Catatan Pra Nikah (part Alessa)

Awal tahun 2016

"Nikah?!" Ana, Airin dan Alessa terkejut ketika Arina mengatakan kepada mereka bahwa bulan depan ia akan menikah. Arina hanya mengangguk. Wajahnya tak sedikitpun menampakkan kebahagian. Keempat sahabat itu kini tengah duduk di cafe langganan mereka, menikmati acara Girls Day Out yang semakin jarang mereka lakukan karena kesibukan masing-masing.

"Nikah sama siapa, Na?" tanya Ana.

"Anak temennya ayah ku, An. Aku dijodohin. Aku baru ketemu calon suami ku tiga bulan yang lalu." jawab Arina menjelaskan keadaannya.

"Jadi, lu dan Andri...?" Airin tak melanjutkan pertanyaannya melihat mata Arina sudah berkaca-kaca.

"Kamu yang sabar ya, Na." ucap Alessa sambil mengelus punggung Arina. Arina hanya mengangguk sambil berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir.

"Eh, tapi ngomong-ngomong calon suami lu itu cakep nggak, Na?" tanya Ana penasaran. Airin yang mendengar pertanyaan Ana langsung menoyor bahu Ana. Arina hanya mengulas senyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

"Apaan sih, Rin?" tanya Ana sedikit sebal.

"Lah elu sih nanyanya gitu. Mau cakep atau enggak yang namanya dijodohin tuh nyesek, An. Apalagi Arina kan udah punya cowok sebaik Andri." jawab Airin mencoba membesarkan hati Arina.

"Nggak apa-apa, Rin. Emang awalnya aku berontak sih sama ayah. Tapi, Andri bilang dia nggak mau kalau menikah sama aku malah jadiin aku anak durhaka. Dia berbesar hati melepas ku. Cuma aku yang belum bisa ikhlas menerima semua yang serba mendadak ini."

"Trus gimana calon suami kamu, Na?" sekarang giliran Alessa yang penasaran.

"Yaa gitu." jawab Arina ambigu.

"Gitu gimana, Na? Cakep nggak?" tanya Ana lagi.

"Lu lagi An. Nanyanya cakep nggak mulu." timpal Airin. Ana hanya nyengir mendengar ocehan Airin. Arina terdiam, seperti sedang memilih kata-kata.

"Secara fisik, bisa dibilang cakep sih... " ucap Arina kemudian.

"Kalau secara kepribadian, gimana Na?" tanya Alessa.

"Itu aku belum kenal banget, Al. Aku baru ketemu tiga bulan yang lalu, itupun dalam acara lamaran. Kami nggak ngobrol banyak. Aku sendiri bingung mau ngomongin apa. Kebanyakan dia yang mancing-mancing, nanya-nanya gitu. Aku cuma jawab sekedarnya aja."

"Anak orang kaya ya, Na?" tanya Airin.

"Lumayan sih. Punya bisnis di Jepang juga. Nggak paham sih aku bisnis yang di Jepang apaan, cuma kalau yang disini usahanya sama kayak punya ayah ku. Kata mama ku, pas awal-awal jalanin perusahaan, ayah banyak dibantu sama sahabatnya itu, makanya ayah nggak enak buat nolak perjodohan ini." jelas Arina.

"Hhhh~ kalau nyokap gue tahu Arina nikah bulan depan, tambah ngebet tuh buru-buru gue buat nikah." celetuk Airin mencoba mencari pembahasan lain selain perjodohan Arina yang terkesan menyedihkan.

"Lah kan lu belum lulus kuliah, Rin. Kok nyokap lu nyuruh lu buat cepet-cepet nikah?" tanya Ana heran.

"Gara-gara anak temen-temennya udah pada nikah. Bahkan beberapa ada yang masih kuliah trus nikah. Makanya gue nggak bisa jadiin 'belum lulus kuliah' buat jadi alesan nggak mau cepet-cepet nikah." ucap Airin lesu.

"Hahahaha... Gampang aja sih Rin. Kalau nyokap lu udah nggak sabar pengen lu cepet nikah, nikah aja tuh sama Ito. Daripada pusing-pusing nyari cowok kaaan." celetuk Ana asal.

"Hhhh~ Ito juga bikin bingung." ucap Airin masih dengan wajah lesu.

"Kenapa emang si Ito? Kok kamu yang bingung, Rin?" tanya Alessa.

"Iya kenapa si Ito?" Ana dan Arina juga ikut penasaran.

"Jadi gini guys. Beberapa bulan yang lalu Ito nembak gue. Makanya gue bingung." jelas Airin.

"Lah kenapa bingung? Kan elu tinggal jawab iya atau enggak." tanya Ana yang diiringi anggukan oleh Arina dan Alessa.

"Masalahnya, An, gue nggak pernah ada perasaan yang kayak gitu ke Ito."

"Kalau menurut ku sih Rin, coba aja. Kan kalian udah sama-sama tahu baik buruknya masing-masing." usul Arina.

"Elu, Na kayak Ito aja main coba-coba." sahut Airin.

"Airin sayang sama Ito?" tanya Alessa.

"Sayang sih sayang, Al. Cuma nggak kayak waktu sama cowok-cowok ku yang dulu. Gimana ya jelasinnya."

"Kalau aku sih setuju sama Arina. Maksud ku kalian nggak perlu mendeklarasikan kalau kalian pacaran. Intinya perasaan kalian aja. Biarin hubungan kalian tetep ngalir kayak biasa aja." usul Alessa.

"Hm bener tuh Rin. Iya sih sekarang elu nggak ada perasaan apa-apa sama Ito tapi ntar kalau lu ditinggal Ito nikah baru kerasa malah elu yang nyesel sendiri kan?" timpal Ana.

"Hhh~ gue pikir pikir dulu lagi deh."

"Jangan kelamaan mikir. Keburu si doi kepincut sama yang lain." ucap Arina sambil terkekeh diikuti tawa kecil dari Ana dan Alessa.

"Yang paling adem ayem diantara kita nggak mikirin cowok dari jaman SMA sampe sekarang tuh ya cuma si Alessa doang." celetuk Airin.

Alessa hanya tersenyum simpul. Kemudian merespon, "Kan sebenernya Islam itu enak toh ngelarang kita pacaran. Kita jadi nggak dipusingin dengan sakit hati, patah hati, cinta bertepuk sebelah tangan dan lain-lain. Tahu tahu udah nikah aja. Dan apa yang sudah dijodohkan oleh Allah untuk kita itu in syaa Allah cocok. Jadi nggak perlu pusing-pusing. Makanya Na, kamu nurut aja kata orang tua kamu soal perjodohan itu, toh cowok calon suami kamu itu nggak mau ambil pusing pacaran dan langsung pengen nikah. Airin juga, siapa tahu kamu dipertemukan sama jodoh lewat jalur persahabatan. Kalian nggak perlu merubah status persahabatan kalian jadi pacaran, seperti itu aja. Kalau Ito beneran serius pasti langsung ngomong sama mama papa kamu buat nikahin kamu. Jadi nggak perlu pusing-pusing kan. Serahin semua sama Allah, pilihan Allah pasti yang terbaik." ucap Alessa, sudah mirip ustazah sedang dakwah.

"Kalau gue, Al?" tanya Ana yang namanya nggak disebut Alessa dalam dakwah singkatnya.

"Kalau Ana sama Ali aku lihat udah ada arah mau nikah. Dipercepat aja An. Pacaran udah lama masa' nggak jadi nikah. Kan malu sama Allah, An."

"Duh mak jleb banget, Al. Nampar pooollll." ucap Ana diiringi tawa riuh dari Arina dan Airin.

"Untung di geng kita ada Alessa ya. Kalau nggak, mana ada yang ngingetin kita buat stay di jalan yang lurus, kecuali ortu kita." tukas Arina yang diiringi anggukan dan acungan jempol dari Airin dan Ana. Alessa hanya tersenyum simpul. Alhamdulillah.

***

"Assalamu'alaikum." ucap Alessa ketika masuk rumah, sepulang dari Girls Day Out bersama sahabatnya.

"Wa'alaikumsalam. Tumben cepet banget kumpul-kumpulnya, Al?" tanya ibu Alessa.

"Iya bu. Arina keburu ada acara di rumahnya. Bulan depan dia nikah, in syaa Allah." jawab Alessa sambil duduk di kursi ruang tengah, diikuti ibunya.

"Kok buru-buru nikah?"

"Malah bagus dong bu, biar nggak menimbulkan fitnah."

"Iya. Maksud ibu tuh kan Arina baru aja lulus kuliah, nggak mau nyari nyari kerja dulu gitu? Kan pacarnya juga belum mapan secara finansial to?" ibu Alessa memang kenal dengan semua sahabat anaknya termasuk para pacarnya. Selain Alessa sering bercerita tentang para sahabat dan pacarnya, ketiga sahabatnya itu juga sering datang ke rumah Alessa dengan menggandeng pacar masing-masing.

"Arina nggak nikah sama pacarnya bu. Dia dijodohin sama anaknya temen ayahnya."

"Dijodohin? Memang orang tua Arina nggak tahu kalau Arina udah punya pacar?"

"Tahu, bu. Kenal banget malah. Ya belum jodoh kali bu pacarnya."

"Kasihan ya pacaranya Arina. Siapa itu namanya. Ck. Andri ya kalau nggak salah?"

"Iya bu. Andri namanya. Katanya si Andrinya malah ikhlas Arina dijodohin. Dia bilang dia nggak mau kalau Arina nikah sama dia malah jadiin Arina anak durhaka gitu."

"Berbesar hati banget si Andri. Ibu jadi kasihan sama Andri. Soalnya ibu lihat dia anaknya baik, sopan, nggak neko-neko gitu."

"Iya bu. Mau gimana lagi. Belum jodohnya. Ya udah bu, Alessa ke kamar dulu, mau rebahan."

"Eh, itu tadi ada paketan. Kamu beli apalagi sih, Al?" kata ibunya sambil menunjuk bungkusan paket yang ada di atas meja ketika Alessa akan beranjak dari duduknya.

"Oh udah dateng? Alessa beli jilbab, bu." ucap Alessa sambil mengambil bungkusan paket, lalu membukanya.

"Nah ini bu. Satu buat Alessa satu buat ibu." ucap Alessa sambil memberikan satu jilbab warna maroon kepada ibunya.

"Kamu ini belanja mulu. Kemarin beli gamis sekarang jilbab. Uang mu habis nanti."

"Uang kalau nggak dipake buat beli beli nggak ada nilainya bu." jawab Alessa.

"Ya tapi kan kalau beli beli terus namanya pemborosan."

"Enggak ibu ku sayaaaang. Tenang. Ini yang terakhir kok. Terakhir di bulan ini maksudnya." jawab Alessa sambil cengengesan dan berjalan menuju kamarnya. Ibunya hanya mendengus melihat kelakuan anaknya.

Setelah mencoba jilbab barunya, Alessa merebahkan tubuhnya sambil mengetik sebuah pesan singkat di ponselnya.

Jilbabnya udah sampe kak. Pas banget, bahannya juga bagus.

Tak lama kemudian, satu pesan singkat masuk di ponsel Alessa.

Alhamdulillah kalau cocok. Makasih ya udah dilarisi terus.

Iya kak. Sama-sama. Semoga usahanya makin rame.

Aamiin. Makasih de'

Alessa melihat langit-langit kamarnya, menerawang. Sahabat-sahabatnya tak pernah tahu kalau Alessa diam-diam mencintai seorang cowok sejak duduk di bangku SMA. Ya, sudah lama memang. Namun Alessa sama sekali tak ingin mengutarakan perasaannya kepada siapapun, kecuali kepada Tuhannya. Alessa memang paling religius diantara sahabat-sahabatnya. Dia tidak ingin pacaran karena memang dilarang ajaran agamanya. Tapi, Alessa juga gadis normal pada umumnya yang tak mampu menolak gejolak asmara. Perasaan itu muncul ketika dirinya aktif mengikuti organisasi Rohis ketika duduk di bangku SMA. Bisa dibilang itu cinta pada pandangan pertama. Waktu itu pelantikan anggota baru pengurus Rohis. Karena acara pelantikan, maka kain hijab yang biasanya digunakan untuk sekat antara pengurus laki-laki dan perempuan dibuka. Maka dapatlah masing-masing anggota pengurus melihat wajah satu sama lain. Alessa yang pada pandangan pertamanya menuju ke arah ketua Rohis seketika terpesona. Namun di detik berikutnya, Alessa menunduk sambil menggumam "MasyaAllah". Dan setelah itu Alessa hanya mampu berdoa agar dijodohkan dengan Adam, kakak kelas sekaligus ketua Rohis di SMA nya.

Sudah bertahun-tahun berlalu. Alessa tak pernah lagi bertemu Adam sejak kelulusan Adam dari SMA. Kira-kira dua bulan yang lalu, ketika Alessa hendak pulang dari pengajian rutin di Masjid Kota, dia bertemu kembali dengan Adam. Waktu itu, secara kebetulan, atau memang takdir Tuhan, Alessa memarkir motornya di samping motor Adam. Ketika hendak mengeluarkan motor dari jajaran parkir yang berhimpit, Alessa merasa sangat kewalahan.

"Biar saya bantu mbak." ucap sebuah suara di belakang Alessa.

"Oh iya, makasih ma... " suara Alessa terhenti ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya sekarang.

"Alessa!" sapa Adam yang juga terkejut mengetahui gadis yang akan dibantunya ternyata adalah Alessa, adik kelasnya dulu.

"Kak Adam! Apa kabar?"

"Alhamdulillah de'. Sini biar aku keluarin motor mu dulu, kebetulan parkir samping motor ku."

Alessa hanya mengangguk sambil memberi ruang untuk Adam mengeluarkan motornya dari deretan motor yang berhimpit.

"Sering ngaji disini juga?" tanya Adam setelah berhasil mengeluarkan motor Alessa.

"Iya kak. Kak Adam juga?"

"Iya. Kok aku baru lihat kamu sekarang ya."

"Emang takdirnya gitu, kak. Secara yang ikut kajian juga banyak banget jadi wajarlah kalau kita nggak pernah ketemu."

"Kayaknya nggak enak ngobrol disini. Aku minta nomor HP mu boleh, de'?"

"Boleh kak."

Setelah mendektekan nomor HPnya, Alessa pamit dan berlalu pulang. Sesampainya di rumah, dia mendapati satu pesan singkat masuk.

Ini nomor ku de'. -Adam-

Alessa tak membalas pesan singkat itu. Dia sudah cukup bahagia dengan pertemuannya dengan Adam di pelataran Masjid Kota. Dan seterusnya, Alessa tidak pernah mengirim pesan singkat kecuali hanya untuk membeli dagangan Adam yang ditawarkan Adam lewat whatsapp. Dari situ Alessa tahu kalau Adam mempunyai usaha berdagang busana muslim, baik untuk pria maupun wanita. Adam pun juga tidak pernah mengirim chat kepada Alessa kecuali urusan jual beli. Alessa benar-benar membungkus cintanya dalam doa di setiap sepertiga malam terakhir.

***

Satu bulan kemudian...

"Eh kita foto-foto dulu yuk!" ajak Airin kepada Ana dan Alessa. Mereka bertiga tengah menunggu acara ijab qobul Arina dimulai. Mereka memang diminta Arina untuk datang menyaksikan acara ijab qobulnya.

"Boleh boleh." jawab Alessa. Lalu Airin, Ana dan Alessa berpose sambil menghadap kamera handphone Ana yang memiliki firur kamera paling keren daripada handphone Airin dan Alessa. Setelah puas berpose-pose bersama ketiganya masing-masing sibuk memotret pelaminan dan beberapa sudut tempat dimana pernikahan Arina diselenggarakan.

Alessa yang sudah merasa cukup mengambil gambar pelaminan, mengupload ke whatsapp story nya sambil menambahkan caption 'Bismillah, semoga dilancarkan. Aamiin... ' Tak berselang lama satu pesan singkat masuk di ponsel Alessa. Dari Adam. Alessa membaca pesan singkat dari Adam sambil mengernyitkan dahi. Sedetik kemudian senyum simpul terkembang di wajahnya.

Kamu nikah de'?

Nggak kak. Temen aku itu.

Oh, alhamdulillah. Kirain kamu.

Kok alhamdulillah kak?

Eh, anu maksud aku alhamdulillah temen kamu udah nikah. Semoga sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiin..

Aamiin... Makasih kak.

Sama-sama de'.

Ketika akan memasukkan HP ke dalam tasnya, sekali lagi HP Alessa berdering menandakan ada pesan singkat yang masuk. Kali ini Alessa terbelalak membaca pesan singkat dari Adam.

Sabtu depan in syaa Allah aku ke rumah mu de', sama bapak ibu juga.

Belum sempat Alessa membalas, Adam sudah mengirim pesan lagi.

Mau khitbah kamu.

Tak terasa air mata mengalir dari mata Alessa. Ana dan Airin yang melihat Alessa tiba-tiba menangis langsung panik.

"Lu kenapa, Al?" tanya Airin. Alessa tidak mampu berkata-kata. Dia menyodorkan HP nya yang berisi chat dari Adam. Sama seperti Alessa, Airin terbelalak kemudian menyodorkan HP Alessa kepada Ana yang terlihat bingung melihat ekspresi kedua sahabatnya.

"Lu mau dilamar, Al? Adam ini siapa? Trus elu mau?" Ana memberondong Alessa dengan banyak pertanyaan. Alessa hanya mengangguk.

"Trus Adam ini siapa? Kok elu main mau aja dilamar?" tanya Ana masih penasaran.

"Kakak kelas kita waktu SMA, An." ucap Alessa dengan suara bergetar.

Ana masih mencoba mengingat-ingat kakak kelasnya yang bernama Adam, ketika Airin berseru, "Oh, yang ketua Rohis cakep itu?" tanya Airin kepada Alessa.

Alessa hanya mengangguk. Ana ikut manggut-manggut, sepertinya dia ingat.

"Alhamdulillah, Al. Gue ikut seneng." tukas Airin.

"Iya, Al. Selamat ya." timpal Ana.

"Makasih." ucap Alessa sambil tersenyum tipis dan mengusap air matanya. Mereka bertiga berpelukan.

Hari ini hari yang sangat membahagiakan bagi ketiganya, terutama Alessa. Dia sungguh bersyukur doanya dikabulkan oleh Allah. Cinta yang selalu diutarakannya dalam setiap sepertiga malam terakhir. Sungguh Alessa tak mampu menggambarkan kegembiraannya. Alhamdulillah.

Episodes
1 Prolog
2 Catatan Pra Nikah (part Ana)
3 Catatan Pra Nikah (part Arina)
4 Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5 Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6 Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7 Malam Pertama? (part 1)
8 Malam Pertama? (part 2)
9 Pacaran vs Khitbah (part 1)
10 Pacaran vs Khitbah (part 2)
11 Pasif atau Agresif?
12 Best Friend Forever
13 Cerai Muda
14 Album Biru
15 For the First Time
16 Dinner (part 1)
17 Dinner (part 2)
18 Rumpik
19 Putih Abu-Abu (part 1)
20 Putih Abu-Abu (part 2)
21 Undangan (part 1)
22 Undangan (part 2)
23 Misaki
24 Cinta Merekah
25 Hari Bahagia Alessa
26 Mantan
27 Putih Abu-Abu (part 3)
28 Rumpik (lagi)
29 Skripsweet~
30 Ibadah Paling Enak
31 Rindu Berat
32 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34 Doa dalam Hujan
35 Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36 Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37 Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38 Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39 Sahabat Sehidup Sesurga
40 Ijazah lalu Ijab Sah?
41 Akhirnya Halal
42 Sahabat Jadi Suami
43 Leave or Stay?
44 Awal Mimpi Buruk
45 INAD?
46 Dua Garis Lagi?
47 Pejuang Garis Dua
48 Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49 Ternyata...
50 Salah Jodoh?
51 Memulai Lagi
52 Tanda-tanda
53 Lagi-lagi Rumpik
54 Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55 Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56 Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57 Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58 Epilog
59 Terimakasih ^^
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Prolog
2
Catatan Pra Nikah (part Ana)
3
Catatan Pra Nikah (part Arina)
4
Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5
Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6
Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7
Malam Pertama? (part 1)
8
Malam Pertama? (part 2)
9
Pacaran vs Khitbah (part 1)
10
Pacaran vs Khitbah (part 2)
11
Pasif atau Agresif?
12
Best Friend Forever
13
Cerai Muda
14
Album Biru
15
For the First Time
16
Dinner (part 1)
17
Dinner (part 2)
18
Rumpik
19
Putih Abu-Abu (part 1)
20
Putih Abu-Abu (part 2)
21
Undangan (part 1)
22
Undangan (part 2)
23
Misaki
24
Cinta Merekah
25
Hari Bahagia Alessa
26
Mantan
27
Putih Abu-Abu (part 3)
28
Rumpik (lagi)
29
Skripsweet~
30
Ibadah Paling Enak
31
Rindu Berat
32
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34
Doa dalam Hujan
35
Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36
Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37
Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38
Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39
Sahabat Sehidup Sesurga
40
Ijazah lalu Ijab Sah?
41
Akhirnya Halal
42
Sahabat Jadi Suami
43
Leave or Stay?
44
Awal Mimpi Buruk
45
INAD?
46
Dua Garis Lagi?
47
Pejuang Garis Dua
48
Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49
Ternyata...
50
Salah Jodoh?
51
Memulai Lagi
52
Tanda-tanda
53
Lagi-lagi Rumpik
54
Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55
Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56
Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57
Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58
Epilog
59
Terimakasih ^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!