Pertengahan tahun 2015
Sepasang mata Arina membengkak. Semalam tak kuasa air mata terus mengalir tanpa henti. Bukan karena patah hati, melainkan karena sebentar lagi dia akan menikah. Bukan tangjs bahagia, melainkan tangis luapan emosi kemarahan dan kesedihan yang tak mampu ia tumpahkan di hadapan kedua orang tuanya, terutama ayahnya.
Kemarin sore, gadis berparas manis dan bertubuh mungil itu mendapat kabar menggelegar dari ayahnya. Sebuah perjodohan dengan anak sahabatnya. Arina sangat terkejut dengan keputusan ayahnya. Tak pernah ada pembicaraan soal perjodohan. Padahal Arina sering diantar pulang oleh kekasihnya semasa kuliah. Sampai sekarang pun Arina masih menjalin kasih dengan Andri, kekasihnya yang sudah dipacarinya satu tahun belakangan ini.
Ayahnya tak pernah memperlihatkan rona tidak suka ketika Andri main ke rumah. Bahkan ayah sering mengajaknya ngobrol banyak hal dan terkesan nyambung. Lalu kenapa sekarang? Mengapa tak dari dulu saja ayahnya melarangnya pacaran dan mengatakan akan menjodohkannya dengan anak sahabatnya. Jadi, dia tak perlu repot-repot jatuh cinta dengan orang lain dan akhirnya harus terluka sendiri dan melukai orang lain.
"Rin, kemari sebentar." panggil ayah Arina ketika Arina pulang dari melamar pekerjaan di sebuah perusahaan.
"Ada apa, yah?" tanya Arina sambil duduk di samping ayahnya.
"Gimana tadi wawancaranya? Sukses?"
"Lumayan susah sih yah. Tapi, Arina cukup tenang kok jawabnya."
"Hahaha. Kamu disuruh masuk ke perusahaan ayah aja gak mau. Gak perlu wawancara, langsung kerja."
"Arina kan pengen usaha sendiri yah. Ayah manjain Arina terus, kapan Arina dewasanya." bantah Arina. Sebenarnya Arina tidak begitu suka bekerja di perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang furnitur dan design interior. Bukan bidangnya. Yang ada kalau Arina kerja di sana dia hanya duduk diam dan dibayar.
"Ya sudah terserah kamu saja. Wanita sebaiknya di rumah aja, ngurus rumah, ngurus suami, ngurus anak. Kayak mama mu itu. Gak perlu repot-repot kerja nyari uang. Kerjaan pria itu." ucap ayahnya santai, sambil membolak-balik halaman surat kabar.
"Kalau udah nikah. Kan Arina masih single, yah. Biar nambah pengalaman juga."
"Kamu sebentar lagi nikah. Jadi..."
"Nikah?! Enggak ih. Ayah ngaco. Baru seminggu yang lalu Arina lulus kuliah, masa' iya nikah. Ayah becanda. Lagian Andri belum ngomongin masalah pernikahan sama Arina."
"Siapa bilang kamu nikahnya sama Andri?" tanya ayahnya santai, masih sambil fokus membaca surat kabar di tangannya.
"Trus siapa?" tanya Arina heran.
"Leon. Anaknya Om Hadi, sahabat ayah. Kamu ingat kan? Keluarga mereka pernah main ke sini dulu sebelum berangkat ke Jepang. Nah ini mereka udah balik ke Indonesia, lagi nyariin jodoh buat anaknya. Katanya anaknya gak mau cari calon isteri sendiri, jadi Om Hadi yang nyariin. Terus..."
"Terus dijodohin sama Arina? Terus ayah bilang setuju tanpa tanya dulu ke Arina? Ayah tahu kan Arina punya Andri? Ayah juga tahu Andri cowok baik-baik. Kenapa ayah jahat sama Arina sama Andri? Ayah tega."
Tanpa mendengar kata-kata ayahnya lebih lama lagi, Arina berlari menuju kamarnya. Mengunci diri dan menjatuhkan air matanya yang tertahan. Dia tak pernah bisa menangis di depan ayahnya.
Arina tak tahu harus berbuat apa. Dia tak ingin dijodohkan, tapi juga tak ingin membantah ayahnya. Semalaman dia menangis, mencoba berhenti pun air matanya tak ingin bertahan dan terus mengalir. Suara ketukan di pintu tak menghentikan tangisnya. Arina bergeming di tempatnya membiarkan pintu kamarnya di buka. Sosok lembut dan menenangkan menyentuh kepalanya, membelai rambutnya penuh kelembutan.
"Sabar, sayang." Arina hanya menghambur ke pelukan mamanya dengan air mata yang semakin deras.
"Leon pria baik. Ayah langsung menyetujui perjodohan itu karena ayah sudah sangat mengenal Leon. Ayah hanya ingin kamu bahagia, Rin." ucap mama Arina, mencoba menenangkan putrinya.
"Tapi Arina ga suka Leon, ma. Arina belum kenal Leon. Dan lagian dia jauh lebih tua dari Arina." rengek Arina.
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Mama percaya kamu akan cepet jatuh cinta sama Leon. Soal umur, ayah dan mama juga terpaut jauh. Enak, bisa manja-manja nanti sama suami." hibur mama.
Arina tidak menjawab mamanya. Dia hanya diam dan tetap memeluk mamanya. Merasakan kenyamanan yang perlahan membawanya ke alam mimpi.
***
Raut wajah yang kusut menghiasi Arina pagi itu. Ditatapnya ponselnya berulang-ulang menanti kabar dari seseorang yang dikasihinya. Belum ada balasan. Sudah tiga puluh menit yang lalu dia mengirim sebuah pesan singkat ingin bertemu, tapi belum ada balasan. Ketukan di pintu kamar mengalihkan perhatiannya.
"Rin, ada Andri dateng." ucap mamanya. Tanpa menjawab, Arina langsung keluar kamar dan menuju ruang tamu tempat Andri menunggu. Andri yang melihat Arina berantakan langsung berdiri menghampiri Arina.
"Kamu kenapa, Rin?" tanya Andri cemas. Arina tidak menjawab. Air matanya langsung mengalir deras. Andri memapah Arina berjalan menuju sofa ruang tamua dan mendudukkannya. Menunggu hingga dia tenang, Andri hanya mengelus punggung Arina perlahan. Suara Arina tertahan. Sulit baginya mengatakan tentang perjodohannya.
Mama Arina yang tahu bahwa putrinya tak sampai hati menyampaikan berita perjodohan itu, menghampiri sepasang kekasih yang duduk diam di ruang tamu, duduk di samping Arina yang kemudian disambut pelukan dan tangisan oleh putrinya.
"Arina kenapa tante?" tanya Andri.
"Sebelumnya tante minta maaf dulu ya, Nak Andri. Jadi gini, Arina mau dijodohin sama anaknya sahabat ayahnya. Arina gak mau katanya, dia sayangnya sama nak Andri gitu." ucap mama Arina sambil mengelus punggung Arina lembut.
Seperti ditusuk sembilu, hati Andri terasa sakit mendengar tentang perjodohan Arina. Meski begitu, Andri tetap berusaha tenang dan menahan emosinya yang sebenarnya sudah tak karuan.
"Apa Andri ada salah sama Arina tante sampe Om jodohin Arina?" tanya Andri, mengingat sikap orang tua Arina yang selalu terbuka dan ramah kepadanya selama ini.
"Nak Andri gak salah apa-apa kok. Cuma kan kemarin siang itu, ayahnya Arina dapet telepon dari Om Hadi, sahabatnya banget dari jaman kuliah. Nah, Om Hadi ini dulu sering bantuin ayahnya Arina pas lagi jatuh-jatuhnya. Kemarin Om Hadi ini telepon minta dicariin jodoh buat putra tunggalnya, soalnya anaknya itu disuruh cari calon isteri sendiri gak mau malah nyuruh ayahnya buat nyariin. Terus Om Hadi bilang kalau seandainya dijodohin sama Arina gimana, ayah Arina langsung jawab saja boleh. Mau nolak juga gak enak karena ayahnya kan sering dibantu dulu, jadi kayak hutang budi gitu. Om dan tante tau gak seharusnya membayar hutang budi dengan kebahagiaan Arina, tapi om dan tante juga mikirnya nnanti juga Arina bakal bahagia. Mungkin memang sekarang sangat menyiksa, tapi om dan tante bisa jamin Arina bakal bahagia nantinya. Maaf ya, nak Andri." jelas mama Arina panjang lebar.
"Aku gak mau, An. Bawa aku pergi, An." rengek Arina kepada Andri. Andri yang masih mencerna dan menimbang apa yang akan dia lakukan hanya terdiam mendengar rengekan Arina.
"Rin, ini udah keputusan orang tua kamu. Kamu yang nurut ya. Aku gak mau kamu jadi durhaka karena mencintai aku. Aku gak apa-apa. Aku yakin ayah kamu tahu pasti apa yang terbaik buat putrinya. Itu anaknya sahabat ayah kamu jadi pasti bukan sembarangan cowok. Dia pasti lebih baik dari aku dan pasti jauh lebih bisa bahagiain kamu. Terima ya, Rin. Mungkin memang takdir kita seperti ini." ucap Andri pada akhirnya, mengalah, membuat Arina semakin meronta.
"Kamu gak sayang aku? Kamu tega aku nikah sama orang lain? Kamu gak mau berjuang untuk kita?" tanya Arina penuh amarah.
"Rin, bukannya aku gak mau berjuang untuk kita. Aku menghormati orang tua kamu, aku gak bisa memaksakan kehendakku. Aku sayang kamu, Rin. Tapi aku juga gak bisa melawan keputusan orang tua mu. Mereka sudah baik ke aku, sudah mengijinkan aku mengenal anak gadisnya dan keluarganya selama ini. Mereka tahu seperti apa aku dan aku gak mau merusak hubungan baik kita hanya karena keegoisan kita."
"Tapi mereka juga egois! Mereka egois, Ndri! Mereka tahu aku cinta kamu tapi mereka malah menjodohkan ku dengan orang lain yang aku gak tahu!"
"Keegoisan mereka beralasan, Rin. Mereka cuma pengen yang terbaik buat kamu."
"Kamu yang terbaik buat aku!" tangis Arina semakin menjadi.
"Belum, Rin. Aku belum yang terbaik. Aku masih berusaha untuk itu. Percayalah, orang tua tidak akan menjerumuskan anaknya. Ayah kamu tidak akan dengan mudah menerima perjodohan ini kalau beliau tidak mengenal sosok calon mantunya dengan baik. Nanti, seandainya jika dia memang bukan orang baik dan gak bikin kamu bahagia, kamu bisa hubungi aku, aku yang akan jemput kamu dari rumahnya dan meminta ijin ayahmu untuk menikahi mu. Aku janji." ucap Andri, mencoba menenangkan Arina.
Arina terisak, terdiam, sudah mulai lelah berdebat. Andri mengusap kepala Arina lembut.
"Kamu cewek baik, pasti dapat yang baik. Aku memang baik, menurut mu, tapi mungkin tidak menurut Allah. Aku menyayangi mu, menyayangi orang tua mu seperti halnya orang tua ku, jadi aku tidak mungkin membantah apa yang sudah menjadi keputusan ayah mu. Aku janji, aku belum akan menikah sebelum memastikan kamu bahagia. Aku janji." ucap Andri tulus, menyentuh hati mama Arina yang tak terasa meneteskan air mata. Tak tahu harus mengatakan apa kepada lelaki yang begitu mencintai putrinya, menghormatibdirinya dan suaminya seperti orang tuanya sendiri. Mama Arina hanya mampu menepuk bahu Andri, mencoba menguatkan hati lelaki itu. Andri tersenyum.
Arina hanya tertunduk, tak menyangka Andri akan melepasnya, merelakannya menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Dia sudah tak sanggup menyanggah lagi. Andri sudah berjanji, dan dia tak bisa lari dari perjodohan ini. Mau tak mau, dia memang harus masuk ke dalam pernikahan yang sudah diatur. Akankah aku bahagia?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Susan Sinuraya
aku datang lagi..... tak pernah bosan membawa jempol dan juga semangattttttt...
sukses yaa berkarya..
Salam DANAU CINTAKU
2020-07-20
0