"Gue pulang dulu ya, Na!" pamit Airin kepada Arina begitu mendapat chat dari Ito kalau dia sudah menunggu di depan gerbang rumah Arina.
"Ati-ati, Rin."
"Gue kan cuma bonceng. Hehe." celetuk Airin sambil mengenakan helm.
"Ati-ati, To."
"Pasti, Na."
"Nggak mampir bentaran dulu, To?"
"Lain kali aja, Na. Kalau pas Mas Leon ada. Lagian keburu malem. Bawa anak orang nih." ucap Ito sambil menunjuk Airin.
"Eh, gue anak orang ya?"
"Oh gue lupa. Elu monyet sih ya."
"Ngatain nyokap gue lu."
"Elu yang mancing."
"Ini kenapa jadi berantem sih? Katanya keburu malem?" ucap Arina melerai Airin dan Ito yang mulai adu mulut di depan gerbang rumahnya.
"Ngusir niii." goda Airin.
"Iya ngusir. Sepet lihat kalian. Mesra terooosss."
"Makanya ditiru dong. Ooppss. Ehehehe. Becanda, Na."
"Iya iya."
"Pulang dulu ya, Na."
"Pamit mulu."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***
30 menit kemudian...
"Makasih ya, Nyet, udah anter jemput gue ke rumah Arina." ucap Airin begitu mereka sampai di depan gerbang rumah Airin.
"Makasih doang?"
"Teruuusss?"
"Biasalaaah..." jawab Ito sambil nyengir.
"Noh pulang sono, bikin sendiri!"
"Kalau bikin sendiri nggak seenak bikinan elu, Nyet."
"Ngeles terooosss... Bilang aja males bikin."
"Tuh tahu."
"Kebiasaan."
Ito senyam senyum sambil menaik turunkan alisnya yang sukses membuat Airin menyerah.
"Iye iye. Ya udah, masuk." ucap Airin sambil berlalu masuk menuju ke rumahnya.
"Gitu dong. Kan jadi Monyet cantik."
"Gue udah cantik dari dalam rahim kalik."
"Ahahahahaha. Coba di dalam rahim ada cctv, kan bisa gue liat sekarang rekamannya beneran cantik kagak."
"Buktinya elu suka."
"Weis..."
"Apa?"
"Emang gue bilang gue suka elu karena elu cantik?"
Airin hanya mengangkat bahunya lalu berlalu ke dapur, diikuti Ito yang mengekor di belakangnya. Saking seringnya Ito main ke rumah Airin, dia sudah menganggap seperti rumahnya sendiri.
"Gue suka elu tuh karena..."
"Udah pulang, Rin?" tanya mama Airin yang tiba-tiba muncul.
"Udah ma. Barusan."
"Eh, tante." sapa Ito sambil menyalami mama Airin dan mencium tangannya.
"Makan dulu, To." ucap mama Airin kepada Ito.
"Iya tan. Ntar, Ito ambil sendiri kalau laper."
"Rin, mama keluar arisan bentar ya." pamit mama Airin.
"Iya ma."
"Nitip rumah sama Airin ya, To."
"Siaap tante. Dengan senang hati."
"Nih." ucap Airin sambil menyodorkan segelas es teh manis kepada Ito, lalu berlalu menuju teras.
"Makasih, Nyet." ucap Ito kemudian menyeruput es teh manisnya dan mengekor Airin menuju ke teras.
"Es teh bikinan elu emang nggak ada duanya, Nyet."
"Tahulah yang emang males bikin es teh sendiri." ucap Airin setelah menyeruput es teh manisnya.
"Hehehe."
Hening merayap, menemani Airin dan Ito yang masing-masing menikmati segelas es teh dan seberkas langit senja dengan pikiran mereka sendiri.
"Hhh~" Airin menghela nafas panjang.
"Kenapa, Nyet?" tanya Ito heran.
"Nggak apa-apa, Nyet. Capek aja."
"Gue yang bawa motor, elu yang capek?"
"Bukan itu, Nyeeet."
"Trus?"
"Nyokap. Biasa."
"Masih pengen lu cepet nikah?"
"Gara-gara nyokap tahu Arina udah nikah. Apalagi setelah tahu Arina nikah karena dijodohin. Langsung deh nyokap heboh."
"Heboh kenapa?"
"Heboh mau ikutan jodohin gue sama anak temennya. Males gue."
"Lu nggak bilang kalau gue mau nikahin elu?"
"Uhuk" Airin seketika tersedak dari meminum es tehnya mendengar ucapan Ito.
"Pelan-pelan, Nyet, kalau minum. Gue nggak minta kalik." ucap Ito santai sambil menepuk-nepuk punggung Airin.
"Elu sih, ngomong nggak pake kira-kira."
"Emang gue ngomong apa?"
"Tadi ituuu."
Ito terlihat berpikir sejenak, mengingat-ingat apa yang telah dikatakannya.
"Nikahin elu?" tanya Ito. Airin hanya mengangguk.
"Becanda jangan kelewatan, Nyet." ucap Airin kemudian.
"Lhah kan gue serius. Ntar deh kalo nyokap elu pulang arisan gue bilang, biar jangan jodohin elu sama anak temennya. Biar gue yang nikahin anak gadisnya yang nggak laku-laku ini."
"Sial lu! Romantis dikit bisa nggak sih?"
"Hmmm~ jadi mau yang romantis nih?" goda Ito sambil menaik turunkan alisnya.
"Serah lu!" kilah Airin dengan wajah merona.
"Tenang, Rin. Elu bakal jadi best friend forever gue, jadi gue nggak bakal lepasin elu sama cowok lain."
Ucapan Ito sukses membuat Airin membeku. Selama beberapa saat Airin hanya diam sambil sesekali menyeruput es tehnya. Ito pun melakukan hal yang sama. Dia tahu, sahabat sekaligus cewek yang disukainya itu tengah menata perasaannya.
"Tuh, nyokap lu udah pulang." ucapan Ito membuyarkan lamunan Airin.
"Elu nggak serius mau ngomong sama nyokap gue sekarang kan, To?"
"Emang kenapa kalau sekarang? Lebih cepat lebih baik kan?"
"Apanya yang lebih cepat lebih baik, To?"
"Eh, enggak kok tan. Ini lho Airin bilang katanya nggak mau dijodohin, tan."
"Kenapa emangnya, To?"
"Ngobrolnya di dalem aja, tan. Nggak enak berdiri di depan pintu."
"Oh. Oke, ayo masuk kalau gitu."
"Airin nggak mau dijodohin ma." ucap Airin, begitu dia, Ito dan mamanya duduk di ruang tamu.
"Kenapa memangnya, Rin? Mama juga nggak bakal jodohin kamu sama sembarang cowok kok."
"Pokoknya Airin nggak mau."
"Maaf tan sebelumnya. Mungkin memang bukan posisi Ito untuk ikut campur, tapi sebenernya Ito juga harus ikut campur masalah perjodohan ini." Ito menjeda sebentar, melihat reaksi mama Airin yang ternyata masih menunggu apa yang akan dikatakan Ito.
"Airin cerita sama saya, tan. Katanya dia belum siap kalau harus nikah dalam waktu deket ini. Dan dia tahu tante khawatir Airin salah pilih jodoh nantinya, makanya tante mau jodohin Airin. Tapi tan, disini bukan cuma Airin saja yang keberatan kalau Airin dijodohin."
"Memang siapa lagi, To, yang keberatan?" tanya mama Airin serius.
"Saya, tan. Saya keberatan banget kalau Airin dijodohin. Karena..." sebelum melanjutkan kalimatnya Ito melihat ke arah Airin yang hanya diam tertunduk.
"Karena apa, To?" tanya mama Airin tidak sabar.
"Karena saya berniat menikahi Airin, tan. Walaupun tidak dalam waktu dekat ini, tapi saya serius, tan. Apakah tante berkenan kalau saya menikahi Airin?"
Mama Airin melihat ke arah anak gadisnya yang hanya diam tertunduk, kemudian menghela nafas.
"Hhh~ ya udah terserah kalian aja mau nikah kapan. Kalau tahu Ito suka Airin, tante nggak bakal nyuruh-nyuruh Airin cepet-cepet nikah."
"Emang kenapa, tan?" tanya Ito heran.
"Kan Airin sudah dijagain Ito. Tante jadi tenang."
"Ooh... Iya, tan. Tante tenang aja. Ito jagain Airin luar dalem kok."
"Apan sih lu!" ucap Airin sambil menepuk bahu Ito.
"Kan bener gue bilang. Lebih cepat lebih baik ngomong ke tante."
"Panggil mama aja, To." ucap mama Airin yang sukses membuat Airin dan Ito kaget.
"Eh, boleh, tan?" tanya Ito memastikan.
"Boleh dong. Kan kamu mau jadi anak mantu mama. Udah, ah. Mama masuk dulu. Kamu tuh makan dulu sana."
"Siap mamaaaa." ucap Ito sambil cengar cengir.
"Mama baru gue tuh." ucap Ito kepada Airin.
"Tahu!"
"Judes banget, Non?"
"Biarin!"
"Duh, monyet cantiknya ilang." goda Ito sambil menowel pipi Airin.
"Monyeeeet!" seru Arin sambil melingkarkan tangannya ke leher Ito.
"Mamaaaa~ tolooong!"
Best Friend Forever sampai mati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments