Sudah hampir tiga minggu Arina menjalani kehidupan sebagai Nyonya Leon, tapi selama itu pula dia belum memahami suaminya. Bagaimana bisa paham, kalau ngobrol pun mereka jarang. Bahkan hampir tidak. Entahlah. Arina memang bukan tipe cewek yang bisa dengan mudah mencari topik pembicaraan, apalagi dengan cowok. Meski itu suaminya, tetap saja mereka sama-sama masih asing. Leon pun terlihat tidak berusaha untuk mendekati Arina. Pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor. Acara sarapan setiap hari pun hanya dikuasai suara sendok yang sesekali berdenting. Sepulang dari kantor kadang sudah larut, kalaupun Leon pulang cepat, dia pasti langsung masuk ruang kerja dan hanya keluar saat makan malam.
Yang paling membuat Arina sedih adalah, Leon tidak pernah tidur di ranjang. Ya, tidak pernah! Selalu tidur di sofa yang ada di kamar. Pernah beberapa kali Arina mencoba menguasai sofa. Dia tidur di sofa untuk melihat apa yang akan dilakukan Leon. Dan ternyata, ketika Arina membuka mata di pagi hari dia tidak menemukan Leon disana. Dicarinya Leon di ruang tamu pun juga tak ada. Setelah membuka dua kamar yang ada di rumah itu, Arina menemukan Leon tidur di salah satu kamar untuk tamu. Arina sungguh tak habis pikir, kenapa suaminya seperti itu.
Hari Sabtu ini pun sangat membosankan untuk Arina. Leon bekerja hampir setiap hari. Bahkan di hari Sabtu dan Minggu! Arina sungguh ingin sekali keluar dari rumah itu. Pergi jauh melupakan statusnya sebagai seorang isteri. Setelah menikah, dia belum sekalipun keluar bersama teman-temannya. Dia mencoba mengajak teman-temannya untuk hang out.
[Arina] Guys, keluar yuk!
[Airin] Kemana? Lu nggak weekend sama Mas Leon?
[Ana] Sekarang?
[Alessa] Duh, aku bantuin ibu, Na. Ada acara pengajian ibu-ibu di rumah nanti sore.
[Arina] Suami lagi sibuk cari berlian.
[Arina] Iya, An. Sekarang. Bosen aku di rumah terus.
[Ana] Duh kalau hari ini nggak bisa gue. Ada yang minta les.
[Airin] Yaelah, An. Diliburin dulu sih. Bilang sama murid lu nggak usah rajin-rajin belajar. Wkwkwkwk
[Ana] Nggak bisa, Rin. Soalnya ini buat ganti hari Rabu kemarin, dia sakit ijin nggak les. Kasian kan, anak lagi pengen belajar juga.
[Airin] Dimundurin aja jamnya.
[Ana] Malah nggak nyaman di gue ntar. Nggak enak kalau hang out sama kalian barengan acara, bikin nggak bisa nikmatin waktu.
[Airin] Ceileee... Gaya lu.
[Ana] Besok aja sih, Na. Minggu kan enak longgar.
[Arina] Aku bosen banget sekarang, An.
[Airin] Ya udah kita berdua aja, Na. Gimana?
[Ana] Nah tuh, si Airin longgar banget kayaknya.
[Airin] Iyalah. Pengacara kok. Wkwkwkwk.
[Ana] Iye iye, yang pengacara. Pengangguran banyak acara.
[Airin] Tahu kan lu. Wkwkwkwk.
[Airin] Mau hang out kemana, Na?
[Arina] Ketemu di cafe biasa aja, Rin.
[Airin] Oke bos que...
[Alessa] Jangan lupa ijin suami dulu, Na.
[Airin] Nih anak kalau chat nggak pernah ada yang salah perasaan.
[Airin] Iya gih, Na. Ijin suami mu dulu. Kalau lu udah otw, kabarin ya.
Ijin suami? Arina seketika bingung. Paasalnya suaminya sudah berangkat ke kantor dan dia tidak tahu nomor hpnya. Ijin nggak ya?
***
Arina pov
Punya sahabat solehah sih enak-enak aja. Aku bisa tetep inget batas-batas pergaulan dan ada pengingatnya kalau kalau aku melakukan hal yang nggak sesuai agama. Cumaaaaa. Kalau pas kayak gini kan jadi bingung. Jelas bingung. Begitu Alessa ngingetin aku buat ijin suami sebelum keluar rumah, aku langsung bingung. Gimana nggak bingung? Mas Leon udah berangkat ke kantor jam tujuh pagi tadi dan aku nggak punya nomor hpnya. Kalau aku tanya ayah, aku nggak enak sama ayah. Masa' iya udah tiga minggu nikah nggak tahu nomor hp suami sendiri? Bisa-bisa ayah mikir macem-macem ntar.
Setelah beberapa saat, aku berpikir gimana caranya biar aku nggak dosa sama suami tapi aku tetep bisa ngilangin bosen sama Airin. Dan muncullah ide cerdik.
[Arina] Rin.
[Airin] Gimana, Na? Udah otw? Bentar lagi otw gue. Nunggu Ito dulu, mau nebeng dia gue.
[Arina] Mmm... Kalau kamu ke rumah ku aja gimana? Nanti aku share location.
[Airin] Mmm... Boleh boleh. Mas Leon nggak ngijini lu keluar rumah ya, Na?
[Arina] Ntar aja aku ceritain.
[Airin] Oke. Share loc nya gue tunggu. Nih Ito dah dateng, gue otw.
[Arina] Oke.
30 menit kemudian...
Tok tok tok....
"Assalamu'alaikum..." aku langsung beranjak, mengenali suara di balik pintu.
"Wa'alaikumsalam..." balas ku sambil membuka pintu.
"Masuk, Rin."
"Wah, emang ya rumah pengusaha furniture tuh nggak kaleng-kaleng." puji Airin sambil mengamati rumah Mas Leon yang minimalis praktis.
"Bisa aja kamu, Rin. Kita ke halaman belakang aja yuk, yang adem." Airin tidak menjawab, hanya mengekor mengikuti ku berjalan ke halaman belakang.
"Wow! Kereeeen, Na. Punya rumah kayak gini kok lu bisa bosen sih?" celetuk Airin sambil melihat halaman belakang rumah yang memang bagian paling bagus di rumah ini. Ada jalan setapak dari batu-batu yang ditata berliku menuju sebuah gazebo di pojok halaman. Kanan kiri jalan setapak dihiasi berbagai macam bunga, yang aku sendiri tak paham namanya. Di sisi kanan gazebo terdapat kolam ikan ukuran sedang dengan aksen air mancur di tengahnya. Aku memang paling suka menghabiskan waktu ku di gazebo ini, sekedar membaca novel online atau bersosial media.
"Kamu duduk di gazebo dulu, Rin. Aku buatin minum. Mau minum apa?"
"Apa ajalah, Na, yang penting seger. Hehe."
Aku berlalu ke dapur menyiapkan minum dan kudapan untuk teman kami ngobrol-ngobrol di gazebo. Aku putuskan membuat es teh manis kesukaan Airin dan membawa beberapa kue kaleng.
"Weis... Tahu aja kesukaan gue, Na." ucap Airin begitu aku meletakkan segelas es teh manis di depannya.
"Parah kalau sampe aku nggak tahu maksud kamu, Rin. Diminum tuh."
"Eh, kenapa sih nggak jadi ke cafe? Mas Leon nggak ijinin ya?" tanya Airin setelah menyeruput es teh manisnya.
"Hhh~"
"Kenapa? Cerita aja ke gue." ucap Airin sambil memasukkan kue ke mulutnya.
Awalnya aku sedikit ragu, tapi sepertinya daripada cerita sama mama dan malah bikin mama kepikiran, mending aku cerita sama Airin.
"Hhh~ gue nggak tahu harus mulai darimana, Rin."
"Mulai dari awal dong sayang ku."
"Kamu itu emang yang paling ngebanyol diantara kita ya."
"Jelas! Nggak ada gue nggak seru kaaan~ Udah buruan cerita kenapa. Penasaran nih gue."
"Mmm... Jadi, tadi aku nggak jadi keluar karena aku nggak punya nomor hpnya Mas Leon, jadi aku nggak bisa ijin. Kalau aku keluar tanpa ijin aku jadi merasa berdosa nanti karena tadi kan Alessa udah ngingetin buat ijin dulu."
"Jadi gara-gara diingetin Alessa tadi lu nggak jadi keluar?" tanya Airin sambil sibuk memainkan jempolnya di layar ponselnya. Mungkin membalas chat dari seseorang.
"Gara-gara aku nggak punya nomor hpnya Mas Leon, Rin."
"Iya gara-gara itu juga... Eh, apa?! Bentar. Lu nggak punya nomor hpnya Mas Leon?! Serius?!" tanya Airin kaget setelah dia sudah meletakkan ponselnya dan kembali fokus dengan cerita ku.
"Iya, serius aku nggak punya nomor hpnya Mas Leon."
"Hah? Kalian udah tiga minggu nikah dan lu nggak punya nomor hp suami lu sendiri?" aku hanya mengagguk.
"Bener-bener parah. Kalian ngapain aja sih sampe nomor hp aja nggak punya."
"Nggak ngapa-ngapain." jawab ku singkat.
"Eh? Bentar, bentar, bentar. Gue kok jadi roaming sih. Elu cerita yang jelas dong." ucap Airin bingung.
"Jadi, selama ini gue nggak pernah ngobrol sama Mas Leon, Rin. Ngomong paling cuma ngajakin sarapan, makan malam, nanyain baju atau celana dia dimana, pamit kerja, udah gitu aja. Bahkan nih ya, kita belum pernah tidur seranjang!" aku menjeda. Airin hanya melongo mendengar cerita ku.
"Trus Mas Leon tidur dimana?"
"Sofa deket ranjang." Airin melongo lagi.
"Trus, mulut kalian nggak gatel apa diem-dieman gitu?"
"Tahu sendiri kan, Rin, aku nggak bisa kalau ngedeketin cowok."
"Iya sih. Tapi, Na, ini kasusnya beda. Dia itu suami lu, lu kudu lebih agresif dong nggak cuma pasif nunggu dipancing."
"Kalau aku bisa udah aku lakuin dari kemarin, Rin. Aku nggak tahu harus mulai darimana dan gimana."
"Bukannya dulu pas acara lamaran Mas Leon ngajakin elu ngobrol-ngobrol gitu, Na? Kok sekarang malah enggak?" tanya Airin.
"Itu aku juga nggak tahu, Rin. Dulu pas lamaran dia kayak tertatik gitu sama aku, nanya-nanya terus, tapi ya karena waktu itu aku belum bisa nerima perjodohan itu jadi aku males-malesan gitu jawab pertanyaan-pertanyaan dia."
"Hmmm... Coba kalian duduk berdua, sempetin ngobrol biar kenal satu sama lain. Mau sampe kapan kayak gini coba?"
"Iya, Rin. Ntar aku coba."
"Agresif dikit nggak apa-apa lah, Na. Sama suami sendiri juga." ucap Airin yang sudah kembali memasukkan beberpa kue kering ke mulutnya. Aku terdiam. Mencerna ucapan Airin yang menyuruh ku untuk sedikit agresif mendekati Mas Leon. Meski kami menikah bukan berdasar cinta, tapi setelah aku pikir-pikir lagi kenapa aku nggak nyoba buat membuka diri ku dan hati ku untuk Mas Leon. Dia kelihatannya juga pria yang baik.
"Eh, Na. Gue ntar minta bunga alamanda merah lu itu ya? Mau gue tanem di deket teras." ucap Airin mengalihkan topik pembicaraan yang menyadarkan ku dari lamunan ku.
"Oh, oke."
"Ini yang ngurus lu semua?" tanya Airin sambil menunjuk bunga-bunga yang ada di taman.
"Aku paling cuma nyiram tiap hari. Mas Leon nyuruh orang buat ngerapiin tiap minggunya."
"Horang kayaaa."
"Apaan sih, Rin."
Dan setelahnya kami hanya membicarakan hal-hal ringan seputar rumah dan kebun. Aku merasa sedikit lega sudah menceritakan kegelisahan ku pada Airin. Memang benar, kalau Mas Leon pasif dan aku pasif, kita nggak akan pernah ketemu. Mungkin memang harus sedikit agresif.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments