Senja itu, mobil Chevrolet Spin berwarna silver melaju dengan kecepatan sedang, membawa dua orang di dalamnya pulang dari penatnya bekerja seharian, bahkan di hari Sabtu. Si pengemudi yang sudah sangat heran dengan kelakuan atasannya yang duduk di kursi penumpang beberapa minggu terakhir ini, sudah ingin membuka suara hendak bertanya perihal keanehannya.
Bagaimana tidak aneh? Jika setiap weekend kantor tutup dan dia mendapat jatah libur, mengapa selama tiga minggu terakhir ini ada-ada saja alasan atasannya itu menyuruhnya mengantarnya ke kantor dan mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya masih bisa menunggu hingga Senin tiba. Menurutnya, sejak atasannya itu menikah, dia merasa seolah atasan sekaligus sahabatnya itu menghindari weekend di rumah. Mengapa? Apa dia menghindari isterinya? Berbagai macam pertanyaan bermunculan di kepalanya, yang kemudian tak tahan untuk dia luapkan kepada sahabatnya itu.
"Lu, kenapa sih, bro?" tanya Andrew kepada Leon pada akhirnya.
"Kenapa?" tanya Leon bingung.
"Ditanya malah balik nanya."
"Pertanyaan elu tuh nggak bisa dijawab. Kenapa apanya? Lebih spesifik dong kalau nanya."
"Weiiss~ slow bro. Ngegas amat."
Leon hanya mendengus sebal sambil menatap keluar jendela mobilnya.
"Gue ngerasa aneh aja, bro. Weekend kan kantor tutup, pegawai juga nggak ada yang masuk, terus kenapa selama tiga miggu ini elu ngajakin gue ke kantor, ngerjain kerjaan yang menurut gue nggak urgent." tanya Andrew yang mulai sebal harus kehilangan tiga kali hari Sabtunya yang indah.
"Nggak apa-apa. Pengen ngantor aja."
Jawaban Leon sama sekali tidak memuaskan Andrew. Andrew tahu semua itu pasti ada hubungannya dengan Arina.
"Isteri lu gimana? Nggak protes gitu Sabtu-sabtu lu ngantor?"
"Enggak."
"Buseettt... Sejak kapan lu jadi irit ngomong?"
"Elu sejak kapan jadi cerewet?"
"Eee? Hontou ni wakaran omae wa." ¹
"Ore mo." ²
"Nani ga?" ³
"Kanojo." ⁴
"Kanojo? Arina?"
"Siapa lagi?"
"Emang kenapa Arina? Lu masih belum pdkt sama dia?"
Leon hanya menggeleng, masih sambil fokus melihat keluar jendela mobilnya.
"Bro, jujur aja sama gue, elu suka nggak sih sama Arina?"
"Entah, bro. Gue juga bingung. Gue belum pernah sekali pun jatuh cinta sama cewek, gimana gue bisa tahu rasanya suka sama cewek?"
"Tapi elu nggak benci Arina juga kan?"
"Dibilang benci sih enggak, dibilang suka juga enggak."
"Belum, bro. Elu belum suka aja. Secara nih kalian berdua masih sama-sama asing dan tertutup, kan?"
"Iya sih. Hhh~"
"Makanya kalau weekend tuh dimanfaatin buat pdkt, bukan malah kabur. Cerai muda tahu rasa lu!"
"Cerai muda? Istilah darimana?"
"Dari kamus gue. Ahahahahaha. Habis gue tuh gemes lihat elu sama Arina. Masa' iya betah tinggal serumah tapi sama sekali nggak ngobrol. Kan aneh. Betah gitu."
"Elu kan tahu sendiri gue nggak ada pengalaman sama cewek."
"Tapi pas acara lamaran elu pepet terus tuh si Arina."
"Ya, itu kan nggak cuma berduaan. Masih ada keluarga juga kan di sekitaran tempat gue sama Arina ngobrol waktu itu."
"Hmm... Jadi kalau berdua aja nih yang auto diem?"
"Elu lebih paham lah, Drew."
"Ngobrol aja sih, biasa. Nggak usah nyari-nyari topik pembicaraan, malah nggak natural nantinya."
"Emang gue elu yang bisa ngobrol sama cewek lama."
"Berarti elu kudu belajar dari gue."
"Ogah. Playboy gak ada akhlak nggak pantes dijadiin guru."
"Sial lu. Daripada elu kelewat berakhlak sampe isteri sendiri aja belum dijamah."
"Elu mau gue pecat?"
"Emang lu bisa nyari pengganti gue?"
"Uruse!"
"Ahahahahahaha. Ati-ati cerai muda."
"Ati-ati bujang lapuk."
Dan Andrew hanya tersenyum melihat wajah sahabatnya yang tampak kusut dari kaca spion di atasnya. Ati-ati, bro.
***
Leon pov
Enak aja Andrew ngatain gue bakal cerai muda. Sial! Padahal dia yang lebih tahu gue tentang urusan cewek. Dia memang sering gonta-ganti cewek. Bahkan ketika di Jepang, dia sering ikutan goukon, sebutan untuk grup kencan di Jepang. Cewek-cewek yang dipacarinya pun beragam, ada yang perawat, chef, pemilik salon, guru SD, dan yang terakhir sebelum pulang ke Indonesia, Andrew sempat berpacaran dengan mahasiswi tingkat akhir yang wajahnya mirip Yuriko Yoshitaka.
Gue akuin dia memang playboy. Tapi dia playboy paling berakhlak yang gue kenal. Dia tidak pernah sekalipun ngajak cewek-cewek yang dipacarinya tidur di apartemennya. Pacaran pun cuma pas weekend pas dia libur, itu pun kalau nggak gue gangguin. Makanya dia sering gonta-ganti cewek, ya karena dia bukan seperti cowok kebanyakan. Bahkan ada ceweknya yang minta putus gara-gara Andrew nggak mau nyium tuh cewek. Dasar Andrew. Playboy kok setengah-setengah.
Sabtu ini pun gue memutuskan buat ngantor. Entah. Sebenernya gue bukannya menghindari Arina, cuma gue nggak tahu kudu gimana. Oke,dia memang isteri gue. Tapi, ini pertama kalinya gue ngadepin cewek. Yang biasanya gue bersikap acuh ke setiap cewek yang nyoba ngedeketin gue, sekarang gue yang harus ngedeketin cewek. Bingung. Dan setiap kali gue udah menyusun berbagai macam pertanyaan, pas gue ada waktu sama Arina malah langsung blank. Pertanyaan-pertanyaan yang udah gue susun, menguap gitu aja. Bibir rasanya kelu. Mau ngomong berat gitu.
"Besok gue ke apartemen lu, bro." gue bilang ke Andrew, setelah beberapa saat kami terdiam karena saling bully.
"Ngapain?"
"Biasa."
"Ogah. Tidur noh di rumah. Mau molor aja pake pindah tempat. Gue juga butuh waktu buat diri gue sendiri."
"Biasanya juga bilang 'gue udah nggak tahan dengan kesendirian ini' giliran sekarang malah pengen sendiri."
"Kalau 'nggak sendiri' gue ditemenin sama elu, sama aja. Cukup deh Senin sampe Sabtu gue liat elu, jangan Minggu juga. Noh, bini tuh sekali-kali disambangin."
"Disambangin kayak rumah kosong aje."
"Abis punya bini cuma dianggurin. Rugi! Kapan lagi bisa *****-***** dapet pahala."
"Bahasa lu, bro. *****-***** dapet pahala."
"Bener kan gue? Gue aja ngempet, elu yang udah punya malah dianggurin. Mubazir, bro."
"Hai' hai' wakatta." ⁴'
"Alhamdulillah kalau ngerti."
Bener juga yang dibilang Andrew, ibadah enak kok nggak mau. Bukan nggak mau sih, cuma bingung aja mau mulai darimana.
"Eh, tuh siape bro?" tanya Andrew tiba-tiba. Ternyata mobil sudah hampir sampai rumah gue. Andrew penasaran dengan sosok yang sedang ngobrol di depan gerbang bersama Arina. Seorang cewek dan cowok, sepertinya mereka sedang berpamitan karena tak lama setelah itu dua orang tadi berlalu dengan sepeda motor.
"Palingan temennya Arina."
"Lumayan juga tuh."
"Awas lu macem-macem."
"Ahahaha. Suka-suka gue. Bujang mah bebas."
"Terserah."
Dan mobil sudah berhenti di garasi rumah gue. Arina yang masih berdiri di depan pintu teras terlihat menunggu gue turun dari mobil.
"Gue langsung balik ya bro." ucap Andrew sambil menyerahkan kunci mobil ke gue. Andrew biasa ke rumah gue naik mobil atau motornya, lalu kita ngantor bersama naik mobil gue, kadang naik mobil Andrew juga.
"Nggak makan malam disini dulu Mas Andrew?" tanya Arina dari teras.
"Nggak usah, Rin. Keburu malem mingguan. Hehe. Ya udah ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab gue dan Arina berbarengan.
Baiklah. The game is on.
***
Japanese corner:
¹ Hontou ni wakaran omae wa \= bener-bener nggak paham sama elu
² Ore mo \= gue juga
³ Nani ga? \= tentang apa?
⁴ Kanojo \= dia (perempuan)
⁴' Hai' hai' wakatta \= iya, iya gue ngerti
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments