.
.
“Aku pulang....”
Kevin yang sedang rebahan di sofa ruang tamu melirik pada Zeno yang baru saja pulang dengan raut wajah lesu.
“Kamu udah pulang? Mana martabaknya?”
Zeno semakin kesal mendengar pertanyaan Kevin, dia gagal membeli martabak manis, sekarang sudah malas untuk pergi. Membeli lewat pemesanan online pun juga malas sekali.
“Gak jadi beli kak, tadi nolongin orang dulu, sekarang males deh mau pergi” gumam Zeno, dia pun ikutan duduk di sofa yang lain, mengistirahatkan tubuhnya yang sakit semua. Membonceng Bella yang sebesar itu membuat Zeno kelelahan.
“Masih jam delapan, kamu mau ikut aku?” tanya Kevin.
“Kemana?”
“Ayo, ikut aja!”
Kevin menarik lengan Zeno agar kembali berdiri.
Mereka pun pergi dengan mobil, Kevin yang mengendarai mobilnya sambil tersenyum-senyum kecil, sepertinya ada hal baik yang menimpanya. Zeno jadi penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada Kevin.
Mobil terus melaju di jalanan yang macet.
Entah mendapat keberuntungan atau apa, mereka melalui jalanan yang lancar, tidak ada macet, hanya sempat terhenti oleh lampu merah beberapa menit, selain itu semuanya lancar.
Zeno semakin penasaran melihat jalanan sudah berubah dari nuansa perkotaan menjadi lebih perkampungan.
Apa mereka sudah sampai luar kota?
Zeno pun mengeluarkan ponselnya, dia merasa bodoh bertanya-tanya dalam hati padahal sudah ada aplikasi keren yang bisa dia gunakan.
Ternyata benar, sudah sampai pinggiran kota, mereka menuju sebuah kawasan yang agak pedesaan, tapi tidak terlalu desa juga.
Mobil Kevin berhenti di sebuah tempat, Zeno melihat ada Travis, David dan Jaden di dalam rumah besar tersebut.
“Ayo turun....”
“Oh – bentar kak!”
Zeno pun turun dari mobil, lalu mengeliling kan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Di map belum ada nama tempatnya, tapi ada beberapa nama tidak dikenal disana.
“Ayo Zeno,” Kevin menarik Zeno untuk memasuki rumah besar.
Itu adalah rumah yang seperti baru direnovasi, sudah bagus, tempatnya luas, ada beberapa kamar juga, pencahayaannya terang.
Ternyata di dalam ada beberapa anak kecil, dua ibu-ibu dan satu pria tua, selain Kevin dan teman-temannya.
“Sebenarnya ada apa?” tanya Zeno.
Travis menghampiri Zeno lalu menepuk bahunya, “kamu kan yang bilang, jika anak-anak yang diculik para preman itu untuk dibuatkan panti asuhan khusus? Kami sudah membuatkannya untukmu, kami juga mempekerjakan dua ibu dan satu pria untuk merawat anak-anak panti, rencananya kami juga akan mempekerjakan koki, dan beberapa spesialis lainnya, kamu senang kan?” ucap Travis.
“Hah? Se-secepat itu?” tanya Zeno.
Travis mengangguk, “iya, kami sebenarnya ingin mengatasnamakan panti ini atas nama mu, karena kamu yang punya idenya –”
“Travis cuma gak mau repot aja, jadi dia nyerahin ke kamu aja Zen” sahut kakaknya Travis, Jaden.
“Diam, kak! Kan dia yang punya idenya, kenapa harus aku yang memiliki panti ini?” sahut Travis kesal.
“Panti ini hasil kerjasama beberapa yayasan peduli anak, jadi biayanya banyak dari sana Zen... kalau kamu mau memindahkan teman-teman di panti mu yang lama kemari juga gak masalah, yayasan akan menyekolahkan anak-anak sampai SMA tanpa syarat” ucap David, pria yang memiliki senyuman hangat, tapi aura hitam.
“Karena Zeno masih dibawah umur, untuk sementara kami tangani dulu, jika kamu sudah cukup umur, kamu mau menangani panti ini kan?” tanya Kevin sambil tersenyum lembut.
Zeno mengangguk antusias, dia tidak bisa menjawab semua ucapan mereka karena dia sangat bahagia.
“Aku mau membawa orang-orang di panti ku yang lama kemari... tapi, aku tahu mereka tidak suka pergi jauh, apalagi pindah butuh persiapan yang banyak” ucap Zeno sedih. Zeno ingin teman-teman dan ibu-ibu di panti juga merasakan hidup enak seperti dia, ingin mereka semua sekolah juga.
“Gini aja, temenmu cuma disekolahin sampai SMP kan? nah, yang sudah masuk SMA saja yang dibawa kemari, mereka bisa sekolah sekaligus membantu mengurusi panti yang ada disini, oke?” usul Jaden.
Zeno mengangguk setuju, “Oke!”
(Zeno telah memberi ide untuk menolong anak-anak dari preman!)
(Saldo 12.000.000 di dapatkan!)
(Zeno memberi ide mengumpulkan anak-anak di panti asuhan terbaik!)
(Saldo 25.000.000 berhasil di dapatkan!)
Padahal, Zeno hanya memberi ide saja, tapi mendapat sebanyak itu?
(Itu karena niat Zeno yang tulus)
Ah, jadi begitu... memang semua itu tergantung niat dan ketulusan.
Apapun itu, tidak mendapatkan saldo pun, Zeno sudah bahagia, melihat anak-anak tidak lagi menderita di jalanan, membuatnya bersyukur.
Malam itu, mereka makan-makan bersama dengan nasi kare buatan Travis, karena rasanya enak dan unik sekali, jadi Zeno meminta resepnya. Tapi Travis tidak memberikan, dia bilang, dia akan langsung mengajarinya saat Zeno libur sekolah.
Libur sekolah itu masih tiga hari lagi, dan Zeno tidak sabar untuk menantikannya.
David bilang, orang-orang dari yayasan peduli anak akan mendatangi panti asuhan lama Zeno untuk melihat keadaannya, jika disana tidak layak, mereka akan membantu kepindahan panti itu. Tapi jika disana sudah layak, maka hanya akan diberi bantuan dan renovasi.
Mendengar itu saja, Zeno sudah senang, semoga teman-temannya di panti lama juga bahagia.
***
Hari gajian tiba!
Semua keuntungan berjualan online sudah dikirim ke rekening Zeno.
Zeno tidak percaya akan ada saat dimana dia memegang uang 100 jutaan!
Saat ini saldo di rekening Zeno ada sekitar 124.000.000 rupiah, namun 56 juta harus Zeno relakan terlebih dahulu untuk 8 pesanan ponsel yang baru masuk.
(Semua pesanan sudah dikirim!)
Hanya dengan memikirkan uang Zeno akan kembali dari 56 juta menjadi 160 jutaan membuatnya semangat.
Untuk saat ini, bisnis onlinenya tidak bisa banyak-banyak dahulu, karena yang dia jual adalah ponsel mahal, jika laku banyak maka Zeno yang tidak tahu bagaimana cara mendapatkan modalnya.
Istilahnya sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit, Zeno harus bersabar.
“Kak Kevin masak? Kan itu tugasku!” protes Zeno saat melihat Kevin menata makanan di atas meja.
Kevin menoleh pada Zeno lalu tersenyum, “udah siap ke sekolah? ini bukan aku yang masak, tapi mama ku, dia suka masak memang... tadi pagi sekali dia datang hanya untuk memberikan makan, kamu masih mandi kayaknya, terus mama pergi lagi karena ada acara.”
Zeno duduk di kursi, tepatnya di depan sayur rebung dan ayam goreng bumbu pedas.
“Mama nya kak Kevin gak tinggal disini ya?” tanya Zeno.
“Enggak, mama tinggal di tempat lain, karena jauh dari gedung agensi, jadi aku beli rumah lagi, rumah mama ada ujung lain. Aku juga menceritakan tentangmu, mama bilang jika dia sudah tidak sibuk, dia ingin bertemu denganmu... oh iya, apa kamu temenan sama anaknya tuan Gerard?” tanya Kevin.
Zeno yang mulai makan menoleh sebentar pada Kevin, mengernyitkan dahinya dan mulai berpikir, “Gerard siapa?”
“Rumahnya dekat sini, katanya kamu habis nolongin anaknya, ini kamu dikasih kue tiramisu” Kevin menunjuk kue yang sudah tersedia di atas meja makan.
Kuenya kelihatan enak.
“Mungkin maksudnya Bella kali ya? Aku abis nolongin dia kak, kasihan dia” ucap Zeno.
“Lanjutkan makanmu dulu, nanti lagi cerita.”
Zeno mengangguk lalu kembali memakan makanannya dengan lahap. Masakan ibunya Kevin enak sekali!
Jika bertemu nanti, Zeno mau diajari memasak juga.
Suara bel rumah terdengar, pelayan rumah Kevin segera pergi untuk membukakan pintu. Tidak lama kemudian dia kembali ke ruang makan.
“Tuan, nona Isabella Gerard datang untuk menjemput tuan Zeno” ucap pelayan.
“Uhuk! Uhuk!”
“Zeno, makan pelan-pelan... suruh dia kemari saja bibi, tunggu di ruang tamu juga boleh, aku akan menemuinya dulu” ucap Kevin.
Zeno buru-buru meraih segelas air putih, lalu meneguknya pelan-pelan.
Kenapa Bella menjemputnya segala?
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Gabutdramon
hampir tiap bab aku komen, gara gara ada yg janggal, udah tau itu 2 anak di culik kenapa gak di kembalikan ke orang tuanya.
2024-01-15
0
Antara Putra
adakah fotonya bella ?
2023-07-12
0
Eros Hariyadi
mantaabb abiiss...udah diapelin cewek seksi tuuuhh...Zeno, cowok dari desa laku juga rupanya.... lanjutkan Thor 😄💪👍👍👍
2023-05-15
1