Leon dan Arina sudah beberapa menit lalu melaju menyisir jalanan mencari tempat makan yang cocok untuk merayakan hari pertama mereka ngobrol. Di dalam mobil, sesekali mereka saling melempar pertanyaan yang selama ini menjadi ganjalan di hati mereka untuk saling memulai obrolan.
"Ini kita mau makan apa?" tanya Leon.
"Terserah sih, Mas. Aku apa aja doyan, asal nggak junkfood aja."
"Biasa cewek suka junkfood."
"Aku beda dong."
"Iya sih, emang beda."
"Dimananya?" tanya Arina menyelidik.
"Yaa...kalau cewek-cewek lain itu, pengen deket sama aku, bahkan banyak yang pengen aku nikahin. Tapi kamu? Butuh waktu tiga minggu buat bisa ngobrol."
"Abis kamu kalau diem, serem Mas."
"Hantu kalik serem."
"Sereman kamu daripada hantu."
"Emang pernah lihat?"
"Pernah."
"Serius?" tanya Leon kaget.
"Tapi bo'ong." jawab Arina sambil nyengir.
Arina dan Leon perlahan sudah bisa saling membuka diri. Bahkan Arina sudah perlahan membuka hatinya untuk Leon. Meski masih sangat sulit melupakan Andri, tapi mau tak mau Arina memang harus menerima kenyataan bahwa sekarang dirinya telah menjadi isteri pria lain. Arina berusaha sebaik mungkin, demi bakti kepada orang tuanya, pada awalnya. Akhirnya? Kita simak sama-sama saja.
"Udah bisa becanda ya sekarang?" goda Leon.
"Kamu udah nggak serem soalnya, Mas. Hehehe."
"Maklum lah, Rin. Aku nggak pernah pdkt sama cewek, jadi nggak tahu musti ngomongin apa."
"Iya deh, yang seringnya di-pdkt-in. Duh, kasian dong Mas pacar mu dulu harus pdkt duluan."
"Sayangnya, aku nggak pernah punya pacar. Hehe."
"Masa'?" tanya Arina penuh selidik.
"Serius. Tanya Andrew aja kalau nggak percaya."
Arina menatap Leon dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Kagum, heran, bingung jadi satu. Cowok seganteng Leon tidak pernah pacaran! Leon dapat melihat dari ekor matanya kalau Arina menatapnya tanpa henti.
"Nggak percaya?"
"Cowok seganteng kamu nggak pernah pacaran?"
"Aku ini bisa dibilang workaholic, Rin. Libur ngantor pun aku gunain buat hal-hal kantor juga kayak ngecek dokumen, email, ya macem-macem gitu lah."
"Nggak pernah gitu, sekaliii aja kegoda sama cewek?"
"Enggak. Andrew tuh sampe sering banget ngajakin aku ke grup kencan gitu pas di Jepang dulu. Katanya gemes liat aku kerja mulu. Tapi aku nggak mau."
"Kenapa nggak mau, Mas? Cewek Jepang kan cantik-cantik."
"Nggak tahu. Males aja sih. Lagian cewek Indonesia lebih cantik menurut ku."
"Hmmm~"
"Cowok mu banyak mesti ya?"
"Hah?" Arina mendadak merona.
"Iya kan?"
"Cowok ya cuma satu Mas. Aku bukan playgirl."
"Ahahaha. Maksud ku, mesti banyak cowok yang suka sama kamu."
"Nggak tahu sih, Mas banyak atau nggak. Yang jelas nembak itu ada lima orang pas kuliah."
"Diterima semua tuh?"
"Cuma satu."
"Beruntung banget tuh cowok diterima."
"Tapi terus putus."
"Kenapa?"
Arina diam. Pikirannya melayang di hari mama dan dirinya memberitahu Andri soal perjodohannya dengan Leon.
"Rin?"
"Eh, iya, Mas?"
"Kok jadi sedih? Putusnya gara-gara aku?" Arina hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Maaf ya. Aku nggak bisa nolak perjodohan ini, karena aku nggak punga alesan buat nolak. Tapi kenapa kamu nggak nolak kalau kamu udah punya cowok?"
"Cowok ku yang nyuruh aku nerima perjodohan ini, Mas. Dia nggak enak sama ayah dan mama, karena selama ini ayah dan mama udah baik ke dia. Dia juga nggak mau aku jadi anak durhaka."
"Berjiwa besar banget ya dia."
"Dia sampe bilang kalau aku nggak bahagia dengan pernikahan ku, dia bakal minta ijin ayah buat jemput aku. Dia bilang, dia nggak bakal nikah sebelum aku bahagia."
"Aku pastiin kamu bahagia. Biar dia juga cepet nikah dan bahagia." ucap Leon sambil menggenggam tangan Arina. Arina yang sedikit kaget kemudian tersenyum.
"Maaf, Mas."
"Aku yang harusnya minta maaf udah ngerusak hubungan kamu sama cowok mu." Arina hanya tersenyum tipis.
"Udah sampe. Turun yuk."
Keduanya turun, membawa atmosfer kikuk karena obrolan yang berujung pada kisah cinta Arina di masa lalu. Leon merasa bersalah. Pun Arina. Keduanya masih duduk dalam diam hingga pesanan datang. Canggung.
***
Arina pov
Aku senang hari ini aku dan Mas Leon udah banyak ngobrol. Bahkan sesekali kami becanda. Namun, atmosfer menyenangkan itu berubah kikuk ketika kami membahas masalah pacar. Aku cukup takjub karena Mas Leon sama sekali belum pernah pacaran. Secara tampang dia diatas rata-rata, kaya jangan ditanya. Dia bilang dia terlalu fokus kerja hingga tak sempat memikirkan masalah pacaran. Dan ketika kami membahas tentang ku, semua jadi aneh. Mas Leon tak henti-hentinya mengucapkan maaf karena telah merusak hubungan ku dengan Andri. Itu sudah takdir, jadi aku tidak pernah menyalahkan siapa pun atas kandasnya hubungan ku dengan Andri. Sungguh tidak nyaman dengan diam yang tiba-tiba setelah tadinya kami ngobrol banyak. Aku berusaha mencari bahan pembicaraan, tapi bingung mau membahas apa. Aku yakin Mas Leon pun tengah berusaha memecah keheningan ini. Sesekali aku lihat dia melihat ke arah ku yang terus melahap nasi goreng pesanan ku.
"Enak banget ya, Rin, nasgornya?" tanya Mas Leon tiba-tiba.
"Eh? Enak. Mas mau nyoba?" tanya ku sambil menyodorkan piring ku.
"Enggak. Abis kamu makan lahap banget."
"Nasgornya yang enak apa aku yang laper ya. Hehe."
"Tapi ini warung langganan ku sama Andrew sih sejak kita pulang ke Indonesia. Andrew juga paling suka mesen nargor. Kalau aku ya ini, capjay kuah."
"Kamu belum pernah nyobain nasgornya, Mas?"
"Belum. Kalau nasgor, bisa masak sendiri jadi males pesen nasgor kalau pas makan diluar."
"Wuih~ kapan-kapan mau nih dimasakin."
"Gampang." ucap Mas Leon sambil menyunggingkan senyum.
Kami melanjutkan makan kami lagi. Syukurlah, Mas Leon bisa sedikit mencairkan suasana yang tadinya aneh. Oh ya, kami makan di warung pinggir jalan yang menyajikan berbagai menu nasi goreng, capjay, mie jawa, dan kwetiau. Nasgor pesanan ku cukup enak menurut ku, porsinya juga pas, nggak terlalu banyak. Di seberang sana, aku lihat capjay Mas Leon juga hampir habis. Kelihatannya pun enak juga. Aku pikir tadinya Mas Leon bakal ngajak aku dinner di tempat yang mewah, ternyata tidak.
"Aku kira kamu nggak suka makan di tempat beginian, Mas."
"Eh?"
"Yaa, biasanya kan pengusaha muda itu sukanya makan di resto-resto mewah gitu."
"Ooh... Buat ku kebersihan dan rasa itu yang nomor satu, Rin. Waktu awal Andrew ngajak aku ke sini aku juga agak males, tapi, pas aku lihat tempat masak dan cuci piringnya bersih, aku mau nyobain. Dan ternyata rasanya enak. Ya udah daripada bingung, aku ajak kamu kesini. Eh, tapi nggak apa-apa kan kita makan disini?"
"Nggak apa-apa, Mas. Udah sering makan di tempat ginian. Hehe."
"Arina?" panggil sebuah suara yang aku kenal ketika aku tengah ngobrol dengan Mas Leon. Suara yang sudah lama tak ku dengar. Suara yang dulu selalu dapat menenangkan ku. Suara yang sering aku rindu kan dulu. Sekarang pun masih terkadang. Aku hanya membeku melihat sosok yang kini berjalan mendekati meja ku dan Mas Leon. Kenapa harus bertemu lagi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments