Memang sudah sejak lama perusahaan keluarga Abian menerapkan tes dan razia dadakan untuk memastikan semua para karyawan dan awak kabin dalam kondisi aman dalam menjalankan tugas. Hal ini lantaran sering banyaknya ditemukan para karyawan nakal dengan alasan untuk menunjang stamina mereka, padahal perusahaan sendiri sudah menerapkan jam terbang baku pilot sesuai yang ditetapkan Internasional Civil Aviation Organizagion (ICAO).
Maka dari itu, siapapun yang kedapatan memakai barang haram tersebut, akan dikenakan saksi pemecatan, dan juga saksi pidana. Bukan hanya itu, perusahaan Abian juga sudah sejak lama menerapkan peraturan bagi siapapun, baik kru, staf, dan petinggi yang sudah berkeluarga kedapatan memiliki pasangan lebih dari satu akan dikeluarkan dari perusahaan secara tidak hormat.
Biasanya Abian tidak pernah ikut serta dalam hal ini, dia menyerahkan semuanya pada para petugas yang berwenang yang melakukan ini, namun mengingat ini merupakan hal yang pertama setelah Angkasa bergabung dengan maskapainya, ia ingin melihat secara langsung putra yang mengikuti jejaknya menjadi penjelajah udara itu dalam antrian bersama para kru lainya.
Dari jauh Abian sudah melihat sang putra berjalan dengan gagah sambil menyeret kopernya, dengan seragam lengkap yang juga dulu menjadi seragam kebanggaanya. Abian sangat bangga, Angkasa bisa mengikuti jejaknya tanpa ia paksa. Dari kecil kedua putra kembarnya itu sebenarnya sudah menunujukkan kesukaan mereka tentang dunia penerbangan, namun sayang, kejadian memilukan menimpa Awan, hingga putranya itu harus mengubur dalam-dalam impianya itu.
Sayang sekali Angkasa memintanya untuk tak saling mengenal, andai saja tidak? Mungkin dia akan segera memeluk putranya, dan mengenalkan pada banyak orang jika dia memiliki putranya yang mewarisi ketampananaya.
Sekejap mereka sempat beradu pandang, dan Angkasa mengedipkan mata padanya. Abian membalas dengan mengacungkan jempol. Berjam-berjam berada di ruangan yang sama sebenarnya membuat Abian sangat gatal ingin menegur putranya, tapi mengingat Angkasa yang meminta tak ingin ada yang tahu jika dia anaknya, Abian mengurungkan hal itu. Abian terus mengamati jalanya tes hingga menunggu gasil itu keluar.
Sudah sepuluh kru, dan awak kabin yang lolos dari tes, dan saat diperiksa tas barang bawaan mereka juga, rak ditemukan apapun.
Namun saat giliran nama Angkasa yang dipanggil, sebuah berita mengejutkan yang harus Abian terima.
"Capt, anda positif," sang dokter mendongak menatap Angkasa yang berdiri didepan meja kecilnya.
"Hah? Apa?" Angkasa terkejut, menarik begitu saja alat tes yang dipegang dokter laki-laki itu menunjukkan hasil positif. Para dokter, kru, staf dan beberapa yang berada disana melihat pada Angkasa.
"Positif," gumam mereka masing-masing, melihat pada Angkasa yang memegangi alat tes tersebut. Dan berita itu langsung sampai ke telinga Abian, juga Reini yang kebetulan berada ditempat yang sama. Langkah Abian panjang menghampiri meja ditempat Angkasa dan dokter itu berada.
"Dokter apa anda tidak salah? Dia pilot baru?"
"Memang itu hasilnya, Pak," jawab Dokter itu sambil berdiri.
"Aku minta tes ulang, ini tidak mungkin, anakku tidak mungkin positif," pinta Abian dengan suara sedikit tinggi, dan tanpa sadar telah mengakui jika Angkasa anaknya. Angkasa memejamkan matanya, saat orang-orang terkejut dengan pengakuan Abia. Angkasa memelototkan mata kuat, meminta Abian untuk meralat ucapanya, nanum lelaki itu tak peka, dan malah menyeret Angkasa untuk menjauh. Namun langkah mereka ditahan, karena setelahnya, tangan Angkasa langsung diborgol oleh petugas.
"Tolong Pak Abian, jika ini memang anak anda, izinkan kami untuk membawanya untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Karena kami juga menemukan barang bukti didalam koper Captain Angkasa. Biarkan kami yang menangani anak anda."
"Apa barang bukti?" Abian dan Angkasa sama-sama terkejut dengan kabar yang mereka dengar. Abian yang masih syok itu harus merelakan Angkasa digiring oleh petugas menuju kantor polisi.
Setelah Angkasa dibawa oleh petugas, Abian meminta seluruh kru dan para karyawannya untuk tutup mulut dan jangan sampai ada yang menyebarkan berita ini kesosial media, sebab dia merasa yakin jika Angkasa dijebak oleh seseorang. Dia juga meminta untuk beberapa media yang stanby disana untuk tak menyebar luaskan berita ini, karena belum tentu kebenarannya.
Ia juga menghubungi Awan, dan memberi tahu apa yang terjadi, tapi ia minta pada anaknya agar jangan sampai Delia mendengar berita ini lebih dulu sebelum memastikan kebenaran yang terjadi. Kemudian Abian menghubungi Denisa, meminta adik iparnya itu ntuk memeriksa ulang Angkasa.
Sementara Arum yang berada diapartemen Edward, berjalan mondar-mandir didepan pintu sambil meremas kedua tangannya, dia tak sabar menunggu kedatangan Angkasa. Arum ingin meminta tolong pada Angkasa lagi untuk bisa mengambil ibunya dari Alex.
Kali ini ia bertekad untuk pergi jauh bersama ibunya, dan tak ingin bertemu lagi dengan Alex, tak perduli Alex akan terluka atau tidak nantinya.
* * *
Dilain tempat, Alex baru saja tiba diapartemennya diikuti oleh Siska, mereka sudah lebih dulu pulang, dan lolos dari tes dadakan itu.
"Kau sudah dengar beritanya, Lex? Pilot baru itu sudah dibawa ke kantor polisi?"
"Hem, rencana ku tidak pernah gagal." Alex tersenyum miring, duduk di sofa ujung tempat tidurnya, melepas sepatu, dasi, dan jam tangan miliknya. "Kita lihat, apa dia akan tetap menyembunyikan Arum setelah ini?" Alex merebahkan tubuhnya, melipat tangan dibelakang kepala menjadikan sebagai bantalanya, menatap langit-langit kamar apartemenya, Alex merasa hampa jauh dari Arum.
"Kau melakukan semua ini demi wanita tak berguna itu? Apa yang kamu harapkan darinya? Dia hanya akan membuang-buang waktu mu percuma."
"Itu bukan urusan mu. Jangan pernah mencampuri masalah pribadi ku."
"Terserah saja, Lex. Aku minta bayaran ku karena semua ini terjadi karena aku yang melakukanya, kamu banyak berhutang budi padaku."
"Kamu terlalu banyak bicara, Siska. Pulanglah, aku sudah mentranfer uangnya ke rekening mu."
Siska seolah tak perduli perintah Alex, ia malah merangkak naik keatas tubuh Alex.
"Pergilah, aku sedang tidak bernafsu." Alex menyingkirkan Siska dari atas tubuhnya dengan kasar, membuat Siska jatuh terhempas kesampingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Ersa
nikmati dulu kemenanganmu Alex..... sebelum dijungkirbalikkan
2023-08-20
0
Lina Susilo
kau akn menyesal lex
2023-04-12
0
Rachmawati 8281
Alex ....😡😡😡😡😡
belum tau dia siapa yang dilawan....
lanjoot kak
2023-02-04
0