntar aku anter kalau udah reda." ajak Roy lagi.
"Nunggunya di sini aja ya? Aku gak pernah masuk kosan cowok."
Roy sedikit terkejut. Tak disangka pacarnya benar-benar masih polos. Tidak seperti mantan-mantannya dulu, yang setiap kali diajaknya ke kos langsung masuk tanpa mikir-mikir. Sedang Airin, tetap bergeming di teras ketika Roy mengajaknya masuk.
"Mau berdiri terus sampe entah kapan? Masuk dulu kenapa sih, Rin? Ga ada siapa-siapa juga." ajak Roy yang tak mau terus berada di teras karena memang tidak ada kursi karena teras yang sempit. Tempat kos Roy tidak besar, hanya ada tujuh kamar di dalamnya. Dan di jam-jam segitu memang jarang sekali yang ada di kos.
"Justru karena tidak ada siapa-siapa aku gak mau masuk." tukas Airin.
"Kamu kalau mau masuk, masuk aja sendiri biar aku tunggu disini gak apa-apa." ucap Airin, teguh pada pendiriannya untuk tidak masuk ke kos Roy.
"Ck. Terserah kamu ajalah." sedetik kemudian Roy masuk meninggalkan Airin di teras terpaku bersama hujan yang menderas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments