Pacaran vs Khitbah (part 1)

(Masih) Maret 2016

Hhh~

Gurat lesu terlihat di wajah Ana di hari Sabtu yang cerah ini. Ali yang sedari tadi memperhatikan gelagat Ana, sedikit penasaran ada apa dengan ceweknya itu. Sabtu ini mereka menghabiskan waktu bersama di sebuah toko buku terbesar di kota. Ana yang memilih-milih buku, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Raganya disana, namun pikirannya entah mengembara kemana.

"Jadi ambil yang mana?" tanya Ali.

"Bingung ih. Pengen Agatha Christie, tapi juga pengen Sherlock Holmes nya Conan Doyle." jawab Ana sambil memegang dua novel tebal favoritnya.

"Ambil dua-duanya aja." Ali tersenyum. Dia tahu ceweknya itu lebih suka dibeliin bacaan daripada pakaian. Lebih bingung milih buku daripada milih baju. Bagi Ali, semahal apapun buku yang disuka Ana akan dia belikan. Entahlah, menurutnya beli buku lebih berfaedah daripada beli-beli baju.

"Mahaaaal. Satu aja seratus lima puluh ribu, yang ini malah lebih."

"Ya udah beli satu dulu. Kalau udah selesai bacanya, beli satunya. Gimana?" Ali menyarankan.

"Good idea." ucap Ana sambil mengembangkan senyumnya yang dari tadi entah kemana.

Puas dengan apa yang dibelinya, Ana lalu mengajak Ali makan siang, meski jam baru menunjukkan pukul 11.05 tapi entah mengapa rasanya perut Ana begitu lapar. Mereka memutuskan makan di kedai aneka sop di dekat toko buku.

"Sop matahari satu, sop bunga sakura satu, es teh dua ya mas." ucap Ali memesan makanan kepada mas penjual sop.

"Siap mas."

"Kamu kenapa, An?" tanya Ali kepada Ana setelah duduk di sampingnya.

"Eh? Emang aku kenapa, Al?"

"Yee, ditanya malah balik nanya. Trus aku nanya siapa lagi?"

"Ehe. Maaf, maaf. Aku nggak kenapa-napa sih, kamu nanyanya gitu emang aku kenapa?"

"Abisnya kamu kel..."

"Permisi mas, ini pesanannya."

"Oh, iya mas. Eh, lhoh mas nasinya kok nggak ada?"

"Kan mas pesennya sop matahari satu, sop bunga sakura satu, es teh dua."

"Nasinya dijual terpisah mas? Masnya juga nggak nanya saya pake nasi nggak."

"Kadang ada yang suka makan sop doang mas. Jadi saya nggak nanya. Jadi, nasinya dua juga mas?"

"Iya mas. Nasi dua."

"Siap mas."

"Masnya lucu." celetuk Ana.

"Sengaja kali tuh masnya."

"Kamu aja yang salah mesennya. Tuh ditulisan aja ada nasi putih dua ribu satu porsi."

"Udah laper akut, jadi nggak lihat ada tulisan segedhe gaban."

Dan setelahnya pesanan nasi putih keduanya datang. Ali memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut tentang Ana yang kelihatannya memikirkan sesuatu. Tawa dan senyumnya sudah kembali. Mungkin dia lapar.

***

Ana pov

Rasanya capek banget seharian jalan-jalan sama Ali. Lesu gitu. Entah kenapa hari ini gue sedikit bad mood. Yang ada di kepala gue cuma acara lamaran Alessa aja. Iri? Gue? Dibilang iri juga enggak, dibilang nggak iri juga enggak. Entahlah, gue sendiri juga bingung.

Minggu lalu, di acara pernikahan Arina, Alessa dapet chat dari cowok bernama Adam. Kata Airin sih ketua Rohis ganteng di SMA kita dulu. Tapi guenya nggak inget yang mana tuh cowok. Padahal biasanya kalau cowok ganteng pasti terpatri jelas gitu di ingatan sama hati gue (wkwkwkwk). Entah, cogan yang satu ini gue nggak begitu inget yang mana. Ketua Rohis harusnya kan ya terkenal, at least gue inget model hidung atau matanya gitu. Kok ya sama sekali nggak inget.

Intinya, si cowok bernama Adam itu bilang ke Alessa kalau mau mengkhitbah dia hari Sabtu depan (yang dimaksud hari ini). Dan Alessa kelihatan seneng banget. Well, as a best friend, gue juga ikut seneng. Banget malah. Sumpah! Secara Alessa itu makhluk paling bener di antara gerombolan kita berempat. Gue bakal nggak terima kalau dia nikah sama sembarang cowok. Tahu dia bakal dikhitbah sama mantan ketua Rohis, otomatis gue lega. Alessa dapet cowok, eh, calon suami yang sama benernya sama dia.

But, somehow, ada titik dimana gue juga sedikit iri. Why? Gue sendiri nggak tahu. Iri? Atau malu?. Malu? Kenapa? Ya, karena diantara kami berempat cuma gue yang pacaran paling lama, dan malah belum nikah. Entahlah. Sejak Arina bilang dia mau nikah, gue udah merasa tertampar. Pas tahu dia dijodohin, agak maklum kalau dia nikah cepet, karena si cowok umurnya beda jauh sama dia. Tapi, waktu kemarin baca chat Adam ke Alessa, sesuatu yang berat ada di hati gue. Kapan gue nikah? Jujur, sampai detik sebelum gue baca chat Adam buat Alessa, gue sama sekali belum kepikiran buat nikah. Dan sekarang, hal itu seakan seperti hantu gentayangan yang selalu menghantui gue. Serem! Tapi nggak bisa berhenti mikirin itu. Jadi keinget ucapan Alessa beberapa waktu lalu pas kita Girls Day Out.

"Kalau Ana sama Ali aku lihat udah ada arah mau nikah. Dipercepat aja An. Pacaran udah lama masa' nggak jadi nikah. Kan malu sama Allah, An."

Kalimat yang sebenarnya menohok banget buat gue. Tapi, entah, saat itu gue ngrasa biasa aja. Dan kalau dirasa sekarang. Jangan tanya. Perih. Sakit tapi tak berdarah. Dalem. Hhh. Jadi pengen cepet nikah juga. Tapi, kapan?

***

Alessa tak menyangka bahwa hari ini akan tiba. Ya, hari Sabtu. Bukan hari Sabtu biasa. Tapi hari Sabtu yang menurutnya adalah hari paling romantis dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Hari ini, hari dimana dia akan dilamar oleh laki-laki yang menjadi idamannya sejak SMA. Bayangkan! Sudah berapa tahun berlalu, dan akhirnya mereka akan segera disatukan dalam ikatan pernikahan. In syaa allah.

Masih mengingat kejadian hari Sabtu minggu lalu, yang membuat hatinya bergemuruh tak menentu. Sepulang menghadiri pesta pernikahan Arina, Alessa masih tak percaya dengan chat Adam, yang kemudian dibacanya berulang-ulang untuk memastikan dia tidak salah baca. Ibunya yang melihat putri cantiknya yang sudah duduk di ruang tengah sedikit heran.

"Assalamu'aikum." sapa ibu Alessa, mengalihkan perhatian Alessa dari layar ponselnya.

"Eh, wa'alaikumsalam, ibu."

"Kamu ini biasanya masuk rumah salam, ini kok enggak. Bikin ibu kaget aja tahu-tahu ada orang di ruang tengah."

"Astaghfirullah. Alessa lupa bu."

"Terlalu fokus sama hp sih kamu, jadi kayak gitu."

"Iya, bu. Maaf yah?" ucap Alessa sambil nyengir.

"Eh, bu." panggil Alessa ketika melihat ibunya akan masuk kamar.

"Hmm?"

"Ibu duduk sini dulu deh." ajak Alessa sambil memapah ibunya duduk di kursi ruang tengah.

"Ada apa, Al? Seneng banget kayaknya kamu."

"Kelihatan ya bu?"

"Banget. Ada apa sih?"

"Mmm... Jadi gini bu. Sabtu depan, ada temen Alessa mau dateng ke rumah."

"He'em, terus? Kan biasanya juga kadang main kesini temen-temen kamu, Al."

"Ih ibu, kalau temen yang biasa Alessa nggak usah bilang ibu jauh-jauh hari gini, bu."

"Lha terus temen yang mana?"

"Mmm... Jadi gini bu. Sebenernya, Alessa dari SMA suka sama kakak kelas Alessa. Dia ketua Rohis. Tapi Alessa nggak pernah bilang ke dia bu. Kan dalam Islam nggak boleh pacaran, jadi Alessa cuma bisa berdoa. Lagian Alessa kan anak Rohis, kalau misal Alessa pacaran kan nggak sesuai." Alessa menjeda sebentar. Ibunya masih khusyuk mendengarkan, menunggu kelanjutan cerita Alessa.

"Nah, beberapa waktu lalu aku dan cowok itu dipertemukan kembali di Masjid Kota pas pulang kajian. Kita lalu bertukar nomor hp, tapi kita sama sekali nggak saling menghubungi kecuali pas Alessa beli barang-barang dagangan dia, bu. Dia punya usaha jualan online busana muslim, bu. Yang waktu Alessa beliin ibu jilbab itu juga beli tempat dia." Ibu Alessa hanya manggut-manggut masih sambil mendengarkan apa yang akan anak gadisnya sampaikan.

"Terus, tadi cowok itu..."

"Sebentar. Dari tadi cowok itu mulu. Emang nggak punya nama, Al?" potong ibunya.

"Oh iya. Lupa. Alessa belum nyebutin namanya ya? Ehe. Adam, bu. Namanya kak Adam." jawab Alessa sambil cengar cengir.

"Oke lanjut ya bu."

"Lanjut..."

"Nah terus kak Adam tadi WA Alessa, bilang kalau Sabtu depan mau main ke rumah sama bapak ibunya. Mau nglamar Alessa katanya. Boleh, bu?"

Ibu Alessa hanya diam mematung mendengar akhir cerita Alessa. Seakan tak percaya hari itu tiba dengan cepat. Hari dimana anak gadisnya akan menikah.

"Bu?" panggil Alessa, sedikit takut kalau sang ibu tidak akan membolehkan Adam datang melamarnya.

"Eh, iya. Kamu yakin, Al? Maksud ibu, kamu kan masih muda. Ibu juga nggak nyuruh kamu buat cepet-cepet nikah kok."

"Alessa yakin bu. Ada kesempatan menyempurnakan agama dengan segera, kenapa harus nunggu nanti nanti? Lagi pula kak Adam juga baik, soleh in syaa allah. Jadi ibu nggak perlu khawatir."

"Ya sudah kalau gitu. Nanti ibu bilang bapak mu dulu. Tapi kalau bapak biasanya tergantung kamu. Kalau kamu udah yakin, bapak pasti juga oke."

"Makasih ya bu." ucap Alessa sambil menghambur ke pelukan ibunya.

Mudahkanlah, Ya Allah.

Episodes
1 Prolog
2 Catatan Pra Nikah (part Ana)
3 Catatan Pra Nikah (part Arina)
4 Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5 Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6 Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7 Malam Pertama? (part 1)
8 Malam Pertama? (part 2)
9 Pacaran vs Khitbah (part 1)
10 Pacaran vs Khitbah (part 2)
11 Pasif atau Agresif?
12 Best Friend Forever
13 Cerai Muda
14 Album Biru
15 For the First Time
16 Dinner (part 1)
17 Dinner (part 2)
18 Rumpik
19 Putih Abu-Abu (part 1)
20 Putih Abu-Abu (part 2)
21 Undangan (part 1)
22 Undangan (part 2)
23 Misaki
24 Cinta Merekah
25 Hari Bahagia Alessa
26 Mantan
27 Putih Abu-Abu (part 3)
28 Rumpik (lagi)
29 Skripsweet~
30 Ibadah Paling Enak
31 Rindu Berat
32 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33 Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34 Doa dalam Hujan
35 Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36 Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37 Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38 Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39 Sahabat Sehidup Sesurga
40 Ijazah lalu Ijab Sah?
41 Akhirnya Halal
42 Sahabat Jadi Suami
43 Leave or Stay?
44 Awal Mimpi Buruk
45 INAD?
46 Dua Garis Lagi?
47 Pejuang Garis Dua
48 Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49 Ternyata...
50 Salah Jodoh?
51 Memulai Lagi
52 Tanda-tanda
53 Lagi-lagi Rumpik
54 Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55 Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56 Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57 Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58 Epilog
59 Terimakasih ^^
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Prolog
2
Catatan Pra Nikah (part Ana)
3
Catatan Pra Nikah (part Arina)
4
Catatan Pra Nikah (part Airin 1)
5
Catatan Pra Nikah (part Airin 2)
6
Catatan Pra Nikah (part Alessa)
7
Malam Pertama? (part 1)
8
Malam Pertama? (part 2)
9
Pacaran vs Khitbah (part 1)
10
Pacaran vs Khitbah (part 2)
11
Pasif atau Agresif?
12
Best Friend Forever
13
Cerai Muda
14
Album Biru
15
For the First Time
16
Dinner (part 1)
17
Dinner (part 2)
18
Rumpik
19
Putih Abu-Abu (part 1)
20
Putih Abu-Abu (part 2)
21
Undangan (part 1)
22
Undangan (part 2)
23
Misaki
24
Cinta Merekah
25
Hari Bahagia Alessa
26
Mantan
27
Putih Abu-Abu (part 3)
28
Rumpik (lagi)
29
Skripsweet~
30
Ibadah Paling Enak
31
Rindu Berat
32
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 1)
33
Cinta Lama Bersambung Kembali? (part 2)
34
Doa dalam Hujan
35
Kejutan Awal Tahun (part Alessa)
36
Kejutan Awal Tahun (part Airin)
37
Kejutan Awal Tahun (part Ana)
38
Kejutan Awal Tahun (part Arina)
39
Sahabat Sehidup Sesurga
40
Ijazah lalu Ijab Sah?
41
Akhirnya Halal
42
Sahabat Jadi Suami
43
Leave or Stay?
44
Awal Mimpi Buruk
45
INAD?
46
Dua Garis Lagi?
47
Pejuang Garis Dua
48
Ibu Kandung vs Ibu Mertua
49
Ternyata...
50
Salah Jodoh?
51
Memulai Lagi
52
Tanda-tanda
53
Lagi-lagi Rumpik
54
Catatan Pasca-Nikah (Part Arina)
55
Catatan Pasca-Nikah (part Ana)
56
Catatan Pasca-Nikah (Part Alessa)
57
Catatan Pasca-Nikah (part Airin)
58
Epilog
59
Terimakasih ^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!