"Bagaimana keadaan kamu, apa sudah lebih baik?"
Angkasa bertanya lebih dulu setelah lama mereka saling diam, menatap Arum yang menunduk dengan tangan yang saling meremas diatas pangkuanya. Tapi yang ditanya tak merespon, asik sendiri dengan kegiatannya, seolah tanganya terlihat lebih menggoda ketimbang wajah tampan Angkasa didepanya.
Meski Arum ingin terlihat santai, namun Angkasa dapat melihat tangan Arum bergetar hebat seperti menahan sesuatu, berbeda dengan Arum yang menyapanya dan mengucapkan terima kasih padanya beberapa menit lalu.
"Rum?" panggil Angkasa lagi.
Tubuh Arum berjengit, terkejut karena panggilan Angkasa. "Eh, iya?"
"Are you oke?" tanya Angkasa lembut, menyipitkan matanya, khawatir atas respon Arum, wajahnya tersirat banyak kegundahan. Seperti banyak sekali yang sedang gadis itu pikirkan. Ingin sekali Angkasa membawa Arum dalam pelukanya, memberikan rasa tenang dan nyaman untuk gadis itu.
"I-iya, Capt. Saya tidak apa-apa?" jawab Arum gugup, menatap Angkasa takut-takut.
Sebenarnya, sebelum kedatangan Angkasa tadi, Arum begitu ketakutan, apalagi saat melihat Edward yang tadi sempat masuk melihatnya diambang pintu, seolah Edward adalah orang jahat yang ingin menyakitiinya. Beruntung suster Andini bisa menenangkan Arum, membantu Arum lepas dari rasa ketakutanya.
Dan sebelum Angkasa masuk tadi, Arum juga sebenarnya tidak tidur, dia masih mendengarkan terapi cerita yang suster Andini berikan padanya.
"Nanti, jika ada laki-laki tampan berseragam pilot datang, Nona jangan takut, dia yang sebenarnya menolong Nona dari para penjahat itu, dia orang baik. Nona harus ucapkan terima kasih padanya," suster Andini berkata seraya menyisir rambut Arum dari belakang.
"Aku harus mengucapkan terima kasih padanya?"
"Iya. Karena dia, Nona bisa selamat, coba kalau tidak ada beliau, mungkin ..." Andini menghela nafas, "tidak usah dijelaskan ya Nona. Nona pasti tahu, apa yang akan terjadi pada Nona."
Andini berkata begitu pelan dan penuh ke hati-hatian seperti bicara pada anak kecil. Karena kondisi Arum yang baru sadar, butuh waktu lama sebenarnya mengobati rasa trauma di diri Arum, apalagi ada rasa trauma kekerasan dalam rumah tangga sejak kecil yang Arum alami, kekerasan itu dilakukan oleh sosok seorang yang seharusnya menjadi cinta pertamanya, tapi malah menjadi orang yang begitu dalam menorehkan luka dihati Arum.
Namun Andini berusaha sebisa mungkin membuat Arum cepat keluar dari rasa ketakutanya, karena sebenarnya Arum bisa melawan itu, karena jika dibiarkan terlalu lama, takut Arum akan terlena*, dan tenggelam dalam dunianyam
"Nona tadi cerita kan, kalau Nona ingin pergi jauh bersama mama Nona?" tanya Andini mengingatkan, Arum mengangguk, "Nah, pilot itu nanti yang bisa menolong Nona bersama mama Nona pergi jauh. Nanti jika pilot itu datang, katakan saja padanya apa keinginan Nona, dia pasti akan mengabulkan apa yang Nona minta." Andini terus memengaruhi jiwa Arum yang akan tersesat.
"Apa dia bisa menyelamatkan mama saya, Sus?" tanyanya sedikit menoleh kebelakang.
"Iya, dia orang hebat, lebih hebat dari Alex yang Nona katakan. Jangan takut dia akan terluka, dia itu seperti robot, tak akan pernah mati atau terluka. Jadi Nona tidak perlu takut." katanya menyakinkan, padahal suster Andini sendiri tidak tahu siapa Angkasa sebenarnya, namun membaca nama belakang Angkasa, dia merasa tak asing dengan nama itu.
"Apa iya dia tidak akan pernah mati dan terluka, Sus?" Andini mengangguk, "tapi aku takut, jika aku meminta tolong padanya, profesinya sebagai pilot akan terancam, aku tidak mau merusak masa depannya."
Andini sedikit putus asa dengan ucapan Arum, dia juga tak mau jika Angkasa sampai kehilangan profesinya. Namun sebisa mungkin Andini tetap menyakinkan Arum. Andini berpindah berdiri dihadapan Arum.
"Dicoba dulu ya Nona, sebentar lagi pilot itu akan datang, Nona pura-pura tidur saja, kita lihat apa yang akan dia lakukan, jika dia membelai wajah dan menggenggam tangan Nona." Andini mempraktekan menggenggam dan membelai wajah Arum, "itu tandanya dia orang yang mampu menolong Nona, dan membawa Nona pergi jauh."
"Arum? Apa yang kamu pikirkan? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" kembali pertanyaan Angkasa membuyarkan lamunan Arum.
"Katakan padaku, Rum. Jika ada yang mengganjal pikiran kamu, aku siap mendengarkan, dan jika aku bisa, aku akan membantu mu," katanya coba memancing agar Arum menceritakan apa yang ia rasakan.
Arum menunduk, ragu sebenarnya untuk jujur pada Angkasa, karena mereka tak memiliki hubungan apa-apa. Tapi perkataan Angkasa yang mengatakan akan membantunya, sedikit membuat Arum merasa lega. Arum menggigit bibir bawahnya, memejamkan matanya sejenak sebelum kemudian memberanikan diri menatap Angkasa.
Pandangan keduanya bertemu dan saling mengunci, mencari sesuatu yang mereka butuhkan melalui sorot mata masing-masing.
"Arum." Angkasa.
"Capt." Arum.
Angkasa tersenyum sambil melipat bibir, menutupi perasaan salah tingkahnya. "Ladys first." Persilahkanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari mata bulat dengan netra hitam itu, karena jika dia sampai berkedip, seolah akan kehilangan sorot mata cantik milik Arum.
Arum kembali menunduk sambil melipat bibir, mengumpulkan kembali keberaniannya yang sempat hilang.
"Emm Capt. Apa yang membuat Captain ingin membantu saya? padahal saya orang asing buat Captain, kita baru saling mengenal beberapa hari, dan di momen terakhir pertemuan kita, saya ... sempat marah pada Captain?" tanyanya panjang, Arum seolah telah kembali pada dirinya kembali.
"Karena aku perduli padamu," jawab Angkasa cepat dan penuh keyakinan, menyelami mata Arum, memberikan kepercayaan pada Arum lewat sorot matanya.
"Kenapa perduli?" karena sorot mata Angkasa yang begitu dalam yang seolah menghipnotisnya, Arum tak menyadari jika Angkasa memajukan duduknya dan mengambil tanganya untuk ia genggam, mengalirkan kekuatan.
"Jangan tanyakan itu, karena aku tak memiliki alasan mengapa aku perduli, tapi aku tulus padamu, Arum," ucapan Angkasa itu seakan mewakili perasaannya.
"Apa Captain bisa menolong ku tanpa terluka? Aku membutuhkan pertolongan Captain."
"Katakan, Arum. Katakanlah, aku janji aku tidak akan terluka."
"Apa Captain bisa menyelamatkan mama saya? Bawakan dia kesini, Capt? Aku takut terjadi sesuatu pada Mama saya."
Angkasa mengeratkan genggaman tanganya. "Bisa, Rum. Aku akan menyelamatkannya, dan membawanya padamu."
* * *
Jika Angkasa sedang berusaha menghilangkan rasa ketakutan Arum. Dirumah, seorang ibu tengah mondar-mandir gelisah didepan jendela ruang tamu menunggu kepulangan Angkasa. Bagaimana tidak? Angkasa yang katanya sudah mendarat sejak jam tujuh tadi, sampai saat ini putra kebanggaanya itu belum menunjukkan batang hidungnya.
"Sayang, kita ke kamar dulu yuk, Angkasa sudah besar, bisa menjaga diri, nanti juga waktunya pulang dia pulang." Abian yang menemaninya coba menenangkan.
"Kamu kok bisa setenang itu sih Bi, anak belum pulang? Tidak khawatir apa jika terjadi sesuatu pada Angkasa? Apalagi nomornya tidak aktif, kamu nggak mau coba cari gitu?" Sudah mulai kesal.
"Aku bukan tidak khawatir, sayang. Tapi aku yakin anak kita tidak apa-apa, karena perasaan ku yang mengatakan demikian."
Delia mencebik tak percaya. "Aku mamanya, yang melahirkanya, perasaan ku yang lebih kuat dari kamu." katanya sedikit marah.
Abian menghela nafas, iyadeh, perasaan ibu yang lebih kuat. Katanya dalam hati.
"Berarti jika perasaan kamu mengatakan terjadi apa-apa, kamu mendoakan terjadi apa-apa donk pada anak kita?" Bukanya menenangkan, ucapanya itu malah menyiram bensin pada api.
"Udah deh, Bi. Mending kamu diam, atau masuk ke kamar. Seorang ayah mana pekak terhadap perubahan anaknya. Kamu ngerasa nggak sih? Akhir-akhir ini tuh Angkasa berubah, tingkahnya aneh, Mama merasa ada sesuatu yang dia sembunyiin dari kita."
Abian yang duduk di sofa itu berdiri, memeluk istrinya dari belakang. "Iya, aku tahu. Nanti kalau Angkasa sudah pulang, kita tanyakan baik-baik padanya ya. Sekarang kita ke kamar dulu, kamu aku pijitin, biar pikirannya tenang, otot-otot kamu lemes, tidak tegang. Kalau satu jam lagi Angkasa belum pulang, aku akan ajak Awan mencarinya."
Delia memutar tubuhnya menghadap suaminya. "Benar ya, Bi. Nanti kamu mau cari Angkasa?"
"Iya sayang, masih aja tidak percaya sama omongan ku." Diangkatnya tubuh istrinya yang masih terlihat bagus itu, membuat Delia memekik terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Lina Susilo
jangan gelisah gitu ma, anak mama yg tampan itu gk apa apa kok
2023-04-12
0
Rachmawati 8281
semoga secepatnya satukan Arum dengan Mama nya, soalnya Alex kan ga waras, takut Mamanya Arum dicelakai ma Alex atau ma suaminya sendiri...
lanjoot kak
2023-01-29
1
Erni Rahmah
next part
2023-01-29
1