Alex mengayunkan tongkat baseball-nya, memukul satu persatu kaki tiga orang suruhanya, karena telah gagal membawa Arum padanya.
"Dasar kalian semua bodòh, tidak berguna!" tunjuknya satu-satu ketiga orang yang sedang menunduk ketakutan itu.
"Untuk apa aku membayar kalian mahal-mahal jika menangkap tikus kecil saja kalian tidak becus," marahnya lagi dan kembali memukùlkan tongkat baseball itu di kaki tiga orang tersebut, melampiaskan kekesalanya, membuat ketiga orang tersebut mengaduh kesakitan, sambil memegangi kaki mereka tanpa bisa membalas.
Ya, bagaimana Alex tidak kesal pada ketiganya, pasalnya, saat mereka sampai diapartemen itu, ternyata Arum tidak berada di apartemen yang diduga menjadi tempat Angkasa menyembunyikan Arum. Apartemen itu kosong, tak ada perabot atau penghuni didalamnya.
Angkasa berhasil mengelabuhi mereka.
"Dan kamu!" tunjuknya pada anak buahnya yang berada ditengah. "Bukankah waktu itu katamu Angkasa membawanya ke apartemen itu, kenapa sekarang tidak ada?" Alex berteriak, membuat urat-urat lehernya terlihat, dan wajahnya memerah karena kesal.
"Ma-maaf tuan Alex. Tapi waktu itu saya yakin sekali jika pemuda itu membawa wanita anda ke apartemen itu. Dan anda juga melihatnya sendiri bukan. Nama apartemen, lantai, dan unit berapanya?" jawabnya dengan suara bergetar ketakutan.
Entah keberanian dari mana dia bisa menjawab Alex. Dan atas jawabannya itu pula, punggungnya bisa merasakan betapa kerasnya tongkat baseball itu.
Bùghhh.
Gebedughh
Satu hantaman tongkat baseball milik Alex membuat tubuh anak buahnya tersungkur kesamping, bisa dipastikan jika salah satu tulang belakangnya ada yang patah sebeb pukulan itu cukup keras. Tapi tak ada satupun dari temannya yang bisa menolongnya, sebab jika mereka melakukan itu, sama saja mereka menyerahkan nyawa mereka.
"Jadi kamu ikut menyalahkan ku atas kegagalan ini, bodòh? Seharusnya kamu tahu, jika si pilot sialan itu memindahkanya, kenapa kamu sampai tidak tahu hal itu. Apa pekerjaan mu setiap hari makan gaji buta, iya?"
Alex kembali murka dan mengayunkan tongkatnya, membuat tubuh laki-laki itu refleks menekuk kedalam dan tanganya terangkat untuk melindungi kepalanya agar pukulan Alex tak mengenai kepalanya.
"Ampun tuan, maafkan kesalahan saya. Saya akui ini kesalahan saya, saya berjanji akan mencari kemana wanita anda dipindahkan."
Alex menyampakkan tongkat baseball-nya, tak jadi memukùlkan lagi, dia menekuk lutut, menunduk, mendekatkan wajahnya pada laki-laki yang berpakaian serba hitam yang wajahnya tengkurap menahan kesakitan itu. Alex menarik rambutnya, membuat wajah laki-laki itu mendongak menatap padanya.
"Kali ini aku maafkan kesalahan kalian, aku beri kalian kesempatan sekali lagi. Tapi aku tidak mau kali ini kalian kembali gagal," Alex melepaskan cengkraman rambut laki-laki itu kasar hingga wajahnya membentur lantai, lalu ia berdiri.
"Aku telah merubah rencana. Tugas kalian hanya membawa orang tua Arum padaku."
Alex berkata seraya melangkah meninggalkan gudang kosong yang ia jadikan tempat untuk menyiksa anak buahnya, sebelah tangan kananya ia masukkan kedalam saku celana, dan secara bersamaan, tangan kirinya menyelipkan tangkai kaca mata kebelakang telinganya hingga kaca mata hitam berharga fantastis itu terpasang indah membingkai wajah tampanya.
* * *
Sementara Angkasa yang tadi sempat menghindari Alex, sudah sampai diapartemen Edward. Ia tersenyum, membayangkan wajah kesal Alex karena telah gagal menemukan keberadaan Arum.
"Singa melawan macan, aku rasa itu musuh yang seimbang, kawan." Angkasa benar-benar puas, bisa membuat Alex terkecoh. Tangannya menekan bel apartemen Edward.
"Captain lama sekali sampainya." Komplain Edward saat pintu telah terbuka.
"Ada segerombolan singa menghadang dijalan, jadi aku harus memutar arah agar tidak diterkam," jawab Angkasa melangkah masuk sambil melepaskan dasi pilotnya, meletakkan tentengan yang ia bawa diatas meja.
"Segerombolan singa? Kok bisa? Emang di Jakarta ada singa berkeliaran, Capt?" tanya Edward tak mengerti maksud ucapan Angkasa.
"Iya, mungkin singa dari ragunan lepas." Angkasa semakin mendramatisir jawabanya, semakin membuat Edward percaya saja.
"Masa sih, Capt? Tapi kok nggak ada masuk berita ditelevisi, ya? padahal seharian ini saya nonton berita loh, Capt."
Angkasa menghela nafas, capek sekali rasanya bicara dengan Edward.
"Itu tidak akan masuk berita, karena singa yang aku maksud bisa mengendarai mobil dan pesawat." Angkasa menatap Edward yang memasang wajah kebingungan, "Arum sedang apa? Bagaimana keadaannya." Angkasa sudah tak sabar ingin bertemu Arum.
"Tadi dia sudah tertidur lagi, ada suster Andini yang menemaninya didalam."
Angkasa berjalan menuju kamar Arum, sebelum masuk ia mengetuk pintu lebih dulu. Tak menunggu lama, pintu kamar itu dibuka oleh Andini.
"Eh tuan Angkasa. Selamat malam, tuan." Andini membungkukkan sedikit badanya hormat.
Angkasa mengangguk. "Biar aku yang menjaga Arum, kamu istirahatlah."
"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
"Em Sus. Apa Arum ada mengatakan sesuatu padamu?" tanya Angkasa membuat Andini yang sudah diambang pintu terhenti.
"Iya, Nona Arum menceritakan tentang hubungannya dengan laki-laki bernama Alex, dia juga mengatakan jika dia mengkhawatirkan keadaan mamanya, Arum ingin membawa mamanya pergi jauh."
"Mamanya?"
"Iya, Tuan."
Angkasa mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan ucapan Arum. Apa Alex juga akan menggunakan mamanya untuk mendapatkan Arum kembali? Jika memang seperti itu, Angkasa harus cepat menemukan keluarga Arum. Alex benar-benar tak bisa dianggap enteng.
"Keluarlah, dan panggilkan Edward."
Andini kembali melanjutkan langkahnya, da memanggilkan Edward. Tak lama Edward datang. "Ed, apa kamu tahu tentang keluarga Arum?"
"Keluarga Arum? Tidak Capt. Mana aku tahu, aku bukan petugas sensus."
"Aku bertanya serius, Ed."
"Aku juga serius, Capt. Memangnya ada apa?"
"Aku rasa Alex akan menggunakan mama Arum, maka dari itu aku bertanya padamu."
"Apa Captain Alex semenakutkan itu? Aku pikir Captain Alex hanya arogant di bandara saja." Apa Captain Alex juga merupakan seorang psikopat?" tanya Edward yang tak tahu keadaan yang sebenarnya.
Angkasa tak menyahut, dia berjalan menuju tempat tidur Arum, dan duduk dihadapan Arum.
"Aku rasa seperti itu jika miliknya diusik orang lain, tapi dia sendiri tak menjaga miliknya dengan baik." Angkasa kembali menatap Edward, dia mengibaskan tangan sebagai kode agar Edward keluar.
"Baiklah Capt. Aku keluar, tapi jangan ada setan diantara kita." Gerutu Edward merasa diusir sambil menutup pintu.
Setelah memastikan Edward keluar, Angkasa mengambil tangan Arum, diciumnya punggung tangan itu dengan lembut, lalu pandangan Angkasa berpondah pada wajah cantik yang masih terpejam itu, diusapnya kening Arum dengan penuh sayang.
"Kamu harus kuat, Arum. Kamu harus menceritakan semua masalah mu, aku janji aku akan melindungi mu."
Arum yang dapat merasakan usapan lembut Angkasa seketika membuka matanya. Angkasa pun cepat-cepat melepaskan genggaman tanganya, dan menarik tanganya dari kening Arum.
"Captain? Kenapa anda ada disini?" Arum pun perlahan mengangkat tubuhnya. Duduk menyender dikepala ranjang, menatap Angkasa.
Angkasa gelagapan, dia takut Arum akan kembali marah atas kelancangan tanganya seperti malam disaat dia mengajak Arum makan malam, Angkasa menjadi sangat gugup.
"Terima kasih malam itu Captain telah menolong saya," Angkasa tercengang dengan ucapan Arum, dia pikir Arum akan marah padanya.
"Jika tidak ada Captain, mungkin malam itu
saya sudah-"
"Tidak apa-apa. Sebagai sesama kita memang harus saling tolong menolong bukan? Aku tidak melakukan apa-apa."
Suasana tiba-tiba menjadi canggung, keduanya disergap kebisuan, baik Arum dan Angkasa bingung akan mengatakan apa lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Femmy Femmy
ahhh orang bodoh kamu bertiga kenapa tidak bisa melawan yang hanya satu orang...bodoh hanya mau disiksa🤦
2024-04-15
0
Lina Susilo
alek memang psikopat
2023-04-12
0
Muhammad Dimas Prasetyo
yang sabar Arum...sekarang kamu aman dibawah lindungan angkasa
2023-01-27
0