Keesokan harinya...
Ana dan Airin terlihat berjalan bersama menuju ruang kelasnya. Hari ini, Ana memutuskan mencoba saran Airin kemarin untuk berangkat lebih awal. Hasilnya, Ana bertemu dengan Airin di bus, bahkan duduk bersebelahan.
"Sekolah masih sepi juga." komentar Ana ketika mereka berjalan menuju kelas mereka.
"Iya lah, jam segini baru pada berangkat dari rumah."
"Kayak gue kemarin. Elu sering berangkat sekolah pagi ya, Rin?"
"Hehe. Gue sih ya gara-gara MOS ini. Dulu, rumah sama sekolah deket, jalan kaki aja nggak sampe 10 menit. Jadi berangkat mepet-mepet. Hihi."
"Sama. Gue biasa berangkat mepet-mepet. Padahal rumah di pinggiran kota, sekolah di tengah kota."
"Parah lu. Naik bus juga dulu?"
"Nebeng bokap. Tapi kadang juga naik bus, kalau bokap ada acara luar kota."
Kini Airin dan Ana sudah duduk di bangku mereka. Ruang kelas baru diisi lima pasang makhluk termasuk mereka. Tiba-tiba, dua cewek yang duduk di bangku depan Ana dan Airin menoleh.
"Kenalin, aku Sekar Ayu Arina. Panggil aja Arina." ucap cewek mungil cantik di depan mereka.
"Bravery Alessa Smith. Ale." ucap cewek berjilbab besar berwajah sedikit blasteran di samping cewek mungil tadi. Airin dan Ana saling tatap mendengar Ale memperkenalkan diri.
"Ayahnya Ale turunan Inggris-Jawa, jadi ya namanya bule-bule gitu." jelas Arina.
"Ooo~" Airin dan Ana kompak ber-o ria.
"Gue Airin dan ini Ana. Kalian satu SMP dulu?"
"Iya, cuma beda kelas. Aku baru kenal banget sama Ale kemarin. Kalian satu SMP juga?"
"Kita beda SMP cm satu kota. Ana dari Bina Bangsa, gue dari SMP Negeri 1."
"Ana pinter dong dari Bina Bangsa." puji Alessa.
"Hehe. Kalau anak-anak Bina Bangsa pinter-pinter, gue tuh yang ranking paling bawah."
"Bisa aja lu, An."
"Eh, kalau manggil lu sama lu bisa samaan dong? Rin?" tanya Ana sambil menunjuk Arina dan Airin.
"Iya juga ya, baru sadar gue." ucap Airin.
"Panggil 'Na' aja kalau aku. Jadi biar nggak bingung. Kan manggil Ana udah 'An'." saran Arina segera.
"Boleh boleh. Kita jadi kayak kertas dong." kali ini Airin menimpali.
"Kok bisa?" tanya Alessa polos.
"A4. Airin, Arina, Ana, Alessa." jelas Airin yang kemudian disambut tawa tiga orang di dekatnya.
***
"An, kayaknya Kak Rangga lihatin lu terus dari tadi." ucap Airin. Sekarang semua kelas X berada di aula untuk pengenalan pengurus OSIS.
"Jangan sok tahu, Rin. Lagi ngeliatin cewek-cewek bening di belakang kalik." Ana acuh.
"Bener, An. Tiap kali gue lihatin dia, dia langsung salting gitu pas ketahuan lihatin elu." Airin masih mencoba meyakinkan Ana.
"Eh, bener, An. Barusan aku lihatin Kak Rangga lagi lihatin kamu." kini Arina juga ikut berkomentar setelah memastikan sendiri perkataan Airin.
"Kaaan, bener. Suka kalik sama elu."
"Jangan suka ngegosip. Perhatiin tuh, ntar kalau ditanya nggak tahu kena hukuman tahu rasa lu pada." jawab Ana santai sambil memperhatikan perkenalan pengurus OSIS sambil sesekali mencatat nama dan jabatannya.
"Tapi ben..."
"Eh, gue pinjem pulpen dong." suara dari belakang mereka duduk memotong kalimat Airin. Cowok yang masih satu kelas dengan mereka itu nyengir seketika, ketika Airin menoleh ke belakang.
"Nggak ada!" jawab Airin ketus.
"Tuh di..."
"Elo punya nggak?" tanya cowok tadi sambil nepuk-nepuk bahu Ana dengan pulpennya. Dan sekali lagi kalimat Airin terputus. Ana langsung menyodorkan satu pulpen tanpa menoleh ke belakang.
"Thanks. Gue balikin besok ya. Punya gue macet." Ana hanya mengacungkan jempolnya ke belakang. Airin dari tadi melihat ekspresi Rangga ketika Ana sedang meminjamkan pulpen ke teman cowoknya. Airin semakin yakin Rangga memperhatikan Ana dari tadi.
"Kayaknya ada yang jadi incaran kakak kelas nih." ucap Airin sambil melirik Ana. Yang dilirik tak sedikitpun mempedulikan ucapan Airin. Arina hanya tersenyum melihat dua temannya.
***
Tiga hari kemudian...
"Nih, An, gue balikin." ucap Adi sambil menyodorkan pulpen yang dipinjamnya dari Ana saat acara MOS tiga hari yang lalu. MOS sudah berakhir dua hari yang lalu, jadi saat ini siswa-siswa baru sedang santai menikmati waktu sebelum bel masuk berbunyi.
"Kirain nggak balik." jawab Ana sambil memasukkan pulpen yang diberikan Adi ke dalam kotak pensilnya.
"Hehe. Kelupaan. Thanks ya."
"Hmmm."
Adi melenggang ke luar kelas. Tak lama kemudian suaranya muncul lagi di depan pintu kelas.
"An, dicariin!" teriaknya.
"Siapa?" tanya Ana tak kalah berteriak.
"Kak Rangga."
"Bilang gue nggak ada."
"Kan elo udah jawab."
"Ya udah bilangin gue nggak mau ketemu dia."
Rangga yang mendengar suara Ana dari dalam kelas, tersenyum kecut. Baru kali ini ada cewek nolak diajak ketemu dia. Rangga semakin tertantang ingin bertemu.
"Duuuh...yang langsung dapet kakak kelas." goda Airin.
"Nggak doyan gue. Lu aja sana, ambil."
"Ya kalau dia mau sama gue, udah gue embat dari kemarin, An."
"Weis... Santai bro." suara Adi membuat gerombolan Ana melihat ke arah pintu. Rangga sudah bersiap masuk kelas, tapi Adi mencegahnya. Sedang di dalam kelas, cewek-cewek sudah heboh nggak ketulungan.
"Doi nggak mau ketemu elo. Jadi, jangan maksa." ucap Adi.
"Bukan urusan lo. Minggir."
"Urusan gue dong. Ana temen gue dan dia nggak mau diganggu sama lo. Jangan mentang-mentang situ kakak kelas bisa seenaknya."
Ana yang merasakan aura kedua cowok itu semakin memanas memutuskan untuk beranjak dan mendekati keduanya.
"Udah, Di." ucap Ana menenangkan Adi.
"Mau apa?" tanya Ana kepada Rangga.
"Gue mau ngomong sama lo."
"Ya udah, ngomong aja."
Rangga melihat ke sekeliling.
"Nggak disini. Ikut gue." Rangga sudah akan menarik tangan Ana, tapi Ana menghindar.
"Nggak usah pake narik-narik tangan."
Kemudian Rangga berlalu, diikuti Ana.
"Ati-ati, An." teriak Adi. Ana menoleh, tersenyum dan mengacungkan jempol kanannya.
Rangga dan Ana berhenti di sudut lapangan basket. Ada beberapa siswa disana dan praktis dua insan itu menjadi sorotan.
"Cepetan mau ngomong apa?" tanya Ana tak sabar.
"Oke. To the point. Gue suka sama lo."
"Tapi gue ng..."
"Gue nggak minta jawaban lo sekarang. Gue pengen lebih deket sama lo dan tahu lebih banyak tentang lo. Jadi, gue min..."
"Nggak usah repot-repot karena gue nggak suka elo." tukas Ana kemudian berlalu.
Rangga menatap punggung Ana yang kian menjauh. Sudut bibirnya terangkat.
"We'll see, An."
Sampai di koridor depan kelasnya, Adi dan beberapa teman cowoknya duduk berjongkok. Ana melewati mereka dengan santai.
"Misi ya."
"Gimana, An? Lo diapain sama Rangga?" tanya Adi penasaran.
"Biasa... Cowok... Nembak."
"Weis~ belum ada seminggu masuk udah ada yang nembak. Terima dong?" goda Adi.
"Idiiih... Ogah gue sama cowok begituan."
"Lo tolak?!" Adi kaget, karena cowok tipe Rangga tidak mungkin ditolak cewek.
"Iyalah. Orang nggak suka."
"Lo cewek kan?"
"Menurut lu? Kalau lu doyan noh sono ambil aja, gue ikhlas."
"Ogaaah... Gue normal kalik."
"Syukur deh." ucap Ana sambil melenggang masuk kelas.
"Cewek spesies langka."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments