Leon pov
"Capek, Mas?" tanya Arina yang sukses membuat gue heran. Biasanya kalau gue balik dari kantor, dia hanya menyalami tangan gue dan mencium punggung tangan gue tanpa bertanya apapun.
"Mas?"
"Eh, lumayan."
"Mau dibikinin teh atau kopi?"
Buseeeet... Sejak kapan dia jadi banyak ngomong gini?
"Mas?"
"Eh, iya. Teh anget aja."
"Oke. Tunggu bentar ya."
Arina berjalan menuju dapur. Gue ngekor di belakangnya. Jangan salah. Gue cuma mau duduk di ruang makan yang deket dengan dapur. Sambil ngeliatin Arina juga sih. Tumben. Biasanya dia nggak nanya gue mau minum apa. Kadang dibikinin teh, kadang kopi. Dan gue minum apapun yang udah dia bikinin buat gue. Gue paling suka teh bikinannya. Meskipun dia belum tahu gue nggak begitu suka teh manis, tapi dia bisa bikin teh yang pas, nggak manis tapi juga nggak pahit buat gue. Enak.
"Ini mas."
"Oh, makasih. Ahhh~ teh bikinan kamu enak."
"Eh? Makasih." gue lihat Arina merona.
"Tadi siapa yang abis kesini?"
"Tadi?"
"Iya, aku lihat ada cowok cewek boncengan pergi dari sini."
"Ooh... Temen ku, Mas. Airin sama Ito. Maaf Mas aku nggak bilang-bilang ngundang temen kesini."
"Eh, nggak apa-apa. Bosen mesti kamunya di rumah terus nggak ada temen."
"Iya. Tadinya mau jalan keluar sama Airin tapi nggak jadi."
"Kenapa?"
"Aku nggak bisa ijin sama kamu, Mas. Aku kan nggak punya nomor hp kamu."
"Aku belum ngasih ya?"
Arina hanya menggeleng. Benar saja. Tiga minggu ini kami sama sekali nggak ngobrol, wajar saja aku nggak ngasih nomor hp gue ke dia. Dan Sabtu sore ini pertama kalinya kami ngobrol. Arina yang biasanya lebih banyak diem, sekarang udah mulai banyak ngomong. Gue jadi nggak perlu repot-repot pdkt.
"Hp kamu mana? Sini aku masukin."
"Nomor ku sekalian dimasukin punya mu, Mas."
"Bereees. Eh, tapi kenapa kamu nggak nanya sama ayah kalau cuma mau tahu nomor ku?" tanya gue sambil sibuk mencet-mencet nomor di layar hp Arina. Karena tak ada jawaban, gue mendongak ke arah Arina. Wajahnya semakin merona.
"Eh? Kenapa, Rin?"
"Mmm... Aku nggak enak sama ayah Mas. Kita udah nikah tiga minggu masa' nomor hp mu aku nggak tahu."
"Iya juga sih ya. Kita nggak pernah ngobrol tiga minggu ini. Nih, udah aku simpen."
"Suami ku?" gumam Arina sambil membaca nama kontak gue yang gue simpan di hpnya.
"Hehe. Kalau mau kamu ganti juga boleh." Arina cuma nyengir.
"Eh iya, Mas. Bentar." ucap Arina sambil berlalu ke dapur lagi dan membuka kulkas kemudian berjalan ke arah gue lagi sambil membawa sesuatu.
"Ini tadi aku sama Airin iseng-iseng bikin cake. Coba dicicip." ucap Arina sambil menyodorkan sepotong cake cokelat di depan gue. Tanpa menunggu lama gue coba sesendok cake cokelat buatan Arina dan temennya. Enak!
"Enak! Mmm~"
"Pelan-pelan, Mas. Di kulkas masih banyak kalau mau nambah. Aku mandi dulu ya."
"Iya. Makasih ya, Rin."
Arina hanya mengacungkan jempol tangannya sambil berlalu naik ke atas, menuju kamar. Kamu manis juga, Rin.
***
Arina pov
Awalnya bingung mau ngajak Mas Leon ngobrol apa. Tapi, ternyata Allah memang ngasih momen yang pas. Pas abis nganter Airin ke depan, pas Mas Leon dateng. Untung Mas Andrew, sekretaris Mas Leon, langsung pamit pulang, jadi aku bisa langsung nyoba ngobrol sama Mas Leon.
Mas Leon terlihat heran ketika aku menyapanya sepulang kerja dan menawarinya minum. Nggak heran kalau Mas Leon seperti itu. Pasalnya selama ini aku cuma diem, nggak nanya ke dia capek nggak, nggak nawarin dia pengen minum apa, jadi wajarlah kalau Mas Leon agak bingung dengan perubahan sikap ku. Kemudian kami sempat ngobrol ringan di ruang makan. Bukan hal penting yang kami obrolkan, tapi, bukankah seperti itu seharusnya suami isteri? Entah. Dan yang penting, aku udah punya nomor Mas Leon.
Setelah small talk di ruang makan, aku memutuskan untuk naik. Mandi. Badan rasanya lengket gara-gara Airin ngajak bikin cake.
Flashback on
"Ah! Gue tahu, Na."
"Apaan?"
"Bikin cake yuk."
"Buat apa?"
"Buat bahan lu ngomong sama Mas Leon. 'Mas, ini aku bikinin cake tadi, coba diicip' gitu."
"Nggak usah pake cake juga aku bisa ngomong kok, Rin."
"Udaaaah. Ayo bikin aja. Sekalian nunggu Ito, daripada kita nggak jelas gini."
"Ya udah lah."
"Gitu dong."
Flashback off
Dan ternyata cake bikinan kami enak. Setidaknya Mas Leon juga bilang cake itu enak. Lega rasanya bisa ngobrol sama Mas Leon. Ternyata dia asyik kalau udah ngomong. Kalau diem aja mukanya serem banget. Heran. Padahal cakep. Ops. Hehe. Jujur, buat aku dia emang cakep. Bahkan Andri aja kalah. Ngomong-ngomong, Andri apa kabar ya? Sejak mama bilang aku dijodohin, dia nggak pernah lagi menghubungi ku. Padahal pernah berkali-kali aku chat dia, dia nggak bales. Bahkan aku telepon pun nggak diangkat. Apa dia udah benci sama aku? Hhh... Kok jadi mikirin Andri sih?
"Rin?" aku dengar suara Mas Leon memanggil ku dari balik pintu kamar. Kebetulan aku pas keluar kamar mandi.
"Masuk aja mas. Kamar sendiri juga." jawab ku.
"Udah mandinya?" tanya Mas Leon begitu masuk kamar.
"Baru aja selesai. Kamu mau mandi? Aku siapin...."
"Eh nggak usah. Biasanya juga aku siapin sendiri." sahut Mas Leon sambil berlalu menuju kamar mandi.
"Aku isteri mu kan, Mas?" tanya ku, dengan suara yang entah kenapa sedikit bergetar. Jujur, aku gugup kalau sudah masuk kamar dan berdua sama Mas Leon. Mas Leon terlihat bingung dengan pertanyaan ku. Aku saja bingung maksud ku tanya itu apa coba?
"Kamu kenapa, Rin?" tanya Mas Leon yang sekarang sudah berdiri di depan ku, deket banget. Banget!
"Aku isteri mu?" tanya ku lagi, karena jujur aku sendiri nggak bisa jelasin maksud dari pertanyaan ku.
"Jelas kan? Memang kenapa?" tanya Mas Leon yang masih bingung. Aku pun bingung. Aku kenapa? Entahlah. Aku hanya ingin memastikan aja.
"Nggak apa-apa. Kamu mandi aja dulu." jawab ku sambil berlalu hendak keluar kamar.
"Eh, Rin!" panggil Mas Leon. Aku yang sudah akan keluar kamar menoleh ke arah Mas Leon.
"Nggak apa-apa. Aku mandi dulu ya."
Aku hanya mengernyitkan dahi. Heran. Aku menuju dapur, mengambil sepotong cake di kulkas dan memakannya. Enak. Bener kata Mas Leon. Airin memang jago. Kadang suka heran sama anak itu. Tomboy tapi suka masak dan nanem bunga-bunga. Bahkan dia bisa ngerajut dan hasil rajutannya dijual online di sosmednya. Hebat.
