Arum mengoles cream di sudut bibirnya cukup tebal untuk menutupi luka tamparan yang dilakukan papanya, semalam sebelum keluar lagi, papanya sempat meminta uang padanya, dan meminta Arum untuk secepatnya bisa membuat Alex bisa menikahinya, tapi Arum menolak, dan alhasil dia juga menerima hadiah tangan dari papanya. Entahlah, meski Arum begitu mencintai Alex, tapi untuk meminta Alex menikahinya secepat ini, Arum belum bisa.
Pagi ini Arum akan kembali bertugas setelah dua hari ia menghabiskan jatah liburnya untuk menemani mamanya dirumah.
Jika orang lain akan senang menyambut hari liburnya, berbeda dengan Arum, dia bahkan rela mengganti jadwal temanya agar ia tak berada dirumah. Andai bisa, Arum ingin terbang setiap hari, tapi ia tak bisa melakukan itu akan melanggar peraturan jam terbang yang sudah ditetapkan Standar Crew Complement.
Arum menarik nafas dan menatap wajahnya dipantulan cermin, sudah tak terlihat luka itu, ia menggerakkan bibibrnya memutar kekanan kekiri agar tak kaku saat menyapa para penumpang.
Arum kembali memikirkan, sebenarnya kesalahan apa yang sudah di lakukan mamanya pada papanya hingga setiap mamanya melakukan sedikit saja kesalahan, papanya pasti memukul mamanya.
Bukan hal yang mudah bagi Arum melihat hal ini dari kecil, dia bahkan takut bertemu papanya. Arum pernah mengajak mamanya untuk pergi meninggalkan Didik dan meminta mamanya untuk hidup hanya berdua saja, tapi mamanya menolak dan memilih bertahan hidup dalam penderitaan yang tak tahu kapan berakhirnya, Arum ingin pergi sendiri meninggalkan mamanya namun ia tak tega.
Entah hal apa yang mendasari Nining bertahan dengan Didik hingga puluhan tahun lamanya, padahal yang Arum tahu, selama ini mamanya sering kali mendapatkan kekerasan dalam rumah tangganya. Bodoh, sangat bodoh memang, cinta Nining yang terlampau besar membuat Nining hilang akal sehatnya.
Menyudahi kesedihan, Arum menyampirkan tas selempang hitam pramugarinya, lalu menyeret kopernya. Ini masih pukul empat pagi, tapi dia sudah rapih dan bersiap ke bandara.
Arum menatap kamar mamanya yang masih tertutup rapat itu, ia memutuskan untuk melihat mamanya sebentar sebelum pergi bertugas. Ditatapnya wajah wanita yang tak pernah memiliki bobot badan lebih dari 40kg itu. Wajahnya masih menyisahkan memar dan luka meski Arum telah memolesnya dengan salap khusus yang selalu ia sediakan di laci nakas kamar mamanya.
Arum merendahkan tubuhnya, mencium kening mamanya seraya berkata.
"Arum berangkat ya Ma. Mama hati-hati dirumah, jangan bikin Papa menyakiti mama lagi, mama lawan ya," bisik Arum meski entah mamanya mendengarnya atau tidak.
Lagi Arum menempelkan bibirnya di kening wanita itu, setetes cairan pun lolos begitu saja tak dapat dibendung, Arum lelah, Arum ingin hidup normal tanpa rasa takut dan khawatir meninggalkan mamanya seorang diri, saat ia berangkat bekerja, ia ingin mamanya mengantarkanya walau hanya sampai didepan pintu.
* * *
Kadang tak perlu hadiah mewah untuk seseorang merasakan bahagia, hanya doa dan harapan yang terkabul tanpa diduga itu ibarat hujan salju di negara beriklim tropis.
Hal inilah yang terjadi pada Angkasa, padahal kemarin dia hanya berucap meminta suatu saat dia dapat terbang bersama Arum, hari ini semesta nampak berpihak padanya dengan mempertemukan ia dengan gadis yang bisa menyedot perhatianya sejak awal.
Berkali-kali Angkasa mengulum bibirnya akibat tak mampu menahan rasa bahagia yang meluap-luap mendera hatinya. Padahal ia tahu dari awal jika gadis ini telah dimiliki orang lain, tapi kali ini ia seperti orang yang tak tahu malu, berharap ada keajaiban lagi yang bisa membuat ia memiliki gadis itu sepenuhnya.
Sebelum berbalik menyapa para awak kabin untuk melakukan breafing, Angkasa mengatur dirinya terlebih dahulu agar tak terlihat seperti orang aneh, sungguh Angkasa merasa ada dewi amor yang menguasai hatinya.
Lama tinggal dinegeri orang dengan kebebasan dan dihadapkan dengan wanita cantik, namun tak sedikitpun bisa menggetarkan hatinya, tapi pertama kali melihat Arum, gadis itu telah berhasil menarik perhatiannya.
Apakah ini cinta pada pandangan pertama? Entahlah, Angkasa tak tahu, namun dia merasa ada ribuan bunga yang bermekaran dihatinya dan senang jika bisa melihat Arum meski itu hanya dari jauh.
Kini, dia dipertemukan dengan gadis itu dalam satu penerbangan, dia sampai tak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan, ia terlampau bahagia.
Sebisa mungkin saat breafing Angkasa tak menatap Arum demi keprofesioanalitas, tapi nyatanya, matanya tak bisa berbohong selalu saja mengarah pada wajah ayu nan teduh itu seolah ada magnet yang menyedot untuk terus menatap kearahnya.
"Arum." Sapa Angkasa saat sudah didalam pesawat.
Arum yang sedang mengecek kesiapan pesawat pun membalikkan badannya.
"Iya, Capt. Ada yang bisa saya bantu?"
"Akhirnya kita bisa terbang bersama."
Gadis itu diam sesaat, lalu mengangguk.
"Jaga diri kamu saat penerbangan nanti, semoga kita bisa mendarat dengan selamat sampai tujuan."
Arum kembali hanya mengangguk merespon ucapan Angkasa. Sementara Angkasa rasanya ingin mengutuk bibirnya karena tak bisa mengucapkan kata yang manis dan berkesan dipenerbangan pertama mereka. Kemudian Angkasa masuk ruang kokpit dengan senyum yang terus tersungging dibibirnya.
"Kamu ngobrol apa sama Captain baru tadi?" tanya Cintya, teman Arum.
"Tidak ada, dia hanya bertanya apa ada makanan yang bisa ia makan, karena dia belum sarapan."
"Rum, kamu harus hati-hati, karena ada banyak mata yang mengawasi kamu. Nanti ada yang melapor pada captain Alex."
"Aku bekerja dengan pilot disini, tidak mungkin aku mengabaikan pilot itu jika dia butuh bantuan."
"Iya, aku cuma memperingatkan kamu saja." Arum mengangguk, tak ingin memperpanjang lagi pembahasan ini, sebaiknya dia kembali melanjutkan pekerjaannya menyiapkan snack yang akan dibagikan pada penumpang.
Lima belas menit pesawat telah mengudara dengan baik, dokumen dan ketinggian telah dicockkan, komunikasi dengan pengatur lalu lintas udara pun terjalin cukup bagus. Saat ini ketinggian pesawat berada diketinggian 23ribu kaki, cuaca sangat baik, Angkasa bisa bersantai sejenak, mengobrol dengan co-pilotnya guna membunuh rasa bosan.
"Kamu sudah lama disini, Ed?"
"Baru juga Capt. Baru enam bulan."
"Sudah berkeluarga?"
"Belum, sedang mempersiapkan diri untuk menjemput tulang rusuk saya," jawab Edward diselingi candaan ringan, ini pertama kali mereka bertemu dalam satu penerbangan, sudah pasti ada rasa canggung dan tak mau sok akrab.
"Captain sendiri? Sudah berkeluarga?" bertanya seadanya.
"Aku sama seperti mu."
Edward mengangguk. "Saya tadi melihat Captain mengajak Arum bicara, membahas apa?"
"Hanya bertanya sesuatu."
"Jika tidak terlalu penting, menjaga jaraklah, Capt. Demi keselamatan Arum."
Angkasa mengerutkan alisnya tak mengerti. "Aku yakin Captain sudah tahu hubungan Arum dengan Captain Alex, karena memang mereka begitu populer. Arum sosok polos yang banyak dikagumi banyak lelaki, Captain Alex selain memang tampan dia memilki posisi yang kuat di Airlangga Airlines."
"Jadi?" Angkasa mengorek, semakin ingin tahu banyak informasi tentang Arum.
"Aku tak tahu bagaimana mereka bisa bersama? tapi yang aku lihat, sepertinya Arum hanya pura-pura bahagia bersama Captain Alex."
Pura-pura bahagia?
Apa yang dikatakan Edward ini semakin menumbuhkan rasa penasaran dalam diri Angkasa untuk mencari tahu banyak tentang Arum. Jadi ... apa ada unsur pemaksaan dalam hubungan Arum dan Alex? Jika memang iya, Angkasa harus membebaskan Arum secepat mungkin.
* * *
"Terima kasih, selamat bertemu keluarga dan bersenang-senang," ucap Arum melepas para penumpang yang turun dengan posisi tubuh siap dan sesekali membungkuk saat penumpang lewat didepanya, tangan kirinya terlipat kebelakang dengan sebuah counter menghitung jumlah penumpang yang turun sesuai dengan jumlah penumpang saat naik.
Ia kemudian mengambil tas dan kopernya disaat kursi penumpang telah kosong.
Arum kembali berpapasan dengan Angkasa didepan pintu masuk pesawat.
"Selamat siang, Capt. Kita telah mendarat dengan selamat dan semua penumpang telah turun tanpa ada suatu kekurangan apapun."
"Terima kasih, Arum." Angkasa tersenyum ramah dan hangat. "Semua berkat kerja keras mu."
"Captain juga, Captain yang membawa kita."
"Aku melakukan itu semua atas rasa tanggung jawab ku mempertemukan para penumpang dengan orang yang mereka sayang."
Tanpa terasa Arum dan Angkasa melangkah keluar dan berjalan di garbarata secara bersamaan dengan terus berbincang ringan, seolah menemukan kenyamanan di diri mereka masing-masing, membuat mereka lupa atas peringatan untuk mereka menjaga jarak hanya dalam hitungan detik.
Arumpun tanpa disadari tersenyum pada Angkasa saat merespon ucapan Angkasa yang menurutnya lucu. Namun itu tak berjalan lama, sebab Arum tahu jika ia telah melakukan kesalahan.
"Maaf Capt, sepertinya saya tidak bisa minum kopi dan makan roti srikaya. Saya ada urusan mendadak."
"Urusan apa Arum? Kita bisa makan itu sembari menunggu pesawat kita siap lagi."
"Maaf, saya benar-benar tidak bisa."
"Arum!" pamggil Angkasa, ia hanya dapat memandang punggung Arum yang menjauh tanpa bisa mencegah Arum yang melangkah menuju ruang floops Airlangga Airlines tempat mereka mendarat saat ini.
"Ada apa hubungan kamu dengan Alex, Arum? Sampai kamu seperti ini?" Angkasa mengusap wajahnya frustasi, padahal tadi Arum sempat mengiyakan untuk Coffee break **bersama dicafe khusus staf yang telah tersedia.
* * *
Arum meletakkan koper dan tasnya di sofa ruang** floops, **ia langsung mengambil hapenya dan mengaktifkanya. Ada lima pesan yang masuk dan itu dari Alex.
"Aku baru tiba di tanah air, Arum. Saat pulang nanti mampirlah ke apartemen," pesan pertama, terkirim 08.00
"Aku rindu," pesan ketiga. 08.40
"Kulkas kosong, apa kamu lupa tugas mu?" pesan kedua, 09.05
"Gambar." Alex mengirim foto saat dia sedang menonton televisi. 09.06.
Dari foto yang dikirimkan, Alex terlihat sangat tampan, meski Alex hanya memakai kaos oblong putih.
"Jangan nakal," Baru saja.
Pesan yang sangat singkat, namun mengandung makna yang tajam bagi Arum. Arum sempat menghela nafas, kemudian mengambil foto selfinya dengan memberikan finger love disertai senyum paling bahagia, untuk ia kirimkan pada Alex.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
toxid,, hubungan mereka kayak nya
2024-05-15
0
Lina Susilo
arum tertekan dengan semua yg di alami nya
2023-04-11
0
Azzuraaa
Cerita kali ini lebih greget kayaknya
2023-01-10
0