Angkasa masuk kedalam rumahnya dengan langkah gontai, ia tak semangat, ia menyesali keputusannya dalam mengambil langkah, seharusnya dia berpura-pura saja tak tahu dan tak mau tahu tentang Arum hingga tak membuat Arum menjauh darinya.
Angkasa menghempaskan tubuhnya di sofa hitam besar di ruang tamu rumah orang tuanya seraya melonggarkan dasi yang selama beberapa jam telah melingkar dilehernya, lehernya terasa tercekik, melihat Arum mencium pipi Alex saat laki-laki itu menjemputnya tadi.
Angkasa menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, menatap langit-langit rumahnya yang sangat tinggi itu, ia merasakan sulit bernafas terus memikirkan Arum, padahal wanita itu bukan siapa-siapanya terlebih Arum sudah ada yang punya.
Siapa yang tahu jika dia telah jatuh hati pada pandangan pertama dengan Arum, aneh memang, secepat itu dia memiliki rasa pada seseorang. Jika orang lain butuh berproses untuk memilki perasaan tehadap lawan jenisnya, tapi dia tidak, adakah didunia orang yang sepertinya? Baru pertama bertemu langsung memiliki rasa? Sejak pertama melihat Arum dadanya merasa berdebar, gugup, dan ingin selalu melihat wajah gadis itu, pesona Arum sudah memikatnya sejak awal, seperti ada magnet di dalam diri gadis yang terus menariknya.
Andai dia bisa memilih, dia tak ingin memiliki rasa itu pada Arum, yang telah dimiliki oleh orang lain. Dan jikapun ada, dia ingin rasa itu terbalas.
"Lelah banget kayaknya."
Suara Delia membuat Angkasa mengangkat kepalanya, wanita yang telah melahirkanya ke dunia itu mengambil duduk disampingnya dengan senyuman hangat yang bisa membuat kegundahan hatinya sedikit menghilang, Angkasapun memindahkan kepalanya, menjadikan paha ibunya sebagai bantal.
"Capek banget ya?" tanya mamanya, wanita itu menunduk mentapa wajah tampan putaranya, sambil jemarinya menyisir lembut rambut tebal Angkasa.
"Banget," jawab Angkasa seraya memejamkan mata menikmati usapan halus dan lembut tangan usapan tangan mamanya.
"Lagi ada yang dipikirin?"
"Nggak ada, Ma. Cuma lelah aja," jawabnya bohong, untuk curhat masalah perasaan, rasanya dia masih malu.
"Tapi kamu menikmati pekerjaan kamu kan?"
"Sangat, sangat menikmati."
Apalagi ada Arum, aku ingin setiap hari berada bekerja agar bisa melihat wajahnya.
"Ayah belum pulang, Ma?"
"Masih dikantor."
"Mama ada kenal orang-orang jajaran direksi?"
Delia berpikir sejenak. "Ada beberapa, tapi tidak terlalu mengenal, ada apa?"
"Tidak ada," mau bertanya tentang ayah Alex yang bekerja disanapun dia tak tahu nama ayah laki-laki itu. Angkasa membuka matanya, "Awan kemana?" akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari bibirnya.
"Baru saja keluar sama Reini, biasa, sepertinya Reini lagi galau."
"Masih seperti itu?"
"Hem, tapi Awan selalu bersedia kemanapun Reini mengajaknya."
"Semoga mereka berdua menemukan jalan terbaik."
Delia tersenyum. "Kamu tidak memiliki rasa pada Reini?"
Angkasa menggeleng. "Reini sudah aku anggap seperti adik sendiri."
"Syukurlah, jadi Mama tidak kepikiran dengan kalian berdua."
"Mama jangan khawatir, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa pada Reini."
Angkasa kembali memejam dan menutup matanya dengan lengan. Ia kembali terpikirkan dengan Arum.
"Terus, kamu sendiri, apa sudah ada wanita yang kamu suka?"
Angkasa kembali membuka matanya ditanya seperti itu. "Entahlah Ma. Apa dia wanita itu, tapi Angkasa juga ragu dengan perasaan Angkasa, kami baru beberapa kali bertemu, tapi rasanya ingin selalu bertemu denganya."
"Sepertinya anak Mama sedang jatuh cinta pada pandangan pertama." Delia tersenyum menggoda.
"Apa ada yang seperti itu, Ma?" tanyanya dengan polos. Dan itu membuat Delia tertawa terbahak.
"Ada donk sayang, ada." Delia masih tertawa.
"Akh, Mama. Mama pasti mentertawakan Angkasa, Angkasa aneh ya, Ma?"
Delia semakin mentertawakan anaknya itu, sangat terlihat jika dia sedang jatuh cinta.
"Duh, Angkasa ku yang polos, yang tidak pernah jatuh cinta akhirnya bisa jatuh cinta juga. Mama jadi penasaran dengan gadis itu, dia pasti gadis yang sangat istimewa."
Angkasa diam, dia mengangkat kepalanya, dan kini menyandarkan di bahu sang mama.
"Tapi dia sudah ada yang punya, Ma." ucapnya lemah.
"Hem, dia sudah punya pacar?" Angkasa mengangguk. Delia bisa merasakan jika anaknya itu patah hati sebelum memulai perang. Delia menarik nafas.
"Jauhi jika memang seperti itu. Cukup mengagumi dalam diam, nanti rasa itu akan hilang dengan sendirinya."
"Apa harus begitu, Ma?"
"Bagaimanapun, kita tidak mau milik kita diganggu orang kan? Apalagi jika nanti pasangan kita jadi tergoda dengan orang itu. Jangan sampai itu terjadi, itu sama saja kita merebut milik orang tersebut."
"Tapi sepertinya hubungan mereka tidak baik, Ma. Ada rasa keterpaksaaan didalamnya."
"Biarkan itu jadi urusanya, kita orang luar hanya bisa menilai dari yang nampak, tapi tidak tahu yang terjadi yang sebenarnya."
Angkasa setuju dengan apa yang dikatakan mamanya, tapi ada kata-kata Arum yang menegaskan, jika dia dalam bahaya, meski gadis itu tidak menyandarinya.
* * *
Awan memakirkan mobilnya tepat di pinggir jalan dengan pemandangan perkebunan teh yang menghijau, dia berhasil membawa Reini yang sedang patah hati karena cintanya selalu di tolak itu ke puncak dalam waktu dua jam dari ibu kota, lumayan cepat jika di hitung dari jam normal, tapi demi gadis yang telah lama singgah dihatinya, ia memacu kendaraan beroda empatnya itu dengan kecepatan tinggi.
Namun perjalanan jauh yang mereka tempuh sebanding dengan pemandangan yang mereka dapat. Cuaca yang sejuk, sejauh mata memandang, nampak bukit-bukit diselimuti kabut tebal itu membuat hati kita yang melihatnya menjadi adem.
Awan diam ditempatnya, setia mendengarkan curahan hati gadis itu.
"Kamu tau nggak sih, Aw. Sakit sekali rasanya ditolak berpuluh-puluh kali itu. Padahal aku jauh-jauh datang dari rumah untuk jemput saudara kamu, tapi dia nolak, dan nyuruh aku pulang sendiri. Tidak bisakah dia menghargai sekali saja perasaan aku? Dari umur empat belas tahun aku nembak dia, apa tidak sedikitpun bikin hati dia tersentuh?" Reini menarik tissu yang di sodorkan Awan, membuang ingus yang membuat hidungnya mampet.
Awan masih diam mendengarkan.
"Menurut mu, apa yang kurang dari aku, Aw? Aku cantik, seksi, pintar, bukan dari keluarga yang miskin juga, tapi kenapa dia tidak menatap pada ku sekali saja? Tidak kasihan kah dia aku menunggu dia bertahun-tahun?"
Hiks hiks hiks.
Awan mengusap-usap pundak Reini menenangkan, meski hatinya sendiri sakit mendengar cerita gadis itu yang terus menerus mengharapkan Angkasa, tanpa memperdulikan perasaannya, tapi dia juga kasihan melihat Reini yang terluka seperti ini.
"Angkasa itu orang paling tega di dunia ini, tidak berperasaan, tega sekali dia mengabaikan perasaan ku yang bertahun-tahun mengharapkan dia, sampai aku rela menunggunya pulang dari USA."
Sroottttttt.
Reini membuang ingus.
Awan menarik nafas, menaruh tissu diatas dashboard. Kemudian dia mengangkat wajah Reini menghadapnya, menangkup wajah Reini dengan kedua tanganya, menghapus air mata gadis itu dengan ibu jari.
"Hei, dengar aku, Rein." Awan mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Kamu tidak bisa memaksa tutup botol kecap dipasang ke tutup botol sirup, semua sudah di setting dari pabriknya masing-masing, dari geriginya, model tutupnya, jadi kamu tidak bisa memasangkan itu. Kecap itu memiliki tekstur yang kental, sedang sirup teksturnya lebih encer, jadi-"
"Aw, bikin perumpamaan jangan dari tutup botol, aku bingung mencernanya," potong Reini ucapan Awan, "pakai filosopi sepatu saja, aku paham."
"Tapi aku mau pakai filosopi tutup botol, Rein. Kalau tutup botol sirup, biasanya bisa dipaksa-paksakan, meski dari merek yang berbeda, tapi kamu dan Angkasa itu tidak bisa dipaksakan, karena kamu bukan-"
"Jangan bilang aku bukan seleranya dia?"
"Ya memang bukan aku yang bilang, tapi kamu sendiri yang bilang."
"Aw," Reini memukul pundak Awan, "kamu kok jadi bikin kesel. Aku serius, aku benar-benar mengharapkan Angkasa sekali saja memandang aku ada."
"Yasudah, kalau begitu kamu siap menerima konsekuensinya, menungu sesuatu yang tidak pasti."
Dan itu juga berlaku untuk ku, Rein. Aku juga akan menerima konsekuensinya mengharapkan kamu.
"Kita beli jangung bakar aja yuk, perut ku lapar. Sepertinya enak makan jangung bakar dingin-dingin begini," ajak Awan pada Reini saat melihat warung pinggir jalan yang tak jauh didepannya.
"Kamu saja, Aw. Aku tunggu didalam saja, aku malas keluar."
"Yasudah, kamu tunggu disini, aku akan belikan yang rasa pedas manis kesukaan kamu." Awan mengusak rambut Reini terlebih dahulu sebelum turun.
Belum juga Awan sampai ke warung, Reini berjalan melewatinya sambil menghentakkan kakinya kesal, Awan mengulum senyum, sudah sangat tahu perangai gadis itu. Sangat heran mengapa dia bisa mencintai wanita yang sama sekali tak mencintainya.
* * *
Arum membuka lemari pending dirumahnya, gadis itu menghela nafas saat melihat tak ada satupun makanan yang bisa ia makan didalamnya. Hah ... malang sekali nasibnya, baru dua hari lalu dua mengisi penuh kulkasnya, tapi
hanya ada lima botol air mineral berukuran besar yang tersisa, dan itupun kosong.
Arum memejamkan matanya, menghalau rasa perih. Sampai kapan penderitaanya berakhir? Dia lelah, sangat lelah, ingin dia menyerah saja pada keadaan tapi dia memikirkan nasib orang-orang yang sama sekali tak memikirkan nasib dan perasaannya.
Mamanya yang terlalu larut pada luka yang ditorehkan papanya tanpa memikirkan dia, dan papanya yang sibuk dengan dunianya. Sedang dia, mengobati rasa itu sendirian. Belum lagi dia harus menghadapi Alex, si pahlawan kesiangan yang berubah menjadi rubah pembuat penderitaanya semakin menganga.
Arum mendudukkan pant*tnya di kursi makan untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas. Setiap pulang rumahnya berantakan, mamanya yang hanya mengurung diri didalam kamar, keluar jika papanya pulang dan meminta ini itu padanya.
Arum menopang kepalanya dengan tangan, menumpahkan segala rasa kesalnya disana. Jangankan ada makanan yang tersedia disana, ada yang menanyakan sia sudah makan apa belum pun tak pernah. Apalagi menanyakan penerbangan hari ini, Arum kadang berdoa, pesawat yang sedang ia tumpangi hilang dari radarnya, disaat seperti itu apakah ada yang mengkhawatirkanya? Adakah yang menangisinya?
Jawabannya, mungkin tak ada.
Memutuskan untuk tak larut dalam kesedihan, Arum masuk kedalam kamarnya mengambil dompet, ia memutuskan pergi membeli bahan-bahan untuk mengisi kembali kulkasnya dia satu-satunya orang yang waras di rumah ini, kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa membuat rumah ini layaknya rumah yang pantas ada penghuninya.
Isi keranjang belanjaan Arum sudah hampir penuh, Arum melihat apa saja yang kurang, dan sia belum mengambil kecap untuk papanya yang setiap makan harus selalu ada kecap. Namun saat dia ingin mengambil kecap itu, secara bersamaan tangannya bersentuhan dengan tangan seseorang yang juga akan mengambil kecap tersebut.
"Sorry," ujar suara seseorang yang Arum kenali, Arum pun membalikkan badan.
"Captain Angkasa."
"Kecapnya tinggal satu, untuk anda saja." Arum sukses dibuat mencelus, Angkasa pergi setelah mengatakan itu dan seolah tak mengenalnya. Arum menatap punggung tegap Angkasa yang menjauh.
"Sayang, mana kecapnya?" seorang wanita cantik datang, tak lain dan tak bukan Delia.
"Sudah habis, Ma. Kita cari si tempat lain saja."
Arum pun hanya menatap kecap yang hanya tersisa satu itu.
Apa Captain Angkasa sakit hati dengan perkataan ku?
* * *
Arum berlari mengejar Delia.
"Tante, tunggu!" Panggilnya.
Delia yang berjalan seorang diri menuju mobilnya menoleh.
"Maaf, saya tadi membeli dua botol kecap, saya rasa tante membutuhkannya." Arum memberikan sebotol kecap itu pada Delia.
Delia menatap Arum, sangat cantik. Puji Delia spontan.
"Terimalah tante," ujar Arum lagi dengan nada sedikit memaksa yang tak kentara.
"Kamu tahu saja tante tidak kebagian kecap, kalau begitu biar tante bayar saja ya." Delia membuka tasnya ingin mengambil dompet.
"Tidak perlu, ini untuk tante saja."
"Terima kasih banyak kalau begitu, kamu baik sekali."
Arum hanya tersenyum, kemudian naik kedalam taksi yang sudah ia pesan.
"Ada apa, Ma?" tanya Angkasa saat baru keluar dari toilet.
"Ah, ini tadi ada yang kasih Mama kecap, tahu saja dia kita nggak kebagian kecap."
"Mana orangnya?"
"Baru aja naik taksi." Angkasa menghembuskan nafas keudara, dia tahu, ini pasti dari Arum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
uuhhh ternyata hidup didlm keluarga hamburadul Arum
2024-05-15
0
Lina Susilo
sungguh malang nasib nya arum
2023-04-11
0
fauzi
Arum,,klw butuh kecap,,sini dirumah ku banyak 😁🤭😂
2023-01-14
0