Arum sadar jika Angkasa terus memperhatikanya, maka dari itu, dia selalu menghindari Angkasa. Saat pesawat telah mendarat kembali ke Bandara Soeta pun buru-buru Arum keluar. Dia segera mengaktifkan handphonenya, dan tak lama nama Alex muncul dilayar sebagai pemanggil.
"Aku sudah sampai." Setelah mengatakan itu, Arum memasukkan ponselnya kedalam tas dan bergegas menuju tempat penjemputan, dimana disana sudah ada Alex yang menunggunya.
Angkasa yang melihat itu semakin curiga dan ingin mengikuti Arum.
"Capt, Alex pasti sudah menjemputnya." Edward mencekal pergelangan tangan Angkasa.
"Kamu tahu?"
"Memang selalu seperti itu. Mereka sudah berhubungan sejak pertama kali Arum masuk kesini."
Sementara Arum sudah dijemput Alex, didepan Angkasa sudah ditunggu Reini.
"Dari mana kamu tahu aku pulang jam segini?" tanya Angkasa.
"Kekuatan orang dalam." Jawab Reini membukakan pintu untuk Angkasa. Angkasa berdiri dihadapan Reini, lalu mendorong pintu itu tertutup.
"Jangan lakukan ini lagi, jalani hidup sesuai dengan jalur yang sudah ditentukan. Kamu perempuan, Reini. Tak patut melakukan ini pada seorang lelaki, dan aku sebagai laki-laki itu merasa menjadi laki-laki yang payah."
Reini melipat tanganya didepan dada, lalu membusungkan tubuh mendekat pada Angkasa. "Dan yang kamu lakukan barusan membuat aku semakin tergila-gila sama kamu." Reini menarik turunkan alisnya, "cinta butuh perjuangan, Angkasa. Dan ini usaha ku memperjuangkan mu."
Angkasa menggaruk alisnya, sudah sejak dulu memang Reini selalu mengejar-ngejarnya, dan menyatakan cinta padanya, tapi Angkasa tak pernah menanggapi, Angkasa menganggap Reini sebagai adiknya walau usia Reini diatasnya terpaut dua tahun.
"Usaha mu itu akan sia-sia, karena sudah ada wanita lain yang menempati hati ku, dan aku pastikan kamu tidak akan bisa merebutnya karena dia tumbuh begitu subur disini." Angkasa menunjuk dadanya, Reini tertawa sumbang.
Kemudian Angkasa menarik tangan Reini, memutar mobil menuju pintu kemudi, menekan tubuh Reini untuk duduk di belakang kemudi, setelah Reini duduk dengan nyaman, Angkasa menutup pintu mobil. Dia menunduk, meletakkan tangan di kaca jendela yang terbuka separuh, sedikit memasukkan kepalanya.
"Jangan lupa pakai sabuk pengamanan, dan jangan pernah menjemput ku lagi, jika tidak ingin aku melakukan hal yang lebih parah."
"Angkasa!" Reini menghentakkan kaki kesal dengan bibir mengerucut. "Kamu tega."
"Iya," jawab Angkasa terkekeh, "hati-hati dijalan ya, Reini. Dadaaaa." Angkasa kemudian mundur, tertawa melihat wajah cemberut Reini.
Setelah mobil Reini pergi meninggalkan bandara, Angkasa masuk ke dalam mobil jemputanya yang sudah disediakan pihak maskapai.
* * *
"Papaaaaaaa Hiks ... hiks ...." Reini pulang-pulang mengadu pada papanya.
"Loh, loh. Ada apa ini? Tadi keluar ceria pulang-pulang tsunami." Rendy menghampiri anaknya yang tengah menangis duduk di kursi rotan di ruang tamu.
"Hiks hiks," Reini masih menangis. "Angkasa, Paaa." Adunya menatap papanya, lalu ia memeluk tubuh laki-laki yang saat ini hanya mengenakan sarung dan kaos dalamnya yang berwarna putih.
"Kenapa Angkasa? Ada apa? Apa dia kecelakaan?"
Plakkk.
Reini mengangkat kepalanya dan jadi menabok paha Rendy.
"Papa kalo ngomong jangan sembarangan, nanti kalau kebeneran anak Papa satu-satunya ini bisa jadi perawan tua sampai mati." Reini kembali memeluk Rendy.
"Lah terus apa? Ada apa?"
"Makanya Papa dengerin dulu Reini ngomong, sekarang Reini nggak bisa ngomong, mampet idungnya abis nangis dua jam."
Lah itu lancar ngomongnya.
"Lama juga kamu nagisnya, sayang. Papa bangga sama kamu, harusnya dapat hadiah piring."
"Papaaa, Reini serius." Reini menyurekkan mata, marah.
"Iya, iya. Ada apa?"
"Angkasa nolak Reini."
"Untuk yang ke sebelas kali."
"Sakit Pa," Reini mencengkeram kain baju dadanya, "disini tuh sakiiiiit banget rasanya, Reini susah bernafas." Sekarang Reini menepuk-nepuk dadanya, "harusnya Angkasa jangan nolak dulu, jauh-jauh Reini jemput dia, bawa mobil kayak mau casting fast and furious tapi Angkasa nolak dijemput, Reini, dan bilang nggak boleh jemput lagi."
"Ya bagus donk, Angkasa orang yang jujur, dia gantlemant."
"Papa kok nggak kasihan sama Reini? Harusnya Papa kasihan, terus jodohin Reini sama Angkasa."
Rendy menghela nafas, mengusap bahu Reini, menenangkan.
"Tapi Angkasa dari dulu nggak suka kamu, kamu nggak bisa maksain itu," nasehatnya.
Reini menegakkan duduknya, menatap antusias papanya, Rendy sampai terkejut.
"Reini ada ide, Pa."
"Ide apa?"
"Kata Papa, dulu Papa bisa dapetin mama karena Papa minta tolong sama mbah Amprit di gunung kawi. Coba kita kesana, Pa. Siapa tahu Angkasa nanti jadi klepek-klepek sama Reini."
Rendy sampai membolakan matanya mendengar ide dari Reini. Astaga, itu hanya cerita karangan yang ia buat-buat, tapi kenapa anaknya yang merupakan generasi milenial percaya atas ucapannya? Padahal kenyataannya dia dan voni dulu menanam saham terlebih dahulu hingga jadilah dia.
"Ehem, gini sayang. Embah Amprit itu adanya dijaman dulu, saat Papa masih muda umurnya sudah seratus lebih, kabar terakhir yang Papa dengar, mbah Amprit sudah meninggal."
"Anak keturunannya nggak ada apa, Pa? Kan katanya biasanya kalau mbah Ampritnya udah nggak ada, ada anaknya yang nurunin ilmunya."
Rendy mendesis, bingung cara menjelaskan yang sejujurnya pada Reini.
"Kenapa? Bingung jelasinya." Voni sang istri muncul dari dapur membawa segelas kopi dan sepiring camilan berisi biskuit dan goreng pisang. Voni meletakkanya diatas meja, lalu duduk bersebrangan dengan anak dan suaminya.
"Mbah Amprit itu nggak ada, Reini. Itu hanya cerita karangan Papa kamu saja. Mama dan Papa menikah karena memang dasar suka sama suka, makanya awet sampai sekarang." jelasnya, "jaman sekarang jangan percaya dengan yang namanya pelet atau semacamnya, itu dosa."
"Namanya juga usaha, Ma."
"Tapi usaha kamu sia-sia." sahut Voni, "bukanya bagus Angkasa jujur sama kamu seperti itu, itu tandanya dia benar-benar nggak suka sama kamu, dan kamu harus menjauh."
"Mama kok jadi marahin Reini?"
Voni menhela nafas. "Bukan marahin, tapi kasih tau kamu biar kamu nggak ngejar-ngejar Angkasa lagi, semakin kamu mengejar-ngejar dia, semakin dia akan ilfeel sama kamu dan semakin menjauh."
"Apa Mama nggak ada niatan buat ngomong ke tante Delia buat jodohin Reini sama Angkasa?" Reini ngeyel.
"Mama nggak mau, kalau kalian jodoh akan bersatu mau bagaimanapun jalanya, tapi kamu nggak boleh berharap."
"Mama sama Papa nggak asik." Reini berdiri dan berlalu masuk ke kamarnya.
* * *
Pulang dari bandara, Arum dan Alex singgah ke supermarket untuk belanja bulanan mengisi kulkasnya yang kosong.
Mereka seperti sepasang sejoli yang begitu cocok, tampan dan cantik. Semua pasang matapun tertuju padanya.
Setelah membayar belanjaanya, Alex dengan penuh perhatian membawa kantong belanja mereka menuju mobil, sifat Alex yang seperti itu membuat para wanita yang melihatnya iri pada Arum, karena mendapatkan kekasih yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang.
Tapi hal berbeda dilakukan Alex saat sudah sampai di apartemen, Arum membawa semua kantong belanjaan itu seorang diri dengan tergopoh-gopoh menuju lift. Padahal Arum sudah lelah dari perjalanan panjangnya, menghadapi penumpang dengan berbagai sifat yang mereka miliki, ditambah dia harus mengerjakan pekerjaan berat ini.
Saat berada dalam lift, Alex akan menarik pinggang Arum, dan mencium keningnya jika ada yang masuk bersama mereka. Dan akan mendorong Arum menjauh jika hanya berdua. Sungguh perlakuan itu begitu menjijikan untuk Arum.
Arum langsung memasukkan belanjaanya kedalam kulkas saat sudah sampai di apartemen, mengepel lantai apartemen Alex, lalu mencuci dan mengganti sprei Alex. Alex sendiri duduk bersantai di sofa depan televisi sambil memainkan hapenya. Hal ini seolah sudah biasa terjadi diantara mereka, Arum dengan aktivitasnya, Alex dengan dunianya.
Saat Arum lewat depan Alex untuk membersihkan asbak, tiba-tiba Alex menarik tangan Arum hingga Arum jatuh dalam pangkuanya.
"Alex."
"Aku rindu," Alex menempelkan wajahnya ke ceruk leher Arum.
"Aku keringatan, Lex." Arum merasa risih, mencoba menjauhkan diri dari Alex.
"Kenapa pilot baru itu selalu dekati kamu?"
"Dia hanya bertanya beberapa hal."
"Tapi kamu tahu dia menyukai mu."
"Bukan begitu, Lex."
Alex menarik wajahnya. "Membelanya?" Arum menggeleng. "Maka jangan dekat-dekat dia, kamu harus ingat jasa-jasa ku padamu."
"Iya, aku tidak akan dekat-dekat dia."
Awwww
Arum berteriak saat Alex menggigit pundaknya gemas. Lalu sebagai obat dari perbuatannya Alex langsung menarik wajah Arum menghadapnya, seketika itu juga ia membungkam bibir Arum, menelusupkan lidahnya kedalam mulut Arum, mengabsen gigi Arum yang menjadi candu untuknya.
* * *
Sepertinya takdir memang begitu baik pada Angkasa saat ini, hal yang jarang terjadi dalam dunia penerbangan, seorang pilot dan pramugari kembali dipertemukan dalam satu penerbangan secara berturut-turut.
Jari Angkasa pun sangat lincah mengisi dokumen, setelah selesai dia berpindah pada layar yang menunjukkan prakiraan cuaca.
"Cerah, aku akan mendaratkan pesawat kita dengan selamat, Arum," gumamnya dengan sudut bibir yang terus tertarik seolah tak bisa lagi tertutup.
Angkasa cepat-cepat ingin melakukan breafing, agar bisa menatap wajah ayu itu lagi, menghirup wangi lembut parfum Arum saat berada dalam mobil, dan bisa mencoba roti srikaya milik Arum saat akan menerbangkan pesawatnya dengan dalih belum sarapan dan tak bernafsu dengan menu yang disediakan maskapai.
Namun suara berat seseorang membuat Angkasa membalikkan badan.
Alex masuk ke ruang floops bersamaan dengan Arum. Entah sengaja atau tidak, Alex mencium kening Arum, dan mengecup bibirnya sekilas.
"Cieee."
"Uhuy ... uhuy ..."
"Serasa dunia milik berdua niee, kita mah ngontrak."
Sorak sorai dari para pramugari menggoda keduanya. Alex hanya tersenyum, lalu mengusap pipi Arum. Dia lalu menoleh kearah Angkasa.
"Hai, Captain ...?"
"Angkasa," jawab Angkasa cepat, melirik Arum yang terlihat tidak nyaman.
"Ah iya. Kita bertemu lagi."
"Iya."
"Hari ini terbang kemana?"
"Ke Lombok, bersama dengan ..." Angkasa sengaja menatap Arum, lalu tersenyum. "Arum, kita terbang bersama lagi," ucapnya begitu lembut, tak perduli itu didepan Alex.
Arum melirik Alex yang terlihat tak suka. "Kalian pernah terbang bersama?" dia bertanya pada Arum.
"Kemarin, tepatnya." Angkasa yang menjawab.
"Oh baiklah, titip calon istriku kalau begitu, jangan sampai ia terluka." Alex merangkul pundak Arum sengaja memanasi Angkasa, Angkasa mengangguk dan tertawa tapi matanya melihat kearah tangan Alex yang merangkul pundak Arum posesif.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
cinta macam apa yg Alex berikan untuk Arum??
2024-05-15
0
Lina Susilo
kasihan arum, dia dibuat seperti pembantu oleh alex
2023-04-11
0
Rachmawati 8281
Alex jahat bgt, semoga Angkasa bisa segera membantu lepas dari Alex anak jelex,,,,
lanjoot kak
2023-01-11
0