Maret 2016
Arina menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajah yang full make up itu tak terlihat bahagia sama sekali di hari yang membahagiakan, seharusnya. Tapi tidak bagi Arina. Bukan pernikahan yang seperti ini yang ia impikan selama ini. Bukan menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai dan tidak mencintainya. Atau mungkin belum. Banyak yang bilang cinta ada karena biasa. Mungkin nantinya cinta akan tumbuh diantara mereka. Tapi untuk saat ini, Arina benar-benar tidak ingin menikah!
Tok...tok...tok...
Pintu kamarnya dibuka. Mamanya tersenyum, meski senyumnya lebih terlihat senyum iba bukan senyum bahagia.
"Sudah selesai mbak?" tanya mama Arina kepada perias yang merias Arina.
"Sebentar lagi bu, tinggal pasang mahkota ini aja." jawab perias sambil tetap fokus memasang mahkota di atas hijab yang dikenakan Arina.
"Sudah mbak. Dah cantik. Senyum dong mbak. Nervous ya mau nikah?" goda mbak perias kepada Arina. Arina hanya tersenyum tipis menanggapi godaan si perias pengantin.
"Nah gitu dong mbak. Kan jadi tambah cantik. Mari mbak, saya bantu." ucap perias pengantin sambil memegangkan ekor kebaya yang dikenakan Arina.
Arina tampil sangat menawan hari itu. Baju kebaya warna silver dengan aksen ekor yang tak begitu panjang dipadukan dengan kain batik sebagai bawahan menambah kesan anggun pada Arina. Meski terlihat begitu anggun dan menawan, gurat mendung di wajah Arina masih terlihat. Mencoba tersenyum untuk kedua orangtuanya pun menjadi hal yang sangat berat ia lakukan saat itu.
Arina sudah didudukkan di samping Leon, calon mempelai pria. Keduanya sudah duduk menghadap penghulu disaksikan para tamu undangan yang khusus diundang untuk menyaksikan ijab qobulnya. Terlihat ketiga sahabatnya, Ana, Airin, dan Alessa juga ikut menyaksikan acara ijab qobul yang akan segera dilaksanakan.
"Baik, sudah siap? Sudah bisa dimulai?" tanya penghulu kepada Leon dan ayah Arina yang duduk di dekat Arina. Leon dan ayah Arina mengangguk. Arina sungguh berharap Andri akan datang dan membatalkan pernikahannya dengan Leon, seperti di film-film. Namun, Arina sadar Andri bukan pria seperti itu. Bukan karena dia tak mencintai Arina, tapi rasa hormatnya kepada kedua orangtua Arina lah yang membuatnya harus mengikhlaskan Arina menikah dengan pria lain. Dan hey, ini bukan film! Ini kenyataan. Kenyataan hidup Arina yang menurutnya sangat menyedihkan.
Setelah membaca berbagai doa, penghulu menjabat tangan Leon.
"Saya nikahkan Sekar Ayu Arina binti Hendarto dengan Leon Arkatama bin Suhadi Hendratmo dengan mas kawin uang tunai senilai lima juta rupiah dibayar tunai." ucap pak penghulu.
"Saya terima nikahnya Sekar Ayu Arina binti Hendarto dengan mas kawin tersebut dibayat tunai." Leon mengucap ijab qobul dengan lancar.
"Sah?"
"Saaaah!!"
"Alhamdulillah..."
Tak kuasa air mata Arina mengalir. Bukan tangis bahagia, tapi tangis kesedihan yang selama ini dia tahan. Sungguh dirinya selalu berdoa agar pernikahannya dengan Leon batal. Namun, Tuhan punya rencana lain dibalik doa Arina yang tak terkabul.
Setelah berdoa, pak penghulu meminta Leon dan Arina memasangkan cincin di jari masing-masing. Cincin sudah terpasang, giliran Arina mencium tangan Leon. Sungguh berat rasanya. Air mata masih terus mengalir di pipi Arina. Tanpa dia duga, Leon mencium keningnya. Arina cukup terkejut. Dan kejutan itu sukses membuat air matanya berhenti. Hangat.
***
Drrtt... Drrtt...
Sudah sedari tadi hp Arina tidak berhenti bergetar. Riuh grup whatsapp yang berisi tiga sahabatnya itu, membagikan foto-foto mereka di pesta pernikahan Arina tadi siang. Arina hanya menyimak ocehan para sahabatnya itu, yang sebenernya hanya didominasi perdebatan antara Ana dan Airin.
[Ana] Sekali lagi selamat ya, Na. Semoga lu cepet jatuh cinta sama mas Leon yang aduhai itu.
[Airin] Elu, An. Mas Leon yang aduhai terus dari tadi. Inget! Ada Ali yang aduhai tuh.
[Ana] Kalau Ali udah keseringan lihat, jadi udah nggak aduhai lagi. Wkwkwkwkwk.
[Airin] Dasar! Gue bilangin Ali, lu.
[Alessa] Barakallah sekali lagi buat Arina. Semoga selalu bahagia. Aamiin...
[Airin] Nah kasih doa tuh yang bener kayak Alessa gini, An.
[Ana] Lah kan doa gue juga bener. Semoga cepet jatuh cinta sama Mas Leon yang aduhai. Coba bagian mana yang salah?
[Airin] Bagian aduhainya yang salah.
[Ana] Loh itu fakta lho, Rin. Mas Leon itu cakepnya udah kayak Toma Ikuta, badannya juga hmmm gitu. Gimana nggak aduhai?
[Airin] Emang susah ngomong sama lu, An.
[Ana] Wkwkwkwkwk.
[Ana] Sayang ya foto yang ini nggak ada calon suaminya Alessa. Ooppss.. ahahaha...
Tulis Ana sambil mengirim foto mereka berempat beserta pasangan mereka; Ana dan Ali, Airin dan Ito, Arina dan Leon, dan Alessa dengan dirinya sendiri.
[Alessa] Sekalian nunggu sah aja, An.
[Airin] Eciieee yang udah di khitbah.
[Alessa] In syaa Allah.. Baru mau, Rin. Jadi belum.
[Arina] Alessa di khitbah siapa?
[Ana] Nah ini pengantin barunya keluar.
[Airin] Adam, Na. Ketua Rohis ganteng ituu...
[Arina] Eh beneran? Alhamdulillah.
[Ana] Abis ini giliran Alessa nih.
[Alessa] Doanya aja ya, kawaaan.
[Airin] Selalu kok, Al. Eh, Na, elu ngapain pegang hp? Ini kan malam pertama lu?
[Ana] Iya ih. Dari tadi diem gue kira lagi bermantap-mantap sama Mas Leon.
[Airin] Bwahahahaha~ bahasa lu, An. Bermantap-mantap. Ahahahaha.
[Ana] Kan biar mantap. Wkwkwkwkwk.
[Ana] Udah bubar bubar. Biar Arina bisa fokus bermantap-mantap sama Mas Leon.
[Alessa] Jangan lupa baca doa dulu, Na. Sesuai sunnah.
[Airin] Iya, Na. Doa dulu. Jangan asal tubruk kayak Ana.
[Ana] Hush!
Arina hanya tersenyum membaca kicauan sahabat-sahabatnya di grup whatsapp. Senyum yang tak bisa diartikan. Malam pertama?
***
Sejak pesta pernikahan di rumah Arina usai, Leon langsung memboyong Arina ke rumahnya, rumah milik Leon sendiri. Dia merasa tidak enak jika harus menginap di rumah mertuanya selama beberapa hari, jadi Leon meminta ijin kepada orangtua Arina untuk langsung membawa putri satu-satunya itu ke rumahnya. Ayah dan mama Arina sebenarnya masih ingin bersama Arina, namun mereka menyadari bahwa putrinya itu kini sudah bukan tanggung jawab mereka lagi, sehingga dengan berat hati orangtua Arina melepaskan putrinya begitu pesta pernikahan usai.
Dan disinilah mereka. Di kamar tidur yang cukup luas dengan satu king size bed, satu sofa panjang di sisi jendela kanan, satu kamar mandi dalam di sebelah kiri tempat tidur, satu almari super besar di sebelah sofa dan sebuah cermin 180cm yang berdiri di sebelah almari. Arina duduk di tepi ranjang setelah selesai membersihkan diri dari segala macam make up yang menempel di wajahnya. Menscroll whatsapp grup yang berisi chat para sahabatnya. Dia hanya menyimak, sesekali tersenyum simpul membaca debat antara Ana dan Airin. Arina meletakkan ponselnya ketika obrolan di grup whatsapp berakhir. Dilihatnya Leon yang juga sibuk dengan ponselnya. Sudah berjam-jam yang lalu mereka berdua di dalam kamar, tapi tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Dingin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments