Pacaran vs Khitbah (part 2)

Alessa pov

Sejak seminggu yang lalu, sepertinya jantung ku berdetak dua kali lipat lebih cepat. Bagaimana tidak? Doa yang selama ini aku panjatkan di setiap sepertiga malam terakhir ku dikabulkan oleh Allah. Begini rasanya mendapat sesuatu yang didapat dari rasa sabar selama bertahun-tahun. Masyaallah. Aku tak pernah mengira akan menegangkan sekaligus membahagiakan seperti yang aku rasakan saat ini. Sungguh aku tak mampu menggambarkannya lewat kata-kata. Rasanya kata bahagia saja tak cukup menggambarkan perasaan ku saat ini.

Saat ini aku duduk di ruang tengah, menunggu datangnya kak Adam dan kedua orang tuanya. Setelah bapak dan ibu memberi ijin untuk kak Adam melamar ku, aku membalas chatnya yang berkata akan mengkhitbah ku.

[Alessa] Maaf kak, baru balas. Aku tadi bilang dulu sama ibu dan bapak soal niatan kamu. Dan alhamdulillah, bapak dan ibu mengijinkan kamu dan bapak ibu kamu untuk berkunjung kesini Sabtu depan.

[Adam] Beneran de'? Alhamdulillah... Makasih ya de'.

[Alessa] Sama-sama kak.

Kami memang tidak pernah chat panjang lebar, hanya seperlunya saja. Aku, terutama, berusaha keras menahan keinginan untuk mengirim pesan singkat kepada kak Adam. Tak jarang ada godaan untuk chat, sekedar mengucapkan selamat pagi, atau selamat tidur. Namun, alhamdulillah aku selalu disadarkan untuk tetap bersabar. Kalau memang sesuatu itu untuk ku, ia tak akan pernah lari dari ku. Itu prinsip yang selalu menguatkan ku, menguatkan iman ku akan kuasa Allah.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.00, belum ada tanda-tanda kedatangan kak Adam dan keluarganya. Aku membuka ponsel ku untuk memastikan mungkin kak Adam menghubungi ku. Tapi, ternyata tidak. Yang ada hanya sisa chat semalam yang memberitahukan perihal kedatangannya pagi ini.

[Adam] Assalamu'alaikum. De', besok in syaa allah aku dateng ke rumah sekitar jam 10.00. Aku cuma sama bapak dan ibu jadi nggak perlu repot-repot ya.

[Alessa] Wa'alaikumsalam. Oh, iya kak. Makasih. Nanti aku sampein bapak ibu. Oh iya, ini aku share lokasi rumah. Pokoknya nanti kalau udah sampe di daerah sekitar situ, tanya aja rumah Pak Ahmad Muhsinin gitu.

[Adam] Oke.

Dan setelah chat semalam, kak Adam tidak menghubungi ku lagi. Belum. Semoga tidak terjadi apa-apa. Seiring jarum jam berjalan, hati ku semakin bergemuruh tak menentu. Rasa khawatir kian merasuk ketika jam sudah menunjukkan pukul 10.15. Ya Allah, jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasanya air mata ku sudah menggenang di pelupuk mata. Bahkan, ketika tinggal hitungan jam doa ku akan terkabul, Allah masih menyuruh ku untuk bersabar. Sabar Alessa. Jika memang bukan dia yang dijodohkan untuk mu, Allah pasti mengganti yang lebih baik darinya.

"Assalamu'alaikum." sebuah suara yang begitu aku kenal seakan meruntuhkan kekhawatiran ku. Air mata ku pecah. Kak Adam menepati janjinya. Alhamdulillah.

"Wa'alaikumsalam." sambut ayah ku yang memang sudah menunggu di ruang tamu.

"Maaf, pak. Benar ini rumahnya Pak Ahmad Muhsinin?" tanya kak Adam, aku yang mendengarkan dari ruang tengah memang sengaja tidak beranjak dari duduk ku. Aku lihat ibu keluar dari dapur menuju ke depan begitu mendengar salam.

"Oh iya bener, bener. Mari silakan masuk." jawab ayah sembari mempersilakan masuk.

"Maaf, sebelumnya. Ananda dan bapak ibu ini siapa ya?" tanya ayah setelah kak Adam dan kedua orang tua nya duduk. Aku masih duduk di ruang tengah mendengarkan. Ibu ku tentu saja menemani ayah di ruang tamu.

"Perkenalkan pak. Saya Pak Arif Hidayat, ini isteri saya Bu Laili Ramadhani dan yang itu putra saya Adam Ulul Albab. Putra saya ini, dulu satu SMA sama putri Bapak, ananda Alessa."

"Oh, ini Nak Adam yang diceritakan Alessa minggu lalu."

"Iya pak."

"Sebentar, pak. Saya panggilkan Alessa dulu." suara ibu ku terdengar.

"Al?" aku menatap ibu ku. Seakan tahu apa yang aku rasakan, ibu mendekat.

"Yuk, udah ditunggu Adam di depan." ucap ibu ku lembut sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum kemudian beranjak dari duduk ku. Ibu memapah ku, seolah tahu aku tak sanggup berjalan karena terlampau bahagia. Setelah menyalami orang tua kak Adam, ibu mendudukkan ku di kursi yang berhadapan dengan kak Adam. Jantung ku rasanya sudah mau copot karena berdetak sangat kencang. Aku sampai harus memegang dada ku untuk menenangkan gemuruhnya.

"Ini pak, putri saya Alessa Maheswari." ucap ayah memperkenalkan aku kepada ayah kak Adam. Aku tersenyum, kemudian menunduk, karena aku tak sanggup menatap kak Adam saat ini. Ya Allah, tenangkanlah hamba dari perasaan terlalu bahagia ini.

"Cantik. Solehah. Pantes Adam pengen buru-buru melamar." ucap ayah kak Adam dengan nada sedikit menggoda. Diikuti tawa semua yang ada disitu. Aku? Hanya tersenyum, tersipu.

"Ehem... Jadi begini Pak Ahmad, maksud saya dan keluarga datang kesini yang pertama tentunya untuk silaturahmi, saling mengenal satu sama lain dan yang kedua tujuan kami kemari adalah utamanya untuk melamar puteri Bapak, Nak Alessa, untuk putra saya ini, Adam Ulul Albab. Karena ternyata, menurut cerita Adam, anak saya ini sudah jatuh hati dengan puteri Bapak sejak SMA. Sedianya Bapak berkenan." ucap ayah kak Adam.

Jangan tanya bagaimana perasaan ku saat ini. Sungguh, aku dari tadi hanya duduk menunduk sambil memegangi dada ku yang rasanya tak bisa tenang. Untungnya jilbab yang aku kenakan panjang dan menutup hingga ke perut, jadi tak ada yang tahu aku sedang menenangkan hati ku, kecuali Allah.

"Alhamdulillah ya pak, putera puteri kita mampu menahan hawa nafsu di tengah jaman yang seperti ini." ucap ayah ku.

"Iya pak. Alhamdulillah tidak terjerumus pergaulan bebas."

"Jadi, Nak Adam ini sudah jatuh cinta sama Alessa dari SMA?" tanya ayah ku kepada kak Adam.

"Iya pak. Sejak kami dilantik jadi pengurus Rohis yang baru pada saat itu."

Mendengar jawaban kak Adam, aku mendongak seketika. Tak percaya. Dia mulai menyukai ku sejak hari itu juga. Sesaat pandangan kami bertemu. Tak lama aku menunduk kembali, masih memegang dada ku yang kini semakin bergemuruh dilanda suka cita.

"Alessa juga sudah suka sama Nak Adam sejak SMA katanya." kini ibu yang buka suara.

"Ibu baru tahu minggu lalu, kalau anak gadis ibu ini ternyata punya cowok yang disuka. Dan ibu nggak nyangka sudah selama itu Alessa memendam perasaannya." lanjut ibu. Aku semakin tertunduk, menyembunyikan rona merah di pipi ku.

"Karena anak-anak sudah sama-sama suka, sudah saling menahan untuk dihalalkan, kami, selaku orang tua hanya mampu memberi restu saja, Pak Arif."

"Alhamdulillah... Terimakasih Pak Ahmad."

"Sama-sama, Pak Arif. Ayo mari silakan diminum dan dicicipi, cuma seperti ini saja yang kami siapkan." ucap ayah mempersilakan orang tua kak Adam dan kak Adam untuk menikmati hidangan snack yang sudah disiapkan di meja.

Setelahnya, kami hanya mengobrol ringan. Saling mengenal satu sama lain. Aku menjawab sesekali ketika bapak ibu kak Adam menanyai ku. Rasanya sungguh bahagia. Terimakasih, Ya Allah.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 16.05, tapi Ana masih sangat nyaman dengan tidur siangnya. Sejak tiba di rumah dua jam yang lalu, Ana langsung merebahkan diri sambil memikirkan sesuatu yang seharian ini mengganggu hatinya. Buku Sherlock Holmes yang tadi dibelinya pun belum disentuh sama sekali. Tak biasanya. Biasanya dia akan langsung bergumul dengan buku yang baru dibelinya. Hari ini nampaknya sungguh berbeda. Entah.

Notifikasi di ponselnya terus berdenting. Sepertinya banyak chat yang masuk. Namun, Ana masih bergeming. Tak lama terdengar suara mamanya, membangunkan tidurnya.

"An, bangun. Udah jam empat lebih, solat dulu."

"Hmm..." jawab Ana sambil menggeliat di kasurnya yang sepertinya sangat nyaman.

"Buruan. Keburu habis waktunya."

"Iya, ma..."

Sambil menunggu kesadarannya kembali penuh, Ana meraih ponselnya. Dilihatnya notifikasi grup yang sudah banyak chat dari tiga sahabatnya.

[Airin] Selamat ya, Al. Semoga lancar sampai hari H. Aamiin...

[Arina] Selamat ya, Al. Gimana tadi, Al?

[Alessa] Makasih. Aamiin...

[Alessa] Alhamdulillah lancar, Na. Deg-degan banget. Hehe.

[Airin] Ecieee yang abis dikhitbah. Btw, lu udah lama suka sama kak Adam, Al? Kok langsung mau pas dia bilang mau khitbah lu?

[Arina] Iya, Al. Kok kamu langsung mau?

[Alessa] Sebenernya, aku udah suka kak Adam dari waktu pelantikan pengurus Rohis.

[Airin] WHAT?! Selama itu?!

[Airin] Dan lu nggak cerita sama kita? Wah parah lu, Al.

[Arina] Iya ih, Alessa parah. Kenapa nggak cerita ke kita?

[Alessa] Maaf ya. Aku cuma nggak mau kalian jadi heboh pas lihat kak Adam di sekolah. Terus aku juga pengen ngejaga perasaan ku biar cuma aku dan Allah saja yang tahu. Alhamdulillah doa ku selama ini dikabulkan Allah.

[Arina] Ya Allah, Al. Aku sampe mau nangis ini baca chat kamu. Berarti dia itu cinta pertama dan terakhir mu dong, Al.

[Alessa] Aamiin... In syaa Allah, Na. Doanya ya.

[Airin] Gue bener-bener salut sama lu, Al. Speechless gue.

[Airin] Btw, Ana mana nih? Nggak nongol-nongol dari tadi?

[Arina] Palingan lagi sama Ali.

[Airin] Pacaran terooosss.

Ana tersenyum kecut membaca chat para sahabatnya. Perasaannya masih belum membaik. Tapi dia berusaha biasa saja.

[Ana] Biarin. Punya kok. Emang elu, Rin. Wkwkwkwkwk

[Ana] Selamat ya, Al. Semoga lancar jaya sampe surga. Aamiin.

