.
.
“HUWAAA!!!”
Zeno segera bangun dari tidurnya, dia langsung duduk yang menyebabkan kepalanya langsung pusing.
Dia memegangi kepalanya sambil menoleh pada pelaku yang barusan berteriak.
“Kak Justin apaan sih!” protes Zeno kesal.
Justin sendiri sedang berdiri, membelalakkan mata besarnya sambil menatap Zeno dengan penuh kengerian. Seakan Zeno adalah hantu yang menakutkan.
“Ka-kamu Zeno kan?” tanya Justin linglung.
“Kalo bukan siapa lagi emangnya? Ini aku kak!”
“Ta-tapi kamu berubah! Gak kayak kamu!” bantah Justin.
Zeno menggaruk kepalanya, antara gatal dan bingung. Kemudian dia turun dari ranjang, berjalan menuju standing mirror yang ada di kamarnya.
Betapa terkejutnya dia melihat pantulan dirinya sendiri.
“i-ini aku?” gumam Zeno bingung.
Pasalnya yang dia lihat di cermin adalah dirinya, yang bahkan sedikit lebih tinggi dari Justin yang memiliki tinggi badan sekitar 181 cm. Kulit Zeno kini menjadi putih, wajahnya juga putih bersih.
Zeno baru ingat jika semalam dia membuka toko ajaib dan memakai produknya.
Kemudian Zeno kembali menoleh pada Justin yang masih berdiri dan terkejut, mata Justin berkedip-kedip tidak percaya.
“Anu... aku meminum obat peninggi badan, yang bisa membantu merangsang pertumbuhan, aku juga masih puber kak, jadi – hehe,” Zeno menggaruk kepalanya lagi, merasa canggung saat menjelaskan pada Justin.
“Lalu jelaskan kenapa kamu bisa putih gini!”
“Make lotion kak...” Zeno menunjuk botol lotion yang dia maksud.
Justin menoleh pada meja nakas, disana terdapat satu botol lotion besar, satu wadah krim yang juga besar, dan satu botol kecil entah isinya apa.
Justin memeriksa semuanya.
“Kamu make lotion ini bisa jadi putih?” tanya Justin.
“I-iya kak... tenang aja, itu bukan mercuri kok! Itu aman banget, aku berani jamin kak!”
“Ini tidak dijual dipasaran, Zeno...”
“Itu karena memang produknya masih uji coba, maksudku – masih proses, aku mendapatkan dari orang pertama, jadi –”
“Jangan katakan pada siapa-siapa ya Zen, aku beli!”
Zeno melongo di tempatnya, “eh? Ok-oke kak... boleh aja kok, kalo setelah pemakaian kakak ada apa-apa, aku akan bertanggung jawab.”
Justin tersenyum, “berapa harganya, Zen?”
Zeno berpikir sejenak, sistem bilang, harga jual di dunia ini dengan yang di sistem itu jauh lebih murah. Jadi, Zeno harus menaikkan harga jualnya sendiri.
Karena barangnya memiliki keefektifan yang tinggi, jadi Zeno harus menaikkan dengan drastis.
“Buat kak Justin satu juta aja, kakak juga udah bantu ngerjain PR matematika kan kemarin malam,” ucap Zeno.
Senyum Justin makin lebar, “murah banget! Aku beli dua ya!”
“Eh? Kok banyak banget kak?”
“Satu hadiah untuk seseorang, gak masalah kan?”
Zeno mengangguk pelan.
BRAK!
Zeno dan Justin menoleh kaget pada pintu kamar, Kevin masuk dengan raut wajah cemas.
“Ada apa teriak-teriak? ZENO KAMU KENAPA!!!” Kevin juga terkejut melihat perubahan Zeno.
Pagi itu, rumah Kevin pun heboh dengan perubahan drastis Zeno
“Aku bisa jelasin!!”
***
Bella bangun dari tidurnya dengan mata sembab, masih dia ingat jika semalam dia menangis di kamar karena Damian datang dan ingin menjebloskannya ke penjara. Yang lebih menyakitkan lagi, orangtuanya percaya saja pada Damian dan memohon-mohon pada Damian.
Tapi, Bella sendiri pengecut dan tidak berani bicara, hanya berani kabur lalu menangis sendirian di kamar.
“Ugh... apa aku akan dipenjara?” gumamnya ketakutan.
Tok tok tok!
Bella menoleh dengan cepat pada pintu kamarnya, itu pasti orangtuanya, atau mungkin polisi... setelah memberanikan diri, Bella pun turun dari ranjang, lalu membuka pintu kamarnya.
Dia terkejut melihat ibunya ada disana, membawa satu piring yang diatasnya ada potongan apel yang sudah dibentuk menyerupai kelinci.
Bella menyukai kelinci, bahkan di kamarnya terdapat berbagai boneka kelinci berbagai ukuran.
“Mama?”
Ayahnya Bella juga muncul dan tersenyum kecil.
“Bella, kami minta maaf ya karena kemarin percaya saja dengan lelaki itu, padahal kamu tidak bersalah, malah, kamu yang menjadi korban, maafkan kami ya Bella” ucap mamanya Bella.
Kemudian orangtua Bella memeluk putri mereka dengan sayang.
“Lalu, kalian tahu darimana jika aku tidak salah? Aku tidak akan dibawa polisi kan?” tanya Bella.
“Tentu saja tidak, temanmu yang bernama Zeno itu yang datang membela mu, dia juga berhasil mengusir Damian, dia anak yang baik... oh iya, dia juga mengantarkan pesanan mu, semua ada di dapur,” ucap papanya Bella.
“Zeno?”
Diam-diam Bella tersenyum, dia senang karena lagi-lagi Zeno membantunya, Zeno memang baik sekali.
Bella pun menerima potongan apel dari mamanya, kemudian kembali ke kamar dan siap-siap untuk sekolah.
“Sepertinya aku harus membalas Zeno dengan sesuatu” gumam Bella.
***
Zeno pikir, otaknya sudah penuh dengan bisnis, bisnis dan bisnis. Semuanya ia jadikan uang. Dia merekomendasikan ramuan pelangsing pada Bella, lalu juga merekomendasikan krim wajah untuk Sellya, selain itu, Zeno juga merekomendasikan ramuan penyembuh untuk Raihan yang sedang merasa tidak enak badan.
Semua dia jadikan uang.
Tapi, teman-temannya malah senang sekali, tidak merasa dimanfaatkan, Zeno jadi merasa bersalah.
Oh iya, pagi ini Zeno mendapat kabar jika orang-orang yayasan peduli anak sudah sampai di panti asuhan lama Zeno, mereka akan merenovasi panti agar menjadi lebih baik, karena orang-orang panti tidak mau pindah ke Jakarta.
Tidak apa, biar Zeno saja yang mengunjungi mereka jika sudah liburan. Bahkan, anak-anak panti yang sudah SMA juga hanya ingin SMA di kota sana saja, menurut mereka, sekolah di Jakarta sangat sulit, mereka tidak mau.
Setelah dipikir-pikir lagi, mereka tidak salah juga. Karena sekolah di kota, belum tentu mereka tidak akan tertipu, atau terbully oleh seseorang. Justru kehidupan mereka yang nyaman akan terasa lebih sulit nantinya.
Mereka tidak memiliki sistem seperti Zeno. Belum lagi jika ada iri dengki. Karena kemungkinan salah satu dari anak panti lain untuk iri dengan Zeno pastilah ada.
Tapi... tidak bisa dipungkiri, Zeno rindu juga dengan mereka. Karena bagaimana pun juga, mereka sudah seperti keluarga bagi Zeno.
“Apa obat ini aman bagiku?” tanya Bella untuk entah yang ke berapa kalinya, sampai Zeno bosan sendiri.
“Iya Bel, aman kok, jangan khawatir. Jika terjadi sesuatu padamu, aku akan bertanggung jawab” ucap Zeno.
“Jadi aku hanya harus meminumnya sebelum tidur?” tanya Bella.
“Iya, jika kamu sudah mendapatkan tubuh langsing idealmu, sebaiknya hentikan pemakaian, gunakan setiap hari sebelum tidur, ya?” ucap Zeno.
Bella mengangguk, “iya, nanti kamu ada acara gak?” tanya Bella lagi.
Zeno menggeleng, “enggak sih – kalo besok baru ada, hari ini gak ada, mungkin aku akan langsung pulang, mengerjakan PR dan beristirahat – Raihan, mau ke rumahku gak? Ngerjain PR bareng!”
Raihan yang sedang sibuk membaca sambil makan rujak manis menoleh pada Zeno.
Lagi-lagi mereka nongkrong di balkon perpustakaan, tapi kali ini ada Sellya juga.
“Mau manfaatin Raihan ya?” sahut Bella dengan polosnya.
Zeno hanya terkekeh seakan tidak punya dosa, dia memang sengaja mengajak Raihan, ada PR matematika yang sulit, sedangkan teman-teman Kevin tidak akan ada, Kevin sudah bilang hari ini mereka sibuk dan mungkin tidak pulang.
Harapan satu-satunya ya Raihan ini.
“Aku akan mengajarimu, tapi harus dibayar” ucap Raihan.
Jangan-jangan Raihan belajar bisnis dari Zeno.
“Ahaha, kamu bisa aja bercandanya!”
“Kalo gak mau gak apa-apa kok....”
“Iya iya aku bayar! Satu jamnya berapa? Lima ratus ribu?” tanya Zeno.
Raihan menunjukkan satu jarinya, yaitu jari telunjuk, yang membuat Zeno terkejut.
“Eh? Satu juta?” tanya Zeno.
Kini Raihan yang terkejut, “Eh? Maksudku seratus... tapi gak apa-apa sih.”
“Seratus ribu? Murah amat! Oke deal!”
“Enggak, satu juta aja deh.”
Zeno memasang wajah datar, “yang bener....”
“Bercanda, gak perlu bayar kok.”
“Aku juga ikut!” sahut Bella.
“Aku boleh ikut juga gak?” timpal Sellya.
Zeno menoleh pada teman sekelasnya itu, “kamu juga gak bisa PR-nya? Padahal aku pikir kamu pinter....”
“Aku memakai kacamata karena minus, bukan karena pintar!”
Zeno mengangguk mengerti, tapi dia entah kenapa selalu berpendapat orang berkacamata itu pintar. Seperti Sellya dan Raihan.
“Oh iya, aku juga punya obat tetes mata yang bisa menyembuhkan mata minus lho, seratus ribu aja” ucap Zeno.
“Oke, aku bantu PR-mu, lalu berikan obat itu gratis untukku!” sahut Raihan.
Ternyata Raihan juga pintar menawar sekarang.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
goresan curahan keluh kesah
ahahahahaha sabar Zen gitu lah kalo kamu otak bisnis maka temanmu adalah otak tawar menawar 🤣🤣🤣🤣
2025-02-27
1
SweetiePancake
mirrornya ngestanding cuy
2024-02-29
0
Taaku
𝓶𝓪𝓷𝓽𝓪𝓹
2023-02-09
1