Album Biru

Ku buka album biru...

Penuh debu dan usang...

(Bacanya pasti pake nada 😅Oke lanjut ke cerita 😁)

Sabtu kala itu dihabiskan Ana hanya dengan membaca Sherlock Holmes. Karena Sabtu sore dia harus memberikan les privat kepada salah satu muridnya, dia tidak bertemu dengan Ali. Bahkan ajakan Arina untuk hang out pun ditolaknya. Dia benar-benar tidak nyaman kalau harus hang out ketika ada jadwal les sorenya. Tidak bisa leluasa menurutnya.

Sudah satu bab dibacanya, dan itu menguras tenaga mata dan pikirannya. Ditutupnya buku bacaannya, dan kemudian Ana beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur membuat teh manis hangat untuk teman rehatnya dari membaca buku. Satu cangkir teh manis hangat dibawanya ke kamar, duduk di sofa baca, Ana menyeruput teh hangatnya.

"Ahh~"

Matanya lalu tertuju pada album biru besar yang bertengger di rak buku. Ana berdiri dan kemudian mengambilnya.

"Hhh~ udah lama banget tapi rasanya baru kemarin." gumamnya sambil membuka album biru itu lembar demi lembar, perlahan, seakan setiap lembarnya menghantarkannya kembali ke masa lalu. Album yang berisi kenangan jaman putih abu-abu bersama ketiga sahabatnya. Geng paling unik di sekolah karena empat orang anggotanya memiliki ciri khasnya masing-masing. Ana yang girly sporty, Airin yang tomboy dan suka ngebanyol, Arina yang dewasa dan keibuan, Alessa yang super alim. Mereka dijuluki geng A4 oleh teman-temannya.

Ana tersenyum ketika membuka lembaran album yang memuat foto mereka berempat di lapangan berumput yang biasa digunakan untuk upacara bendera. Karena waktu kelas X, kelas mereka dekat dengan lapangan, mereka sering nongkrong disana waktu istirahat. Sekedar ghibah atau cuci mata menikmati kakak kelas yang sering main basket di lapangan basket sebelah lapangan berumput.

Di dalam foto, mereka tengah duduk berempat sambil tersenyum ke arah kamera. Jangan salah, mereka harus berusaha keras untuk berselfie dengan digicam, karena jaman dulu belum ada smartphone seperti sekarang ini. Dan dulu yang sering membawa digicam ke sekolah adalah Arina, apalagi kalau ada acara classmeeting, Arina selalu membawa digicamnya tiap hari untuk mengabadikan keseruan classmeeting di sekolah.

Ana ingat foto itu diambil ketika classmeeting berlangsung. Classmeeting pertama yang mereka nikmati berempat. Itulah mengapa mereka mengabadikan momen itu dengan berfoto ria. Pertandingan yang sedang diadakan hari itu adalah basket dan futsal. Ana, Arina, Airin, dan Alessa sudah stand by di pojok lapangan berumput, mencari spot yang strategis untuk dapat memandang kakak kelas yang cakepnya hiperbola tanding basket dan menonton pertandingan futsal kelasnya melawan kelas sebelah. Saat itu, mereka berempat masih jomblo dan menikmati masa-masa menambah vitamin A dengan leluasa.

"Udah hampir sepuluh tahun. Nggak kerasa." gumam Ana, kemudian membalik lembar album selanjutnya. Ada foto Ana sedang duduk di teras kelas bersama dengan cowok disampingnya. Keduanya tersenyum sumringah dalam foto.

"Hhh~ Adi... Apa kabarnya sekarang?" gumam Ana lagi, sambil menatap lekat foto cowok yang sedang duduk di sampingnya. Dia ingat dulu dia dan Adi sangat dekat, saking dekatnya mereka sampai dikira pacaran walaupun pada akhirnya mereka jadian juga pas kelas XI dan putus ketika ujian nasional usai. Mereka putus baik-baik, karena setelah putus, mereka masih sering tertangkap sedang ngobrol berdua. Entah. Ana juga lupa kenapa dulu mereka putus. Ana sering sekali terjerat cinta dengan sahabatnya. Bahkan dengan Ali pun awalnya mereka sahabatan, dan lambat laun mereka saling mengungkapkan perasaan mereka lebih dari sekedar sahabat.

Ketika Ana sedang tenggelam dalam nostalgi putih abu-abunya, ponselnya berdering. Ali menelepon.

"Assalamu'alaikum." Ana menjawab telepon Ali.

"Wa'alaikumsalam. Lagi apa, An?"

"Nggak ngapa-ngapain sih. Abis baca Sherlock tadi. Kamu?" jawab Ana sambil menutup album birunya dan meletakkan kembali ke dalam rak.

"Nggak ngapa-ngapain juga. Nunggu pembeli nggak dateng-dateng. Tumben. Biasanya weekend gini ramai." Oh ya, Ali ini sudah memulai usaha konter hpnya sejak lulus kuliah.

"Sabar ya. Namanya juga jualan, kadang rame banget, kadang rame aja."

"Nggak pernah sepi gitu?"

"Doa ku sih enggak, Al. Kalaupun sepi, berarti itu rejeki kamu."

"Kok rejeki, An? Kan sepi nggak ada yang beli?"

"Rejeki juga itu, Al. Tandanya, kamu disuruh banyak-banyak istirahat. Waktu luang kan juga rejeki."

"Iya deh iya. Kamu ngajar jam berapa?"

"Jam empat sih. Tapi pengen aku majuin aja kalau bisa, biar nggak kemaleman pulangnya."

"Cuma satu sesi?"

"Iya. Ganti hari Rabu kemarin dia sakit."

"Oh... Rajin banget murid mu."

"He'em. Heran juga aku kenapa dia rajin. Cowok padahal, selengekan pula orangnya."

"Suka sama kamu kali, An."

"Hush. Masih SMP, Al."

"Kalik dia olydopus complex. Ahahaha."

"Kamu cemburu sama anak SMP? Ahahahaha."

"Widiiiihh... Enggak lah. Ngaco. Cuma godain kamu aja, kali aja kepancing."

"Emang ikan?"

"Bukan. Putri duyung. Ahahahaha."

"Dasar."

Diam sejenak...

"An, aku kangen."

"Kangen siapa?"

"Kamu."

"Sama."

"Apa?"

"Kangen juga."

"Sama?"

"Kamu."

"Bo'ong."

"Enggaaa..."

"Bener? Bukan kangen sama yang lain?"

"Yang lain siapa, Al?"

"Mantan mungkin."

"Mantan yang mana? Perasaan dari awal-awal kuliah sampe lulus, aku cuma pacaran sama kamu."

"SMA. Punya kan?"

Deg... Begitulah. Entah. Ana selalu merasa Ali mempunyai six sense, karena tebakannya kalau lagi jauh selalu tepat. Tapi ketika Ana bertanya apa Ali mempunyai semacam six sense, Ali hanya menjawab, "Enggak. Firasat aja." Firasat kok bener terus.

"An?"

"Eh, iya?"

"Jadi, bener kan aku. Kamu kangennya nggak sama aku."

"Eh? Aku kangen kamu, Ali."

"Tuh, barusan ngelamun pas aku bilang SMA."

"Kamu nggak pasang kamera pengintai di kamar ku kan?" tanya Ana sambil celingukan, kalau-kalau dugaannya benar.

"Nggak. Cuma alat sadap aja." jawab Ali santai.

"Serius?"

"Ahahahahaha. Becanda, An."

"Hiiih."

"Jadi, lagi kangen sama siapa?"

"Tauk ah!"

"Mantan pacar pas SMA? Sama aku gantengan mana?" Ali memang belum pernah mendengar cerita Ana tentang masa-masa SMAnya. Dia sedikit penasaran.

"Gantengan Keanu Reeves."

"Ahahahahahaha. Kok ngambek sih? Harusnya aku nih yang ngambek, kamu malah kangen sama cowok lain."

"Tahu darimana coba? Kamu cenayang ya, ngaku!"

"Enggak, An. Firasat aja."

"Bo'ong. Atau bener kamu pasang alat sadap."

"Kapan coba aku masuk kamar mu. Aneh-aneh aja."

"Kalik masukin dalem tas ku pas terakhir kita ketemu."

"Kamu kebanyakan baca novel detektif. Mana kepikiran aku kayak gitu, An. Ada-ada aja kamu ini."

"Abis kamu selalu pas kalau nebak. Kan curiga."

"Aku sendiri juga nggak tahu, An. Kayak gini juga cuma sama kamu aja. Sama cewek lain nggak pernah."

"Masa'?"

"Beneran."

"Kok bisa tahu aku lagi kangen mantan?"

"Nanya lagi. Abis ngapain emang kok kangen mantan?"

"Abis buka-buku album foto jaman SMA, ada foto dia. Baru flashback, kamu telepon."

"Jadi, aku ganggu nih?"

"Banget."

"Oke."

"Eh, becandaaaa!"

"Tahu kok."

"Hmm~ dasar!"

Hening sejenak...

"Kamu, nggak marah, Al?"

"Kenapa?"

"Aku mikirin cowok lain."

"Palingan ntar malem kamu udah lupa sama mantan mu itu."

"Kok bisa?"

"Karena ntar malem kamu kangennya sama aku."

"Pede!"

"Oh, jadi enggak nih?"

"Mmm... Gimana yaaa~"

"Ya udah. Aku sayang kamu. Assalamu'alaikum."

"Eh? Wa'alaikumsalam."

Ana termangu, menatap kosong ke arah handphone yang masih dipegangnya. Tak lama kemudian, handphonenya berdering. Sebuah chat.

[Ali] Ada yang beli tadi. Hehe.

[Ana] Kirain marah.

[Ali] Dikit.

[Ana] Maaf.

[Ali] Nggak perlu. Kamu nggak salah.

Dan mereka terus saling mengirim pesan hingga malam tiba. Album biru tetap terdiam, menunggu hingga yang empunya ingat kembali untuk menelusuri ruang nostalgi masa lalu. Benar saja, rindunya dengan Adi yang sempat sedikit mengisi hati Ana telah sirna ketika malam mulai merayap. I miss you, Al.

Episodes
1 Prolog
2 Catatan Pra Nikah (part Ana)
3 Catatan Pra Nikah (part Arina)
4 Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5 Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6 Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7 Malam Pertama? (part 1)
8 Malam Pertama? (part 2)
9 Pacaran vs Khitbah (part 1)
10 Pacaran vs Khitbah (part 2)
11 Pasif atau Agresif?
12 Best Friend Forever
13 Cerai Muda
14 Album Biru
15 For the First Time
16 Dinner (part 1)
17 Dinner (part 2)
18 Rumpik
19 Putih Abu-Abu (part 1)
20 Putih Abu-Abu (part 2)
21 Undangan (part 1)
22 Undangan (part 2)
23 Misaki
24 Cinta Merekah
25 Hari Bahagia Alessa
26 Mantan
27 Putih Abu-Abu (part 3)
28 Rumpik (lagi)
29 Skripsweet~
30 Ibadah Paling Enak
31 Rindu Berat
32 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34 Doa dalam Hujan
35 Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36 Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37 Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38 Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39 Sahabat Sehidup Sesurga
40 Ijazah lalu Ijab Sah?
41 Akhirnya Halal
42 Sahabat Jadi Suami
43 Leave or Stay?
44 Awal Mimpi Buruk
45 INAD?
46 Dua Garis Lagi?
47 Pejuang Garis Dua
48 Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49 Ternyata...
50 Salah Jodoh?
51 Memulai Lagi
52 Tanda-tanda
53 Lagi-lagi Rumpik
54 Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55 Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56 Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57 Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58 Epilog
59 Terimakasih ^^
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Prolog
2
Catatan Pra Nikah (part Ana)
3
Catatan Pra Nikah (part Arina)
4
Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5
Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6
Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7
Malam Pertama? (part 1)
8
Malam Pertama? (part 2)
9
Pacaran vs Khitbah (part 1)
10
Pacaran vs Khitbah (part 2)
11
Pasif atau Agresif?
12
Best Friend Forever
13
Cerai Muda
14
Album Biru
15
For the First Time
16
Dinner (part 1)
17
Dinner (part 2)
18
Rumpik
19
Putih Abu-Abu (part 1)
20
Putih Abu-Abu (part 2)
21
Undangan (part 1)
22
Undangan (part 2)
23
Misaki
24
Cinta Merekah
25
Hari Bahagia Alessa
26
Mantan
27
Putih Abu-Abu (part 3)
28
Rumpik (lagi)
29
Skripsweet~
30
Ibadah Paling Enak
31
Rindu Berat
32
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34
Doa dalam Hujan
35
Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36
Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37
Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38
Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39
Sahabat Sehidup Sesurga
40
Ijazah lalu Ijab Sah?
41
Akhirnya Halal
42
Sahabat Jadi Suami
43
Leave or Stay?
44
Awal Mimpi Buruk
45
INAD?
46
Dua Garis Lagi?
47
Pejuang Garis Dua
48
Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49
Ternyata...
50
Salah Jodoh?
51
Memulai Lagi
52
Tanda-tanda
53
Lagi-lagi Rumpik
54
Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55
Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56
Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57
Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58
Epilog
59
Terimakasih ^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!