Juli 2005
Pukul 06.30 halte bus sudah penuh sesak. Wajar hari ini hari pertama tahun ajaran baru. Tak sedikit remaja berseragam putih biru dengan dandanan nyeleneh ala MOS (Masa Orientasi Siswa) berjajar menunggu kedatangan bus yang akan membawa mereka menuju sekolah lanjutan impian mereka. Terlihat satu sosok gadis remaja yang menyendiri, berdiri di paling ujung dari halte. Ketika gadis remaja yang lain saling menggerombol dan ngobrol, dia asyik dengan perhatian penuh melihat ke arah dimana bus akan muncul.
Ana Khoirunnisa, gadis remaja yang hanya sendiri menanti bus yang akan membawanya ke SMA impiannya. Tak ada teman ngobrol selama di halte, karena memang tak ada satu gadis pun yang dia kenal. Namun, Ana tak merasa kesepian. Dia sudah biasa sendiri kemana-mana. Bus yang dinanti sudah nampak, Ana bersiap naik. Tampak sekali bus yang akan dinaikinya itu sudah penuh, tak sedikit siswa baru dengan dandanan nyeleneh ala MOS bejubel di dalam bus, bahkan ada yang berdiri di pintu bus.
Ana tetap memutuskan naik. Dia tidak bisa menunggu bus selanjutnya karena dia takut terlambat. Sebenarnya dia tidak masalah terlambat, tapi hari ini hari pertama MOS dan dia tidak ingin terlihat menonjol dengan terlambat. Jadilah dia berdiri di depan pintu bus bersama beberapa gadis yang menunggu di halte yang sama. Beruntung jarak tempuh antara rumah Ana dan SMA barunya hanya 15 menit.
Setibanya di sekolah, Ana langsung berjalan menuju ruang kelasnya di paling ujung. Kelas Xi. Ana berdiri di depan pintu kelas sejenak, mencari bangku yang sekiranya masih kosong. Namun tak ada. Semua bangku sudah terisi. Kalaupun tak ada orangnya, ada tas yang tergeletak begitu saja di atas meja yang menandakan bangku itu telah berpenghuni. Ana masuk kelas sambil berjalan menyusuri tiap bangku. Hingga berhentilah dia di salah satu bangku.
"Gue boleh duduk sini?" tanya Ana pada gadis yang sedang duduk diam memperhatikan suasana kelasnya.
"Oh. Boleh. Boleh." jawabnya ramah.
"Gue Airin Eka Saputri. Panggil Airin aja." ucap gadis itu sambil mengulurkan tangan kepada Ana.
"Ana. Ana khoirunnisa." jawab Ana singkat sambil menyambut uluran tangan Airin.
"Elu dari SMP mana?" tanya Airin.
"SMP kota sebelah."
"SMP Kota Sebelah itu mana ya? Gue baru denger." tanya Airin lagi dengan polosnya.
"SMP Bina Bangsa." jawab Ana sambil nyengir.
"Oh maksudnya dari kota sebelah? Ngomong dong. Gue kirain nama SMP nya SMP Kota Sebelah." tukas Airin ketika tahu kalau SMP tempat Ana berasal lumayan terkenal dan masih berada satu kota dengan rumahnya.
"Kalau elu?" tanya Ana kepada Airin.
"Gue dari SMP Negeri 1 kota sebelah juga." jawab Airin sambil nyengir.
"Lah searah dong kita kalau berangkat sama pulang?"
"Yup. Naik apa lu?"
"Bus. Gilak penuh banget tadi."
"Agak pagian sepi. Elu naik dari halte mana?"
"Halte 057 yang deket rumah makan padang Salero Minang."
"Rumah lu deket situ?"
"Iya."
"Besok lu sampe halte jam 06.15, dijamin masih dapet tempat duduk. Soalnya bus yang gue naikin tadi sampe halte lu jam segitu dan yang naik cuma seekor."
"Jiah seekor. Lagian pagi amat gue kudu sampe halte jam segitu."
"Demi bisa duduk kan. Ya kalau nggak mau, ya nggak apa-apa kayak tadi lagi aja. Seru kan bejubel gitu? Hehe."
"Iya sih nggak enak juga berdiri di depan pintu bus. Keplenet-plenet pulak."
"Nah kan. Makanya pagian."
"Ya deh besok coba pagian."
Teeet...teeet...teeeeeet...
"Duh... Kita ntar diapain ya?" tanya Airin gugup.
"Cuma dengerin pidato pengenalan sekolah paling. Santai aja."
"Masa' iya sih. Biasanya MOS kan ada gojlokan-gojlokan gitu."
"Alah. Paling cuma dibentak-bentak doang."
"Nggak takut gitu?"
"Ngapain? Takut sama Allah, Rin."
"Bener juga, lu."
Tak berselang lama, seorang cowok masuk ke kelas mereka diikuti dua cewek. Si cowok berperawakan tinggi, tegap, wajahnya terlihat tegas, dan yang paling pokok...cakep. Dua cewek yang menemaninya pun terlihat manis dan cantik.
"Baik adik-adik semua. Saya Rangga Adiputra, dari kelas XI IPA 1, ketua sie Olahraga dan Kesenian, OSIS SMA Harapan Bangsa. Silakan berbaris di luar kelas. Kita menuju aula untuk acara pengenalan sekolah." ujar cowok cakep dengan suara bassnya yang memenuhi ruang kelas Xi.
"Adik-adik? Emang kita anak TK?" bisik Ana kepada Airin.
"Yang di belakang. Ada pertanyaan?" tanya Rangga yang melihat Ana sedang berbisik-bisik dengan Airin. Seisi kelas menengok ke belakang. Merasa dia yang ditanya, Ana hanya menjawab dengan santai.
"Boleh ke toilet bentar, Kak? Kebelet."
Airin yang mendengar Ana menjawab dengan santainya sedikit melongo.
"Ni anak beneran nggak takut sama senior." batin Airin.
"Cepat! Yang lain cepat keluar dan berbaris!" kali ini Rangga sedikit membentak.
Ana dengan santainya melenggang menuju pintu ruang kelas. Sebelum keluar, dia sempat bertanya kepada salah seorang senior cewek yang berdiri di depan pintu.
"Toilet dimana ya, Kak?"
Yang ditanya hanya menunjuk samping kelas. Ana melongok dan menemukan toilet nyempil di samping kelasnya.
"Makasih, Kak." ucap Ana sambil berlalu menuju toilet.
Tak butuh waktu lama, Ana sudah bergabung di barisan di luar ruang kelasnya. Dia tak sadar, Rangga tengah memperhatikannya. Rangga tahu kalau sebenarnya Ana tidak ingin ke toilet. Tapi, Rangga cukup terkesan dengan respon Ana yang cepat dan tidak takut-takut ketika menjawabnya di kelas tadi.
"Ehem. Udaaah acara gebet-gebetnya. Kerja dulu." Reina, salah satu senior cewek yang ikut masuk kelas Xi, mencoba menyadarkan Rangga dari lamunannya.
"Sok tahu lu."
"Emang bener kan? Tipe lu banget tuh."
"Sok tahu lagi, lu pulang jalan kaki."
Reina dan Rangga memang selalu berangkat ke sekolah dan pulang bersama. Mereka sahabat sejak kecil. Meski Reina sudah punya cowok, tapi Reina selalu berangkat dan pulang bareng Rangga. Maklum, hubungan Reina dan cowoknya belum diketahui oleh orang tuanya.
"Serem." ucap Reina sambil berlalu.
"Saya Reina Maheswari. Kelas XI IPA 3. Anggota sie Kesenian dan Olahraga, OSIS SMA Harapan Bangsa. Nah ini adik-adik udah lengkap kan, udah diabsen sama Kak Rosita tadi kan. Yuk sekarang kita ke aula." ajak Reina dengan image riangnya.
Sepanjang perjalanan menuju aula, Airin dan Ana ngobrol ringan, membicarakan ketiga seniornya.
"Gilak lu, An. Kok bisa sih elu santai banget ngejawab pertanyaan Kak Rangga tadi?"
"Terus gue kudu jawab gimana? Lagian dia sebenernya tahu gue ngomong apa."
"Hah?! Masa'? Kok elu tahu?"
"Feeling aja."
"Yeeee. Itu mah sok tahu. Elu kan pelan banget tadi ngomongnya, mana denger dia, secara kita duduk paling belakang, dia di depan."
Ana hanya mengangkat bahunya.
"Cakep ya Kak Rangga?"
"Biasa aja."
"Heh! Elu nggak normal apa? Cakep kayak gitu dibilang biasa. Wajahnya gue perhatiin mirip-mirip Vino G Bastian."
"Ngayal lu! Cakepan Vino jauuuuuh."
"Ih mirip tauk!"
"Terserah lu deh!"
Dan tak terasa rombongan kelas Xi sudah tiba di aula.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments