Waktu terus berputar, jam menunjukkan pukul 11 malam, Angkasa terlihat gelisah mengubah posis tidurnya ke samping kanan dan kiri, ia tak bisa memejamkan matanya barang sekalipun, terus terpikirkan Arum. Apa yang sedang Arum lakukan diapartemen Alex? Apa Arum sudah kembali atau saling menghangatkan? Pertanyaan itu terus berputar dikepalanya.
Angkasa menggeleng, menepis itu semua. Iya yakin Arum wanita baik. Tapi apa perdulinya dia? Arum dan Alex sepasang kekasih, wajar jika mereka melakukan itu. Lantas siapa dia yang tidak rela mereka melakukan itu. Zaman modern ini, sudah biasa bukan sepasang kekasih tinggal bersama, melakukan aktivitas layaknya pasangan suami istri, tapi ... Jika itu terjadi pada Arum, rasanya Angkasa tidak rela.
"Arrghhh" Angkasa duduk, mengacak rambutnya frustasi, seharusnya ia tadi tak mengikuti keduanya, ini jadi menyiksa pikirannya sendiri.
Ponselnya yang tergelerak diatas kasur berdering, nama Edward muncul disana, awalnya Angkasa enggan mengangkatnya, namun Edward terus menghubunginya, membuat telinganya sakit, akhirnya Angkasa menggulir ke kanan, mengangkatnya.
"Aaaaaa, Captain tolong sayaaaa." Teriak suara Edward diseberang sana. Angkasa sampai menjauhkan ponselnya dari telinga untuk memastikan nama sipenelepon. Benar, nama Edward.
"Ada apa, Ed?"
"Captain tolong ini demi hidup dan mati saya, Capt. Nyawa sekarang ada ditangan Captain. Nama baik Airlangga Airlines juga."
"Ada apa, Ed? katakan yang jelas."
"Capt, tolong jemput saya ke Starclub, Capt. Dan bawakan saya uang sepuluh juta."
"Untuk apa?" Angkasa terkejut, uang sepuluh juta? Enteng sekali Edward meminta uang segitu banyaknya, seperti meminta uang untuk beli permen.
"Kalau Captain tidak punya uang sebanyak itu, tolong pinjamkan dari pinjaman online, Capt. Nanti saya yang bayar cicilanya," ucap Edward lirih dengan suara ketakutan.
Angkasa menarik nafas, kenapa dia mendapat patner kerja seaneh ini?
"Jelaskan padaku, ada apa sebenarnya? Kalau kau tidak menjelaskanya, aku tidak akan datang."
"Teman anda menyewa wanita di club kami, tapi saat kami meminta tagihan, ternyata dia tidak memiliki uang untuk membayarnya, dan dia mengenakan seragam pilot." Bukan Edward yang menjawab, melainkan manager Starclub.
Angkasa memejamkan mata seraya melipat bibir geram, sebanyak itu nama di kontak Edward, kenapa harus dia yang laki-laki itu hubungi?
"Baiklah," jawab Angkasa pada akhirnya, bukan karena rasa setia kawan, tapi jiwa empati dan rasa prikemanusiaan yang tertanam didirinnya membuat Angkasa memutuskan itu, dan juga nama Airlangga Airlines menjadi taruhanya jika dia tidak datang menolong Edward.
Angkasa menuruni anak tangga sambil menenteng jaket kulit di tangan kirinya.
"Kamu mau kemana malam-malam begini, Ang?" tanya Delia, dia keluar dari dapur mengambil air putih untuk dibawa ke kamar.
"Ada perlu sebentar, Ma."
"Malam-malam begini? Ada keperluan apa?" Delia merasa heran, sebab anak-anaknya merupakan anak rumahan, jarang keluar malam, meski itu malam minggu sekalipun. Bukan dia yang melarang, tapi itu keinginan mereka sendiri. Terlebih Angkasa yang tidak punya teman nongkrong.
"Ada teman minta bantuan," jawabnya jujur, "Angkasa keluar sebentar ya, Ma." pamitnya melenggang pergi setelah menyalami mamanya. Delia mengangguk memberi izin, tak ingin bertanya lagi sebab percaya anaknya tidak akan berbuat yang aneh-aneh diluar sana.
* * *
"Terima kasih sekali ya, Capt. Captain sudah mau mau datang menolong saya," ucap Edward berkata seraya menahan memar di sisi bibirnya yang terkena pukulan penjaga Starclub.
Angkasa hanya menjawab gumaman, fokus pada jalanan didepanya, mengantar Edward pulang.
"Saya kira, uang di atm saya masih ada, nggak taunya sisa 0 rupiah. Saya kemarin habis traktir lima pramugari, biar saya bisa dekat dengan mereka."
Angkasa hanya dapat menghembuskan nafas berat mendengar alasan Edward.
"Apa kamu tidak punya teman atau kerabat, Ed? Kenapa saya yang kamu hubungi?" pertanyaan Angkasa membuat Edward tercekat, dia menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Dia harus mencari alasan, karena sebenarnya bukan Angkasa orang pertama yang ia hubungi, ada beberapa temanya, tapi mereka tidak ingin menolong, karena ini bukan kali pertama Edward seperti ini.
Edward memasang muka sedih yang dibuat-buat. "Hati nurani saya yang memilih, Capt. Dia ingin memberikan Captain kesempatan berbuat baik pada orang yang membutuhkan, jadi Captain orang beruntung yang terpilih." Hee, nyengir tanpa merasa berdosa.
"Itu bukan beruntung, tapi kesialan buat ku," tukasnya, Angkasa menoleh pada Edward sekilas, "ini yang pertama dan yang terakhir aku melakukan hal konyol ini. Dan satu lagi, jika kau ingin bersenang-senang, gantilah dulu pakaian mu, jangan mencoreng seragam suci itu."
Edward tak tahu saja, jika Angkasa harus mengeluarkan uang lebih untuk membungkam mulut Manajer dan saksi di Starclub, agar masalah ini tidak sampai keluar dan membawa-bawa nama maskapai milik keluarganya.
Edward mengangguk, entah mengapa wajah Angkasa yang terlihat tidak ramah ini terlihat menakutkan, tapi sejurus kemudian dia menyadari jika arah yang dituju Angkasa bukanlah arah menuju rumahnya, melainkan arah lain yang berlawanan.
"Loh, Capt. Kok kita jalan kesini? Bukanya ini jalan menuju apartemen Captain Alex?"
"Aku ingin mengantar mu keneraka, untuk memanaskan otak mu di suhu yang tinggi, agar otak mu bersih dan tidak berbuat yang aneh-aneh." Edward menelan ludah, tak menyangka jika Angkasa yang ia kira lembut dan ramah bisa menjawab semenakutkan ini.
Angkasa sengaja mengarahkan mobilnya melewati apartemen Alex, ia ingin melihat apa yang terjadi diantara dua sejoli itu, seolah matanya bisa menembus tembok dan tingginya bangunan itu dan bisa melihat apa yang dilakukan Arum disana, apa arum sedang menari stripis dengan pakaian jaring ikan untuk menghibur Alex, atau mereka sedang melakukan olahraga malam yang menghasilkan banyak keringat?
Berbagai pikiran kotor terus melintas dipikiran Angkasa.
"Auuuu sakit, Capt. Captain kenapa ngerem mendadak sih?" Edward memegangi keningnya yang tertantuk dashboard mobil.
Tapi Angkasa tak menghiraukan itu. Ia keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun pada Edward, matanya terus menyorot pada wanita yang berlari menuju pintu belakang apartemen dengan tergesa, Angkasa mengikuti arah wanita yang mengenakan seragam pramugari itu.
* * *
"Tolong, jangan dekati saya. Biarkan saya pergi, jangan ganggu saya." Arum memohon dengan wajah ketakutan, ia terduduk, memeluk lututnya. Sungguh tenaganya sudah habis jika harus melawan tiga orang tersebut ia sudah tak bisa.
"Kita akan menolong kamu, cantik. Tenang saja, kita akan bersenang-senang malam ini." Arum menggeleng, salah satu dari orang tersebut sudah mendekat, dan duduk tepat dihadapanya.
Tuhan, tolong aku. Tolong kirim seseorang untuk menolong ku.
Pinta Arum dalam hati, sungguh dia tak bisa membayangkan jika dia harus berakhir dengan tiga laki-laki ini malam ini.
"Ayo, kita angkut saja kalau dia tidak mau, aku sudah tidak sabar ingin bersenang-senang denganya," ujar yang satu lagi, sambil membasahi bibirnya menggunakan lidahnya, dia sudah tidak sabar, melihat paha mulus putih Arum yang terekpos begitu menggiurkan, karena rok panjang dengan belahan sampai lutut itu tersingkap sampai pangkal paha, sebab Arum menekuk lututnya.
"Ayo, kita bawa sama-sama, kita nikmati hidangan lezat malam ini," ucap ketiganya serempak, ketiganya sama-sama tidak sabar, bertemu Arum seolah mendapatkan makanan enak yang tak pernah mereka dapatkan seumur hidup.
"Tolong jangan, jangan sentuh saya." Arum menunduk, menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.
Namun belum sempat ketiganya dapat menyentuh Arum, punggung salah satu dari mereka sudah mendapatkan hantaman kayu balok dari belakang. Satu orang tersungkur, sedang yang duanya menoleh kebelakang, Angkasa dengan wajah marahnya, tanpa aba-aba menghantam wajah keduanya secara bergantian.
Arum mengangkat kepalanya saat mendengar erangan kesakitan itu, dia memiringkan kepalanya agar dapat melihat jelas siapa laki-laki gagah yang Tuhan kirim sebagai penolongnya itu.
"Captain Angkasa?" lirihnya, Arum tersenyum haru disertai lelehan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya. Tubuhnya bergetar, dia menyaksikan Angkasa melawan ketiganya. Dalam hatinya berdoa, berharap Angkasa bisa mengalahkan ketiganya.
Tiga lawan satu, itu kecil bagi Angkasa untuk melawan ketiganya meski hanya dengan tangan kosong. Satu persatu dari mereka berhasil Angkasa lumpuhkan.
Saat Angkasa ingin menghampiri Arum, salah satu orang tersebut menyerang Angkasa dari belakang, untung Angkasa memiliki insting yang kuat, hingga dia bisa menghindar, dan menendang tangan yang sedang memegang sajam itu, hingga sajam itu jatuh terpental tepat didepan Arum.
Rupanya satu diantara mereka tak terima dengan kekalahan mereka karena keinginanya untuk dapat merasakan tubuh Arum tak bisa dia dapatkan. Dia yang masih dalam pengaruh alkohol dan pil a****g itu menyerang Angkasa secara brutal dan membabi buta.
Dia berhasil melawan Angkasa, hingga Angkasa jatuh dan orang berwajah garang dan berbadan besar itu menindih Angkasa, menghujani Angkasa dengan pukulan tiada ampun.
Arum yang melihat itu menjadi ketakutan, dengan tangan bergetar dan takut, Arum mengambil p***u yang ada dihadapanya. Dengan sisa tenaga dan keberanianya, Arum mengambil p***u itu dan menancapkanya tepat dileher laki-laki yang sedang menyerang Angkasa, hingga laki-laki itu jatuh tak berdaya dengan cairan merah segar yang menyembur mengenai wajah Arum dan pakaianya.
Arum nampak kaget, dan takut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Kakinya beringsut mundur beberapa langkah.
"Arum!" Angkasa langsung bangkit, menahan tangan Arum yang hampir limbung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Ersa
malang banget sih kamu Rum... mudah2an angkasa bisa membela
2023-08-20
0
Lina Susilo
arum sungguh sangat kasihan dn itu bisa membuat nya trauma
2023-04-12
0
fauzi
Arum,,,malang sekali🥺
2023-01-20
0