.
.
Kevin menurunkan maskernya, “ini aku, kamu ngapain ngumpet disini? Pake bawa boneka gede lagi...”
Zeno menatap bonekanya, dia pun mengingat tujuan awalnya untuk memberikan boneka itu pada balita perempuan.
“Sebentar ya kak!” Zeno pun kembali ke toko boneka, pas sekali ibu dan anak balita yang menangis baru saja keluar dari toko. Sang ibu terlihat sangat kesal sekaligus sedih karena tidak bisa membelikan boneka untuk anaknya.
“Mama, mau boneka itu!” rengek si balita.
Tiba-tiba Zeno muncul dengan boneka besar tersebut di hadapan si balita, “adek mau boneka ini?”
“Gak usah nak, bonekanya mahal” tolak si ibu.
“Saya kebetulan salah membeli, dari pada dibuang, lebih baik untuk adik kecil ini, mohon diterima ya?” Zeno memberikan boneka itu pada ibunya, karena bonekanya besar, tidak mungkin dibawa oleh si balita.
“Makasih kakak ganteng!” ucap si balita, dia meloncat-loncat senang.
“Biar saya bayar saja bonekanya ya nak” ucap si ibu, dia juga buru-buru mengeluarkan dompetnya.
“Tidak perlu bu, bayarannya adalah senyuman adik cantik ini, sekarang adik udah dapet bonekanya, jangan nangis dan marah lagi ya? Lan kali nurut sama ibunya ya?” ucap Zeno pada si balita, dia sampai berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan si balita.
“Iya kak!” si balita tesenyum lebar sekali.
Zeno jadi mengingat adik-adiknya di panti juga mungkin akan bahagia jika dikirimi banyak hadiah. Melihat si balita bahagia, Zeno pun ikut bahagia.
(Kamu sudah membuat ibu dan anak bahagia!)
(Kami menambahkan saldo 2.500.000 karena ketulusanmu!)
Hal yang baru Zeno sadari dari sistem adalah, jumlah saldo yang akan diberikan tergantung dengan niat dan ketulusan Zeno.
Setelah mengusak kepala si balita dengan lembut, Zeno pun berpamitan dan kembali pada Kevin di tempat sepi.
“Kak Kevin kenapa sembunyi?” tanya Zeno.
“Agar tidak dikejar-kejar... aku disini juga disuruh berbelanja untuk barbeque, oh iya, kamu sudah selesai disini? Kalau sudah, ayo ikut ke villa temanku saja” ucap Kevin.
“Villa teman kakak bagus gak?” tanya Zeno lagi, mereka pun berjalan untuk keluar dari mall.
“Bagus banget, punya pantai pribadi juga – oh iya, kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa kamu ada disini, dan juga sembunyi-sembunyi?”
Zeno menggaruk kepalanya karena canggung, “anu... sebenarnya aku tadi dikejar oleh seseorang yang dulu ingin menjualku kak, aku berlari sampai sini, terus ngliat ada adek yang gak dibeliin boneka karena ibunya gak punya uang, jadi... ya gitu deh.”
Kevin tersenyum dibalik masker hitamnya, “baik banget kamu ya?”
“Adek itu ngingetin aku sama adik-adikku di panti kak... mereka pasti seneng kalo dibeliin banyak boneka” ucap Zeno.
“Kalo gitu beliin aja boneka, terus dikirim ke pantimu, kamu punya alamatnya?” tanya Kevin.
“Punya kak! Jadi kita bisa ngirim apa aja kesana?”
Kevin tertawa mendengar pertanyaan Zeno, seakan Zeno tidak tahu banyak tentang dunia ini, tapi Kevin bisa mengerti jika dulu di desanya tidak begitu tersentuh teknologi, atau hanya panti asuhan Zeno saja yang kekurangan.
“Nanti kamu bisa kesini lagi beli boneka, kalo udah terkumpul, kamu bilang aku ya? Aku juga mau ngirim sesuatu ke mereka, terus aku kirimin paketnya” ucap Kevin.
“Cara ngirim paket itu gimana kak?”
“Nanti aku tunjukin, ada beberapa yang bisa dipilih sepeti JNE, JNT, dan lain-lain, oh – kamu juga bisa nyari tahu sendiri di google, kamu masih punya ponselmu kan?”
“Masih kak!”
“Jadi belum kamu jual?”
“Ud – be... belum kak, kayaknya aku masih butuh.”
Zeno membeli lagi ponsel baru seperti yang dia miliki untuk dijual, jadi ponselnya masih utuh. Apa yang akan Kevin katakan jika tahu ponselnya belum dijual, tapi uangnya sudah ada? Gawat!
Sepertinya Zeno tidak bisa menjual secara manual, sepertinya dia harus mencari cara lain untuk menjual barang di sistem.
“Gak apa-apa, nanti aja jualnya, atau gak usah dijual, kakak bisa ngasih kamu uang kok.”
“Tapi aku gak enak kalo dapet uang cuma-cuma kak!”
“Tapi kamu udah masak di rumahku kan? anggap saja kamu bekerja, nanti kamu juga bantuin temenku masak di villa, setelah itu aku akan membayarmu, gimana?”
“Oke kak!” Zeno mengangguk dengan semangat.
***
Kevin memiliki sembilan teman, termasuk Arthur. Semuanya tergabung dalam satu grup bernama diamond. Zeno yang tidak pernah melihat televisi atau internet sebelumnya, jelas tidak mengenali mereka.
Tapi ada yang menjadi aktor dan telah membintangi beberapa drama dan film terkenal, ada juga yang menjadi penyanyo solo, rapper, produser musik, atau belajar meneruskan bisnis keluarga.
Namun, karena mereka masih muda, mereka tidak ingin burbar dengan cepat, mereka tetap meluncurkan album baru, paling tidak setahun sekali, mereka juga akan mengadakan tur dunia.
Dan saat ini Kevin dan grupnya akan memulai project comeback mereka, itulah kenapa mereka berkumpul. Awalnya Kevin tidak mau mengajak Zeno karena ingin bocah itu jalan-jalan saja. tapi setelah tahu Zeno hampir ditangkap orang yang ingin menjualnya, Kevin jadi ragu untuk melepas bocah itu sendirian.
Meski baru kenal, entah kenapa Kevin tidak tega. Meski kedua orangtua Kevin masih hidup, tapi Kevin mengerti rasanya ditinggal dan hidup sendirian. Hanya sebulan atau dua bulan saja Kevin merasa sedih dan kesepian, apalagi Zeno yang seumur hidup ditinggal sendiri di panti asuhan.
Kevin memang terkenal baik hati dan lemah lembut, saking baik hatinya, dia mengalah untuk mengejar perempuan yang dia cintai karena temannya juga menyukai perempuan itu. Tapi, saat ini Kevin tidak mau memikirkan perempuan, apalagi sekarang setelah ada Zeno.
Kevin memperkenalkan Zeno pada teman-temannya.
Karena ada banyak dan semuanya tampan, Zeno jadi bingung, beberapa dari mereka juga mirip.
Arthur mirip dengan Jaden, tapi Jaden lebih putih. Sam, June dan david juga mirip, tapi June lebih garang, David lebih besar, sedangkan sam itu kecil mungil. Yang paling berbeda hanya Travis, John, dan Yudis. Bahkan Kevin saja mirip-mirip dengan Justin.
Menghafalkan nama mereka membuat Zeno pusing sendiri.
Yang paling Zeno ingat hanya Kevin, Travis, John dan Yudis. Arthur juga ingat asalkan tidak dekat-dekat Jaden.
Villa tersebut milik Travis, dia yang paling kaya raya diantara yang lainnya, dia itu investor, produser musik, sekaligus rapper, belum lagi ada beberapa brand fashion yang mengambil dia sebagai brand ambassador.
Tapi, sebenarnya semua teman Kevin itu pada dasarnya kaya raya.
Zeno menjadi kecil sekali dibandingkan mereka semua.
Jelas Zeno tidak akan bisa mendapatkan saldo dari memasakkan untuk mereka iya kan? mereka memiliki segalanya!
Dan benar saja, tidak muncul notifikasi apapun saat Zeno membantu Travis memasak untuk mereka. Tau begitu Zeno tidak akan ikut Kevin.
“Hai, boleh aku bertanya?” tanya Travis.
“I-iya?” Zeno menatap Travis ragu-ragu dan sedikit takut, habisnya Travis ini tinggi sekali, sekitar 186 cm sedangkan Zeno hanya sekitar 170 cm, itupun sudah dulu dia mengukurnya, saat kelas dua SMP. Mungkin sekarang Zeno sudah lebih tinggi, tapi dia tetap mungil dibandingkan Travis.
Zeno lebih mungil dari siapapun di dalam villa.
“Kamu sungguhan mau dijual?” tanya Travis.
Mendengar itu, Zeno jadi tahu jika Kevin sudah memberitahukan tentangnya pada teman-temannya.
“Iya...”
“Apa kamu tahu siapa yang menjualmu?” tanya Travis lagi.
Zeno merenung sejenak, kemudian mencuci tangannya dan menghampiri ransel, lalu mengeluarkan kartu nama pak Udin.
“Ini kak, aku diberi kartu namanya, mungkin dia pikir aku akan kembali karena tidak mau jadi gelandangan” ucap Zeno.
Travis memperhatikan kartu nama itu, kemudian memotretnya dengan ponsel miliknya sendiri, Zeno baru sadar jika ponsel Travis mirip dengannya, hanya saja warnanya berbeda.
“Tenang saja, aku akan menangkap orang ini, kamu tidak perlu takut lagi...”
Zeno berharap, ucapan Travis itu bukan isapan jempol belaka, dia berharap udin dan antek-anteknya tidak melakukan hal itu pada orang lain lagi, terutama anak-anak.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Gede Renbounty
thor... ajarin mc nya tentang sistem, dpt misi dan uang tapi tdk ngerti tentang saldo dan sisa saldonya
2024-06-29
2
Gabutdramon
bukanya udah tadi laku 21jt?
2024-01-15
0
amore💞💞
lanjut thor
2023-07-09
0