[Arina] Nah loh tu. Keluar orangnya.

[Airin] Doa lu ngeri amat sampe surga.

[Ana] Kan bener. Cuma Alessa yang tahu maksud doa gue.

[Alessa] Aamiin. Makasih ya, An. Semoga Ana dan Airin disegerakan segera. Aamiin...

[Airin] Aamiin...

[Ana] AAMIIN.....

[Airin] Semangat amat buk? Udah kebelet ya? Wkwkwkwk

[Ana] Biar cepet terkabul. Ahahahaha.

[Airin] Ngaruh?

"Anaaaaa..."

Dan suara teriakan mama Ana sukses menghentikan Ana dari senam jempolnya. Solat, solat.

Episodes
1 Prolog
2 Catatan Pra Nikah (part Ana)
3 Catatan Pra Nikah (part Arina)
4 Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5 Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6 Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7 Malam Pertama? (part 1)
8 Malam Pertama? (part 2)
9 Pacaran vs Khitbah (part 1)
10 Pacaran vs Khitbah (part 2)
11 Pasif atau Agresif?
12 Best Friend Forever
13 Cerai Muda
14 Album Biru
15 For the First Time
16 Dinner (part 1)
17 Dinner (part 2)
18 Rumpik
19 Putih Abu-Abu (part 1)
20 Putih Abu-Abu (part 2)
21 Undangan (part 1)
22 Undangan (part 2)
23 Misaki
24 Cinta Merekah
25 Hari Bahagia Alessa
26 Mantan
27 Putih Abu-Abu (part 3)
28 Rumpik (lagi)
29 Skripsweet~
30 Ibadah Paling Enak
31 Rindu Berat
32 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34 Doa dalam Hujan
35 Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36 Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37 Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38 Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39 Sahabat Sehidup Sesurga
40 Ijazah lalu Ijab Sah?
41 Akhirnya Halal
42 Sahabat Jadi Suami
43 Leave or Stay?
44 Awal Mimpi Buruk
45 INAD?
46 Dua Garis Lagi?
47 Pejuang Garis Dua
48 Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49 Ternyata...
50 Salah Jodoh?
51 Memulai Lagi
52 Tanda-tanda
53 Lagi-lagi Rumpik
54 Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55 Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56 Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57 Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58 Epilog
59 Terimakasih ^^
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Prolog
2
Catatan Pra Nikah (part Ana)
3
Catatan Pra Nikah (part Arina)
4
Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5
Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6
Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7
Malam Pertama? (part 1)
8
Malam Pertama? (part 2)
9
Pacaran vs Khitbah (part 1)
10
Pacaran vs Khitbah (part 2)
11
Pasif atau Agresif?
12
Best Friend Forever
13
Cerai Muda
14
Album Biru
15
For the First Time
16
Dinner (part 1)
17
Dinner (part 2)
18
Rumpik
19
Putih Abu-Abu (part 1)
20
Putih Abu-Abu (part 2)
21
Undangan (part 1)
22
Undangan (part 2)
23
Misaki
24
Cinta Merekah
25
Hari Bahagia Alessa
26
Mantan
27
Putih Abu-Abu (part 3)
28
Rumpik (lagi)
29
Skripsweet~
30
Ibadah Paling Enak
31
Rindu Berat
32
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34
Doa dalam Hujan
35
Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36
Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37
Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38
Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39
Sahabat Sehidup Sesurga
40
Ijazah lalu Ijab Sah?
41
Akhirnya Halal
42
Sahabat Jadi Suami
43
Leave or Stay?
44
Awal Mimpi Buruk
45
INAD?
46
Dua Garis Lagi?
47
Pejuang Garis Dua
48
Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49
Ternyata...
50
Salah Jodoh?
51
Memulai Lagi
52
Tanda-tanda
53
Lagi-lagi Rumpik
54
Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55
Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56
Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57
Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58
Epilog
59
Terimakasih ^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!