.
.
“Murid baru, silahkan perkenalkan dirimu!”
Zeno berjalan menuju tengah-tengah, dari sana dia bisa melihat semua wajah teman sekelasnya. Mereka semua terlihat mengintimidasi, ada pula yang berbisik-bisik pada temannya, menatap Zeno sinis.
Dia berharap jika semua itu hanya ilusinya, tapi tidak – itu kenyataan.
“Nama saya Zeno –”
“Kamu dari desa ya? Kelihatannya kampungan.”
Belum juga Zeno selesai berkenalan, dia sudah disela oleh seorang siswa yang terlihat songong. Tapi Zeno tetap tersenyum, “iya, saya memang dari desa.”
Zeno hanya tidak mau berlama-lama dan ingin segera duduk, dia berniat untuk sekolah, bukan untuk mencari teman, bukan untuk gaya-gayaan, bukan untuk mencari musuh juga. Jadi sebisa mungkin, dia akan menghindari mereka yang terlihat tidak suka dengannya.
“Nama lengkap mu?” tanya siswa lain lagi, kali ini tatapannya datar saja, tidak sinis, tidak juga sombong.
“Namaku hanya Zeno, hanya itu saja.”
“Jika tidak ada pertanyaan lain, kamu boleh duduk!” ucap guru di depan kelas.
Zeno pun segera menghampiri tempat duduk kosong, ada satu yang tersisa di belakang pojok. Zeno paling tidak suka duduk di pojok belakang, tapi apa boleh buat, dia saja terlambat masuk.
BRUGH!
Zeno meringis kesakitan, dia terjatuh dengan lutut menghampiri lantai terlebih dahulu. Ada seseorang yang memanjangkan kakinya, sengaja agar Zeno menabraknya lalu terjatuh. Namun, Zeno tidak protes, dia hanya segera berdiri, tidak memedulikan tertawaan teman-teman sekelas padanya dan langsung duduk di kursinya sendiri.
Untungnya satu orang satu meja, jadi dia tidak perlu berbagi dengan orang lain.
Zeno pernah juga dikucilkan saat kelas satu SMP. Awalnya Zeno pikir itu karena dia berasal dari panti asuhan, dia dirundung. Itu juga alasan kuat kenapa Zeno mau belajar beladiri. Agar tidak ada yang berbuat buruk padanya, atau paling tidak, dia bisa melawan.
Tapi untuk saat ini, wilayah tersebut bukan kekuasaan Zeno, dia orang baru, masih asing. Dia harus sabar terlebih dahulu.
Meski begitu, Zeno masih heran, dari mana mereka mendapat kesimpulan jika Zeno orang desa? Apa mereka mendengar sekolah asal Zeno? Apa kabar cepat tersebar?
Aneh sekali.
Anak-anak kota menyeramkan.
Guru memulai pelajaran di jam pertama.
Zeno menghela nafas berat, bahkan guru saja tidak menegur anak-anak itu.
Kemudian Zeno mendongak dan menatap pada arah tadi dia jatuh, seorang siswa menoleh dan menyeringai padanya.
Ada apa dengan dia? Sepertinya dia yang membuat Zeno terjatuh.
Ternyata di mana-mana sama saja, ada sistem kasta yang tidak terlihat.
Bukannya Zeno ingin berada di atas, dia hanya ingin hidup dengan damai. Tapi dia mengerti, untuk hidup tenang, dia tidak boleh lemah, tidak boleh berada di bawah.
Mereka pikir, karena Zeno udik dan kampungan, mereka bisa menginjaknya sesuka hati mereka?
Lalu, apa mereka pikir, karena Zeno duduk di belakang, dia tidak mendengar bisik-bisik mereka yang membicarakan dia?
Anak orang-orang kaya dimana-mana sama saja, mereka merasa punya kuasa padahal semua itu kerja keras orangtuanya. Rasanya Zeno sangat beruntung karena bertemu orang kaya tidak sombong seperti Kevin.
Menemukan Kevin sama saja dengan menemukan jarum diantara tumpukan jerami.
Sepertinya Zeno memang memiliki keberuntungan.
Siswa siswi tidak ada yang terlihat mau terlibat dengan Zeno, tidak ada yang penasaran pula. Saat istirahat tiba, tidak ada yang datang mengajaknya berbicara. Tapi yah... Zeno tidak mengharapkannya juga. Malah bagus jika Zeno bisa berkeliling sendirian.
Selain barang-barang, ternyata sistem menawarkan penawaran khusus, yaitu pembelian beberapa aplikasi ajaib yang dibuat oleh sistem.
Karena itu penawaran khusus, harganya juga murah sekali.
Saat itu Zeno menyendiri di taman belakang yang sepi, sambil memakan sandwich isi daging cincang goreng yang dia beli dari sistem.
(Aplikasi yang Zeno beli akan secara otomatis terinstal di ponsel Zeno)
(Silahkan dipilih, penawaran ini hanya sampai dua jam ke depan)
Zeno melotot membacanya, dua jam saja?
Kalau begitu harus membeli semuanya kan? takutnya berguna semua.
“Tapi, bagaimana dengan penyimpanan ponselku yang cuma sedikit?”
(Aplikasi sistem tidak membutuhkan data atau penyimpanan)
Zeno lega membacanya.
Kini dia dengan cermat melihat satu persatu aplikasinya. Setelah membaca dan mempertimbangkan, dia memilih beberapa aplikasi.
Pertama, toko sistem mini. Itu seperti toko yang ada di layar sistem, hanya saja pindah ke ponsel.
Kemudian aplikasi map genius, yang bahkan dapat menunjukkan apa saja yang ada di sekitar dengan jelas. Bahkan nama-nama manusianya juga tertera setelah di zoom. Berkat aplikasi itu, Zeno jadi tahu jika dia tidak sendirian di taman belakang, agak jauh darinya ada beberapa anak lain.
Setelah itu aplikasi kamus cermat, bisa membantu menerjemahkan bahasa apapun dengan benar, sampai ada pilihan terjemahan formal dan informalnya. Tidak masalah meski menerjemahkan banyak sekaligus, tata bahasa atau grammar juga otomatis tertata rapi.
Untuk sementara hanya itu, Zeno membayar masing-masing seratus ribu untuk satu aplikasi.
Hmm?
Di dalam map genius ada seseorang yang datang ke arah Zeno, namanya Ardi. Zeno mencoba menyentuh nama Ardi yang ada di dalam map tersebut. Ternyata informasi dan fotonya langsung terlihat.
Ardi anak orang kaya, senior, dan ternyata ketua preman di sekolah.
Zeno heran kenapa di sekolah elit masih ada premannya.
“Lihat ini ada anak penyendiri... ku dengar kamu dari kampung ya? Kelihatan dari perilaku mu yang kampungan” ucap si Ardi.
Zeno jadi mengerti sekarang, saat masuk, memang Zeno melihat sekolah dan seluruh isinya dengan takjub. Hanya begitu saja dia sudah di cap kampungan. Tapi tidak masalah, dia memang kampungan, dia akui itu.
“Lalu kenapa, apa yang kakak senior inginkan dariku?” tanya Zeno.
Ardi mendekat lalu merebut sandwich yang baru Zeno makan separuhnya saja tersebut, lalu dia membuang dan menginjaknya.
Padahal itu enak sekali!
Tidak masalah, Zeno bisa membeli seperti itu lagi.
Melihat Zeno yang tidak bereaksi, si senior preman merasa kesal.
“Cepat berdiri! Anak kampung aja songong!”
“Bagian mana dari ucapan sopan ku yang songong, kakak senior yang terhormat?”
Ucapan Zeno yang sopan itu terdengar menyebalkan di telinga si senior.
Ardi pun memaksa Zeno untuk berdiri, kemudian melayangkan tinjunya, tapi Zeno dengan mudah menghindarinya.
Ardi masih berusaha memukul Zeno tapi masih dapat dihindari dengan mudah.
“Hei, hadapi dengan jantan, kenapa kau menghindarinya?”
“Oh, jadi kakak senior yang terhormat ingin aku membalas? Permintaan dikabulkan!”
BUGH!
Ardi tersungkur di rerumputan sambil memegangi perutnya yang terkena tinju.
“Haruskah aku menginjak mu, kakak senior yang terhormat? Agar mirip dengan sandwich ku.”
“Sialan!”
Ardi kembali bangkit dan berusaha memukul Zeno, tapi bocah kampung itu dengan mudah menghindarinya sampai Ardi kualahan dan capek sendiri, setelah itu Zeno mendorongnya hingga kembali tersungkur.
“Jika kakak senior tidak punya kepentingan, jangan ganggu aku!” ucap Zeno, dia sudah ingin pergi menjauh dari Ardi.
Namun, pemberitahuan sistem menahannya.
(Hentikan pembullyan yang dilakukan teman-teman Ardi untuk mendapatkan saldo!)
Jujur saja, Zeno butuh uang, jadi dia pergi dulu memeriksa teman-teman Ardi.
“Hei, kau mau kemana?” teriak Ardi yang masih kelelahan.
“Memberantas kejahatan!” sahut Zeno sekenanya.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Riana bell Natasya
google /Shame/
2024-05-01
0
SweetiePancake
HP 10 juta lebih penyimpanan sedikit? lu donlot triple hoyoverse AAA ( genshin, honkai 3 / star rail ) atau gimana?
2024-02-29
0
Gabutdramon
nah gini dong jadi protagonis, jangan semua system yang kerjain.
2024-01-15
0