Selesai makan cake, aku memutuskan kembali ke kamar. Aku inget pesen Airin, aku harus agresif. Walaupun nggak tahu gimana caranya. Tapi aku rasa, aku dan Mas Leon ada sedikit kemajuan. Lumayan lah. Biasanya cuma diem-dieman aja. Begitu sampai di lantai atas, aku langsung masuk kamar karena pintu kamar memang tidak ditutup. Aku terkejut melihat Mas Leon yang hanya mengenakan boxer sedang sibuk memilih-milih baju yang akan dipakainya di lemari. Seketika aku menutup wajah ku yang entah kenapa terasa panas. Aku belum pernah melihat pria tanpa pakaian, ya walupun Mas Leon masih memakai boxer. Tapi itu boxer! Yang menurut ku boxer dan celana dalam itu hampir sama.
"Kamu kenapa, Rin?"
Aku masih menutup mata ku dengan tangan kanan dan tangan kiri menunjuk ke arah Mas Leon.
"Kenapa?" Mas Leon masih bertanya. Aku masih diam dan menutup wajah.
"Buka."
"Enggak."
"Kenapa?"
"Malu."
"Malu kenapa?"
"Kamu nggak pake baju, Mas."
"Aku suami mu, kan?" tanya Mas Leon. Tunggu. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa tangan ku yang menutupi wajah ku. Jangan bilang dia udah di depan ku dan cuma pakai boxer.
"Rin?"
"Eh, iya, Mas."
"Iya apa?"
"Iya kamu suami aku."
"Terus kenapa malu?"
"Iihh... Kamu nggak malu apa?"
"Buka dulu." kali ini Mas Leon memegang tangan ku dan membukanya. Aku masih terpejam.
"Buka mata mu."
"Enggak."
"Kalau nggak, aku cium." seketika aku membuka mata. Dan ternyata Mas Leon sudah memakai kaos oblong hitam dan celana pendek selutut. Aku yakin sekarang wajah ku pasti merah banget kayak kepiting rebus.
"Sama suami sendiri kok malu." ucap Mas Leon sambil menyunggingkan senyumnya yang sukses membuat jantung ku berdetak lebih cepat.
"Kenapa masih berdiri? Istirahat. Capek kan seharian ada tamu?"
Aku tersadar dari lamunan ku, dan ternyata Mas Leon sudah duduk di sofa, seperti biasa. Aku berjalan ke arah ranjang. Duduk menghadap Mas Leon. Menatapnya lekat-lekat. Dia sedang asik dengan hpnya. Wajahnya yang serius menambah tingkat kegantengannya.
"Kamu sering banget liatin aku, kenapa? Aku ganteng banget ya?" tanya Mas Leon tanpa mengalihkan pandangan dari layar hpnya.
"Pede banget, Mas."
"Tapi bener kan? Buktinya kamu sering liatin aku."
"Tahu darimana?"
"Kalau kamu liatin aku, bulu kuduk ku langsung berdiri." jawab Mas Leon yang sudah meletakkan ponselnya di sampingnya.
"Emang aku hantu?"
"Abis liatnya gitu banget." ucap Mas Leon sambil menyunggingkan senyum. Sumpah, jantung ku berdetak tak karuan.
"Kaan, bener. Tuh sampe terpesona gitu." goda Mas Leon.
"Apaan sih, Mas." aku yakin. Sekarang pasti pipi ku merona. Duh, malunya.
"Makan yuk, laper."
"Astaghfirullah..."
"Kenapa?"
"Gara-gara bikin cake, aku jadi lupa masak Mas. Maaf."
"Ya udah nggak apa-apa. Makan di luar aja kalau gitu. Sekalian ngrayain."
"Ngerayain apa, Mas?" tanya ku heran.
"Ngerayain hari pertama kita ngobrol." lagi-lagi Mas Leon berkata sambil tersenyum. Please, Mas. Hentikan senyuman mu itu! Aku bisa over dosis.
"Kok malah bengong? Mau nggak?"
"Eh, iya. Tapi kamu yang traktir ya, Mas."
"Iyalah. Aku kan suami mu."
Detik berikutnya kami beranjak dan bersiap keluar makan malam. Ternyata, Mas Leon tidak sedingin yang aku kira. Dia baik. Bisa diajak becanda juga sepertinya. Makasih, Rin.
***
Author's note: Karena dulu tokoh Ana pernah bilang kalau Mas Leon mirip Ikuta Toma, jadi author kasih gambarnya Ikuta Toma, bagi para readers yang nggak tahu. Gimana kalo Mas Leon mirip-mirip kek gini? Hehehe. Jangan lupa like, comment dan vote yaa.. terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments