.
.
Zeno terbangun di siang hari dengan kepala berat dan pusing, tubuhnya terasa sakit, terutama kakinya.
“Ugh... sakit banget!” keluhnya.
Bocah itu belum mau beranjak dari tempat tidur, dia hanya terlentang menatap langit-langit kamar hotel.
“Kayaknya aku kemarin terlalu lama berjalan kaki, seandainya aku tidak bodoh dan menerima bantuan sistem dari awal... ah, sudahlah!”
Zeno pun mencoba untuk bangun, saat itu dia mendengar ketukan pintu.
“Permisi, boleh aku masuk?” itu adalah suara Kevin yang kemarin, orang yang mengaku pegawai hotel tapi penampilannya tidak seperti pegawai hotel. Jika pegawai kan biasanya berseragam, tapi Kevin tidak memakai seragam, dia memakai setelan jas yang bagus. Mungkin jabatannya lebih tinggi seperti manager hotel. Zeno tidak begitu paham, tapi dia memperbolehkan Kevin untuk masuk.
Baru masuk, Kevin sudah membawakan makanan untuk Zeno, padahal Zeno belum memesan apapun.
“Aku belum memesan makanan apapun” ucap Zeno.
Kevin terkekeh pelan, “aku sangat khawatir karena kamu belum bangun, jadi ku pikir aku harus membawakanmu makanan, kamu pasti lapar, apa kamu punya keluhan? Misalnya tubuhmu sakit?” tanya Kevin.
Zeno bingung kenapa Kevin baik sekali dan begitu perhatian. Jika semua pegawai seperti Kevin, pasti hotel itu akan sangat sukses.
“Tubuhku sakit semua, terutama kakiku, kak!”
Kevin hanya tersenyum Zeno memanggilnya ‘kak’.
“Baiklah, setelah sarapan, aku akan mengajakmu ke spa, disana ada pemijatan untuk kesehatan juga kok” ucap Kevin.
“Apa aku harus membayar?” tanya Zeno.
Kevin menggeleng, “tidak perlu, itu gratis untuk orang yang tinggal di hotel, kamu makan dulu ya? Apa orangtuamu akan datang menjemputmu?”
Zeno berkedip-kedip sebentar, takut untuk menjawabnya, haruskah dia menjawab jujur jika dia tidak punya orangtua?
“Aku... tidak punya orangtua, kak, aku sendirian sekarang” ucap Zeno.
Kevin hanya diam, dia sungkan untuk bertanya karena mereka belum akrab dan baru bertemu satu hari. Akan sangat tidak sopan jika Kevin berusaha mengorek informasi tentang pengunjung hotel.
Tapi menurut Kevin, bisa jadi orangtua Zeno baru meninggal, dia diusir lalu memesan tempat di hotel dengan uang yang tersisa. Tapi bisa jadi juga ada hal lain. Yah, Kevin tidak akan ikut campur.
“Ah, aku tidak mau mencampuri urusanmu, tapi... kamu sungguh sendirian? Tidak punya wali?” tanya Kevin.
Zeno hanya menundukkan kepalanya, takut untuk menjawab.
“Berapa umurmu?” tanya Kevin lagi.
“Itu... 16 tahun, aku baru lulus SMP.”
“Kerabat lain?”
Zeno kembali menggeleng, “aku dari panti asuhan kak, aku ada disini karena mau dijual, tapi aku kabur.”
“DIJUAL?”
Zeno tersentak saat Kevin berteriak kencang.
“Iya, aku mau dijual... tapi aku kabur.”
Kevin memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, dia memungut anak yang tidak punya siapa-siapa, tapi bisa memesan hotel.
“Jangan bilang kamu menghabiskan uangmu untuk memesan hotel.”
“Ti.. tidak kok! Aku masih punya barang untuk dijual!”
“Kita bicarakan ini nanti, sekarang kamu makan, lalu aku akan kembali untuk menemanimu pijat, aku bukan orang jahat yang akan menjualmu kok, jadi jangan khawatir” ucap Kevin, setelah itu dia pergi begitu saja.
Zeno jadi menyesal, kenapa dia tidak berbohong saja? Kevin sepertinya kepikiran dengan nasib Zeno, padahal Zenonya tidak masalah meski dia sendirian. Tapi memang sebagai anak dibawah umur, dia harus punya seorang wali.
Kevin sepertinya orang yang baik...
“Tidak mungkin dia mau jadi waliku kan, kita orang asing” gumam Zeno.
***
Zeno keluar dari tempat spa dengan mata sembab. Dia tidak menyangka jika rasanya sesakit itu dipijit, meski setelahnya dia merasa enteng dan lebih baik.
“Kamu lebay banget, masa gitu aja nangis” ucap Kevin.
“Kakak gak ngerti rasanya! Itu sakit banget! Aku gak pernah dipijit selama ini....”
“Karena sekarang kamu udah enakan, ayo kita pergi ke cafe!”
“Cafe itu apa?”
Kevin mengernyitkan dahinya, “serius gak tahu cafe itu apa? Ditempat tinggalmu gak ada cafe? Kamu hidup di pelosok mana?”
Zeno tersinggung mendengarnya, tapi jika dipikir-pikir, panti tempatnya tinggal memang di desa, Zeno juga jarang ke kota karena jauh. Tidak ada cafe atau restoran di sekitar tempat Zeno tinggal, yang ada hanya warung makan.
“Pelosok pokoknya, kakak gak bakal tahu!”
Kevin terkekeh melihat Zeno yang cemberut, “aku gak menghina kok, cuma gak ngerti aja kok ada orang yang gak tahu cafe, tapi kamu punya ponsel kan?”
Zeno mengangguk, “punya kok!” kemudian dia mengeluarkan ponselnya, “ini kak!”
Kevin sekarang jauh lebih heran melihat ponsel mahal terbaru sudah ada ditangan Zeno.
“Kenapa ekspresi kak Kevin kayak gitu? Aku gak nyuri, aku beneran beli! Bahkan box dan surat-suratnya ada di kamarku!”
“Kamu punya uang?”
Zeno menggeleng pelan, “gak punya...”
“Kenapa gak jual hape ini dan beli hape yang lebih murah? Kamu butuh uang, Zen... kamu sekarang tinggal sendirian, harus bisa mengolah uangmu sendiri, ini juga bukan di desa lagi, semua disini serba mahal, lalu jika kamu bertemu orang jahat yang berniat buruk bagaimana? Kamu gak mau dijual lagi kan?”
Zeno menggeleng kuat-kuat, “gak mau!”
“Kalo gitu, kamu mau ikut aku aja? Aku bisa jadi walimu untuk sementara sampai kamu cukup umur untuk pergi” ucap Kevin.
“Kak Kevin gak repot?”
Kevin tersenyum lalu menggeleng, “enggak kok, kebetulan aku tinggal sendirian, tapi aku sibuk banget sih harus kerja, kamu jagain rumahku kalo aku gak ada.”
“Aku jadi pembantu kak Kevin?”
“Hei, bukan pembantu juga, nanti ada yang bersih-bersih rumah dan masak kok.”
“Biar aku yang bersihin rumah dan masak, aku gak enak numpang di rumah orang tanpa nglakuin apapun” sahut Zeno.
Kevin berpikir sejenak, jika dia hanya membantu Zeno, bocah itu pasti tidak enak hati.
“Kalau begitu, kamu boleh masak, tapi buat beresin rumah biar orang lain ya?”
“Oke!”
Kevin mengajak Zeno pergi ke cafe yang ada di dekat hotel, Zeno yang memang orang kampung takjub dengan segala hal, tapi Kevin tidak malu, dia malah berpikir Zeno itu unik sekali.
Di cafe, Zeno menceritakan semuanya yang terjadi, yaitu saat dia gagal mendapat beasiswa, saat Udin mengajaknya pergi untuk menjualnya pada tante-tante, hingga Zeno yang kabur dan kelaparan lalu pingsan di depan hotel.
Mendengar semua itu, Kevin jadi semakin iba dengan Zeno, keputusannya untuk membantu Zeno kian bulat.
Keesokan harinya, Kevin mengajak Zeno untuk tinggal di rumahnya. Zeno yang masih berpikir Kevin itu pegawai hotel biasa, sangat takjub melihat mobil mewah milik Kevin. Apalagi saat semua pegawai memanggil Kevin itu tuan muda.
Siapa Kevin sebenarnya?
Zeno harus kembali dikejutkan saat Kevin membawanya ke sebuah perumahan elit, pantas saja Kevin tidak mau membiarkan Zeno membersihkan rumah meski Zeno sudah memohon-mohon, ternyata rumahnya besar sekali.
Ada sebuah mobil lain saat mereka datang, kemudian pintu terbuka, menampilkan seorang lelaki seumuran Kevin keluar membawa anggur hijau besar-besar.
“Vin, baru dateng? Kemana aja dirimu? Di gedung agensi gak ada, di rumah gak ada, aku cariin lho, kita harus nyelesain lagu – dapet bocah darimana Vin?” ucap lelaki itu.
Kevin kemudian merangkul Zeno, “dari hotel, aku ada di hotel dua hari ini, besok lah kita kerjain lagi lagunya, emang deadlinenya kapan? Gak bisa minta bantuan Travis atau kak Jaden?”
“Heh, bego! Ini lagunya buat boygrup kpop, liriknya harus Korea dong! Mereka minta nanti liriknya kalo bisa udah jadi, aku harus jelasin berapa kali?”
Zeno yang bingung dengan obrolan mereka hanya bengong.
Sepertinya Kevin punya pekerjaan lain selain pegawai hotel.
“Udahlah, ayo masuk dulu, oh iya, Zeno, kenalin ini temenku, Arthur.”
“Ha-halo!”
“Halo... ayo masuk dulu, mau anggur gak?”
Belum juga Zeno mengiyakan pertanyaan Arthur, dia sudah dicekoki dengan anggur.
“Enak!”
Kevin menunjukkan kamar untuk Zeno, yang tidak jauh berbeda dengan kamar hotel.
“Aku mau ngobrol sama Arthur dulu, urusan kerjaan, kamu istirahat dulu disini ya?”
Zeno mengangguk pelan.
Setelah Kevin pergi, Zeno menatap layar sistemnya.
Ada sebuah notifikasi.
(Berbuat baiklah untuk mendapatkan saldo!)
(Pergilah ke dapur dan memasak sesuatu untuk Kevin dan Arthur yang kelaparan.)
(Memasak untuk orang lain akan mendapat saldo 1.000.000)
Zeno mengernyitkan dahinya, “mereka kelaparan?”
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
DigiDaw
Sialan, 16 gatauu kehidupan masyarakat modern.
Masa iya alibinya UDIK, DARI KAMPUNG bla..bla...bla.....
2025-02-12
1
Mohd Shamsudin Mat Deros
umur 16 tahun tapi masih bodoh banget Thor...
2024-09-17
2
Gabutdramon
belum cukup umur woi
2024-01-15
4