"Selamat Pagi, Captain," sapa suara lembut seorang pramugari berparas cantik masuk kedalam ruang kokpit, membuat Angkasa bersama co-pilotnya menoleh kebelakang, "saya bawakan camilan untuk Captain-Captain yang tampan," dia tersenyum, memberikan masing-masing dua bungkus roti, untuk Angkasa dia memberikan roti srikaya.
"Roti srikaya?" Angkasa mengangkat sebungkus roti itu, menunjukkan pada si pramugari.
"Wow ternyata dia lebih tampan dari Alex," puji pramugari itu dalam hati saat Angkasa menatapnya, meski matanya tertutup kaca mata, namun pramugari itu sudah bisa menilai ketampanan Angkasa diatas Alex.
Wajar jika dia menang dari Alex dalam pemilihan polling waktu itu.
"Captain tidak suka? Saya bisa menukarnya."
"Ah tidak, justru saya sangat menyukainya, mengingatkan ku pada seseorang. Ah maksud ku kamu tahu saja aku suka roti srikaya."
"Senang mendengarnya kalau begitu, Capt. Selera kita sama, tapi jika roti ini mengingatkan anda pada seseorang, dia pasti orang yang sangat berarti untuk anda," ujarnya, Angkasa menanggapi dengan senyuman tipis.
"Oh ya,Capt. Sepertinya ini kali pertama kita terbang bersama. Perkenalkan saya Siska, apa Captain pilot baru? Saya baru pertama melihat Captain, maklum saya selalu dapat penerbangan Internasional," ujar Siska memperkenalkan diri dengan cukup percaya diri.
"Saya Angkasa, saya memang baru di sini," Angkasa mengenalkan dirinya ramah, membuat hati Siska senang, "emm, maaf kita akan flight sekarang, apakah semua sudah ready, kamu bisa kembali kalau sudah selesai." Angkasa mengusirnya lembut, tak suka ada pramugari terlalu lama diruang kokpit. Siska menurut, diapun keluar.
Setelah beberapa menit dia di buat melayang, Siska seakan dijatuhkan kedasar bumi begitu saja oleh Angkasa. Diapun kembali dengan perasaan dongkol dan kesal.
* * *
"Ed, apa Arum sudah bangun?"
Angkasa mengirim pesan pada Edward saat sudah mendarat, dia terus memantau keadaan Arum.
Sesuai dengan yang Edward katakan, jika Angkasa ingin Arum tetap aman, dia tak boleh menghubungi atau menanyakan Arum melalui sambungan telepon, karena kekuasaan Alex, membuat tembok bahkan gayung pun bisa bicara. Nomor ponsel pun Angkasa harus memiliki dua nomor yang berbeda, sebab Alex pasti akan menyadap semua alat komunikasi orang-orang yang dicurigainya.
"Belum, Capt. Tapi suster yang menjaga Arum sudah datang, dia cantik," balas Edward.
"Aku menanyakan keadaan Arum, bukan menanyakan apa suster itu cantik atau tidak? Aku ingin kamu memastikan jika suster itu suster yang bisa diandalkan."
"Santai aja sih, Capt. Saya hanya memberi tahu dan berterima kasih pada Captain, karena Captain mata saya seperti refreshing setiap hari."
"Jaga matamu baik-baik jika kamu masih ingin tahu bentuk terong atau pempek, Ed. Terus kabari keadaan Arum, karena jam 10 malam, aku baru bisa mendarat."
Diseberang sana, Edward sampai menelan ludah membaca pesan Angkasa. Gila ya, seorang laki-laki yang terlihat baik dan lemah-lembut seperti Angkasa, jika sudah menyangkut wanitanya dia bisa menjadi seekor induk ayam.
"Hai Capt, boleh saya gabung?" Siska menghampiri Angkasa yang duduk menyendiri di cafe bandara tempat mereka mendarat saat ini. Angkasa mengangguk.
"Lagi ngabarin istrinya ya Capt? Saya perhatikan serius sekali berbalas pesanya." Siska meletakkan cup coffe-nya diatas meja, menarik kursi, dan mengambil duduk dihadapan Angkasa.
"Mama saya," jawab Angkasa acuh, sambil memasukkan handponenya kedalam saku celena bagian depan, lalu melepaskan kaca mata hitam yang membingkai wajah tampanya, menyelipkan di kantong seragamnya.
Siska sungguh dibuat terpana, sejak tadi dia hanya melihat Angkasa memakai kaca matanya, dan sekarang, ia diperlihatkan wajah bak pengeran itu. Rahang tegas seperti gambaran visual novel pada umumnya, dengan ditumbuhi misai tipis yang tumbuh disekitarnya, menambah kesan cool dan macho laki-laki itu.
Siska sampai mengibaskan bagian depan seragamnya merasa gerah, dua gunung kembarnya terasa menegang ingin bersentuhan dengan dada Angkasa yang sudah ia pastikan berbulu, bidang, dan pelukable. Siska mendadak gugup, iapun mengalihkan dengan menyesap kopi miliknya. Matanya terus memperhatikan apa yang dilakukan Angkasa.
Angkasa mengeluarkan pemantik, dan sebungkus rokok, diletakkanya diatas meja setelah mengambil sebatang untuk dihisa*nya.
"Maaf, aku_," Angkasa menunujukkan batang tembakau itu pada Siska meminta izin, lalu tanpa menunggu jawaban Siska, dia menyelipkan sebatang tembakau dibibirnya, menjepit dengan giginya lalu menyalakan pemantik dengan menutup sebagian agar tidak tertiup angin.
"Iya, tidak apa-apa, Capt." Siska temasuk salah satu wanita yang tidak suka dengan laki-laki perokok, tapi kali ini dia mengecualikan jika itu Angkasa. Siska semakin dibuat terpesona tatkala melihat Angkasa mendesis, menghembuskan asap rokok keudara.
"Apa Captain masih single, Capt?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Siska, dia menatap Angkasa, menungu jawaban laki-laki itu.
"Apa itu penting harus ku jawab?" ujarnya menatap Siska.
"Ah, tidak juga. Saya hanya ingin tahu saja. Takutnya ada yang marah saya duduk berdua bersama Captain, dan timbul gosip yang tak menyenangkan."
"Tidak ada, aku bebas membuka pertemanan disini. Bukankah memiliki banyak teman akan lebih baik?"
"Benar, Capt. Apalagi kita satu tim seperti ini, dibutuhkan kekompakan dan kerja sama yang baik."
Sial, Siska merutuki dirinya yang mendadak tak percaya diri saat berbincang dengan Angkasa, dia pun sampai kehilangan topik pembicaraan untuk menghangatkan suasana. Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan selalu dijawab dingin oleh Angkasa membuatnya mati kutu. Siska kembali menyesap kopi miliknya menghilangkan rasa canggung yang menderanya sambil menunggu waktu penerbangan berikutnya.
* * *
Pukul 20.30, diapartemen Edward.
"Tolong, jangan sentuh aku."
" Jangan mendekat."
"Menjauhlah."
"Biarkan aku keluar."
"Biarkan aku pergi."
"Aku bukan pembunuh."
"Aku bukan pembunuh."
"Dia ingin menyakiti ku."
"Mereka yang jahat, mereka orang jahat."
"Mamaaaa, tolong Arum. Ma ... Ayo kita pergi yang jauh ..."
Edward yang sedang menonton televisi di ruang tamu bersama Andini, suster yang merawat Arum mendadak mengecilkan suara televisinya, kemudian menajamkan pendengaran, memastikan ia tak salah dengar jika itu suara Arum.
"Tolongggg, mamaa tolong Arum, Arum ingin keluar, kita pergi ma ..."
Seketika itu juga Edward langsung melompati sofa tempatnya duduk, berlari ke kamar Arum, disusul suster Andini. Dilihatnya kepala Arum menggeleng-geleng sambil terus meracau dengan keringat sebesar jangung keluar dipelipisnya.
Edward berhenti didepan pintu tak berani mendekat, sedang suster Andini menghampiri Arum, menangkup wajah Arum menenangkan.
"Nona Arum, Nona, bangun, anda tidak apa-apa," ucapnya, "tenanglah, anda sekarang berada ditempat yang aman."
Suara lembut suster Andini mampu menghantarkan aliran yang menenangkan dibawah alam sadar Arum.
Ada suara wanita, itu suara wanita? Arum merasa aman dan tenang ada wanita lain disekitarnya, dia tidak sendiri. Tapi suara wanita itu menghilang, tak terdengar lagi. Arum kembali merasa sendiri, Arumpun kembali meracau, dia seakan berada ditempat yang luas, sendiri, disekelilingnya banyak laki-laki yang mendekat sambil mengayunkan tangan kearahnya, Arum mengangkat kedua tangan didepan wajahnya.
"Tidak! jangan Pa. Jangan pukul Arum, jangan pukul mama."
"Tolong, tolong aku. Tolooongg, aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh. Mereka ingin menyakiti ku. Tolong menjauh. Mamaa tolong Arum, ma. Tolong Arum, ayo kita pergi yang jauh, Ma."
"Nona, Nona Arum. Buka mata anda, Nona. Anda baik-baik saja, anda ditempat yang aman," suster Andini menepuk-nepuk pipi Arum, agar Arum membuka matanya.
"Nona, buka mata anda, pegang tangan ku, ayo ikut aku." suster Andini mengambil tangan Arum, menggenggamnya, agar Arum keluar dari dunia mimpinya yang gelap, sambil tangan satunya menepuk pipi Arum.
Cara itu berhasil, Arum seketika membuka matanya, dia mengangkat tubuhnya, melihat sekeliling. Mata Arum memindai ruangan itu, terang dan rapih, dan bau yang ia cium, bukan bau parfum laki-laki yang maskulin, tapi bau bunga melati yang menenangkan.
"Aku dimana?" Tanya Arum diikut lelehan bulir bening membasahi pipinya.
"Anda ditempat saya, Nona. Ditempat yang aman," ucap Andini.
"Alex?" tanyanya, sebab seingat Arum, terakhir kali ia bersama Alex.
"Alex?" ulang Andini.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?"
"Siapa Alex?"
"Dia kekasih, ku. Dia yang ..." Arum terdiam, tak dapat melanjutkan ucapanya, entah apa yang harus ia katakan, Alex yang membuatnya bisa merasakan bagaimana enaknya menjadi pramugari. Tapi Alex juga yang membuat hidupnya penuh dengan ketakutan.
Sementara Angkasa yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju apartemen Edward mematikan video yang dikirim Edward untuknya. Hatinya terasa sesak mendengar Arum menanyakan keberadaan Alex, dan dari raut wajahnya, sangat terlihat jika Arum begitu mengkhawatirkan keadaan Alex. Bukan ia yang diingat Arum sebagai orang pertama, tapi Alex.
"Siapa aku? Aku hanya Rahwana dalam kisah cinta Rama dan Sinta." Angkasa tersenyum kecut membayangkan itu.
"Pak, sepertinya mobil dibelakang mengikuti kita," ucap supir yang menjemput Angkasa memberitahu.
Angkasa pun menundukkan kepalanya untuk melihat mobil yang disebutkan supir itu melalui spion tengah, terlihat sebuah mobil sedan hitam berjarak sekitar 300 meter dibelakangnya.
"Apa itu Alex?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Astaga, bisa berbahaya jika Alex mengikutinya, Alex bisa tahu keberadaan Arum saat ini.
"Pak, didepan nanti belok kanan, ya. Kita tidak jadi ke tempat yang saya sebutkan tadi," pintanya pada sang supir. Supir itu mengangguk, mengikuti apa yang dipinta Angkasa.
Alex yang mengikuti Angkasa tersenyum menyeringai, dia sudah memperhitungkan jika Angkasa akan memutar arah saat tahu dia mengikutinya. Dia pun menghubungi orang-orang yang ia bayar.
"Eksekusi sekarang, target kedua berhasil aku alihkan." Alex mematikan panggilanya. Ia tersenyum miring. "Kalian belum tahu sedang bermain-main dengan siapa? Arum, siap-siap kamu akan mendapat hadiah dari ku karena kecerdikan mu." Alex mer*mat batu cincin ditanganya hingga hancur, semudah ia akan menghancurkan hidup Arum dan Angkasa.
Dua orang laki-laki berpakaian serba hitam, mengenakan topi dengan warna senada sudah berdiri didepan pintu sebuah apartemen, salah satu diantaranya mengamankan keadaan, dan yang satu lagi menekan bel pintu bel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Ersa
laah hubungannya terong Dan mpek2 apa sih babang Ang😂😂
2023-08-20
0
Lina Susilo
alex pengecut berani nya nyuruh org lain
2023-04-12
0
Maaaaaak"utun"..nie🍉
aduuuuuh,,,gmn ini..inj..gmn...🤐🤐🤐🤐
2023-01-26
0